Kekristenan Kontemporer Sangat Mencintai Dunia

(Berita Mingguan GITS 25 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Kami menerima informasi dan video klip yang tepat waktu minggu ini dari Jeff Royal yang secara dramatis mengilustrasikan keduniawian dari banyak gereja-gereja kontemporer. Video klip pertama yang dikirim oleh Jeff adalah tentang “penghibur [entertainer] Kristen,” Tim Hawkins, sedang menyanyikan lagu “On Eagles’ Wings” dalam sebuah konser di akhir tahun lalu. Hawkins mengatakan bahwa dia terbiasa menyanyikan lagu ini di retreat-retreat gereja untuk anak muda. Lagu ini adalah kombinasi dari “Amazing Grace” oleh John Newton dan lagu “Peaceful Easy Feeling” yang dipopulerkan oleh rock band sekuler, Eagles. Hawkins menyanyikannya sebagai penghormatan bagi almarhum Glenn Frey, pendiri dan penyanyi utama dari grup band Eagles tersebut. Ini adalah penggabungan yang tidak benar dan jahat antara Kristus dengan dunia. Lagu “Peaceful Easy Feeling” adalah tentang romansa dan percabulan. Liriknya dimulai demikian, “saya suka cara antingmu berkilap di atas kulitmu yang bergitu coklat; saya mau tidur denganmu di padang gurun malam ini, dengan milyaran bintang di sekeliling.” Penyanyi itu bukan sedang berbicara tentang pernikahan kudus, sobat! John Newton mewakili kekristenan “kuno” yang mementingkan lahir baru yang secar dramatis akan mengubah hidup seseorang dan memalingkan seseorang dari mengasihi dunia kepada mengasihi Kristus yang kudus. Tetapi Tim Hawkins mewakili kekristenan “baru” yang digambarkan dalam 2 Timotius 4:3-4, suatu kekristenan yang hidup menurut hawa nafsumu sendiri.

Video klip kedua yang dikirim oleh Jeff adalah mengenai sebuah gereja yang memakai “On Eagles’ Wings” dalam acara kebaktian. Tidak ada aspek yang benar dan kudus dari grup band Eagles; pengaruh mereka pada masyarakat adalah jahat. Beberapa lagu hit mereka adalah “Witchy Woman,” “Chug All Night,” “Take the Devil,” “Tequila Sunrise,” “Good Day in Hell,” “Journey of the Sorcerer.” Setelah band Eagles pecah pada tahun 1980, Frey mengejar karir solo dengan beberapa hits seperti “Sexy Girl,” dan “The Heat Is On.” Allah secara tegas memerintahkan umatNya untuk tidak mengasihi dunia (1 Yoh. 2:15-17), untuk tidak menjadi serupa dengan dunia (Roma 12:1-2), untuk tidak menjadi sahabat dunia (Yak. 4:4), dan untuk tidak bersekutu dengan kegelapan dunia (Ef. 5:11). Tetapi gereja-gereja kontemporer dengan cuek dan beraninya mengabaikan peringatan-peringatan ini. Bahkan, kasih akan dunia adalah salah satu ciri khas utama mereka. Mereka mencintai musik dunia, sikap dunia, fashion dunia, entertainment dunia, dan filosofi “jangan menghakimi” dunia. Mereka bernyanyi tentang “kasih karunia,” tetapi yang dimaksud bukanlah kasih karunia yang alkitabiah. Ini adalah paham bebas Anti-nomian. Kasih karunia Allah yang sejati didefinisikan dalam Titus 2:11-14. Kasih karunia Allah yang sejati tidak menyelamatkan orang berdosa supaya dia dapat mengasihi dunia; ia menyelamatkan orang berdosa supaya dia “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi .” Musik Kristen Kontemporer adalah jembatan besar menuju “gereja kontemporer,” dan gembala-gembala yang tidak mengedukasi umatnya dengan benar mengenai topik ini dan melawan hal ini secara efektif, sebenarnya ikut ambil bagian dalam membangun jembatan ini.

Gembala Sidang Hillsong Tidak Mau Mengatakan Aborsi Salah

(Berita Mingguan GITS 25 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, 24 November 2017, salah satu gembala sidang Hillsong New York, tidak mau menyatakan aborsi sebagai dosa. Ketika Lentz ditanya apakah dia percaya aborsi itu salah, dia menjawab, “Ini adalah tipe percakapan yang akan kita lakukan untuk mendengarkan kisahmu, dari mana asalmu, apa yang kamu percayai. Maksudku, Allah adalah hakimnya. Orang harus hidup dengan keyakinan mereka sendiri” (“Hillsong Pastor,” ChristianHeadlines.com, 7 Nov. 2017). Ini adalah relativisme moral. Orang ini bukan seorang pemberita kebenaran; dia adalah seorang terapis psikologi. Setiap pemberita Injil diperintahkan untuk menyatakan kesalahan, menegor, dan menasihati (2 Timotius 4:2). Semua umat Allah diperintahkan, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11). Mengenai Allah sebagai hakim, sungguh benar sekali itu. Dia adalah sang Hakim, dan Dia telah menyatakan penghakimanNya atas masalah ini. Perhatikan beberapa kebenaran alkitabiah yang jelas dan sederhana: Pertama, Allah pegang kendali atas pembuahan (Kejadian 20:18; 29:31; 30:22). Kedua, Allah membentuk anak di dalam rahim (Maz. 139:13-16). Ketiga, Allah melarang manusia untuk menumpahkan darah yang tidak bersalah (Ul. 19:10-13; 2 Raj. 21:16). Keempat, anak yang belum lahir bukan sekedar “fetus”; ia disebut “anak” dan “bayi” dalam Alkitab (Kej. 25:22; Ay. 3:16). Kelima, hukum Allah mengharuskan hukuman jika ada anak yang belum lahir terkena cidera (Kel. 21:22-23). Alkitab mengajarkan bahwa anak yang belum lahir bukanlah milik sang ibu; ia adalah milik sang Pencipta. Sang bayi dalam rahim seorang wanita adalah tubuh yang tersendiri dan hidup yang tersendiri. Dalam sebuah wawancara dengan CNN tahun 2014, Laura Lentz, istri dari Carl, dan juga “co-pastor” berbicara tentang isu homoseksualitas dengan mengatakan, “Bukanlah posisi kita untuk memberitahu siapapun bagaimana mereka harus hidp, itu adalah perjalanan mereka sendiri.” Dalam ketergesaan mereka untuk menjadi sahabat dunia, Hillsong telah membuat diri mereka menjadi musuh Allah (Yakobus 4:4). Mereka adalah contoh ideal dari kesesatan yang digambarkan dalam 2 Timotius 4:3-4. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 4:3-4).

Penganiayaan oleh Kaum Protestan

Walaupun para Reformator Protestan dari abad ke-16 hingga abad ke-18 menuntut kebebasan beragama dari Gereja Roma Katolik, dalam banyak kasus mereka tidak memberikan kebebasan itu kepada pihak lain. Ini adalah fakta yang jarang diceritakan dalam pelajaran sejarah gereja, sehingga tidak banyak orang yang tahu bahwa kaum Protestan dari era Reformasi menganiaya kaum Baptis dan pihak-pihak lain yang berbeda dengan mereka.

ZWINGLI DI ZURICH, SWITZERLAND, ADALAH SEORANG PENGANIAYA

1. Sebelum memegang prinsip-prinsip Baptis, pemimpin Anabaptis, Conrad Grebel (1498-1526), Felix Manz, dan George Cajacob, bekerja sama dengan Zwingli pada permulaan pekerjaan Zwingli di Zurich. Namun berbeda dengan Zwingli, mereka bergerak maju melampaui Protestanisme dan konsep gereja negara menuju iman dan praktek Perjanjian Baru yang sejati.

2. Sampai dengan akhir 1524, Grebel dan Manz telah mengambil posisi menentang baptisan bayi dan mereka mau mendirikan suatu gereja yang sejati yang hanya terdiri dari anggota-anggota yang telah lahir baru dan dibaptiskan, yang hanya melakukan Perjamuan Tuhan secara sederhana hanya sebagai suatu makanan peringatan.

3. Pada 17 Januari 1525, sebuah perdebatan antara Zwingli dan orang-orang yang menentang baptisan bayi dilaksanakan di Zurich di hadapan dewan kota. Keputusan diambil tidak lama setelah itu. Pada hari berikutnya, 18 Januari, dewan kota mendekritkan bahwa semua bayi harus dibaptis dalam waktu delapan hari setelah kelahiran, dan mereka yang tidak mau membaptis bayi mereka akan diusir dari kota itu. Sebuah dekrit lainnya pada 21 Januari melarang semua penentang baptisan bayi untuk berkumpul bersama atau berbicara di hadapan publik.

4. Pada hari peraturan kota yang pertama itu diserukan, Grebel, Manz, Cajacob, dan orang-orang lain yang sepikiran, berkumpul bersama untuk menentang dekrit itu dalam ketaatan kepada Firman Tuhan dan menetapkan hati untuk membentuk suatu gereja yang didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab sebagaimana mereka pahami dalam hal ini. Cajacob pertama dibaptis oleh Grebel berdasarkan pengakuan imannya pada Kristus; Cajacob, setelah itu, membaptis yang lainnya. Baptisan itu pertama mereka lakukan dengan cara menuang, tetapi belakangan mereka menyadari bahwa yang benar adalah menyelam, dan setelah itu mereka memakai penyelaman. Dalam waktu seminggu, 35 orang lagi dibaptis.

