Dunia Semakin Menyambut Pemasangan Chip pada Manusia

(Berita Mingguan GITS 5 Agustus 2017, oleh Dr. Steven E. Liauw)

Pada tanggal 1 Agustus 2017, sebuah perusahaan di negara bagian Wisconsin, AS, bernama Three Square Market, mengadakan “pesta chip” untuk merayakan pemasangan chip RFID pada tubuh pegawai-pegawai yang menginginkannya. Peristiwa seperti ini agaknya adalah yang pertama kali di AS dan mungkin juga pertama kali di dunia. Namun demikian, sudah pasti ini tidak akan menjadi yang terakhir kali. Trend untuk menerima implan pada tubuh manusia terus menguat. Jika sebelumnya selama ini implan-implan ini ditujukan untuk mengatasi penyakit, seperti pompa insulin untuk diabetes, pacemaker untuk penyakit jantung, maka sekarang implan bertujuan untuk menambahkan fungsi pada tubuh manusia. Salah satu pendukung implan chip adalah Elon Musk, pendiri dari perusahaan mobil Tesla dan juga SpaceX. Tahun lalu dia berkata bahwa manusia harus mencapai simbiosis yang semakin dekat dengan mesin, agar dapat tetap relevan dalam dunia intelijen artifisial (http://www.nowtheendbegins.com/world-embraces-human-implantable-rfid-microchips-bionic-age-begins/). Chip pada tubuh dapat menggantikan fungsi kartu kredit atau kartu identitas. Dengan adanya chip, bisa jadi manusia tidak perlu lagi membawa dompet.

Semua ini tentu tidak mengejutkan bagi pelajar Alkitab yang memperhatikan nubuat. Sejak abad pertama, Tuhan telah mengatakan bahwa setelah pengangkatan orang percaya (rapture), dunia akan dikuasai oleh antikristus, dan bahwa antikristus akan mengendalikan seluruh aspek perekonomian. “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya” (Wah. 13:16-17). 2000 tahun sebelumnya, Alkitab sudah menubuatkan bahwa akan ada “tanda” yang dapat ditempatkan di tangan, ataupun di dahi, yang dapat menjadi alat kontrol jual beli. Pemasangan chip yang dapat menggantikan kartu kredit adalah langkah teknologi untuk mewujudkan hal ini. Trend pemerintah-pemerintah dunia ini juga menuju kepada pengetatan kontrol keuangan, dengan alasan mencegah terorisme ataupun mengejar pajak. Jadi, secara politis dunia bergerak kepada kontrol yang ketat bagi individu, dan secara teknologi semua ini dimungkinkan. Yang diperlukan hanyalah munculnya Antikristus untuk memakai sistem ini demi kepentingannya. Nubuat Alkitab sekali lagi jelas terbukti bagi mereka yang memiliki mata rohani. Pastikan diri anda diangkat sebelum masa kesusahan Yakub itu tiba.

Ribuan Orang Berbaris Gerak Mendukung Pembangunan Bait Ketiga

(Berita Mingguan GITS 5 Agustus 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada hari Senin, 31 Juli, ribuan orang Israel berbaris di sekeliling tembok Yerusalem bagian Kota Tua, yaitu pada permulaan Tisha B’Av, untuk mendukung pembangunan Bait Ketiga (“Israelis March Demanding Access to Temple Mount and Building of Third Temple,” Israel Today, 1 Agus. 2017). Tisha B’Av, yang berarti hari kesembilan dalam bulan Av, adalah hari puasa berduka untuk mengingat kehancuran bait Yahudi yang pertama dan yang kedua, yang dihancurkan pada hari yang sama (kehancuran pertama pada tahun 586 SM, dan yang kedua pada tahun 70 M). Pada Tisha B’Av, Taurat diselimuti hitam. Ada puasa dan ratapan, dan ada pembacaan kitab Ratapan dan puisi Yahudi yang disebut kinnot. Orang Yahudi Ortodoks percaya bahwa Tisha B’Av akan terus dilakukan hingga Mesias datang untuk membangun Bait dan membawa damai kepada Israel, dan pada waktu itu akan berubah menjadi perayaan sukacita. Sebenarnya, bait ketiga akan dibangun oleh antikristus dan akan dinajiskan oleh dia juga. “ Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah” (2 Tes. 2:3-4).

 

Kesalahan Pembaptisan Bayi

Kesalahan Membaptiskan Bayi

Banyak gereja hari ini membaptiskan bayi, atau lebih cocok sebenarnya dikatakan mereka memercik bayi. Kata “baptis” berarti menyelamkan, dan kebanyakan gereja tidak menyelamkan bayi, mereka hanya memercik mereka. Tetapi, Gereja Ortodoks Timur, yang memiliki basis Yunani (dibandingkan Roma Katolik yang berbasiskan Latin), benar-benar menyelamkan bayi.

Gereja-gereja Protestan juga melakukan “baptis” bayi atau pemercikan bayi. Ini karena gereja-gereja Protestan keluar dari Roma Katolik, dan karena itu mewarisi sebagian doktrin-doktrin Katolik. Sepanjang sejarah, ada sekelompok orang-orang percaya alkitabiah, yang dikenal dengan berbagai nama (Donatis, Bogomil, Waldensian, Novatian, Anabaptis, dll., modern ini kaum Baptis), yang sejak awal berada di luar Roma Katolik, dan mempertahankan pengajaran alkitabiah bahwa hanya orang percaya yang boleh dibaptis. Berikut ini akan dipaparkan secara singkat, kesalahan praktek membaptiskan bayi (apalagi memercik bayi). Membaptis bayi adalah kesalahan besar, karena:

1. Melanggar Prinsip Firman Tuhan tentang Baptisan

a. Percaya kepada Yesus Kristus adalah syarat baptisan

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” (Kis. 8:36-37)

Perikop ini sangat jelas mengajarkan tentang pembaptisan. Filipus menginjili seorang sida-sida dari Etiopia. Lalu, sida-sida itu ingin dibaptis, dan menanyakan apakah ia boleh dibaptis atau tidak. Filipus memberikan jawaban yang tegas: Jika seseorang percaya dengan segenap hati (kepada Yesus, sesuai dengan penjelasan Filipus tentang perikop dalam Yesaya yang dibaca oleh sida-sida), maka ia boleh dibaptis. Tentu kebalikannya menjadi benar, bahwa jika seseorang belum percaya pada Yesus dengan segenap hati, maka ia tidak boleh dibaptis.

Dari ayat di atas menjadi jelas, bahwa bayi tidak boleh dibaptis. Mengapa? Karena bayi belum percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi bukankah orang tuanya telah percaya? Dalam Alkitab, masalah iman selalu adalah masalah pribadi seseorang dengan Tuhan, dan tidak bisa iman seseorang menyelamatkan pribadi lain selain dirinya sendiri. Jadi, orang tua yang beriman tidak bisa meminjamkan iman mereka pada bayi mereka, sehingga bayi itu dibaptis.

Ada lagi orang yang berdalih dan berkata, “Pokoknya saya tidak melihat ada ayat di Alkitab yang mengatakan ‘tidak boleh membaptis bayi.’” Tetapi, ini adalah argumen yang dicari-cari dan membangkang pada Firman Tuhan. Dengan memakai logika yang sama, seorang pemuda yang nakal dapat berkata, “tidak ada ayat yang mengatakan jangan merokok, tidak ada ayat yang mengatakan jangan pakai heroin.” Tetapi, jelas orang Kristen yang sejati tahu untuk tidak merokok dan tidak menggunakan narkoba, karena ada PRINSIP-nya dalam Alkitab, antara lain: bahwa kita tidak boleh merusak tubuh kita (1 Kor. 6:19-20; 3:16-17), dan bahwa kita tidak boleh membiarkan diri kita diperhamba oleh apapun (1 Kor. 6:12). Jadi, tidak diperlukan ayat yang berkata “tidak boleh membaptis bayi,” karena pembaptisan bayi sudah otomotis dilarang dengan adanya syarat baptisan: haruslah seseorang yang percaya.

