Peringatan 500 Tahun Reformasi Protestan

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Tahun ini adalah peringatan 500 tahun Martin Luther memakukan 95 dalil yang membuka jalan bagi Reformasi Protestan. Istilah “Protestan” sendiri muncul dari sekelompok pangeran Jerman yang melakukan protes melawan Roma dua belas tahun kemudian, yaitu pada tahun 1529. Istilah Protestan biasanya mengacu kepada denominasi-denominasi yang muncul dari era tersebut – terutama Lutheran, Presbyterian, Anglikan (Episkopal), dan Methodis – tetapi sering juga dipakai untuk menggambarkan semua denominasi non-Katolik. Walaupun kaum Protestan keluar dari Roma dan menolak banyak dari kesalahan Roma, mereka juga masih menyimpan banyak hal yang tidak alkitabiah, seperti baptisan bayi, suatu keimamatan terbatas, penafsiran nubuat yang alegoris, theologi penggantian (replacement theology), dan penggabungan gereja dengan negara. Reformasi adalah sautu fenomena sosial, politik, dan agamawi yang besar dan kompleks, yang melibatkan banyak negara dan mencakup waktu yang panjang dan gerakan in berperan besar dalam membentuk dunia modern sekarang ini. Terjadi perubahan zaman yang besar (Dan. 2:21). Penyebaran terang rohani melalui pemberitaan Injil dan penerbitan Alkitab menghasilkan hal-hal seperti konsep kebebasan manusia yang maju, perbaikan kondisi ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan dalam bidang seni, dan kemajuan sosial (misal meningkatkan angka literasi, berakhirnya perbudakan, kondisi bekerja yang membaik, gaji yang lebih tinggi). Buku The Bible and Western Society yang Dr. Cloud tulis, menggambarkan sebagian buah baik hasil dari Reformasi. Sebuah penjabaran ekstensif tentang Reformasi Protestan dapat ditemukan dalam buku dua volume, A History of the Churches from a Baptist Perspective, edisi 2016.

Teknologi Hidup

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada akhir abad 18, William Paley memakai sebuah jam tangan sebagai ilustrasi tentang konsep desain. Jika anda berjalan melalui suatu hutan dan melihat sebuah jam tergeletak di tanah, anda langsung berasumsi bahwa jam ini dibuat oleh seorang desainer yang intelijen. Dengan cara yang sama, ketika kita melihat kompleksitas dari makhluk-makhluk hidup, kita harus berasumsi tentang eksistensi seorang desainer intelijen. Para skeptik mencoba untuk meredam argumen Paley dengan klaim bahwa tidak ada hubungan langsung antara sebuah jam dengan organisme makhluk hidup, tetapi ilmu pengetahuan telah sejak itu menyingkapkan teknologi hidup yang brilian yang terlihat jelas di seluruh kehidupan, bahkan pada level seluler. Para ilmuwan telah menemukan mesin-mesin yang hidup! Walt Brown, Ph.D. dalam teknik mesin dari MIT mengobservasi: “Kebanyakan fenomena kompleks yang diketahui oleh sains ditemukannya di dalam sistem-sistem yang hidup – termasuk yang melibatkan fenomena elektrik, akustik, mekanis, kimiawi, dan optik. Penelitian mendetil dari berbagai binatang juga telah menyingkapkan peralatan dan kemampuan fisik tertentu dan yang tidak dapat ditiru oleh para desainer terbaik dunia ini, sekalipun menggunakan teknologi yang paling rumit. Contoh-contoh desain demikian meliputi motor-motor berukuran molekul di kebanyakan makhluk hidup; teknologi canggih dalam sel; sistem sonar yang mini dan teruji dalam lumba-lumba dan paus; ‘radar’ dan sistem pembedaan benda dengan memakai frekuensi dalam kelelawar; kemampuan aerodinamis yang efisien dari hummingbird; sistem kontrol, balistik internal, dan ruang bakar dari kumbang bombardier; sistem navigasi yang sangat tepat dan berlapis dari banyak burung, ikan, dan serangga; dan terutama kemampuan memperbaiki diri sendiri yang dimiliki hampir semua bentuk kehidupan. Tidak ada satu pun komponen dari sistem-sistem yang kompleks ini yang dapat berevolusi tanpa menyebabkan organisme tersebut berada dalam posisi payah dan rugi sampai komponen tersebut selesai. Semua bukti menunjuk kepada desain intelijen. Banyak bakteri, seperti Salmonella, Escherichia coli, dan beberapa Streptococci, menggerakkan diri mereka dengan motor-motor mini … Teori evolusi mengajarkan bahwa bakteri adalah salah satbu bentuk kehidupan yang pertama berevolusi, dan oleh karena itu, mereka sederhana. Bakteri bisa jadi memang kecil, tetapi mereka tidaklah sederhana. Mereka dapat berkomunikasi dengan sesama mereka menggunakan bahan-bahan kimia. Sebagian tumbuhan memiliki motor yang ukurannya seperlima dari ukuran motor bakteri. Semakin tingginya ketertarikan dunia dengan teknologi nano, kini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk hidup telah didesain dengan sangat hebat – lebih dari apa yang Darwin dapat bayangkan” (In the Beginning: Compelling Evidence for Creation and the Flood, hal. 19).