5. Pada bulan Maret tahun yang sama, dewan kota yang dipengaruhi oleh Zwingli, mengeluarkan peraturan yang kuat melawan kaum Anabaptis, yang diratifikasi pada bulan November:

“Kalian tahu tanpa keraguan, dan telah mendengar dari banyak orang bahwa sejak waktu yang lama, beberapa orang yang aneh, yang berimajinasi bahwa mereka terpelajar, telah tampil secara mengagetkan, dan tanpa bukti apapun dari Kitab Suci, yang diberikan sebagai alasan oleh orang-orang yang sederhana dan saleh, dan telah mengkhotbahkan, dan tanpa izin dan persetujuan dari gereja, telah memproklamirkan bahwa baptisan bayi tidak berasal dari Allah, tetapi dari Iblis, dan oleh karena itu, tidak boleh dipraktekkan. … Jadi, kami, menetapkan dan menuntut bahwa sejak sekarang semua laki-laki, perempuan, anak lelaki dan anak perempuan, meninggalkan baptisan ulang, dan sejak sekarang ini tidak boleh mempergunakannya, dan harus membiarkan bayi dibaptis; siapapun yang bertindak berlawanan dengan aturan umum ini akan didenda untuk setiap pelanggaran, satu mark; dan JIKA ADA YANG TIDAK TAAT DAN KERAS KEPALA, MEREKA AKAN DIPERLAKUKAN DENGAN KERAS; karena, kami akan melindungi yang taat; yang tidak taat akan kami hukum sesuai dengan yang pantas baginya, tanpa gagal; dengan inilah semua orang harus memperhatikan kelakuannya. Semua ini kami konfirmasikan dengan dokumen publik ini, dicap dengan cap kota kita, dan diberikan pada hari St. Andrew, 1525 AD.”

6. Para Anabaptis dan pemimpin-pemimpin mereka, termasuk Grebel dan Manz, dicampakkan ke dalam penjara.

7. Pada bulan Desember 1527, Felix Manz, Jacob Falk, dan Henry Reiman, dihukum mati dengan penenggelaman. Dewan telah memutuskan, Qui mersus fuerit mergatur, atau “Dia yang menyelamkan akan ditenggelamkan.” Pemimpin Protestan, Gastins, menulis, “Mereka suka penyelaman, jadi baiklah kita menyelamkan mereka” (De Anabaptiami, 8. Basite, 1544, dikutip oleh Christian). Para Baptis itu diserahkan kepada algojo, yang mengikat tangan mereka, menempatkan mereka dalam sebuah perahu dan melemparkan mereka ke dalam air. Ada orang Protestan yang yang dengan nada mengejek menyebut ini “baptisan ketiga.”

Martis Baptis, Felix Manz (atau Mans, Mentz) (1498-1527) adalah seorang yang sangat terpelajar. Sambil dia digiring melewati kota Zurich ke perahu, dia memuji Allah bahwa dia akan mati bagi kebenaran Firman Allah. Ibunya yang tua dan saudara lelakinya yang setia menghibur dia untuk tetap setia hingga kematian. Setelah menyerukan, “Ke dalam tanganmu, Tuhan, aku menyerahkan rohku,” dia dengan kejam ditenggelamkan. Pemimpin Protestan, Henry Bullinger di Jenewa menulis sebuah catatan peristiwa tentang eksekusi Manz dan mendukung hal tersebut (Reformations Geschichte, II. 382, dikuti oleh Christian).

8. Seorang Baptis lainnya yang dianiaya oleh orang-orang berpengaruh di Zurich-nya Zwingli adalah BALTHASAR HUBMAIER.

Dia adalah seseorang yang sangat terpelajar dan pernah menjadi teman dekat Zwingli di tahun-tahun awal, dan mereka pernah berjuang bersama untuk melawan Roma Katolik. Tetapi Hubmaier rindu untuk mengikuti Alkitab dalam semua hal dan dia menolak baptisan bayi dan menjadi seorang Baptis.

Dia menulis buku-buku yang hebat untuk mempertahankan imannya dan salah satunya adalah untuk mempertahankan baptisan orang percaya. Dia berkata, “Perintah Tuhan adalah untuk membaptis mereka yang percaya. Jadi, membaptis orang-orang yang belum percaya, dilarang.” Dia benar sekali.
Dia juga menulis sebuah buku untuk melawan penganiayaan, berjudul “Tentang Para Penyesat dan Orang-Orang yang Membakar Mereka.” Dia mengajarkan bahwa bukanlah kehendak Yesus Kristus untuk membunuh orang karena apa yang mereka percayai, bahwa tugas gereja adalah menyelamatkan manusia, bukan membakar mereka.

Dia dicampakkan ke dalam penjara oleh para Protestan kota Zurich pada Januari 1526 dan ditahan di sana selama empat bulan. Permintaan-permintaan yang dia layangkan kepada teman lamanya, Zwingli, tidak dihiraukan. Istrinya juga ada dalam penjara dan kesehatannya hancur. Dia baru saja keluar dari suatu penyakit yang hampir membunuh dia.

Dalam kondisi yang menyedihkan dan penuh keputusasaan ini, dia disiksa di atas rak oleh otoritas Protestan; dan pada tanggal 6 April 1526, orang yang telah dihancurkan tersebut menarik kembali kepercayaannya.
Orang-orang Zurich dipanggil untuk berkumpul di katedral untuk mendengarkan penarikan kepercayaan oleh pengkhotbah Baptis yang terkenal ini. Zwingli pertama menyampaikan sebuah khotbah tentang para penyesat. Lalu setiap mata tertuju kepada Hubmaier, yang maju untuk membacakan penarikan kembali imannya. Sambil dia memulai dengan suara yang gemetar, dia tak kuasa untuk menahan tangis. Sambil dia terhuyung-huyung dalam derita, tiba-tiba dia dikuatkan oleh Tuhan. Dia berteriak, “BAPTISAN BAYI BUKAN DARI ALLAH, DAN ORANG HARUS DIBAPTIS BERDASARKAN IMAN DALAM KRISTUS!” Kekacauan langsung terjadi. Ada yang berteriak-teriak menghina dia, sementara yang lain meneriakkan pujian. Para otortias Zurich segera membawa dia kembali ke penjara bawah tanah.

Di sana dia menuliskan kata-kata doa yang mulia ini kepada Allah: “O, Allah yang kekal, inilah iman saya. Saya mengakuinya dengan hati dan mulut, dan telah menyaksikannya ke hadapan umum di hadapan Gereja dalam baptisan. Saya dengan setia berdoa agar Engkau dengan rahmat menjagaku sampai pada akhirku, dan seandainya saya dipaksa untuk keluar dari iman ini oleh karena ketakutan dan kepengecutan, oleh karena tirani, siksa, pedang, api, atau air, saya kini meminta kepadaMu. O, Bapa yang penuh kasih, untuk membangkitkanku lagi oleh kasih karunia Roh KudusMu, dan jangan mengizinkan saya untuk pergi tanpa iman ini. Hal ini, saya doakan dari hati saya yang terdalam, melalui Yesus Kristus, AnakMu yang terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami. Bapa, dalamMu aku menaruh percayaku, jangan biarkan aku menjadi malu.”

Doa itu dijawab, karena Hubmaier terus berdiri bagi Tuhan dan setia sampai mati. Setelah dia diizinkan untuk meninggalkan Zurich, dia pindah ke Moravia, dan di sana dia memiliki pelayanan yang sangat berbuah dan tuain jiwa yang besar dibawa kepada Tuhan.

Pada tanggal 10 Maret 1528, di Vienna, dia dibakar hingga mati di tiang bakar, dan dia mati dalam iman yang dia khotbahkan. Istrinya yang adalah seorang Kristen yang setia, ditenggelamkan delapan hari kemudian.

9. Sekitar waktu itu, Zwingli menulis sebuah buku yang keras untuk melawan para Anabaptis yang berjudul Elenchus contria Catbaptistas, atau Suatu Bantahan Terhadap Tipuan-Tipuan para Katabaptis atau Para Penenggelam. Dia menyebut kaum Anabaptis sebagai “keledai-keledai liar” dan istilah-istilah hujat lainnya dan mengatakan bahwa penyelaman mereka berasal dari Neraka dan bahwa kaum Anabaptis sendiri akan pergi ke Neraka.

10. Sekitar waktu itu, penganiayaan dilancarkan terhadap kaum Baptis di St. Gall, Switzerland.

Para pengkhotbah Baptis, seperti Konrad Grebel dan Eberle Polt berkhotbah dengan sukses yang besar di St. Gall dan ribuan orang dari seluruh daerah negeri itu mengakui Kristus dan menerima baptisan orang percaya.

Melalui dorongan Zwingli, dewan kota St. Gall menetapkan untuk menganiaya mereka dengan cara penenggelaman jika mereka menolak untuk meninggalkan daerah tersebut. Pada tanggal 9 September 1527, mereka mengeluarkan dekrit berikut:

“Supaya sekte Baptis yang berbahaya, jahat, penuh pergolakan, dan memecah belah itu dapat ditumpas, kami telah mendekritkan yang berikut ini: Jika seseorang dicurigai melakukan baptisan ulang, dia akan diperingatkan oleh magistrasi [semacam jabatan sipil yang menegakkan hukum waktu itu] untuk meninggalkan daerah ini dengan ancaman hukuman yang telah ditentukan (ditenggelamkan). Setiap orang diharuskan untuk melaporkan siapa yang setuju dan simpati dengan baptisan ulang. Siapapun yang tidak menuruti aturan ini, dapat dihukum menurut keputusan magistrasi. Para pengajar baptisan ulang, pengkhotbah baptisan ulang, dan pemimpin pertemuan-pertemuan rahasia HARUS DITENGGELAMKAN. Mereka yang sebelumnya telah dilepaskan dari penjara yang telah bersumpah untuk berhenti dari hal-hal demikian, akan mendapatkan hukuman yang sama. Para Baptis asing harus diusir keluar; jika mereka kembali MEREKA AKAN DITENGGELAMKAN. Tidak seorang pun diizinkan untuk memisahkan diri dari gereja [Zwingli] dan untuk tidak hadir dalam Perjamuan Kudus. Siapapun yang melarikan diri dari satu yurisdiksi ke yang lainnya akan diusir atau diekstradisi sesuai permintaan.”