Ada lagi orang yang ingin menggugurkan prinsip ini, dengan menunjukkan bahwa sebagian Alkitab terjemahan modern, menghilangkan Kisah Rasul 8:37. Memang sebagian Alkitab terjemahan modern menghilangkan ayat 37 (LAI menuliskannya dalam tanda kurung), tetapi itu karena terjemahan modern mengikuti teks yang korup, yang disebut Critical Text. Critical Text adalah teks yang banyak menghilangkan ayat-ayat tentang keilahian Kristus dan kedagingan Kristus, tetapi teks ini disenangi oleh kaum liberal dan bidat. Sayangnya, akademia Kristen banyak dikuasai oleh orang-orang liberal, sehingga sebagian penerjemahan Alkitab memakai teks yang korup ini. Tetapi, dengan akal sehat saja, kita bisa melihat bahwa sebenarnya tidak mungkin tidak ada ayat 37. Masakan ada pertanyaan sida-sida: “apakah halangannya jika aku dibaptis,” lalu tidak ada jawaban dari Filipus? Dari sudut pandang literatur, hilangnya ayat 37 akan menghancurkan struktur. Jelas ayat 37 dihilangkan oleh teks yang korup, tetapi puji Tuhan terpelihara dalam teks yang diterima oleh orang percaya (Tekstus Receptus).

b. Baptisan adalah Tanda Pertobatan

Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. (Mat. 3:11)

Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang dipersiapkan oleh Allah untuk memperkenalkan upacara pembaptisan di Perjanjian Baru ini. Semua murid dan rasul Yesus Kristus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, bahkan salah satu syarat kerasulan adalah telah menjadi murid Yesus sejak dibaptis oleh Yohanes (Kis. 1:21-22). Belakangan, setelah kemartiran Yohanes Pembaptis, upacara baptisan dilanjutkan oleh murid-murid Yesus.

Di dalam Matius 3 dan juga perikop paralel di Injil lainnya, Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan, dan orang yang bertobatlah yang dibaptis sebagai suatu tanda publik bahwa ia bertobat. Oleh sebab itu, tidak salah jika baptisan disebut sebagai “tanda pertobatan.” Itu adalah salah satu fungsi baptisan, yaitu sebagai pengumuman pertobatan seseorang. Fungsi lain dari baptisan adalah menggambarkan persatuan dengan Kristus dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan (Roma 6:3-4; Kol. 2:12)

Ketika ada sekelompok orang (Farisi dan Saduki) yang meminta dibaptis, tetapi diragukan pertobatannya, Yohanes menolak, dan meminta mereka untuk memperlihatkan buah pertobatan terlebih dahulu. Jadi jelas dari semua ini, bahwa hanyalah orang yang telah bertobat yang boleh dibaptis. Prinsip ini konsisten dengan yang pertama di atas, bahwa syarat baptisan adalah percaya, karena dalam Alkitab, percaya dan bertobat adalah satu paket rohani (Kis. 19:4; 20:21). Jadi, jelas bahwa membaptiskan bayi adalah suatu kesalahan, karena bayi belum bertobat. Baptisan adalah tanda pertobatan, jadi bayi yang belum bertobat tidak boleh dibaptis.

Ada lagi sebagian orang yang berdalih dengan mengatakan bahwa Yesus Kristus pun dibaptis, walaupun tidak bertobat. Memang benar, Yesus Kristus dibaptis, dan benar juga bahwa Yesus Kristus tidak bertobat, karena Ia tidak memiliki dosa sama sekali. Tetapi apakah ini membenarkan baptisan bayi? Jelas tidak.

Misalkan ada seorang raja atas suatu kota, yang memberikan aturan bahwa siapapun yang mau masuk kota haruslah terlebih dahulu membayar semua hutangnya. Lalu terjadilah antrian di pintu gerbang kota, yaitu antrian orang-orang yang membayar hutang untuk memasuki kota. Lalu datanglah seseorang dan tanpa ikut antrian langsung masuk kota itu. Proteslah semua orang yang mengantri, tetapi akhirnya terdiam karena ternyata orang yang melenggang masuk itu tidak punya hutang apa-apa. Bolehkah orang lain yang punya hutang mencoba untuk melenggang masuk? Tentu tidak.

Tuhan Yesus dibaptis tanpa bertobat, karena Ia sama sekali tidak berdosa. Semua manusia lain telah berdosa (Roma 3:10, 23), termasuk bayi pun dikandung dalam dosa (Maz. 51:7), dan ikut berdosa bersama dengan Adam (Roma 5:12-15). Oleh karena itu, tidak sah untuk memakai contoh Tuhan Yesus dibaptis tanpa bertobat, untuk membaptis bayi. Jika Tuhan Yesus tidak berdosa, dan tidak bertobat, lalu untuk apa Ia dibaptis? Ingat, bahwa baptisan memiliki fungsi kedua, yaitu menggambarkan kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus. Jadi, Yesus melakukannya untuk menggambarkan karyaNya nanti di atas kayu salib, dan itulah kehendak Allah (Mat. 3:15). Sebaliknya, pembaptisan bayi melanggar prinsip Alkitab bahwa baptisan adalah tanda pertobatan bagi manusia berdosa.

c. Pembaptisan Bayi Melanggar Prinsip bahwa Iman adalah Hal Pribadi

Pembaptisan bayi melanggar prinsip dalam Alkitab bahwa iman adalah hal pribadi. Tuhan berurusan dengan masing-masing pribadi. Tidak seorang pun dapat mengandalkan iman leluhurnya, orang tuanya. Justru kaum Farisi dan Saduki dimarahi Yohanes waktu mereka mau dibaptis, karena mereka mengandalkan status sebagai anak Abraham.

Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! (Mat. 3:9)

Sayangnya begitu banyak orang Kristen hari ini, karena tradisi, karena membela doktrin gereja, malah mengabaikan prinsip yang sangat jelas ini. Mereka berdalih bahwa orang tuanya sudah beriman! Tetapi bukan itu yang Tuhan tuntut. Yang Tuhan tuntut adalah: orang yang dibaptis itu harus beriman! (Kis. 8:37).

Alkitab selalu berbicara mengenai orang-orang memberi diri dibaptis. Jadi pembaptisan adalah atas kemauan diri sendiri, bukan kemauan orang tua, kemauan suami istri, kemauan anak, tetapi kemauan pribadi.

Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Lukas 7:29

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Kisah Rasul 2:41

Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. Kisah Rasul 8:12

Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis. Kisah Rasul 13:24

Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Kisah Rasul 16:33

Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis. Kisah Rasul 18:8

Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kisah Rasul 19:5

Bayi tidak pernah memberi diri dibaptis. Bayi selalu dipaksa oleh orang tuanya untuk dibaptis. Oleh karena itu, pembaptisan bayi adalah kesalahan besar.

d. Alkitab Tidak Pernah Menyetujui Baptisan Bayi

Selain dari semua prinsip di atas, satu hal yang jelas adalah bahwa tidak ada baptisan bayi dalam Alkitab. Para pendukung baptisan bayi mencari akal sedemikian rupa untuk menyulapkan baptisan bayi ke dalam Kitab Suci, tetapi dengan sia-sia.