Tumbuhan Memiliki “Otak Mini”

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Para ilmuwan sedang belajar banyak tentang bagaimana tumbuhan “berpikir,” dan ini adalah penelitian yang begitu mengagumkan. Sebagai contoh, para peneliti telah menemukan dua kelompok sel di dalam embrio tumbuhan yang cara kerjanya mirip dengan bagaimana otak manusia, yang fungsinya adalah untuk memutuskan kapan tumbuhan ini harus bertunas. “Pengaturan letaknya mirip dengan otak manusia, dengan hormon-hormon yang saling bertukaran antara dua kelompok sel mirip dengan situasi ketika kita manusia sedang memutuskan mau bergerak atau tidak. Tim dari Universitas Birmingham di Inggris, menggunakan model matematika untuk memperlihatkan bahwa komunikasi antara dua kelompok sel – kelompok satu mendukung tetap dorman, dan kelompok satu mendukung untuk bertunas – mengendalikan sensitivitas tumbuhan tersebut terhadap lingkungan. Ketika kelompok sel yang mendukung bertunas akhirnya menang, maka biji akan bertunas … Pusat pengambilan keputusan ini ditemukan di ujung akar dari benih Arabidopsis thaliana (tanaman thale cress dalam bahasa Inggris) yang dipelari oleh para peneliti” (“Plant Seeds Use ‘Mini Brains’ to Decide When to Sprout,” Science Alert, 10 Jun. 2017). Walaupun kita mencurigai bahwa kebanyakan ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini adalah evolusionis, ini bukanlah karena riset mereka mendukung evolusi; ini adalah karena mereka memiliki komitmen sebelumnya terhadap evolusi yang tidak tergoyahkan oleh fakta-fakta yang mereka temukan sekalipun. Kompleksitas dan intelijensi tanaman yang sangat mencengangkan, yang baru mulai dipahami oleh para ilmuwan, adalah bukti jelas melawan evolusi.