Dekrit yang dikeluarkan pada tanggal 26 Maret 1530, bahkan lebih keras lagi: “Semua yang memegang atau bersimpati dengan sekte sesat para Baptis, dan yang menghadiri pertemuan-pertemuan mereka, akan ditimpakan hukuman-hukuman yang paling berat. PARA PEMIMPIN BAPTIS, PENGIKUT-PENGIKUT MEREKA, DAN PELINDUNG-PELINDUNG MEREKA AKAN DITENGGELAMKAN TANPA BELAS KASIHAN. Namun, mereka yang menolong mereka, atau yang gagal melaporkan atau menangkap mereka akan dihukum dengan cara lain pada tubuh atau harta, sebagai rakyat yang merusak dan tidak setia.”

11. Inkuisisi Protestan ini sangat mirip dengan yang dilakukan oleh Roma Katolik. Para Protestan mengharuskan bahwa semua warga negara/kota mereka tunduk kepada doktrin dan praktek mereka, dengan ancaman maut. Mereka mengharuskan bahwa setiap warga menjadi mata-mata untuk melaporkan kehadiran orang-orang yang tidak setuju. Bukan hanya para penentang dianiaya, demikian juga siapapun yang menolong mereka dengan cara apapun, termasuk mereka yang bahkan gagal melaporkan mereka.

 

12. Zwingli adalah seorang munafik dalam hal penganiayaan. Dia bersuara melawan para Katolik ketika mereka menganiaya kaum Protestan, tetapi dia mendukung penganiayaan terhadap kaum Baptis. Dalam 67 thesisnya melawan Roma, Zwingli berkata: “Tidak boleh ada pemaksaan yang dipergunakan dalam kasus mereka yang tidak mengakui kesalahan mereka, kecuali jika perilaku mereka yang memberontak menganggu perdamaian orang lain.” Namun, dia mengabaikan aturannya sendiri ini dan memaksa orang lain untuk percaya seperti dia percaya. Para Baptis bukanlah kaum yang memberontak. Mereka tidak berusaha untuk menggulingkan pemerintah. Mereka hanya ingin menjalankan iman mereka sendiri dalam kedamaian.

13. Penganiayaan oleh kaum Protestan di Switzerland berlanjut pada abad ke-17. “Pada konsili Jenewa, 1632, Nicholas Anthoine dihukum untuk pertama-tama digantung dan kemudian dibakar karena menentang doktrin Trinitas; dan di Basil dan Zurich, sejak Reformasi, kesesatan adalah suatu kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman mati, sebagaimana dibuktikan dengan sangat jelas oleh kematian David George dan Felix” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxviii).

14. Bahkan sampai dengan 1671, tujuh ratus orang, tanpa rumah dan harta, diusir keluar dari Berne. Besar penderitaan yang dialami tua dan muda (Richard Cook, The Story of the Baptists, 1888, hal. 65).

 

KAUM LUTHERAN DI JERMAN ADALAH PENGANIAYA

1. Memperhatikan posisi Martin Luther tentang penganiayaan
Penting untuk memahami bahwa Luther mengubah posisinya dalam banyak hal yang penting. Pada masa-masa awal Reformasinya, sebagai contoh, Luther mengajarkan bahwa cara yang benar untuk baptisan adalah penyelaman.
Dia berubah masalah baptisan. Dalam Perjanjian Baru bahasa Jerman yang dia buat, dia menerjemahkan “membaptis” dengan kata “mencelupkan,” yang adalah terjemahan yang bagus, karena memang kata tersebut berarti memasukkan ke dalam air dan mengeluarkan dari air. Istilah “menyelamkan,” sebaliknya, tidak memiliki konotasi mengeluarkan lagi dari air.

Pada tahun 1518, dia bukan hanya mengajarkan bahwa kata “baptis” artinya menyelamkan, tetapi juga bahwa arti upacara tersebut menunjuk kepada penyelaman. “Hal ini juga dituntut oleh signifikansi dari baptisan, karena memberikan arti bahwa manusia lama dan kelahiran dosa dari darah dan daging akan sepenuhnya ditenggelamkan melalui kasih karunia Allah. Jadi, seseorang harus melakukan artinya dan tandanya yang sempurna secara cukup. Tandanya itu terletak pada, hal ini, yaitu seseorang memasukkan orang lain ke dalam air dalam nama Bapa, dll., tetapi tidak meninggalkan dia di dalam air itu, tetapi mengangkat dia naik kembali; jadi ini disebut diangkat keluar dari kolam atau kedalaman. Dan jadi haruslah kedua hal ini menjadi tandanya; mencelupkan dan mengangkat naik kembali. Ketiga, artinya adalah kematian dosa yang menyelamatkan dan kebangkitan kasih karunia Allah. Baptisan adalah permandian kelahiran kembali. Juga adalah penenggelaman dosa-dosa dalam baptisan (Luther, Opera Lutheri, I. 319. Folio edition).

Bahasa Luther mirip dengan kaum Baptis dalam poin ini, tetapi pada saat yang sama, dia membela praktek baptisan bayi yang tidak alkitabiah; dan tidak lama setelah itu dia menyerah dalam hal debat tentang baptisan dan menjadi musuh kaum Anabaptis.
Luther juga berubah masalah penganiayaan dan penumpahan darah. Di masal awal karir reformasinya, Luther tidak mendukung hukuman mati bagi para guru-guru palsu, walaupun dia mendukung penganiayaan terhadap mereka asal tidak sampai dihukum mati dan juga mendukung pengasingan mereka. “Walaupun secara alami memiliki emosi yang hangat dan keras, dia tidak suka menghukum para penyesat dengan hukuman mati. Dia berkata dalam tulisan-tulisannya, Saya sangat tidak senang akan penumpahan darah, bahkan dalam kasus-kasus yang pantas; saya lebih lagi menakutinya, karena, sebagaimana para anak buah Paus dan orang Yahudi, dengan alasan yang sama ini, telah menghancurkan para nabi kudus dan orang-orang tidak bersalah, demikianlah saya takut hal yang sama akan terjadi di kalangan kita sendiri, jika, dalam satu saja kejadian, diizinkan untuk menghukum mati para penyesat. Jadi, saya tidak dapat dengan cara bagaimanapun, menyetujui agar guru-guru palsu dibunuh. Tetapi mengenai semua bentuk-bentuk hukuman lainnya, dia berpikir bahwa itu bisa, dengan sah, dilakukan: karena setelah perikop di atas dia menambahkan lagi, bahwa cukuplah sudah mereka itu diasingkan. Cocok dengan prinsip-prinsip ini, dia meyakinkan para elektor di Saxony untuk tidak menolerir, di daerah mereka, para pengikut Zuinglius, dalam pandangan mereka tentang sakramen; dan juga untuk tidak bersekutu dengan mereka dalam hal apapun, demi pertahanan mereka besama melawan usaha para katolik untuk menghancurkan mereka. …Dia juga menulis kepada Albert, Duke dari Prussia, untuk meyakinkan dia untuk mengasingkan orang-orang tersebut dari wilayahnya” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxvii, xxviii).

Belakangan Luther berubah secara dramatis. Dia mendukung penghancuran total dari para petani yang memberontak. “Tetapi ketika pada petani Jerman mencoba untuk mengaplikasikan ‘kebebasan’ ini pada diri mereka sendiri dengan cara menggulingkan pada tuan yang kejam dan mendapatkan kemerdekaan, Luther mengamuk terhadap mereka: ‘Para petani tidak mau mendengar; mereka tidak mau mengizinkan siapapun memberitahu mereka apapun; telinga mereka harus dibuka dengan peluru, sampai kepala mereka lepas dari bahu mereka. …Terhadap para petani yang keras kepala, membatu, dan buta itu; janganlah seorang pun menunjukkan belas kasihan, tetapi baiklah semua orang, semampunya, membacok, menusuk, membunuh, dan membabat sekitarnya seolah-olah di antara anjing-anjing, … supaya damai dan keamanan dapat terpelihara….dll.’ [Martin Luther, Werke, Erlangen edition, vol. 24, hal. 294; vol.15, hal. 276; passim.] Tulisan Luther tentang perang-perang dengan kaum petani penuh dengan ekspresi seperti di atas. Ketika dia pada tahun-tahun belakangan dicela karena menggunakan bahasa yang sedemikian kasar, dan karena menggerakkan pada tuan wilayah untuk membantai mereka tanpa ampun (mereka membunuh lebih dari 100.000 petani), dia menjawab dengan penuh perlawanan: “Adalah saya, Martin Luther, yang membunuh semua petani dalam pemberontakan itu, karena saya memerintahkan mereka untuk dibantai. Semua darah mereka ada atas pundak saya. Tetapi saya melemparkannya pada Tuhan Allah kita yang memerintahkan saya untuk berbicara seperti itu.’ [Martin Luther, Werke, Erlangen edition, vol. 59, hal. 284] (William McGrath, Anabaptists: Neither Catholic nor Protestant, http://www.pbministries.org/History/William%20R.%20McGrath/the_anabaptists_part1.htm).