Ada yang berkata bahwa Yesus memperbolehkan anak-anak datang padaNya (Luk. 18:15-16). Tetapi teks sangat jelas bukan berbicara mengenai pembaptisan, melainkan membiarkan anak-anak bertemu Yesus. Jelas, anak-anak perlu diperkenalkan pada Yesus, dibawa ke gereja, diajar Firman Tuhan. Tetapi mereka baru dibaptis SETELAH mereka percaya Yesus, jangan sebelum. Itu prinsip yang sudah jelas dalam Alkitab. Jika ada orang dewasa datang ke gereja dan mau belajar kekristenan, apakah kita membaptis dia sebelum belajar, atau setelah dia paham dan percaya? Tentu setelah dia percaya! Mengapakah untuk anak-anak proses ini mau dibalik? Bahwa anak dibaptis dulu, baru pelan-pelan diperkenalkan pada Kristus? Bukankah ini melanggar makna dan prinsip baptisan?

Ada lagi yang berkata bahwa ada baptisan atas seisi rumah, misal seisi rumah Lidia (Kis. 16:14-15), seisi rumah kepala penjara Filipi (Kis. 16:33), dan keluarga Stefanus (1 Kor. 1:16). Lalu, mereka BERASUMSI, bahwa ada bayi dalam keluarga-keluarga ini, dan memakai ini sebagai pembenaran baptisan bayi. Tetapi, asumsi jelaslah hanya asumsi. Asumsi ini juga bertentangan dengan bagian Firman Tuhan lainnya (Kis. 8:37; Mat. 3:11), sehingga tidak dapat dibenarkan. Ada banyak keluarga yang tidak memiliki bayi saat mereka percaya pada Tuhan. Bahkan dalam kasus keluarga kepala penjara Filipi, dengan tegas dikatakan bahwa seisi rumahnya percaya (Kis. 16:34), jadi sudah pasti tidak ada bayi.

Ada lagi yang berkata bahwa baptisan adalah padanan dari sunat di Perjanjian Lama. Sehingga, karena di Perjanjian Lama sunat dilakukan pada bayi yang baru lahir (8 hari), demikian juga di Perjanjian Baru, baptis dapat dilakukan pada bayi. Mereka kadang mengutip:

Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, (Kol. 2:11-13)

Mereka mengklaim bahwa perikop ini mengaitkan baptisan dengan sunat.

Tetapi, jika kita perhatikan dengan seksama perikop ini, maka jelas bahwa baptisan sama sekali tidak dikaitkan dengan sunat jasmani yang dilakukan pada bayi di Perjanjian Lama. Jika ada pengaitan sekalipun, baptisan dikaitkan dengan sunat rohani! Konsep sunat rohani tidak asing dalam Perjanjian Lama sekalipun. Sunat jasmani adalah pegeratan kulit khatan fisik. Tetapi Tuhan tidak pernah puas dengan hanya sunat jasmani, melainkan menghendaki sunat rohani, yaitu perubahan hati seseorang.

Jadi, dalam perikop ini, orang Kolose dikatakan telah disunat rohani (Sunat Kristus), yang melibatkan pengampunan segala pelanggaran dan penanggalan tubuh yang berdosa. Dan ini dikaitkan dengan baptisan sebagai tanda eksternalnya. Tidak ada orang yang bisa melihat sunat internal (sunat rohani), sehingga memberi diri dibaptis adalah pengumuman publik bahwa seseorang mati, dikubur, dan bangkit bersama Kristus.

Dengan kata lain, justru perikop ini menegaskan bahwa orang yang dibaptis adalah orang yang disunat rohani, yaitu telah diampuni dosanya, dan telah lahir baru. Kesalahan para pembaptis bayi adalah melihat kepada sunat fisik yang terjadi setelah kelahiran jasmani. Padahal, baptisan seharusnya adalah tanda eksternal dari sunat internal, yaitu keselamatan, dan haruslah dilakukan setelah kelahiran rohani, bukan kelahiran jasmani.

2. Membawa Bahaya yang Besar

Selain melanggar Firman Tuhan, membaptiskan bayi juga membawa bahaya. Tentu segala pelanggaran terhadap Firman Tuhan membawa bahaya. Ada orang yang berkata, “Tidak mengapa membaptis bayi, toh tidak ada bahayanya.” Ini tentu pemikiran yang salah. Kita tidak lebih bijak dari Tuhan, sehingga punya hak untuk menentukan mana perintah Tuhan yang boleh kita langgar, dan mana yang tidak boleh. Minimal, setiap pelanggaran Firman Tuhan akan dimintai pertanggungan jawab oleh Tuhan nanti. Tetapi, pembaptisan bayi bukan hanya bermasalah secara teoritis, tetapi juga menimbulkan masalah besar secara praktis dan historis.

a. Dampak Pribadi

Apa dampak pribadi pembaptisan bayi? Dampak kepada orang tua adalah mereka melanggar Firman Tuhan. Tuhan tentu akan mengurus hal ini dalam Pengadilan Kristus suatu hari nanti. Dampak kepada bayi yang dibaptis adalah bahwa dia dari kecil tahu bahwa dia sudah dibaptis, bahwa dia sudah “Kristen.” Hal ini berpotensi untuk membuat dia tidak menyadari posisinya sebagai orang berdosa yang membutuhkan Kristus. Toh dia sudah Kristen, dia sudah anggota gereja, sudah dibaptis. Hal ini dapat mempersulit pemberitaan Injil bagi anak tersebut.

Mungkin ada yang berkata, bahwa masalah ini hanya potensi saja, dan banyak bayi yang “dibaptis” yang akhirnya beriman. Memang benar, ada anak yang dipercik waktu bayi akhirnya percaya Tuhan. Tetapi ada juga yang tidak. Dan ini memimpin kepada masalah berikutnya:

b. Dampak Sosial

Martin Luther memulai gerakan reformasi di awal abad 16 Masehi, dan segera berbagai denominasi Protestan muncul di Eropa. Baik Lutheran, Presbyterian, Methodis, maupun Anglikan, semuanya mempraktekkan pemercikan bayi. Lalu, fenomena apa yang muncul di kekristenan Eropa selanjutnya? Munculnya Liberalisme.

Pada abad 18 dan 19, di Eropa, di berbagai denominasi Prostetan, mulai berjamuran theolog-theolog liberal, dengan theologi mereka yang menyesatkan. Mereka mulai menyerang Alkitab, meragukan keunikan dan pengilhamannya. Mereka meragukan kepenulisannya dengan Higher Criticism, meragukan bahwa Musa menulis kitab Taurat, bahwa Yesaya menulis keseluruhan kitabnya, dan banyak lagi. Mereka menyerang teks Alkitab dengan Lower Criticism, yang memunculkan Critical Text. Mereka meragukan mujizat-mujizat dalam Alkitab, menyatakan kisah Yunus sebagai fiksi, Adam dan Hawa sebagai mitos, bahwa kelahiran dari perawan adalah lelucon. Mereka mulai bahkan meragukan pribadi Yesus, dan menganggap bahwa informasi dalam Injil telah melalui proses mitologisasi. Mereka meragukan kebangkitan Yesus Kristus. Semua ini berlanjut hingga ke abad 20 dan 21 sekarang ini.

Aneh sekali bahwa justru tempat-tempat seperti Jerman, menjadi kantong liberalisme. Waktu saya menyelesaikan program Doktor di Amerika, saya bersama seorang dosen pernah mengunjungi sebuah perpustakaan theologi yang besar. Dia berpesan bahwa jika saya melihat nama seorang Jerman sebagai penulis sebuah buku, maka kemungkinannya besar bahwa buku itu dari sudut pandang liberal. Mengapa bisa demikian? Martin Luther pasti tidak tenang jika melihat anak cucu rohaninya demikian!