Kreeft Mengatakan Suatu “Reformasi Baru” Sedang Berlangsung

(Berita Mingguan GITS 10 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Peter Kreeft, seorang pembela Roma Katolik dan ekumenis yang terkenal, mengatakan bahwa suatu “reformasi baru” sedang berlangsung yang mempersatukan Katolik dan non-Katolik. Dalam sebuah wawancara dengan The Christian Post, dia mengatakan bahwa “lebih banyak kemajuan ekumenis terjadi dalam 50 tahun terakhir dibandingkan 500 tahun sebelumnya” (“God Is Moving to Unite Catholics and Protestants,” Christian Post, 31 Mei 2017). “Reformasi baru” yang dimaksud Kreeft ini adalah kebalikan dari Reformasi Protestan. Dalam buku barunya Catholics and Protestants: What Can We Learn from Each Other?, dia mengatakan bahwa runtuhnya moralitas dalam masyarakat seharusnya membawa orang Katolik dan Protestan semakin dekat satu terhadap yang lain. Kreeft berpindah dari Reformed Belanda ke Katolikisme melalui pengaruh dari tulisan “bapa-bapa gereja” sewaktu dia menjadi mahasiswa di Calvin College di Grand Rapids, Michigan. Dia secara khusus tertarik kepada “Santo Agustinus,” dan dalam tulisan-tulisannya itu dia menemukan hal-hal seperti “Ekaristi, Kehadiran Sejati, doa kepada santo-santa, devosi kepada Maria, penekanan pada kesatuan yang terlihat” (“Hauled Aboard the Ark,” www.peterkreeft.com). Dr. Kreeft tidak menemukan kebenaran dalam “bapa-bapa gereja,” dia menemukan doktrin setan-setan, dan entah mengapa rohnya sejalan dengan kesalahan-kesalahan ini. Para “bapa-bapa gereja” tidak menambahkan satu iota pun kebenaran kepada kanon Kitab Suci, dan mereka sama sekali tidak memiliki otoritas. Persatuan yang diserukan oleh orang-orang seperti Kreeft pada zaman sekarang ini bukanlah persatuan yang alkitabiah; ini adalah persatuan kesesatan akhir zaman yang menuju kepada suatu “gereja” esa-sedunia. Hal ini dipimpin oleh pribadi yang “menyamar sebagai Malaikat Terang” (2 Korintus 11:14).

Gereja Inggris Akan Mempertimbangkan Kebaktian Baptisan Spesial untuk Orang “Transgender”

(Berita Mingguan GITS 10 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada sidang Sinode Umum bulan Juli ini (2017), Gereja Inggris akan mempertimbangkan suatu proposal untuk jenis kebaktian baptisan baru “untuk merayakan individu-individu transgender yang telah mengganti jenis kelamin” (Church of England Considers Baptizing People into New Gender,” ChristianHeadlines.com, 2 Juni 2017). Gereja ini, kalau masih bisa disebut gereja, telah memiliki imam-imam transgender. Salah satunya adalah Rachel Mann, yang mengatakan, “Orang-orang trans merasakan panggilan yang kuat untuk diakui dalam nama ‘pilihan’ mereka. Jadi, suatu kesempatan untuk secara publik diperkenalkan kepada Allah adalah signifikan.” Kita tidak yakin “Allah” yang mana yang dimaksud oleh Mann, tetapi jelas bukanlah Allah Pencipta yang menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Kitab Suci mengajarkan bahwa sang Pencipta membentuk setiap individu di dalam rahim menurut suatu rencana yang sudah dari dahulu kala, dan menjadi laki-laki atau perempuan bukanlah suatu kebetulan. Gereja-gereja sejati tidak merayakan kebengkokan moral; gereja-gereja sejati memberitakan Injil Yesus Kristus yang mengubah hidup, sehingga orang-orang berdosa ditobatkan dari kejahatan dan diberikan suatu pikiran yang baru yang mengasihi kebenaran dan kebajikan. Gerakan transgender di abad 21 ini adalah konsekuensi logis dari gerakan feminis uniseks abad 20. “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya” (Maz. 139:16).