Luther juga berbalik melawan kaum anabaptis yang pernah mendapat simpatinya. “Lebih menyedihkan lagi, Luther bereaksi dengan kekerasan yang sama terhadap kaum Anabaptis yang mencoba untuk menerapkan prinsip ‘kebebasan’ pada diri mereka sendiri. Walaupun dia tahu bahwa ada kaum Anabaptis yang tidak melawan dan sama sekali tidak berbahaya, dan juga ada elemen revolusioner yang pinggiran tetapi radikal, dia mengelompokkan semuanya menjadi satu dan memilih kebijakan untuk menghancurkan semuanya sekaligus” (William McGrath, Anabaptists: Neither Catholic nor Protestant, http://www.pbministries.org/History/William%20R.%20McGrath/the_anabaptists_part1.htm).

2. Pada tahun 1529, aturan DIET OF SPEIRS menyatakan hukuman mati bagi semua Anabaptis. Dewan yang mengeluarkan aturan ini terdiri dari pangeran dan kepala negara Roma Katolik maupun Protetan. Mereka saling membenci, dan bahkan untuk membuat Aturan (Diet) ini pun mereka banyak tidak bisa sepakat, tetapi mereka membenci kaum Anabaptis lebih lagi!

3. Pengumuman Diet (Aturan) ini, sangat mempercepat program pemusnahan yang sudah berjalan. “Empat ratus polisi spesial dipekerjakan untuk memburu kaum Anabaptis dan mengeksekusi mereka di tempat. Angka ini ternyata terlalu sedikit dan ditingkatkan menjadi seribu. …ribuan Anabaptis jatuh korban kepada salah satu penganiayaan paling menyeluruh dalam sejarah Kristen. …Kayu api dan tiang bakar yang menyala menjadi pertanda perjalanan mereka di seluruh Eropa” (Halley).

4. Pada tahun 1538, Elektor Lutheran di Hesse, Jerman, menulis kepada Raja Henry VIII di Inggris dan mendorong dia untuk menganiaya kaum Anabaptis. Dia bersaksi: “Tidak ada pemerintah di Jerman, apakah yang dari pihak Paus, ataupun para penganut doktrin Injil [Protestan], yang membiarkan orang-orang ini jika jatuh ke tangan mereka. Semua orang akan menghukum mereka dengan cepat. Kita menggunakan peraturan yang adil, yang Allah tuntut dari semua pemerintah yang baik. Jika ada yang dengan keras kepala membela kesalahan-kesalahan yang fasik dan jahat dari sekte tersebut, tidak mau menurut kepada orang-orang yang dapat mengajar mereka dengan benar, maka mereka ini ditaruh di tempat di penjara, dan terkadang dihukum dengan berat di sana; namun mereka diperlakukan sedemikian rupa, sehingga kematian tidak akan terjadi untuk waktu yang lama, dengan harapan akan ada perbaikan; dan selama ada harapan, kita lebih memilih untuk menunjukkan kehidupan. Jika tidak ada harapan lagi, maka yang keras kepala dihukum mati” (Evans, The Early English Baptists, pasal 2). Itu adalah “peraturan adil” yang dijalankan Protestan!

5. “Seckendorf juga memberitahu kita, bahwa para pengacara Lutheran di Wittenburg, menghukum mati seorang Pestelius, karena ia dari kelompok Zuinglian, walaupun hal ini tidak disetujui oleh elektor Saxony. Beberapa orang Anabaptis juga dihukum mati, oleh para Lutheran, karena ketegaran mereka untuk terus menyebarkan kesalahan-kesalahan mereka” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxviii).

6. URBANUS RHEGIUS adalah seorang pemimpin Lutheran di Augsburg yang menganiaya kaum Baptis.

Dia menerbitkan sebuah buku melawan kaum Baptis pada tahun 1528. Ilustrasi pada halaman judulnya mendemonstrasikan kebencian para Lutheran terhadap sekte ini. Pada halaman sampul terlihat sebuah sungai yang mengalir ke suatu badan air yang besar seperti laut. Para Baptis digambarkan sedang terjatuh ke dalam air dan terbawa ke laut itu ke api yang menyala-nyala. Jadi, air dalam baptisan orang percaya digambarkan sebagai jalan menuju neraka. Ini adalah posisi standar kaum Lutheran pada waktu itu.
Rhegius adalah penggerak utama penganiayaan di kota Protestan, Augsburg. Sejarahwan Philip Schaff, yang sendirinya adalah seorang Lutheran dan jelas tidak bias melawan kaum Protestan, mengatakan, “Rhegius menggerakkan para magistrasi untuk melawan mereka” (Schaff, History of the Christian Church, VI. 578).

Hans Koch dan Leonard Meyster dimatikan pada tahun 1524. Rhegius menyebabkan gembala sidang Baptis, Hans Denk, diusir dari kota pada tahun 1527. Dia menyebabkan gembala Langenmantel ditangkap dan diasingkan pada bulan Oktober tahun itu juga. Leonard Snyder dimatikan pada tahun 1527. Banyak yang mati dalam penjara, termasuk Hans Hut, yang jasadnya dibakar di lapangan umum di Augsburg. Gembala Baptis, Seebold, dimatikan pada bulan April 1528, dan 12 lainnya dibunuh belakangan tahun itu. Banyak yang disiksa dan dicap dengan besi panas. Satu orang dipotong lidahnya karena bersuara menentang baptisan bayi.

7. Tokoh reformator Lutheran, OSIANDER, di Nuremberg, Jerman, menganiaya dan mengancamkan kematian kepada kaum Anabaptis di wilayahnya.

Hans Denk, yang belakangan menggembalakan sebuah gereja Baptis besar di Strasburg, ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah sekolah Lutheran St. Sebald di Nuremberg. Pada waktu itu, Denk baru saja mulai mengembangkan paham-paham Anabaptis-nya, dan dia segera berkonflik dengan para Protestan.

Pada Januari 1525, Denk diusir dari kota itu oleh Osiander, dan diperingatkan bahwa jika dia datang lagi dalam jarah 10 mil dari kota, dia akan dibunuh. Denk pindah ke Augsburg, dibaptis di sana oleh pengkhotbah Anabaptis, Hubmaier, dan menjadi gembala sidang dari sebuah gereja Baptis yang kuat di kota itu, dengan keanggotaan mencapai 1.100 orang. Akhirnya, pemimpin Lutheran yang telah disebut di atas, Urbanus Rhegius, menganiaya Denk dan mengusirnya dari Augsburg.

8. Pemimpin Lutheran lainnya yang terkenal adalah MARTIN BUCER (1491-1551). Dia berpengaruh di Augsburg, Jerman, dan berusaha membuat dewan kota menganiaya kaum Anabaptis.

Bucer senantiasa frustrasi dengan Dewan kota karena mereka ragu-ragu untuk menganiaya kaum Anabaptis sekeras yang dia inginkan, dan menyebut hal ini sebagai “dosa dari Senat.”

Dalam kasus Pilgram Marbeck dan beberapa orang lainnya, dia berhasil. Marbeck adalah seorang insinyur sipil yang menonjol, yang terpaksa untuk lari dari kota Tyrol, yang dikuasai Katolik, karena penganiayaan. Dia tiba di Augsburg pada 1530, dan berkhotbah dengan berani bukan hanya melawan kesalahan-kesalahan Roma, tetapi juga kesalahan-kesalahan para Reformator Protestan. Ketika dia menerbitkan dua buku yang mempertahankan pandangannya pada tahun 1531, dewan kota melarang distribusi buku tersebut dan memanggil dia untuk memberikan jawaban. Bucer hadir di sana dan melawan dia, dan pada 18 Desember, dewan kota mengasingkan pengkhotbah Anabaptis ini, di tengah musim dingin, dengan Bucer sepenuhnya mendukung keputusan yang kejam tersebut.

Pada tahun 1529, dewan kota Augsburg, yang dipengaruhi oleh kaum Protestan, memenjarakan pengkhotbah Anabaptis Jacob Kantz dan Reublin di sel-sel tahanan yang gelap di menara kota. Kantz telah menyebut para Reformator sebagai “tukang-tukang yang tidak berketerampilan, yang banyak membongkar, tetapi tidak mampu untuk menyusun apa-apa.” Ini adalah pendapat yang sejati dari sudut pandang Baptis, tetapi kaum Protestan tidak suka dengan gambaran demikian.

Ketika di dalam penjara, para Baptis menulis untuk mempertahankan baptisan orang percaya sebagai simbol ekspresi iman internal kepada Kristus. Mereka mengatakan bahwa “iman yang diakui adalah anggur, dan baptisan adalah papan nama yang digantung di luar untuk menunjukkan anggur yang ada di dalam.”

Pada tahun 1534, dewan kota mengusir semua kaum Baptis dari kota itu, dengan memberikan delapan hari peringatan. Tahun berikutnya, dewan kota Protestan tersebut mengklaim bahwa semua bayi harus dibaptis dan jika tidak orang tuanya akan dihukum, dan tidak ada seorang pun yang boleh memberikan tumpangan atau bantuan kepada kaum Anabaptis.