Salah satu alasan munculnya liberalisme tentu adalah bangkitnya humanisme dan rasionalisme, sehingga manusia mulai meragukan hal-hal ilahi. Tetapi ini tidak bisa menjawab semuanya. Mengapakah orang-orang ini, jika memang mereka tidak percaya Firman Tuhan, tidak menjadi atheis saja? Mengapa mereka bergelar doktor theologi? Mengapa mereka adalah “pendeta-pendeta”? Mengapa mereka Kristen bahkan? Jawabannya adalah karena mereka telah “dibaptis” waktu bayi! Karena mereka sudah “dibaptis” waktu bayi, maka mereka sudah berstatus “Kristen,” mereka sudah ada dalam “gereja,” dan mereka tumbuh besar tanpa iman yang sejati, tetapi merasa diri Kristen. Mereka ada yang menjadi “pendeta” dan menjadi “doktor theologi.” Tetapi mereka tidak pernah lahir baru. Hasilnya adalah liberalisme. Hasilnya adalah doktor theologi yang mau menjelaskan Alkitab, tetapi tidak percaya Alkitab. Dan karena status mereka sebagai “Kristen” dan “pendeta” dan “doktor theologi,” kerusakan yang mereka lakukan sungguhlah besar. Seandainya mereka tidak dibaptis waktu bayi, mereka mungkin menjadi atheis-atheis. Itu lebih baik, daripada menjadi “doktor theologi Kristen” tetapi yang merusak kekristenan dari dalam.

Liberalisme telah menanamkan keraguan ke dalam begitu banyak generasi muda. Liberalisme dipakai oleh agama lain, seperti Islam, sebagai argumen melawan kekristenan yang sejati. Orang Islam berkata, “tuh, ahli kalian sendiri mengatakan bahwa Alkitab telah dipalsukan.” Orang Islam tidak memahami bahwa “ahli” yang mereka maksud sama sekali bukan orang Kristen sejati, tetapi kristen-kristenan, yang dikristen paksa waktu mereka masih bayi, dan akhirnya menjadi theolog tanpa kelahiran kembali. Tanpa kelahiran kembali, tidak bisa seseorang memahami hal-hal yang mendalam dari Firman Tuhan. Dan, saya yakin, bahwa salah satu alasan mengapa gereja-gereja pemercik bayi masih terus mempertahankan praktek mereka, yang sudah jelas bertentangan dengan prinsip Firman Tuhan, adalah karena persentase yang besar dari antara mereka hanyalah “Kristen” karena dipercik waktu bayi, tanpa kelahiran kembali. Sungguh berbahaya. Liberalisme bisa muncul, ada andil baptisan bayi di dalamnya. Sungguh berbahaya. Baptisan bayi telah ikut andil dalam menyesatkan begitu banyak orang. Tinggalkanlah, dan taatilah Alkitab!

Gereja Anglikan Menawarkan Kebaktian Khusus untuk Orang-Orang Transgender

(Berita Mingguan GITS 15 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sinode Umum Gereja Anglikan telah melakukan voting dan menyetujui “penawaran kebaktian khusus untuk menyambut orang-orang transgender ke dalam imam Anglikan” (“Anglican Church set to offer,” The Guardian, 9 Juli 2017). Usulan ini berhasil disetujui dengan angka voting 284 banding 78. Chris Newlands, asal Blackburn, Lanchashire, yaitu orang yang mengangkat usulan ini, mengatakan: “Saya harap kita bisa membuat suatu pernyataan yang kuat yang mengatakan bahwa kita percaya orang-orang trans dihargai dan dikasihi oleh Allah, yang menciptakan mereka, dan yang hadir dalam semua lika-liku dan tikungan dalam kehidupan mereka.” Allah yang menciptakan manusia menciptakan mereka laki-laki dan perempuan, jadi seseorang yang transgender (Editor: mengganti jenis kelamin) sedang memberontak melawan aturan yang Allah ciptakan. Jenis kelamin bukanlah suatu kecelakaan dalam alam. Mazmur 139 mengatakan bahwa Allah menciptakan individu dalam rahim ibunya sesuai dengan rencanaNya. Gereja Anglikan sejak dulu memang bukanlah gereja yang alkitabiah, dan dalam waktu-waktu belakangan ini semakin sesat secara doktrinal dan juga bobrok secara moral. Bahkan di tahun 1953 saja, Uskup Agung Canterbury, William Temple, dalam bukunya Nature and God, mengatakan, “…tidak ada yang namanya kebenaran yang disingkapkan” (Untuk informasi lebih banyak tentang hal ini, lihat laporsan “Lima Puluh Tahun Liberalisme Anglikan” di website Way of Life).

Polinasi

(Berita Mingguan GITS 15 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sistem polinasi adalah suatu sistem simbiosis yang telah dikalibrasi secara halus, dan melibatkan tak terhitung jumlah bunga, serangga, dan burung, yang berbeda-beda tipe, yang semuanya terintegrasi secara sempurna untuk mempertahankan kehidupan. Tanaman yucca bergantung pada ngengat yucca untuk melakukan pembuahan, dan larva ngengat tersebut bergantung pada tanaman yang spesifik untuk makanan. Lili voodoo meningkatkan temperaturnya sebanyak 25 derajat (Fahrenheit) dan mengeluarkan sejenis bau-bauan yang mirip dengan bau daging busuk, untuk dapat menarik kumbang tertentu. Ketika kumbang itu mengeriap di sekitar bunga itu sambil mencari makanan, ia tertutup oleh pollen, yang ia sebarkan dari bunga ke bunga. Perhatikan anggrek. “Dalam banyak kasus, perkembangannya sedemikian rupa sehingga bunga dan serangga saling cocok satu sama lain seperti sarung tangan dengan tangan. Dalam kasus-kasus tertentu, desainnya sedemikian pintar sehingga lebah atau serangga lain tertarik oleh bau dan nektar ke dalam sebuah ruangan [dalam bunga], yang hanya memiliki satu jalan keluar, dan ketika melewati jalan keluar itu, serangga harus pertama menyentuh stigma bunga, lalu stamen bunga, dan sambil ia meneruskannya ke bunga berikutnya, ia membawa pollen ke stigma berikutnya. Tetapi desain-desain seperti ini hampir tidak terhitung jumlahnya. Ada lebih dari tujuh ribu spesies yang diketahui…” (Robert Broom, The Coming of Man: Was It Accident or Design?). Anggrek ember misalnya [bucket orchid], menarik dua jenis lebah yang tergiur kepada cairannya karena dapat menarik lebah betina untuk kawin. Karena permukaan anggrek ini basah, sang lebah terperosok ke dalam suatu lorong yang akan menutup, memerangkap lebah itu sambil menempelkan kantong-kantong pollen kepadanya, sebelum melepaskannya. Lebah yang sama akan jatuh ke dalam perangkap yang sama di anggrek kedua, tetapi anggrek kedua ini tidak akan menempelkan kantong-kantong pollen lagi, tetapi akan melepaskan kantong-kantong itu, sehingga melengkapi proses polinasi (Geoff Chapman, “Orchids … a Witness to the Creator,” Creation Ex Nihilo, Dec. 1996-Feb. 1997). Evolusi buta harus “menciptakan” DNA bagi setiap dari desain yang ajaib ini; dan bukan hanya itu saja, evolusi harus “menciptakan” saling keterkaitan yang sempurna antara tumbuhan dan serangga yang melakukan polinasi. Bagaimana ini bisa terjadi tanpa adanya desainer, ketika bunga tidak dapat mempelajari serangga dan serangga tidak mampu mempelajari bunga, tetapi masing-masing saling tergantung kepada yang lainnya untuk dapat bertahan hidup dan masing-masing dilengkapi secara sempurna untuk tugasnya dalam proses yang rumit ini? “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rom. 1:20).