Nanobug Mencengangkan Ilmuwan

(Berita Mingguan GITS 10 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 16 Februari 2017: “Serangkaian penemuan yang tidak diduga telah menyebabkan para ilmuwan menggeleng-gelengkan kepala. Mereka telah menemukan makhluk-makhluk terkecil yang pernah dilihat, yaitu tiga mil di bawah permukaan Bumi. Makhluk-makhluk ini dengan santainya hidup pada temperatur yang bisa mencapai 338 derajat. Mereka ini ditemukan sebagai bagian dari Program Deep Subsurface Microbiology Program. Usaha ilmiah ini mencari mikroba-mikroba bawah tanah yang bisa memakan dan meluruhkan polutan bawah tanah. Dengan panjang badan 20 hingga 150 nanometer, makhluk-makhluk ini seolah terlalu kecil untuk bisa menjadi makhluk hidup. Satu nanometer itu sepermilyar dari satu meter. Sehelai rambut manusia yang rata-rata itu berdiameter 10.000 nanometer. Atom-atom rata-rata memiliki besar 3-5 nanometer. Jadi, suatu makhluk yang hanya empat hingga lima kali lebih besar dari suatu atom semestinya tidaklah hidup. Dinding sel saja sudah lima hingga tujuh nanometer tebalnya. DNA saja sudah lima hingga 6 nanometer tebalnya. Jadi, hanya dengan dua dinding sel dan sedikit DNA, makhluk-makhluk yang terkecil ini – disebut nanobe – sepertinya terlalu kecil untuk bisa hidup. Oleh karena itulah para ilmuwan memutuskan mereka bukanlah makhluk hidup. Tetapi setelah penelitian, para ilmuwan menemukan bahwa makhluk-makhluk ini memang memiliki DNA dan terbuat dari elemen-elemen kehidupan – karbon, nitrogen dan oksigen. Mereka bertumbuh seperti makhluk hidup lainnya. Nanobe adalah tambahan demonstrasi bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan tidak ada tempat yang tidak terjamah kehadiranNya. Ini seharusnya menghibur kita karena Allah telah tidak menyayangkan apapun, termasuk hidup AnakNya sendiri, untuk mendatangkan keselamatan bagi kita.”

Peringatan 50 Tahun Perang Enam Hari Israel

(Berita Mingguan GITS 3 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Minggu depan adalah momen 50 tahun sejak Perang Enam Hari yang dialami Israel secara ajaib. Dalam perang ini, negara kecil tersebut mengalahkan kekuatan militer koalisi dari Mesir, Yordania, Siria, dan Irak (dengan Arab Saudi, Sudan, Tunisia, Moroko, dan Algeria menyumbangkan tentara dan persenjataan). Israel terpaksa menghadapi perang oleh karena keberingasan negara-negara di atas yang bersumpah untuk menghancurkannya. Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, pemimpin koalisi tersebut, mengatakan, “Tujuan dasar kita adalah kehancuran Israel” (Isi Leibler, The Case For Israel, 1972, hal. 60). Tentara Israel yang sejumlah 275.000 orang menghadapi tentara musuh sejumlah 456.000 orang, pada tiga front. Aliansi Arab memiliki tiga kali lebih banyak tank, dan empat kali lebih banyak pesawat tempur. Sementara Amerika dan Perancis memaksakan embargo senjata pada Israel, Uni Soviet membanjiri negara-negara Arab dengan materi perang senilai $2 milyar. Walaupun menghadapi semua itu, Israel mengalahkan tentara gabungan musuh tersebut. Negara-negara penyerang mengalami kematian 18.000 tentara, dibandingkan dengan 760 dari pihak Israel. Ini adalah salah satu kemenangan yang paling berat sebelah dalam sejarah militer, dan banyak keajaiban terjadi. Sebagai contoh, ketika Yordanis mencoba untuk memberi peringatan kepada Mesir tentang serangan Israel terhadap angkatan udaranya yang segera akan terjadi, terjadi kekacauan dalam kode rahasia yang dipakai, dan peringatan itu akhirnya tidak dipahami. Ketika pasukan Israel memasuki kota strategis Sikhem, orang-orang Palestina di sana mengira itu adalah pasukan Irak, dan mereka bersorak sorai. Ketika mereka menyadari kesalahan mereka, sudah terlambat. Israel memenangkan daerah Sinai, Gaza, dan dataran tinggi Golan, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, sehingga menambah wilayahnya sejumlah lebih dari tiga kali lipat. Untuk perama kalinya dalam 2000 tahun, Israel mengendalikan Yerusalem. Koresponden militer untuk koran berhaluan kiri Israel, Haaretz, mengobservasi, “Bahkan seorang yang tidak beragama pun harus mengakui bahwa perang ini dilaksanakan dengan bantuan Sorga” (“Miracles in the Six-Day War: Eyewitness Accounts,” Arutz Sheva, 14 Mei 2007).