Pada tahun 1538, karena tidak berhasil menghilangkan semua kaum Anabaptis yang dibenci itu, dewan Protestan di Augsburg memproklamirkan bahwa orang-orang yang kembali ke kota itu [setelah diusir], untuk kali pertama akan kehilangan sebuah jari, dicap di pipi, dan dipasang besi di leher. Jika mereka kembali lagi, mereka akan ditenggelamkan. Dengan seriusnya proklamasi itu menambahkan, “Kami melakukan ini, bukan untuk membuat orang memercayai yang kami percayai. Ini bukan masalah iman, tetapi untuk menghindarkan perpecahan dalam Gereja.” Halo! Perpecahan yang terjadi adalah karena masalah iman!

 

JOHN CALVIN DI JENEWA ADALAH SEORANG PENGANIAYA

1. Calvin memaksakan doktrin dan prinsip-prinsip Kristiani dengan todongan pedang. Pada Oktober 1563, pemerintah Jenewa membakar hingga mati Michael Servetus karena kesesatan. Servetus berpegang pada pandangan unitarian dan jelas adalah seorang guru palsu, tetapi Perjanjian Baru sama sekali tidak pernah menginstruksikan gereja-gereja Tuhan untuk membunuh guru-guru palsu. Hukuman mati Servetus didukung bukan hanya oleh Calvin, tetapi juga oleh Melanchthon di Jerman dan Bullinger di Jenewa dan pemimpin-pemimpin Protestan lainnya yang dimintai pendapat tentang kasus tersebut.

2. Orang-orang lain juga dihukum mati di bawah pengawasan Calvin. “Sedemikian setujunya dia dengan tindakan-tindakan penganiayaan itu, sehingga dia menulis sebuah buku untuk mempertahankannya, yaitu mempertahankan legalitas mematikan para penyesat; dan dia menerapkan teori-teori kaku ini kepada prakteknya, dalam perlakuan dia terhadap Castellio, Jerom Bolsee, dan Servetus, orang-orang yang nasibnya sudah diketahui umum sehingga tidak perlu diulangi di sini. Pada konsili Jenewa 1632, Nicholas Anthoine dijatuhi hukuman pertama-tama digantung, dan lalu dibakar, karena menentang doktrin Tritunggal…” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. Xxviii).

3. Pada zaman Raja Edward VI di Inggris, Calvin menulis sebuah surat ke Lord Protector Somerset, dan menghimbau dia untuk membunuh para Anabaptis: “Mereka ini semua pantas untuk dihukum dengan pedang, karena mereka sungguh bersekongkol melawan Allah, yang telah menempatkan dia di kursi kerajaannya” (John Christian, A History of the Baptists, Vol. 1, chap. 15).

4. Sejarahwan John Christian mengobservasi bahwa Calvin “bertanggung jawab besar untuk setan kebencian dan perlawanan sengit yang harus dihadapi oleh kaum Baptis di Inggris.”

 

PENGANIAYAAN OLEH KALVINIS DI BELANDA MELAWAN KAUM ARMINIAN

“Jika kita berpindah ke Belanda, kita juga akan menemukan bahwa para reformator di sana, kebanyakan mereka, mendukung prinsip-prinsip dan tindakan-tindakan penganiayaan. …perselisihan yang paling menggemparkan adalah antara kaum Kalvinis dan Arminian. … Pada saat kedua pihak memiliki suatu dogma untuk diperdebatkan, kontroversi tersebut menjadi tidak lagi dapat diselesaikan, dan dilaksanakan dengan kekerasan yang mencengangkan. Para pelayan dari pihak predestinasi tidak mau sama sekali membuat kesepakatan; para remonstran [non-Kalvinis] menjadi objek semangat mereka yang membara, yang mereka sebut sebagai orang-orang bodoh, setan-setan dan tulah-tulah; menggerakkan para magistrasi untuk menghancurkan mereka; dan ketika waktu pemilihan baru mendekat, mereka meminta kepada Allah orang-orang yang menggebu-gebu, bahkan hingga penumpahan darah, sekalipun harus membayar harga seluruh perdagangan kota-kota mereka. Pada akhirnya, sebuah sidang sinode berkumpul, bertindak dalam tata cara yang biasa; mereka memproklamirkan prinsip-prinsip iman dengan yakin, menghukum doktrin para remonstran; mengusir antagonis mereka dari jabatan-jabatan mereka; dan mengakhiri dengan rendah hati meminta Allah dan para petinggi mereka, untuk mengeksekusi dekrit-dekrit mereka, dan untuk meratifikasi doktrin yang telah mereka ekspresikan. Pemerintah menuruti mereka dalam permintaan yang kristiani yang penuh kasih ini, karena segera setelah sidang sinode berakhir, Barnwelt, seorang teman dari kaum remonstran dan pendapat mereka, dipenggal kepalanya, dan Grotius dijatuhi hukuman penjara seumur hidup; dan karena para pelayan yang berbeda pendapat tidak mau berjanji secara total dan terus menerus untuk tidak menjalankan tugas-tugas religius mereka, negara mengeluarkan resolusi untuk pengusiran mereka, dengan ancaman, jika mereka tidak menerima hal tersebut, bahwa mereka akan diperlakukan sebagai pengganggu ketenangan umum” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxviii, xxix).

GEREJA INGGRIS ADALAH PENGANIAYA

Gereja Anglikan dibentuk pada tahun 1534 oleh Raja Henry VIII, dan sejak saat itu hingga hampir akhir abad 17, kaum Baptis dan kelompok-kelompok lainnya yang menolak untuk tunduk kepada gereja negara mengalami penganiayaan.

PENGANIAYAAN KAUM BAPTIS PADA ZAMAN RAJA HENRY VIII, SETELAH DIA BERPISAH DARI ROMA

1. Henry naik takhta pada tahun 1509, dan tiga kali dalam pemerintahannya dia mencela kaum Anabaptis melalui proklamasi resmi. Di sisi lain, ini adalah bukti yang tak terbantahkan bahwa sudah ada kaum Baptis di Inggris pada waktu yang awal tersebut.

2. Pada tahun 1534, Henry berpisah dari Roma dan membentuk Gereja Inggris.

3. Pada tahun 1535, 28 orang Belanda ditangkap dan 14 dibakar sampai mati, minimal salah satunya seorang wanita. Sejarahwan Stowe mengatakan bahwa mereka menyangkal bahwa Kristus adalah Allah dan manusia, tetapi tidaklah mungkin sekarang ini untuk tahu secara persis apa yang mereka percayai, selain dari yang dituduhkan oleh musuh mereka pada mereka. Latimer, yang adalah pelayan kapel di bawah raja Henry, dan yang belakangan dibakar juga oleh Ratu Mary, menggambarkan kematian mereka dan mengatakan bahwa mereka maju ke tiang bakar “tanpa rasa takut apapun di dunia, dengan riang gembira.”

4. Menurut Foxe, dengan mengutip catatan-catatan registrar London, sembilan belas Anabaptis lainnya dihukum mati di berbagai tempat di kerajaan itu pada tahun 1535.

5. Pada Oktober 1538, raja menunjuk Thomas Cranmer, Uskup Agung Canterbury yang baru (setelah kematian Warham), untuk mengepalai sebuah komite untuk menuntut para Baptis di mana pun mereka dapat ditemukan. Dia memerintahkan agar buku-buku para Baptis diambil dan dibakar. “Bahkan para reformator kita yang telah melihat api yang dinyalakan oleh kaum Katolik melawan saudara mereka, telah sendirinya menyalakan api juga untuk menghanguskan orang-orang yang berbeda dengan mereka. Tangan Cranmer berlumuran darah beberapa orang. John Lambert dan Ann Askew akan selalu menjadi saksi semangatnya dalam menghancurkan” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. Xxix).

6. Pada tahun 1539, dua lagi orang Anabaptis dibakar.

7. Anne Askew dipenjarakan, disiksa, dan akhirnya dibakar hingga mati pada Juli 1546. Dia dibunuh oleh tangan Gereja Inggris setelah Gereja itu berpisah dari Roma.

Setelah wanita berusia 24 tahun itu dijatuhi hukuman mati dan dipenjarakan di Menara London untuk menantikan eksekusi, para penganiaya-nya berusaha untuk membuat dia membocorkan informasi tentang orang-orang percaya lainnya. Mereka juga berharap untuk mendapatkan informasi melawan Ratu Catherine sendiri, yaitu istri dari Henry VIII. Ketika Anne menolak untuk memberikan mereka informasi apapun, mereka menaruh wanita lemah itu di atas rak penyiksaan dan memerintahkan Sir Anthony Knyvet, Letnan di Menara tersebut, untuk menginstruksikan penjaga penjara untuk menyiksa dia. Dia melakukannya, tetapi tidak dengan terlalu keras, meningat sifat feminim dari subjek. Tidak puas dengan penyiksaan rak yang diberikan kepadanya oleh sang Letnan, Thomas Wriothesley, kanselir Inggris, dan Master Rich, Solicitor-General, dengan marah mengambil alih kontrol atas rak penyiksaan dan memperlakukan wanita saleh itu dengan kekejaman yang tidak manusiawi. Sedemikian bertekadnya mereka untuk mendapatkan nama-nama wanita bangsawan manapun yang percaya kepada kasih karunia Yesus Kristus, mereka dengan kejam menyiksanya, menarik tulang-tulang dan pergelangan-pergelangannya keluar dari tempat semestinya, sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa berjalan setelah itu dan harus diangkat ke tempat eksekusinya di atas sebuah kursi. Sementara semua itu berlangsung, dia tidak menangis dan menanggung penyiksaan jahat mereka dengan kasih karunia kesabaran yang diberikan kepadanya oleh Tuhan, menolak untuk membocokan satu pun dari teman-temannya kepada para penyiksa. Dia akhirnya pingsan dari rasa sakit, dan Sir Knyvet membawa dia dengan tangannya dan meletakkan dia di atas lantai. Ketika dia bangun, dan sementara dia masih terbaring di atas lantai batu yang keras, Wriothesley masih tinggal bersama dia dua jam lebih lama, berusaha untuk membuat dia menyangkali pandangan-pandangan agamawinya.