Robot Imam Dapat Mengucapkan Berkat dalam Lima Bahasa

(Berita Mingguan GITS 08 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah gereja Protestan di Jerman telah mengembangkan sebuah robot yang dapat melafalkan “berkat-berkat” dalam lima bahasa, sambil menyinarkan cahaya dari tangannya (“Robot Priest Introduced,” WorldReligionNews.com, 31 Mei 2017). Robot imam yang konyol ini dibangun oleh Nassau and Hesse Evangelical Church untuk perayaan 500 tahun pemakuan 95 Thesis oleh Martin Luther di pintu gereja Katolik di Wittenberg. Berkat dapat dipesan melalui sebuah layar sentuh (touchscreen) di bagian dada robot tersebut, dan pemohon dapat memilih suara lelaki atau suara perempuan. “Mesin elektronik itu akan menyinarkan cahaya, mengangkat tangannya dan mengucapkan sebuah ayat Alkitab yang sesuai. Ia akan mengakhiri setiap permintaan berkat dengan kata-kata pujian bahwa Allah melindungi dan memberkati pemohon.” Menurut seorang perwakilan dari Nassau and Hesse Evangelical Church, “Idenya adalah untuk membuat orang mempertimbangkan apakah mungkin menerima bahwa suatu mesin dapat memberikan berkat, atau haruskah ada unsur manusia untuk tugas seperti ini.” Jawaban kami adalah bahwa sebuah robot tentu bisa memberikan berkat, yaitu yang sama efektifnya dengan berkat yang diberikan seorang pengkhotbah Protestan yang sesat. Fakta sebenarnya, satu-satunya yang dapat “memberikan berkat,” adalah Allah Mahakuasa, dan berkatNya telah dibayarkan oleh AnakNya di Golgota dan ditawarkan kepada setiap orang berdosa yang mempercayai Injil dalam keselamatan. EDITOR: Walaupun Martin Luther memprotes banyak kesalahan Katolik, masih ada beberapa kesalahan besar Katolik yang belum dia protes, dan akibatnya masih berlanjut dalam suatu bentuk atau lainnya. Salah satunya adalah masalah keimamatan. Dalam Perjanjian Baru, imamat Harun sudah dihentikan, dan Tuhan mengumumkan bahwa tidak ada lagi keimamatan spesial di kalangan orang percaya, karena semua orang percaya sudah diangkat menjadi imam (1 Petrus 2:9). Gereja Katolik melakukan kesalahan dengan terus mempertahankan keimamatan yang spesial. Banyak gereja Prostestan juga masih memiliki konsep yang serupa, dan oleh karena itu para “pendeta” mereka dianggap imam, yang pada akhir kebaktian mengangkat tangan untuk memberkati “umat,” mirip praktek imam di Perjanjian Lama. Padahal, dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi perbedaan antara “imam” dan “umat.”

Zuckerberg Mengatakan Facebook Adalah Gereja yang Baru

(Berita Mingguan GITS 08 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengatakan bahwa jaringan sosial yang dia buat itu dapat memberikan rasa komunitas yang sama seperti suatu gereja. Pernyataan misinya yang baru adalah “Membawa dumia semakin dekat satu sama lain.” Dan metodenya adalah jaringan grup-grup online yang menciptakan suatu rasa komunitas. Saat ini 100 juta orang berpartisipasi dalam jaringan-jaringan Facebook. Pembangunan komunitas adalah salah satu dari banyak alat yang dipakai oleh guru-guru New Age untuk mencapai tujuan pencerahan rohani, mencapai transformasi pribadi, dan membangun suatu dunia baru. Pembangunan komunitas yang dimaksud adalah proses penghancuran tembok-tembok pemisah antara orang-orang dan penekanan pada persatuan dan pemikiran kelompok daripada individualisme. Hal ini memerlukan suatu sikap tidak menghakimi dan kerelaan untuk menerima pandangan-pandangan dan praktek-praktek yang berbeda sebagai hal yang sah. Alat-alat New Age lainnya adalah meditasi, pengakuan positif, pembayangan terpimpin, visualisasi, positive thinking, dan dialog antar-agama. Zuckerberg mengakhiri pidatonya dalam acara kewisudaan di Universitas Harvard dengan sebuah doa Ibrani yang dia nyanyikan kepada putrinya setiap malam sebelum tidur. Lagu ini adalah suatu doa Yahudi yang meminta kesembuhan (Mi Shebeirach), yang dipakai sebagai suatu pengakuan positif, bukan sebagai doa alkitabiah. Zuckerberg memberitahu kelas yang wisuda di Harvard itu bahwa dia percaya “agama sangatlah penting,” tetapi dia mungkin tidak akan mau memasukkan “agama” dari Allah yang esa, dan kebenaran yang satu-satunya sebagaimana diajarkan di Kitab Suci, dan satu jalan keselamatan dalam Yesus Kristus saja. EDITOR: Positive Confession (yang diterjemahkan menjadi Pengakuan Positif), adalah konsep dan praktek mengucapkan secara lantang (keluar suara) apa yang anda inginkan terjadi dengan keyakinan bahwa Allah akan menjadikannya realita. Ini mirip dengan konsep Word-Faith, yang mengatakan bahwa ada kuasa dalam kata-kata kita yang kita ucapkan dengan “iman.” Jadi, seorang yang sakit misalnya, akan disuruh untuk berulang-ulang mengucapkan “saya tidak sakit,” “saya sehat,” “saya sembuh total,” dengan keyakinan. Mereka percaya bahwa dengan melakukan ini, kata-kata ini punya kuasa untuk mempengaruhi realita. Ini adalah konsep New Age (alam semesta akan membantumu, seperti dalam buku The Secret) yang sering kali dibungkus dengan sampul Kristen (Tuhan akan mengabulkan imanmu). Kesalahan theologis dalam konsep ini adalah bahwa Pengakuan, dalam Alkitab, adalah mengatakan dan menyetujui apa yang Allah katakan, bukan mengatakan sesuatu lalu mengharapkan Allah melakukannya. Iman dalam Alkitab adalah mempercayai janji Allah, bukan memaksa Allah melakukan kehendak kita.

Metode Pembaptisan

Bolehkah Pemercikan, Penuangan, atau Cara-Cara Lain, Menggantikan Pembaptisan?

oleh Dr. Steven E. Liauw

Topik pembaptisan memang adalah topik yang banyak menjadi bahan diskusi, bahkan perdebatan, dalam kekristenan. Ada banyak aspek dari baptisan yang diperdebatkan, misalnya, makna baptisan (apakah perlu untuk keselamatan, untuk apa dibaptis), siapa yang boleh dibaptis (subjek baptisan), metode pembaptisan (selam, tuang, percik, kibar bendera?), atau siapa yang berhak membaptis. Pada artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada Metode/Mode Pembaptisan, sedangkan aspek-aspek lain tidak akan dibahas, atau hanya akan disinggung sekilas saja.

Mengenai bagaimana cara membaptis (metode/mode baptisan), ada beberapa posisi, antara lain:

A. Posisi bahwa membaptis berarti menyelamkan/membenamkan, sesuai dengan arti kata baptizo, sehingga jika seseorang tidak dimasukkan ke dalam (air), maka orang itu belum dibaptis (air). Artikel ini memegang posisi pertama ini, dan akan memperlihatkan alasan dan argumen alkitabiahnya.

B. Posisi bahwa memang kata baptizo berarti menyelamkan, tetapi bahwa hal ini tidak terlalu penting untuk dipertahankan, karena yang penting adalah “makna” baptisan, bukan caranya.

C. Posisi bahwa kata baptizo bukan hanya berarti menyelamkan, tetapi bisa berarti hal-hal lain, seperti mencuci, atau bahkan memercik dan menuang. Oleh karena itu, baptisan bisa dengan cara menyelamkan, mencurahkan, atau memercik.

D. Posisi bahwa baptisan yang benar (atau lebih benar) adalah melalui pemercikan/pencurahan, dan bahwa praktek penyelaman justru adalah salah, atau minimal kurang disetujui. Posisi ini sering mengetengahkan bahwa Tuhan Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama dipercik atau dituang.