Negara Israel modern sekarang ini bukanlah suatu bangsa yang benar dan eksistensi mereka belumlah menggenapi nubuat tentang Kerajaan. Israel telah melakukan banyak hal luar biasa terhadap tanah tandus mereka melalui kerja keras dan teknologi yang maju, tetapi padang belantara yang bersorak dan berbunga di Yesaya 35 bukanlah membicarakan teknologi irigasi tetes dan mesin desalinasasi. Mayoritas orang Yahudi hari ini adalah “sekuler,” sementara kelompok minoritasnya adalah berbagai macam ortodoks, yang berarti mereka mengikuti Talmud, bukan Kitab Suci. Tel Aviv adalah semacam ibukota homoseksual yang terkenal. Israel belumlah kembali ke tanah mereka dalam penggenapan Janji Kerajaan [Daud]; mereka kembali ke tanah mereka dalam penggenapan nubuat hebat dalam Yehezkiel 37, yang mengajarkan bahw Israel akan kembali dari keterserakan mereka di seluruh dunia, yang digambarkan sebagai suatu lembah kematian, dalam dua tahapan. Dalam tahapan pertama, mereka akan kembali dalam kondisi yang masih mati rohani (ayat 7-10). Ayat 8 berkata, “…lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, TETAPI MEREKA BELUM BERNAFAS” (Yeh. 37:8). Ini persis kondisi Israel hari ini, dan persis menyatakan posisi Israel dalam nubuat hari ini. Situasi Israel saat ini diperlukan untuk mengantarkan pada penggenapan tujuh tahun terakhir dalam nubuat tujuh puluh kali tujuh tahun oleh Daniel (Dan. 9:24-27). Mereka sedang mempersiapkan pembangunan bait suci ketiga, dan mereka sedang mencari seorang “mesias” yang memberikan perdamaian dan membangun kembali Bait, yang akan dilakukan oleh Antikristus pada awal pemerintahannya. Israel hari ini tidak diselamatkan, dan mereka tidak akan diselamatkan hingga mereka bertobat dan mengakui Yesus sebagai Mesias, dan ini akan terjadi di Masa Kesusahan Yakub (Yer. 30:7) yaitu masa Tribulasi. Pertobatan dan kembalinya mereka digambarkan dalam Zakharia 12:9-14. Allah Yehovah mengatakan, “…dan mereka akan memandang kepada dia [dalam bahasa asli: aku] yang telah mereka tikam” (Zak. 12:10). Yang mereka tikam tentu tidak lain dari Yesus orang Nazaret, sang Kristus, Allah yang menyatakan diri dalam daging (Yes. 7:14) dan Allah yang mahakuasa (Yes. 9:6-7).