Dalam kesaksian tertulisnya, wanita Kristen yang berani tersebut memberikan suatu kesaksian yang mulia tentang imannya dalam Yesus Kristus dan dalam darahNya dan kasih karunia saja untuk keselamatan, dan dia menyatakan bahwa satu-satunya otoritasnya adalah Alkitab. Walaupun ayahnya, suaminya, dan putranya telah meninggalkan dia karena imannya, dan walaupun dia dibenci oleh para penguasa negaranya sendiri, kita bisa pasti bahwa wanita Kristen yang rendah hati ini, tidaklah ditinggalkan oleh Bapa Sorgawinya. “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Maz. 27:10).

Anne dan tiga orang penentang Gereja Inggris lainnya dibawa ke tempat eksekusi pada tanggal 16 Juli 1546. Ketika mereka dirantai ke tiang, mereka ditawarkan pengampunan jika mereka mau menandatangani surat penyangkalan. Mereka menolak untuk bahkan melihat kertas yang berisikan pengampunan itu dan menyatakan bahwa mereka tidak datang ke tempat tersebut untuk menyangkal Tuhan mereka. Pada waktu itu, api dinyalakan dan Anne dan teman-temannya dalam Kristus dibakar sampai mati oleh otoritas gerejawi.

8. Orang-orang Baptis lainnya menderita selama masa pemerintahan Henry VIII, bapa dari Gereja Inggris.

 

KAUM BAPTIS DIANIAYA PADA ZAMAN RAJA EDWARD VI

Pada saat kematian Henry pada tahun 1547, putranya Edward, yang masih muda, memerintah selama enam tahun.

1. Edward menghentikan penganiayaan terhadap kaum Protestan, dan bahkan memberikan pengampunan kepada sejumlah kriminal; tetapi penganiayaan terhadap kaum Baptis berlanjut. Sedikitnya dua orang Baptis dibakar di tiang bakar selama pemerintahan Edward.

2. Walaupun demikian, jumlah kaum Baptis terus meningkat pesat. Uskup John Hooper menulis pada tahun 1549 untuk mengeluh tentang “kawanan domba Anabaptis” di London yang “memberikan saya banyak masalah.” Sangatlah jelas melalui pernyataan-pernyataan lain dari otoritas-otoritas gereja pada waktu itu bahwa ada sebuah gereja Baptis yang terorganisir yang menjalankan upacara-upacara Kristiani. Kita telah melihat bahwa kaum Baptis eksis di London pada masa pemerintahan Henry. Juga ada gereja-gereja Baptis di distrik Kent pada paruh pertama tahun 1500an. Pada Juni 1550, Uskup Hooper menulis, “Distrik itu tergoncang oleh semangat Anabaptis lebih dari bagian kerajaan yang lain manapun” (Ellis, Original Letters, I. 87).

3. Humphrey Middleton adalah seorang Baptis yang dipenjarakan selama bertahun-tahun pada masa pemerintahan Edward. Taktik yang brutal ini didukung oleh reformator Protestan, Thomas Cranmer. “Ketika Cranmer menjatuhkan hukumannya yang berat [melawan Middleton], si tokoh Baptis yang pintar itu menjawab, “Tuan reverend, jatuhkanlah hukuman apa yang menurutmu pantas untuk kami. Tetapi supaya jangan nanti anda berkata anda tidak diperingatkan, saya bersaksi sekarang bahwa berikutnya bisa saja giliranmu.” Hanya beberapa tahun kemudian, sang Protestan Cranmer, yang telah mendukung pemenjaraan dan pembakaran kaum Baptis, dirinya sendiri dibakar oleh Ratu Mary yang Katolik (Evans, Early English Baptists, volume 1; Foxe, Martyrs).

4. Pada Mei 1549, Joan Boucher ditangkap. Dia adalah seorang wanita Anabaptis dari Kent, kemungkinan seorang anggota sebuah jemaat kecil di kota Eythorne. Dia adalah seorang wanita yang memiliki cukup banyak harta dan sering berkunjung ke istana kerajaan selama zaman Henry VIII dan Edward. Dia juga adalah teman dekat dari Anne Askew yang saleh, yang dibakar pada zaman Henry VIII, dan seperti Anne, mencintai Perjanjian Baru Tyndale dan mendistribusikan salinan-salinannya kepada orang-orang lain dengan bahaya besar untuk dirinya sendiri. Dia juga mengunjungi orang-orang tahanan dan memakai kekayaannya untuk meringankan orang-orang yang menderita demi iman mereka.

Pada saat dia ditangkap, Joan dituduh mempercayai “bahwa Kristus tidak menjadi daging dari Perawan Maria,” tetapi tuduhan itu sama sekali tidak benar. Dia memegang kepercayaan yang eksentrik dan salah bahwa Maria memiliki dua benih, satu benih alami dan satu rohani, dan bahwa Kristus adalah dari benih rohani. Jika membaca catatan pengadilan, sulit untuk mengetahui persisnya apa yang dia maksudkan, tetapi satu hal ini jelas: dia dengan jelas bersaksi bahwa Maria adalah seorang perawan ketika Yesus dilahirkan dan bahwa dia menerima Kristus sebagai baik manusia maupun Allah dan sebagai Anak Allah yang lahir dari perawan. Jadi, jika dia mempercayai hal-hal aneh mengenai benih Maria, jelas itu bukanlah kesalahan yang lebih besar dari baptisan bayi dan regenerasi melalui baptisan, dan ketidakberdosaan Maria, yaitu kesalahan-kesalahan yang dipegang oleh orang-orang yang menghukum Joan.

Gereja Inggris membakar Joan dari Kent hingga mati pada 2 Mei 1550.

5. Tokoh Baptis lainnya yang mengalami kemartiran di bawah rezim Edward VI adalah George van Pare (atau Parris), seorang ahli bedah dari Jerman. Adalah suatu noda hitam yang menyedihkan atas nama yang sangat bagus, yaitu penerjemah Alkitab Miles Coverdale, karena dia duduk sebagai hakim atas pengadilan Pare. Pare dibakar hidup-hidup pada April 1551. “Dia menderita dengan keteguhan pikiran yang kuat, dan mencium tiang bakar dan kayu bakar yang akan dipakai untuk menghanguskannya” (Burnet, History of the Reformation, II).

6. Contoh lain penganiaya dari pihak Protestan di Inggris adalah John Hooper. Dia adalah seorang pemimpin di Gereja Inggris selama pemerintahan Edward, dan pada tahun 1549, dia menulis kepada pemimpin Protestan, Henry Bullinger di Jenewa, untuk mengeluh masalah “kawanan Anabaptis” yang “membuat banyak masalah bagi saya” (Ellis, Originial Letters Relative to the English Reformation, I. 65). Hooper, sang Protestan yang menganiaya kaum Baptis itu, belakangan dibakar juga oleh Ratu Mary yang Katolik.

7. Contoh lain adalah Nicholas Ridley, yang dibakar oleh Ratu Mary pada 17 Oktober 1555 (pada waktu yang sama dengan Latimer). Seperti Thomas Cranmer, Ridley terlibat dalam penghukuman mati Joan Bucher (Joan dari Kent) selama pemerintahan Edward VI. Ridley juga terlibat dalam pembakaran George van Pare pada tahun 1551. Hukuman mati tokoh Anabaptis ini ditandatangani oleh Ridley, Cranmer, dan Coverdale.

8. Tokoh Protestan, John Philpot, yang dibakar oleh Ratu Mary pada 18 Desember 1555, juga mendukung pembakaran Joan dari Kent. Philpot bersaksi, “Mengenai Joan dari Kent, dia adalah seorang wanita murahan (saya mengenal baik dia), dan sungguh seorang penyesat, sangat pantas untuk dibakar…” (Philpot’s Work’s, Parker Society, hal. 55). Demikian juga yang dikatakan oleh Ratu Katolik Mary tentang sang Protestan Philpot.

9. Contoh lain lagi dalam urusan yang menyedihkan ini adalah John Rogers. Dia juga mendukung pembakaran Anabaptis, Joan Boucher. Sejarahwan John Foxe, yang memperlihatkan kebaikan dirinya, menentang pembakaran tersebut, dan mencoba untuk menyelamatkan wanita tersebut dari pengadilan itu. Foxe memohon temannya Rogers untuk membantunya. Rogers menolak, dengan berkata bahwa dia [Joan] perlu dibakar dan berbicara tentang kematian melalui pembakaran sebagai sesuatu yang ringan. Foxe menarik tangan Rogers dan menjawab, “Nah, bisa jadi bahwa kamu sendiri akan suatu hari diperhadapkan kepada pembakaran yang ringan ini” (Thomas Armitage, A History of the Baptists, 1890). Kita bertanya-tanya apakah Rogers ada memikirkan pernyataan tersebut, ketika beberapa tahun kemudian dia digiring keluar ke setumpuk kayu bakar dan dibakar di hadapan istri dan 11 anaknya oleh Ratu Katolik Mary.