Posisi A dan D saling bertolak belakang secara fundamental, sedangkan posisi B dan C memperbolehkan baik penyelaman maupun cara-cara lain seperti pemercikan dan pencurahan. Tentunya keempat posisi ini tidak mungkin semuanya benar. Banyak orang yang menentukan posisinya berdasarkan tradisi gerejanya, tetapi kebenaran hanya dapat ditentukan berdasarkan fakta-fakta, dan terutama fakta-fakta dalam Alkitab. Tuhan Yesus memerintahkan agar orang-orang yang percaya padaNya menjadikan segala bangsa muridNya dan menyelamkan mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berikut adalah dasarnya:

I. Alkitab menggunakan kata baptizo

Tidak diperdebatkan bahwa Tuhan memerintahkan agar orang Kristen membaptis. Jadi, langkah yang paling mendasar dan pertama adalah untuk memahami apa arti dari kata “baptis.” Untuk memahami arti suatu kata, diperlukan kamus, atau penyelidikan langsung tentang bagaimana suatu kata dipakai.

Perlu dipahami bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, dan kata “baptis” berasal dari kata Yunani baptizo. Dulu orang pernah berpikir bahwa Alkitab ditulis dengan suatu bahasa Yunani yang spesial, yang ilahi, yang tidak dikenal oleh orang pada umumnya. Tetapi ini adalah asumsi yang salah, dan dengan berkembangnya ilmu Arkeologi, dan ditemukannya berbagai papirus dan dokumen-dokumen Yunani dari sekitar abad pertama, ditemukan bahwa bahasa Yunani dalam Perjanjian Baru sama dengan bahasa Yunani yang umum dipakai pada waktu itu, sehingga disebut Yunani Koine (Koine artinya umum atau biasa). Demikian juga, kata baptizo bukanlah suatu kata yang spesial, melainkan kata yang umum dipakai dan memiliki arti yang umum diketahui orang.

Penting untuk diingat bahwa yang harus dicari adalah makna kata baptizo dalam bahasa Yunani dalam pemakaiannya pada abad pertama, atau pada masa sekitar penulisan Alkitab. Jika seseorang mencari arti kata “baptis” berdasarkan kamus modern, maka ia akan sampai pada kesimpulan yang salah, karena kamus modern mempertimbangkan pemakaian kata “baptis” di dunia kekristenan selama 2000 tahun terakhir, yang bisa jadi memasukkan arti-arti yang tidak ada pada baptizo di abad pertama. Sebagai contoh, dalam kamus Merriam-Webster online (www.merriam-webster.com, Juni 2017), definisi dari “baptize” sebagai kata kerja transitif adalah sebagai berikut:

1 religion : to administer baptism (see baptism 1) to baptize a child in the Episcopal Church was baptized a Catholic as an infant

2a : to purify or cleanse spiritually especially by a purging (see 1purge 1) experience or ordeal … baptized with pain and rapture, tears and fire … — Sidney Lanier

b : initiate Both developments were baptized under last season’s conditions of scanty snow … — New York Times

3 : to give a name to (as at baptism) :  christen They baptized their son “John” after the baby’s grandfather.

Arti pertama yang diberikan oleh Merriam-Webster tidak banyak membantu, karena menggunakan ulang kata “baptisan” dalam definisi apa itu “membaptis.” Selanjutnya, dapat juga terlihat, bahwa kata “membaptis” modern ini bisa berarti memberi nama kepada seorang bayi (arti ketiga), atau memurnikan, membersihkan secara rohani terutama melalui suatu pengalaman yang mengikis, atau bahkan memulai sesuatu (arti kedua). Jelas akan terlihat nanti, bahwa kedua arti ini sama sekali tidak ada dalam kata baptizo pada waktu penulisan Alkitab, melainkan adalah perkembangan arti “membaptis” setelah dipraktekkan oleh berbagai denominasi gereja.

Berikut ini adalah definisi dari baptizo berdasarkan beberapa lexicon/kamus Yunani yang berfokus ke abad pertama:

1. Lexicon Liddell-Scott. Lexicon Liddell-Scott ini sangat berguna, karena ini lexicon Yunani umum, jadi bukan lexicon Alkitab saja. Ada banyak Lexicon Yunani yang hanya berfokus pada Alkitab (yaitu hanya mendefinisikan kata-kata yang ada dalam Alkitab), tetapi Liddell-Scott mencakup semua tulisan Yunani kuno. Liddell-Scott mendefinisikan baptizo sebagai berikut: “to dip in or under water,” dengan kata lain “mencelupkan ke dalam atau ke bawah air.” Liddell-Scott juga memberikan pemakaian metaforik, seperti terbaptis (terbenam) dalam hutang, atau dalam anggur.1

2. Lexicon Thayer.

1. properly, to dip repeatedly, to immerge, submerge (of vessels sunk, Polybius 1, 51, 6; 8, 8, 4; of animals, Diodorus 1, 36). 2. to cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water; in the middle and the 1 aorist passive to wash oneself, bathe; so Mark 7:4 (where WH text ???????????); Luke 11:38 (2 Kings 5:14 ?????????? ?? ?? ???????, for ?????; Sir. 31:30 (Sir. 34:30; Judith 12:7). 3. metaphorically, to overwhelm,

Dalam definisi pertama, Thayer memberikan arti yang proper, yang mendasar dan fundamental, dari kata baptizo, yaitu untuk mencelupkan, membenamkan, menyelamkan. Thayer menambahkan bahwa kata baptizo juga bisa berarti “mencuci” atau “membasuh” dengan cara mencelupkan atau membenamkan. Juga ada arti metaforis, yaitu overwhelm (terlingkupi oleh sesuatu). Terlihat bahwa dalam semua arti ini, arti dasar yaitu “membenam” ke dalam sesuatu, tidaklah hilang.

3. Definisi Strong.

1) to dip repeatedly, to immerse, to submerge (of vessels sunk) 2) to cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water, to wash one’s self, bathe 3) to overwhelm

Definisi yang diberikan oleh Strong tidak jauh berbeda dari Thayer. Arti dasar dari baptizo adalah mencelupkan atau menyelamkan, dan dapat juga berarti membersihkan dengan cara membenamkan.

4. Kumpulan lexicon lain. Berikut adalah ringkasan dari sejumlah lexicon tentang arti baptizo.2

1. Bagster’s Lexicon, baptizo: to dip, immerse.

2. Bass’ Lexicon, baptizo: to dip, immerse, or plunge in water.

3. Bloomfield’s Lexicon, baptizo: to immerse, or sink anything in water, or other liquid.

4. Bretschneider’s Lexicon, baptizo: to immerse into water, to submerge.

5. Bullinger’s Lexicon, baptizo: to immerse for a religious purpose.

6. Constantine’s Lexicon, baptizo: immerse, plunge, dip.

7. Cremer’s Lexicon, baptizo: immerse, submerge.

8. Dawson’s Lexicon, baptizo: to dip or immerse in water.

9. Dunbar’s Lexicon, baptizo: to dip, immerse, submerge, plunge, sink, overwhelm.

10. Green’s Lexicon, baptizo: to dip, immerse, to cleanse or purify by washing.

11. Greenfield’s Lexicon, baptizo: to immerse, immerge, submerge, sink.

12. Grimm’s Lexicon, baptizo: to cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water.

13. Groves’ Lexicon, baptizo: to dip, immerse, immerge, plunge, to wash.

14. Hedericus’ Lexicon, baptizo: plunge, immerse, cover with water.

15. Jones’ Lexicon, baptizo: I plunge-plunge in water, dip.

16. Leigh’s Lexicon, baptizo: the native and proper signification of it is to dip into water, or to plunge under water.

17. Liddell and Scott’s Lexicon, baptizo: to dip in or under water.

18. Maltby’s  Lexicon, baptizo: immergo, to plunge, to immerse.

19. Parkhust’s Lexicon, baptizo: to dip, immerge, or plunge in water.

20. Pickering’s Lexicon, baptizo: to dip, to dip under, to plunge, to steep, dye, or color.

21. Robinson’s Lexicon, baptizo: to immerse, to sink.

22. Robson’s Lexicon, baptizo: to dip in, immerse, to tinge, dye.

23. Scapula’s Lexicon, baptizo: to dip, to immerse.

24. Schleusner’s Lexicon, baptizo: properly, to immerse, to dip in, to dip into water.

25. Schrevelius’ Lexicon, baptizo: to baptize, dip, immerse, wash, cleanse.

26. Sophocles’ Lexicon, baptizo: to dip, to immerse, to sink.

27. Stephanus’ Lexicon, baptizo: plunge, immerse, likewise dip which is done by plunging.

28. Stockius’ Lexicon, baptizo: generally and by force of the word it has the notion of dipping in and of immersing.

29. Thayer’s Lexicon, baptizo: to dip repeatedly, to immerge, submerge.  To cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water.