Bono dan U2 Memimpin Audiens dalam “Lagu Injil” Katanya

(Berita Mingguan GITS 3 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah memorial untuk korban pengeboman oleh teroris Muslim di sebuah konser rock di Manchester, Inggris, Bono dan band Rock U2 memimpin audiens Jimmy Kimmel Live dalam lagu “I Still Haven’t Found What I’m Looking For” (Aku Belum Menemukan Yang Kucari). Bono memperkenalkan lagu ini sebagai “sebuah lagu rohani dengan jiwa yang tidak gelisah,” dan ketika pada penghujungnya dia menyerukan kepada audiens untuk “bawa ini ke gereja sekarang,” khalayak ramai itu berdiri dan “dengan senang ikut serta dalam performa injil tersebut” (“U2 Turns Whole Audience into Gospel Choir,” Christian Post, 26 Mei 2017). Bono adalah seorang pahlawan injili yang diakui umum, walaupun (atau mungkin memang justru karena) pengakuan iman dia pada Kristus adalah suatu kekacauan jika diuji dengan Alkitab. Injilnya adalah injil sosial dan kehidupannya tidak mencerminkan pengakuan kristianinya. Perhatikan lagu “I Still Haven’t found What I’m Looking For.” Lagu ini berbunyi, “Engkau mematahkan belenggu, melepaskan rantai, membawa salib kehinaanku,” tetapi tidak ada dalam lagu itu dikatakan siapa yang melakukan ini atau apa maksudnya. Konteks lagu juga sepertinya lebih tentang romansa daripada Kalvari. Bahkan terkandung dalamnya lirik yang vulgar tentang bercinta dengan seorang gadis. Lebih lanjut lagi, tema utamanya adalah “Saya masih belum menemukan apa yang saya cari,” yang diulang delapan kali. Ini bukanlah Injil Yesus Kristus. Ini adalah anti-Injil. Lagu Bono bukanlah lagu Injil menurut Inijl yang Paulus kabarkan melalui pengilhaman ilahi dalam surat Roma. Lagu Bono tidak mengatakan setitikpun tentang dosa atau murka Allah yang kudus atas dosa, atau kematian Kristus dan pencurahan darahNya sebagai penebusan untuk dosa, atau kebangkitan atau pertobatan dan iman yang menyelamatkan. Orang-orang yang telah menemukan Injil yang alkitabiah tidak terus berkata, “Saya belum menemukan yang saya cari.” Mereka telah menemukan yang mereka cari, dan bahkan yang jauh lebih mulia lagi dalam Pribadi Kristus. Mereka telah berpindah dari kematian kepada kehidupan, dari kegelapan kepada terang. Mereka telah meninggalkan jalan yang lebar kepada jalan sempit kebenaran dan kebajikan. Mereka bukan lagi bagian dari dunia ini sama seperti Kristus bukan lagi di dunia. Dari semua yang bisa kita ketahui, Bono tidak pernah melakukan satupun dari hal-hal itu, dan tidak memahami apa arti semua itu. Injilnya adalah penggabungan hal-hal sensual dengan hal-hal rohani, dan itu adalah antikristus. Baru saja pada tahun 2008, Fox News melaporkan bahwa Bono dan teman rockernya, Simon Carmody, berpesta dengan gadis-gadis remaja di sebuah yacht di St. Tropez. Laporan itu, yang disertai dengan sebuah foto Bono sedang memangku dua gadis remaja berbusana bikini di pangkuannya di sebuah bar, berkata, “Bono, Carmody, dan gadis-gadis berpesta semalaman di atas yacht.” Pada tahun 2006, Bono berkata: “Saya baru-baru ini membaca dalam salah satu surat Paulus tentang semua buah-buah roh, dan saya tidak memiliki satupun di antaranya” (“Enough Rope with Andrew Denton,” March 13, 2006). Dalam sebuah wawancara dengan majalah kotor, Rolling Stone, Bono mengatakan bahwa dia tidak suka dengan label “orang Kristen lahir baru” dan dia tidak pergi ke gereja. Dia mengatakan, “Saya adalah contoh dan iklan yang sangat buruk bagi Allah” (U2: The Rolling Stone Files). Injilnya adalah injil keadilan sosial, yang bertujuan menyelamatkan masyarakat (dengan uang pembayar pajak, bukan uangnya sendiri), tetapi tidak ada keselamatan untuk jiwa yang kekal.

Mark Driscoll Mengatakan Banyak Orang Katolik “Mengasihi Yesus”

(Berita Mingguan GITS 3 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Mark Driscoll, mantan gembala sidang dari Gereja Mars Hill di Seattle, yang kini sudah kembali ke dalam pelayanan full-time, mengatakan bahwa orang-orang Roma Katolik “mengasihi Yesus.” Pada tanggal 23 Mei, dalam sebuah forum mingguan yang berjudul “Tanya Pastor Mark,” Driscoll memunculkan pertanyaan berikut yang diserahkan oleh seorang pemirsa: “Saya baru-baru ini memiliki seorang teman Katolik yang bertanya, siapakah yang memiliki penafsiran Kitab Suci yang benar? Apakah gembala Lutheran, gembala Baptis, gembala Presbyterian, atau gereja Katolik?” Driscoll menjawab sebagai berikut: “Sangatlah penting ketika berbicara mengenai Katolikisme untuk memahami bahwa mereka percaya pada satu Allah dalam tiga Pribadi, Bapa, Anak, dan Roh, yaitu Tritunggal. Mereka mempercayai kelahiran Kristus dari perawan, hidupNya yang tanpa dosa, beserta kematian, penguburan, dan kebangkitanNya. Jadi ada banyak hal yang saya akan sebut saya sebut isu-isu penting, yang kita setujui bersama sebagai Protestan dengan orang Katolik. Saya seorang Protestan; ada isu-isu lain yang saya tidak setujui dengan teman-teman Katolik saya, tetapi saya tidak punya waktu dalam video singkat ini untuk membahasnya. …Ada orang-orang Katolik yang mengenal dan mengasihi Yesus. Saya bukan salah satu orang seperti itu waktu saya tumbuh besar. Itu bukan salah gereja, itu salah saya. Saya waktu itu tidak tertarik sama sekali. Ibu saya seorang yang lahir baru, mengasihi Yesus dan seorang Katolik. Saya mau menyatakan dengan jelas, karena ada orang-orang yang mau menempatkan orang-orang Katolik sebagai suatu kategori seperti bidat atau agama lain, yang saya tidak percaya adalah seperti itu.”