10. Hugh Latimer juga adalah seorang reformator Protestan lainnya yang terkenal yang mendukung penganiayaan dan pembakaran kaum Baptis pada zaman Edward. Latimer dibakar oleh Ratu Katolik Mary pada 17 Oktober 1555, tetapi sebelum itu dia sendiri tangannya berlumuran darah orang-orang kudus. Dia adalah uskup London di bawah Edward VI, dan walaupun dikabarkan bahwa dia adalah seorang yang baik hati, kebaikan itu tidak berlaku bagi kaum Anabaptis. Dalam salah satu khotbah yang dia sampaikan di hadapan Raja Edward, Latimer menyebut para Anabaptis “penyesat-penyesat beracun” dan mengacu kepada pembakaran mereka, dengan dingin berkata, “Ya, biarkan mereka pergi” (Cranmer’s Sermons, Parker Society, vol. v).

Mengenai martir mereka sendiri, kaum Protestan jelas tidak menunjukkan sikap yang sama, “Ya, biarkan mereka pergi” — dengan kata lain, bagus sekalian hilang sana. Mereka sama sekali tidak memiliki sikap ini. Para sejarahwan Protestan, seperti Foxe dan Wylie dan ribuan lainnya, telah mendirikan peringatan-peringatan besar untuk ingatan akan martir-martir mereka, tetapi sejarahwan-sejarahwan yang sama ini secara umum tidak menyinggung sedikit pun kecuali cercaan bagi ingatan akan kaum Baptis.

 

 

(Bersambung minggu depan untuk tokoh-tokoh reformator lainnya)

Gambaran Dinosaurus dari Abad-Abad Pertengahan

(Berita Mingguan GITS 11 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dua gambaran dinosaurus dari abad-abad pertengahan dapat ditemukan di sebuah kuil Buddha di Angkor di Kamboja, dan juga di makam Uskup Richard Bell di Katedral Carlisle di Inggris. Gambaran di kuil Ta Prohm di Angkor, yang ditanggali dari sekitar 1200 M, adalah suatu makhluk yang persis sama bentuknya dengan seekor stegosaurus, walaupun telah diajukan teori-teori lain mengenai apa gambar pahatan tersebut. “Penjelasan yang paling sederhana adalah bahwa pahatan di Ta Prohm adalah gambar seekor dinosaurus dari keluarga Stegosauridae. Dengan kata lain, ini adalah gambar dinosaurus versi artis, bukan versi ilmuwan. Faktanya, elemen-elemen utama dari dinosaurus tipe stegosaurus dengan jelas tergambar: yaitu punggung yang melengkung tegas dan tubuh dinosaurus, dan yang krusialnya, piringan-piringan di sepanjang punggung binatang tersebut. Tidak ada binatang lain yang kita ketahui, entah fosil atau yang masih hidup, yang memiliki sebaris piring yang khas seperti itu di punggungnya” (“Did Angkor Really See a Dinosaur?” Creation Magazine, April 2013).

Image result for dinosaur in ta prohm angkor

Dekorasi perunggu di makam Richard Bell, yang ditanggali dari 1496 M, mengandung suatu gambaran dari apa yang nampak seperti dua dinosaurus. “Pada salah satu ukiran, makhluk-makhluk ini tidak diragukan memiliki kemiripan dengan dinosaurus tertentu. Namun bagaimana bisa demikian, karena makam uskup ini telah ditutup dan didekorasi lebih dari tiga abad sebelum penemuan fosil tulang makhluk-makhluk itu digali dan ditemukan secara sistematis, digambarkan, dan diberi nama? … Walaupun dinosaurus sepertinya sudah punah hari ini, tidaklah mengagetkan jika ada jenis tertentu yang masih hidup hingga waktu yang tidak terlalu lama yang lalu. … [Ukiran tersebut] menunjukkan dua dinosaurus sedang bergumul (atau mungkin bercinta). [Yang satu] mirip gambaran dinosaurus tipe sauropod, misal Apatosaurus. Dalam ukiran itu ia digambarkan dengan leher horizontal, bukan terangkat tinggi seperti yang dipercayai oleh para paleontologis hingga terakhir ini. Serupa dengan itu, ekornya juga terangkat, bukan terletak pada tanah, sebagaimana semua banyak digambarkan dalam rekonstruksi sauropod” (“Bishop Bell’s Brass Behemoths,” Creation Magazine, September 2003).

Image result for dinosaur in richard bell tomb

Gereja Anglikan Melarang Lagu “Maju Laskar Kristus”

(Berita Mingguan GITS 11 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah jemaat Gereja Inggris telah melarang lagu “Maju Laskar Kristus” dalam kebaktian mereka akhir pekan yang lalu ini, supaya tidak “menyinggung perasaan” orang-orang non-Kristen. Gereja Santo Petrus di Oadby, Leicester, menghilangkan lagu tersebut dari kebaktian tahunan Sunday Remembrance, yang memperingati prajurit-prajurit Inggris yang meninggal (“Church Bans Singing ‘Onward Christian Soldiers,’” Christian Post, 29 Okt. 2017). Lagu ini dulunya selalu dinyanyikan sebagai tradisi. Sebagian anggota jemaat berencana untuk tetap di luar pada waktu acara kebaktian dan menyanyikan lagu ini di luar sebagai bentuk protes, tetapi menurut kami ini adalah tindakan sia-sia, karena sangatlah jelas bahwa sudah lama sekali tidak ada laskar Kristen yang sejati yang duduk di bangku-bangku “gereja” itu.

Pelajaran dari Operasi Pra-Kelahiran

(Berita Mingguan GITS 11 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

New York Times baru-baru ini melaporkan tentang sebuah operasi pra-kelahiran yang dilakukan untuk memperbaiki kecacatan yang dikenal dengan istilah spina bifida (tulang belakang pada bayi tidak menutup dengan sempurna). Para dokter telah menganjurkan kepada kedua orang uta, Lexi dan Joshuwa Royer, untuk mengaborsi bayi tersebut, dengan alasan bahwa anak kemungkinan akan memiliki “kualitas hidup yang rendah.” Tetapi, mereka lebih memilih operasi pra-kelahiran. Selama prosedur yang berlansung tiga jam itu, dokter membelah perut Ny. Royer, dengan hati-hati mengeluarkan rahim dari tubuhnya, memasukkan fetoskop dan alat-alat operasi lainnya ke dalam rahim melalui pembukaan rahim, dan mengoperasi bayi yang masih dalam kandungan usia 24 minggu itu. Cairan amniotik (air ketuban) dikosongkan dan sebagai gantinya dimasukkan karbon dioksida untuk mempertahankan rahim tetap mengembang, sehingga dokter bedah dapat melihat dan mengkaterisasi jaringan dengan lebih baik. Ada banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa ini. Pertama, kita memuji keluarga Royer karena tidak mau mengaborsi bayi mereka. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah pencipta dan pemberi buah kandungan (Kej. 29:31; 30:22; Rut. 4:13) dan Dia membentuk bayi di dalam kandungan (Maz. 139). Kedua, kerelaan sang ibu untuk mempertaruhkan nyawanya demi kebaikan bayinya, adalah suatu tindakan kasih yang mengatasi kepentingan sendiri, dan ini mengingatkan bahwa kita dibentuk dalam gambar dan rupa Allah dan masih memiliki keserupaan itu, walaupun telah jatuh. Salah satu dokter yang membantu dalam operasi tersebut mengobservasi bahwa “operasi janin adalah salah satu dari sedikit operasi yang bisa memiliki tingkat mortalitas 200%.” Ketiga, teknologi medis modern itu sendiri adalah bukti bahwa manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah, dan bukanlah bagian dari dunia binatang. Keempat, kepercayaan pada Allah memberikan orang perspektif yang berbeda dan lebih baik terhadap kehidupan. Ibu dari Ny. Royer mengatakan bahwa walaupun mereka tahu bahwa bayi itu kemungkinan besar akan memiliki kecacatan tertentu, “Kami percaya dengan kuat kepada Allah dan kami damai tentang hal ini; bayi ini akan sangat dikasihi; kami tidak peduli hal lain” (“Reporting from the Operating Room as Doctors Perform Fetal Surgery,” The New York Times, 24 Okt. 2017).

Para Uskup Agung Gereja Inggris yang Sesat

(Berita Mingguan GITS 4 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Inggris [disebut juga Gereja Anglikan] tidak pernah sehat dalam hal pengajaran Firman Tuhan, tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini, ia semakin menjauh dari Firman Allah. Perhatikan beberapa pernyataan dari 65 tahun belakangan ini, yang dibuat oleh para Uskup Agung Canterbury, yaitu posisi tertinggi dalam gereja Anglikan (Editor: dalam sistem gereja Inggris, yang meniru sistem Katolik, Raja Inggris adalah kepala gereja, tetapi Uskup Agung Canterbury adalah kepala rohaninya). Pada tahun 1953, William Temple, dalam bukunya Nature and God, mengatakan, “… tidak ada yang namanya kebenaran disingkapkan.” Pada tahun 1961, Michael Ramsey mengatakan, “… sorga bukanlah tempat untuk hanya orang Kristen. … Saya yakin akan melihat banyak orang yang hari ini atheis nanti di sana” (London Daily Mail, 2 Okt. 1961). Pada tahun 1982, Robert Runcie mengatakan bahwa dia agnostik [tidak tahu] tentang mengapa Yesus menderita di atas kayu salib (Sunday Times Weekly Review, London, 11 April 1982). Saya membaca wawancara itu sambil makan sarapan di London waktu itu, dan hampir menumpahkan kopi saya. Pada tahun 1996, George Carey menyerang para fundamentalias yang menurut dia menempatkan Alkitab “di atas dan terlepas dari penyelidikan manusia” (Christian News, 9 Des. 1996). Pada tahun 2008, Rowan Williams memimpin Gereja Inggris untuk membuat pernyataan berikut: “Charles Darwin, 200 tahun sejak kelahiranmu, Gereja Inggris berhutang pernyataan maaf karena telah salah memahamimu, dan membuat reaksi pertama yang salah, sehingga mendorong orang-orang lain untuk masih salah memahamimu hingga sekarang” (“Church Makes ‘Ludicrous’ Apology,” The Daily Mail, 13 Sep. 2008). Dalam sebuah wawancara tahun 2014, Williams mengatakan bahwa dia mempraktekkan suatu meditasi kombinasi Buddha/Katolik/Ortodoks (“Rowan Williams: How Buddhism Helps Me Pray,” The Telegraph, London, 2 Juli 2014). Bulan lalu, Justin Welby memberitahu seorang wartawan dari majalah GQ bahwa dia tidak bisa menjawab pertanyaan apakah homoseksualitas itu dosa atau tidak.