30. Wright’s Lexicon, baptizo: dip, immerse, plunge, saturate, baptize, humble, overwhelm.

5. Kesaksian para pemercik

Ada orang-orang yang mempraktekkan pemercikan (karena tradisi), tetapi cukup jujur untuk mengakui bahwa baptizo memiliki arti menyelamkan. Contoh yang terkenal adalah tokoh-tokoh Reformasi. Kalvin, Luther, dan Beza, adalah tokoh-tokoh reformasi, dan kesaksian mereka signifikan karena pada zaman itu orang-orang terpelajar memang fasih dengan bahasa Yunani karena bahasa Yunani adalah salah satu bahasa akademia yang wajib dipelajari. Jadi, orang-orang ini sangat familiar dengan kata-kata Yunani, termasuk baptizo. Tambahan lagi, mereka ini adalah orang-orang yang memercik, sehingga tidak memiliki kepentingan theologis untuk mendukung posisi kaum Baptis, tetapi ketulusan akademia mereka membuat mereka mengakui arti kata baptizo yang sebenarnya.

Kalvin berkata:

“The word baptize, signifies to immerse; and the rite of immersion was observed by the ancient church.” (Institutes of Christian Religion, book iv, ch. 15). Terjemahan: “Kata membaptis berarti menyelamkan; dan ritus penyelaman dilakukan oleh gereja mula-mula.”

Luther memberi pernyataan berikut:

“The term baptism, is a Greek word. It may be rendered a dipping, when we dip something in water, that it may be entirely covered with water. And though the custom be quite abolished among the generality (for neither do they entirely dip children, but only sprinkle them with a little water,) nevertheless they ought to be wholly immersed, and presently to be drawn out again; for the etymology of the word seems to require it” (dalam karyanya De Sacramento Baptismi dikutip dari karya Dr. Du Veil tentang Kis. 8:38). Terjemahan: “Istilah baptisan, adalah kata Yunani. Ia dapat diterjemahkan suatu pencelupan, [seperti] ketika kita mencelupkan sesuatu ke dalam air, sehingga seluruhnya tertutup oleh air. Dan walaupun kebiasaan ini sudah hampir hilang pada umumnya (karena mereka tidak mencelupkan anak-anak sepenuhnya, tetapi hanya memercik mereka dengan sedikit air,) namun mereka seharusnya sepenuhnya diselamkan, dan segera ditarik keluar lagi; karena etimologi kata ini kelihatannya mengharuskan demikian.”

Beza:

Christ commanded us to be baptized; by which word it is certain immersion is signified . . . . Nor does baptizein signify to wash, except by consequence: for it properly signifies to immerse . . . To be baptized in water, signifies no other than to be immersed in water, which is the external ceremony of baptism” (Epistola II. ad Thom. Tilium, [apud Spanhem. Dub. Evang. Pars iii. Dub. 24] Annotat. in Marc. vii. 4. Acts xix. 3; Matt. Iii. 11., dikutip dalam Abraham Booth, Paedobaptism Examined, vol 1. hal. 42). Terjemahan: “Kristus memerintahkan kita untuk dibaptis; dengan kata ini sudah pasti penyelaman yang dimaksudkan . . . . Dan baptizein tidak berarti mencuci, kecuali sebagai konsekuensi [dari penyelaman]: karena tepatnya dia berarti menyelamkan . . . Dibaptis dalam air berarti tidak lain dari diselamkan di dalam air, yang adalah seremoni eksternal baptisan.”

6. Pemeriksaan Data Literatur

Karena kaum pemercik sering terus mempermasalahkan arti dari baptizo, seorang Kristen yang sekaligus adalah ahli bahasa Yunani, Thomas Jefferson Conant, memutuskan untuk melakukan studi yang menyeluruh (exhaustive) terhadap makna dari kata baptizo. Dia berkonsultasi dengan semua tulisan-tulisan Yunani kuno yang tersedia, dan mencari penggunaan kata baptizo dalam semua literatur Yunani kuno yang tersedia. Dengan demikian, dia mendaftarkan semua penggunaan baptizo dalam literatur waktu itu, dan menyelidiki artinya dalam konteks masing-masing.

Dia menarik kesimpulan berikut setelah menyelesaikan penelitiannya yang menyeluruh, yang melibatkan ratusan kutipan dari buku-buku Yunani kuno: (T.J. Conant, The Meaning and Use of Baptizein, Wakeman Great Reprints, 2002, hal. 105-106).

1. From the preceding examples it appears, that the ground-idea expressed by this word is, to put into or under water (or other penetrable substance), so as entirely to immerse or submerge; that this act is always expressed in the literal application of the word, and is the basis of its metaphorical uses. This ground-idea is expressed in English, in the various connections where the word occurs, by the terms (synonymous in this ground-element) to immerse, immerge, submerge, to dip, to plunge, to inbathe, to whelm.

2. These examples are drawn from writers in almost every department of literature and science; from poets, rhetoricians, philosophers, critics, historians, geographers; from writers on husbandry, on medicine, on natural history, on grammar, on theology; from almost every form and style of composition, romances, epistles, orations, fables, odes, epigrams, sermons, narratives; from writers of various nations and religions, Pagan, Jew, and Christian, belonging to many different countries, and through a long succession of ages.

3. In all, the word has retained its ground meaning, without change.From the earliest age of Greek literature down to its close (a period of about two thousand years), not an example has been found, in which the word has any other meaning. There is no instance, in which it signifies to make a partial application of water by affusion or sprinkling, or to cleanse, to purify, apart from the literal act of immersion as the means of cleansing or purifying.

1. Dari contoh-contoh sebelumnya terlihat bahwa ide dasar yang diekspresikan oleh kata ini adalah, memasukkan ke dalam atau ke bawah air (atau zat lainnya yang dapat ditembusi), sehingga secara keseluruhan membenamkan atau menyelamkan; bahwa aksi ini selalu diekspresikan dalam aplikasi literal dari kata ini, dan adalah dasar dari pemakaian metaforikanya. Ide dasar ini diekspresikan dalam bahasa Inggris, dengan berbagai hubungan dalam munculnya kata ini, dengan istilah-istilah (yang sinonim dengan elemen dasar ini) to immerse, immerge, submerge, to dip, to plunge, to inbathe, to whelm.

2. Contoh-contoh ini diambil dari penulis-penulis dari hampir semua departemen literatur dan sains; dari pujangga-pujangga, pembicara-pembicara, filsuf-filsuf, kritikus-kritikus, sejarahwan-sejarahwan, ahli-ahli geografi; dari orang-orang yang menulis tentang peternakan, tentang obat-obatan, tentang sejarah alam, tentang grammar, tentang theologi; dari hampir semua bentuk dan gaya komposisi, romansa, surat-surat, orasi, fabel, lagu-lagu, epigram, khotbah-khotbah, narasi-narasi; dari penulis-penulis dari berbagai negara dan agama, Kafir, Yahudi, dan Kristen, yang ada di berbagai negara berbeda, dan melalui zaman-zaman yang panjang.