Ini adalah suatu jawaban yang sangat menyimpang dan berbahaya terhadap suatu pertanyaan yang penting. Driscoll sama sekali tidak memberikan peringatan tentang kesesatan-kesesatan Roma yang menandakannya sebagai suatu agama palsu: Injil yang bergantung pada sakramen, menyamakan otoritas tradisi gereja dengan Firman Tuhan, penghujatan dalam misa, penyembahan Maria, pengajaran supremasi paus, doktrin santo-santa mereka, purgatori, dll. Tidaklah mungkin untuk mempercayai apa yang Roma ajarkan dalam pernyataan Konsili Vatikan Kedua, dan juga New Catholic Catechism, dan pada saat yang sama diselamatkan. Jika seseorang diselamatkan dalam gereja Katolik, itu terjadi berlawanan dengan pengajaran Katolik itu, bukan karena pengajaran Katoliknya. Lebih lanjut lagi Firman Tuhan melarang umatNya untuk satu kuk dengan orang-orang Kristen palsu dan orang-orang yang tidak percaya, sehingga tidaklah mungkin untuk tetap tinggal dalam gereja Katolik dan berada dalam kehendak Tuhan pada saat yang sama. “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim. 3:5). “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Kor. 6:14).

Sologami: Menikahi Diri Sendiri

(Berita Mingguan GITS 20 Mei 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sologami, atau menikahi diri sendiri, adalah contoh ekstrim mengasihi diri sendiri dalam zaman mengasihi diri sendiri ini, dan terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Sologami dimulai sekitar 15 tahun yang lalu di California, dan telah menyebar ke seluruh Amerika dan juga negara-negara lain. Praktek ini, yang sejauh ini belum mendapatkan pengakuan legal apapun, dapat dilakukan secara pribadi saja, atau bisa juga melibatkan acara penikahan yang mewah. Salah satu promotor utama dari sologami adalah Sasha Cagen, seorang guru self-esteem dan penulis dari Quirkyalone: A Manifesto for Uncompromising Romantics (2004). Website IMarriedMe.com memberikan berbagai rencana penikahan diri sendiri, termasuk cincin kawin yang dipakai “untuk mengingatkan dirimu setiap hari untuk mencintai dirimu sendiri.” Sebuah perusahaan Kanada, Marry Yourself Vancouver, menawarkan jasa konsultasi dan fotografi. Erika Anderson, seorang sologamis, yang memakai gaun pernikahan putih saat dia menikahi dirinya sendiri di hadapan keluarga dan teman-teman, diwawancara baru-baru ini oleh WUSA9 dari Washington D.C. Dia mengatakan, “Saya akan menggambarkan hal ini sebagai acara seorang wanita mengatakan ya kepada dirinya sendiri. Ini berarti kita sudah cukup, bahkan jika kita tidak berpasangan dengan orang lain” (“People are marrying themselves,” WUSA9, 12 Mei 2017). Sologami tidak terbatas pada para feminis. Pada tahun 2007, Liu Ye menikahi dirinya sendiri dalam sebuah acara penikahan Cina tradisional di Guangzhou, yang dihadiri oleh 100 tamu. “Pengantin wanita”nya adalah sebuah foto dirinya sendiri sedang memakai pakaian pernikahan berwarna merah (“Chinese Man Marries Himself,” Digital Journal, 29 Jan. 2007). Media tersebut melaporkan bahwa “seorang psikologis menggambarkan pengantin pria/wanita tersebut tidak normal.” Sungguh benar. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. 2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama…” (2 Tim. 3:1-2).