Gospel Music Association Memberi Penghargaan kepada Film “The Shack”

(Berita Mingguan GITS 4 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam acara penghargaan Dove award yang diadakan tahunan, Gospel Music Association memilih The Shack sebagai “film inspirasi tahun ini.” The Shack, yang ditulis oleh William Paul Young, adalah cerita fiktif tentang seseorang yang pahit terhadap Allah karena mengizinkan putrinya dibunuh dan yang kembali ke lokasi pembunuhan tersebut, yaitu sebuah gubuk tua di hutan, dan di sana dia mendapatkan suatu pertemuan dengan Allah yang mengubah hidupnya. Namun demikian, “Allah” yang dia temui itu bukanlah Allah dalam Alkitab. Diterbitkan pada tahun 2007, buku ini telah terjual lebih dari 20 juta kopi secara internasional. Dengan dirilisnya filmnya, buku ini sekali lagi naik ke puncak daftar penjualan buku. William Young bukanlah anggota gereja mana-mana dan bahkan enggan untuk menyebut dirinya sendiri seorang Kristen, dia lebih menggambarkan dirinya sebagai seorang yang “rohani tetapi tidak agamawi” (“After The Shack, a Crossroads: William Paul Young,” Publishers Weekly, 21 Sep. 2012). Namun novel ini telah dipuji dan direkomendasikan oleh Klub 700 milik Pat Robertson, artis CCM Michael W. Smith, Gayle Erwin dari Calvary Chapel, James Ryle dari gereja-gereja Vineyard, Andy Crouch, editor senior dari majalah terkenal Christianity Today, Gloria Gaither, Mark Lowry (mantan penyanyi dengan keluarga Gaither), Eugene Peterson, pembuat Alkitab The Message, banyak tokoh Southern Baptist (seperti Wade Burleson, gembala dari Emmanuel Baptist Church di Enid, Oklahoma), dan banyak lainnya. Secara mendasar, The Shack mendefinisikan ulang Allah. Dalam sebuah wawancara tahun 2007, Young bercerita tentang seorang wanita yang menulis kepadanya dan berkata bahwa putrinya yang berusia 22 tahun datang kepadanya setelah membaca buku itu dan bertanya, “APAKAH BOLEH SAYA MENCERAIKAN ALLAH YANG LAMA DAN MENIKAHI YANG BARU?” Dengan demikian Young mengakui bahwa Allah dalam The Shack adalah berbeda dari konsep Allah tradisional dalam kekristenan yang percaya Alkitab. Dia mengatakan bahwa Allah yang “menghakimi dosa” adalah “Zeus yang telah dikristenkan.” Dalam buku The Shack, Young menggambarkan Allah tritunggal sebagai seorang wanita Asia muda yang bernama “Sarayu” (ini katanya adalah Roh Kudus, tetapi nama ini adalah dari kitab suci Hindu dan mewakili sungai mistis di India yang katanya di pinggir sungai itu dewa Rama lahir), seorang tukang kayu oriental yang suka bersenang-senang (ini katanya adalah Anak Allah), dan seorang wanita kulit hitam yang lebih tua bernama “Elousia” dan “Papa” (katanya ini adalah Allah Bapa). Ilahnya Young adalah ilah gereja-gereja emerging. Ilah ini digambarkan cool, suka rock & roll, tidak menghakimi, tidak menjari murka terhadap dosa, tidak mengirim orang yang tidak percaya ke api neraka yang kekal, tidak menuntut pertobatan dan kelahiran kembali, tidak menaruh keharusan pada orag, tidak menyukai gereja-gereja Alktiabiah yang tradisional, dan tidak menerima Alkitab sebagai Firman Allah yang tanpa salah.

Sarang Lebah Kuno Ditemukan di Israel

(Berita Mingguan GITS 28 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dua puluh kali Alkitab menggambarkan tanah Israel di masa kuno sebagai tanah yang berlimpah-limpah “susu dan madu” (Kel. 3:8, dll.). Banyak sejarahwan dan arkeologis modern telah mengklaim bahwa madu yang dimaksud ini adalah hasil dari buah korma atau buah ara, bukan madu yang dari sarang lebah. Tetapi, pada bulan September, arkeolog-arkeolog yang dipimpin oleh profesor Hebrew University, Amihai Mazar, menemukan suatu industri madu lebah berusia 2.900 tahun di Lembah Yordan di Israel utara. Sarang-sarang lebah yang terpelihara baik, dan diperkirakan yang paling tua yang eksis hari ini, masing-masingnya berukuran 2,5 kaki panjangnya dan satu kaki diameternya. Sarang-sarang ini ditumpuk tiga dalam barisan-barisan yang teratur. Seratus delapan puluh sarang telah ditelmukan, dan 30 sarang saja sudah cukup untuk menghasilkan hingga setengah ton madu per tahun (“Oldest Bee Hives Discovered in Israel,” Patterns of Evidence, 12 Okt. 2017). Mazar mengatakan, “Dapat terlihat bahwa ini adalah industri yang terorganisir, bagian dari suatu ekonomi yang terorganisir, dalam sebuah kota yang sangat terorganisir” (“Archaeologists Find 3,000-year-old Beehives,” Haaretz, 4 Sep. 2017). Sarang-sarang yang ditemukan tersebut sedemikian terpelihara sehingga masih ada lilin lebah dan sisa-sisa lebah yang dapat dianalisa, termasuk lebah pekerja, lebah drone, pupa, dan juga larva. Industri ini sangat rumit. Setiap sarang lebah harus ada penutup yang dapat dibuka pada satu ujung untuk pengeluaran madu, dan juga satu lobang kecil di ujung yang lainnya agar lebah dapat keluar dan masuk. Penanggalan Karbon pada gandum yang ditemukan dekat sarang-sarang itu, memberikan kesan bahwa sarang-sarang tersebut berasal dari zaman masa kerajaan Israel terbagi, dan lokasi penemuannya adalah Tel Rehov (dalam Alkitab Rehob, sekitar tiga mil selatan dari Bet Sean dan dua mil barat dari Yordan), tempat nabi Elisa diperkirakan tinggal (“World’s Oldest Beehives,” BreakingIsraelNews.com, Sep. 26, 2017). Sebuah mezbah bagi dewi kesuburan ditemukan di samping sarang-sarang tersebut, memberikan cuplikan gambar tentang penyembahan berhala kerajaan Israel utara sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Penemuan ini memberikan latar belakang arkeologis untuk Yehezkiel 27:17, yang mengatakan bahwa orang Israel menjual madu kepada orang-orang Fenisia. Keakuratan sejarah yang tercatat dalam Alkitab telah diverifikasi oleh bukti-bukti eksternal tak terhitung seringnya. Tidak ada kitab kuno lainnya yang dapat bertanding dengan Alkitab dalam hal akurasi, bahkan dari sudut pandang sekuler yang jujur sekali pun.

Bill Hybels Pensiun dan Akan Digantikan Tim Gembala Pria-Wanita

(Berita Mingguan GITS 28 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Bill Hybels, pendiri dari Willow Creek Community Church dekat kota Chicago, akan pensiun pada bulan Oktober 2018, dan akan digantikan oleh Heather Larson sebagai “Gembala Utama” dan Steve Carter sebagai “Gembala Pengajar Utama.” Willow Creek telah memiliki penatua-penatua wanita sejak berdirinya pada tahun 1970an, tetapi pada tahun 1997 semua anggota staf diberikan waktu satu tahun untuk menerima penuh posisi ini atau mundur. Pada tahun itu, John Ortberg, salah satu “penatua pengajar” di Willow Creek, menulis sebuah paper dan mengatakan bahwa Alkitab “mengajarkan kesetaraan penuh antara laki-laki dan perempuan dalam status, karunia, dan kesempatan untuk melayani” (“Femme Fatale: The Feminist Seduction of the Evangelical Church,” World magazine, 9 Maret 1997). Ini adalah pemberontakan terbuka terhadap pengajaran jelas dalam Firman Allah. Willow Creek adalah salah satu “megachurch” pertama yang “seeker sensitive” (Editor: maksudnya mengakomodir kemauan orang-orang yang belum percaya yang masih “mencari-cari”). Gereja ini sejak awal mengiklankan dirinya sendiri sebagai berikut: “Tidak ada api neraka dan belerang di sini, tidak ada memukul-mukul Alkitab, hanya khotbah-khotbah positif yang merangsang.” Tempat kebaktian utama mereka di komunitas Willow Creek, barat dari Chicago, bernilai $73 juta dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 7.000. Sekitar 25.000 orang mengikuati kebaktian akhir minggu di delapan lokasi gedung gereja.