3. Dalam semuanya itu, kata ini telah mempertahankan arti dasarnya, tanpa perubahan. Dari zaman literatur Yunani yang paling awal hingga selesainya (suatu periode hampir dua ribu tahun), tidak ada satu contoh pun ditemukan, yang di dalamnya kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Tidak ada contoh, yang di dalamnya kata ini berarti memakai air secara parsial melalui pencurahan atau pemercikan, atau untuk membersihkan, memurnikan, tanpa ada tindakan literal memasukkan ke dalam air, sebagai cara pembersihan atau pemurnian.

Penelitian yang dilakukan oleh Conant ini sudah dipublikasikan sejak tahun 1860an, dan terbuka untuk dikritik ataupun dibantah oleh siapapun. Pada kenyataannya, tidak ada yang sanggup membantahnya hingga hari ini.

 

Dari data-data di atas, sudah muncul kesimpulan bahwa arti dari baptizo adalah menyelamkan, mencelupkan, atau membenamkan. Medium pencelupan tidak diatur oleh kata baptizo itu dengan sendirinya, tetapi untuk tujuan upacara Kristen, jelas mediumnya adalah air (lihat misal Kis. 10:47; Yoh. 3:23). Dengan demikian, dari empat posisi yang disebut pada awal artikel, posisi D jelas salah.

Namun demikian, orang-orang yang mendukung pemercikan atau pencurahan, terkadang belum bisa menerima fakta ini, dan masih mempermasalahkan definisi dari baptizo. Jadi, berikut ini akan dijawab beberapa sanggahan mereka.

 

7. Menjawab sanggahan terhadap definisi baptizo

a. Markus 7:4 “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga [dan meja-meja]” (Mar. 7:4 dengan tambahan dari TR di akhir).

Kata “membersihkan” berasal dari kata baptizo dan kata “hal mencuci” berasal dari kata baptismos. Para pemercik sering menggunakan ayat ini untuk berkata bahwa ini bukti baptizo bisa berarti mencuci, atau mencurah, atau memercik. Tetapi, sebenarnya ayat ini tidak mendukung pola pikir seperti itu. Dalam Lexicon dan kamus-kamus Yunani kuno, memang baptizo bisa diartikan mencuci atau membasuh, tetapi dalam konteks mencuci atau membasuh dengan cara mencelupkan atau membenamkan. Dan tidak ada lexicon yang mengatakan bahwa baptizo bisa berarti memercik atau meneteskan atau menuangkan air.

Jadi, apakah Markus 7:4 menimbulkan permasalahan bagi definisi yang tertera di lexicon-lexicon? Sama sekali tidak. Markus 7:4 pertama memberitahu bahwa orang Yahudi, setelah pulang dari pasar, memiliki kebiasaan membaptis diri. Oleh KJV kata ini diterjemahkan “wash,” dan oleh ITB diterjemahkan “membersihkan.” Sesuai dengan informasi linguistik dari lexicon dan ahli bahasa, mencuci atau membersihkan diri di sini dalam konteks membenamkan diri. Apakah hal ini tidak bisa terjadi, sehingga harus dicari arti lain bagi baptizo? Tidak sama sekali. Manusia sejak zaman dulu hingga hari ini banyak yang mandi atau membersihkan diri dengan cara membenamkan diri, baik itu di kolam, di bathtub, atau di sungai, atau di banyak tempat lain. Jadi, tidak ada masalah logis ataupun historis untuk memahami bahwa orang Yahudi sering membersihkan diri dengan cara membenamkan diri. Apalagi jika, bersama dengan banyak komentator Alkitab (misal John Gill), membersihkan diri di sini dipahami sebagai membersihkan tangan, yaitu mencelupkan tangan ke dalam bejana pembersihan. Ini cocok dengan apa yang tertulis dalam Lukas 11:38, “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci [secara literal “mencelupkan,” dari baptizo] tangan-Nya sebelum makan.” Jadi, tidak ada apa-apa yang tidak sesuai dengan arti baptizo dalam informasi pertama ayat ini, dan oleh karena itu tidak meruntuhkan arti dasar baptizo yaitu mencelupkan.

Lalu, Markus 7:4 juga memberitahu kita bahwa orang Yahudi memiliki warisan tradisi berupa pembaptisan cawan, kendi, perkakas tembaga, dan meja (kata meja ada di Textus Receptus, walaupun tidak ada di Critical Text ataupun ITB). Kata ini diterjemahkan “washing” oleh KJV, dan “hal mencuci” oleh ITB. Sekali lagi, menurut lexicon, mencuci di sini dalam konteks mencelupkan ke dalam air. Apakah hal ini tidak mungkin, sehingga harus dicari arti lain bagi baptizo? Sama sekali tidak! Sampai hari ini pun ada banyak orang yang mencuci piring, kendi, bejana, dan barang-barang lain, dengan cara mencelupkannya ke dalam air. Orang Indonesia pasti sering melihat ini dilakukan oleh para penjual makanan kaki lima, seperti tukang siomai, tukang sate, dan lain sebagainya. Jadi, tidak ada masalah sama sekali.

Tetapi, bagaimana dengan meja? Kata meja ini berasal dari kata kline dalam bahasa asli Yunaninya. Banyak pembaca yang membayang meja modern dalam ayat ini, meja dengan ketinggian lebih dari satu meter, tetapi tidaklah demikian. Kata kline (dasar kata “recline” dalam Inggris) lebih seperti tempat pembaringan, dan di ayat-ayat lain diterjemahkan tempat tidur (9 kali diterjemahkan “bed” oleh KJV, 1 kali sebagai “table”). Tempat tidur yang dimaksud juga bukan seperti springbed hari ini. Ini adalah tempat tidur yang dapat ditenteng (portable), yang bisa dibawa-bawa oleh satu orang. “Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya (kline)” (Mat. 9:2). “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu (kline) dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat. 9:6). “Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur (kline)” (Luk. 5:18). Kata ini memang bisa juga diterjemahkan meja, karena cara makan orang Yahudi pada waktu itu adalah dengan berbaring pada sisi mereka. Jadi, adat istiadat mereka sangat berbeda dari kebiasaan hari ini. Meja atau tempat tidur ini mirip suatu “usungan” karenanya rupanya mudah dibawa ke mana-mana. Dan sangatlah mungkin untuk mencelupkan tempat tidur atau meja portable ini dalam proses pencuciannya. Bahkan dalam Perjanjian Lama, jika sesuatu menjadi najis, tidak peduli apapun itu, benda itu harus masuk ke dalam air.

Dan segala sesuatu menjadi najis, kalau seekor yang mati dari binatang-binatang itu jatuh ke atasnya: perkakas kayu apa saja atau pakaian atau kulit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apapun, haruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari terbenam, kemudian menjadi tahir pula. (Imamat 11:32).

Jadi, tidaklah terlalu aneh bagi orang Yahudi untuk mencelupkan kline mereka ini. Tidak ada keharusan untuk mencari arti lain bagi baptizo.

Mengenai ayat Markus 7:4 ini, komentator John Gill, yang fasih dengan adat istiadat Yahudi, memberikan informasi.

So that the evangelist uses the words ??????? and ?????????, most properly, without departing from their primary and literal sense; nor could he have used words more appropriate and fit. Various rules, concerning these things, may be seen in the treatises “Celim” and “Mikvaot”. Hence it appears, with what little show of reason, and to what a vain purpose this passage is so often appealed to, to lessen the sense of the word ???????, “baptizo”; as if it did not signify to dip, but a sort of washing, short of dipping; though what that washing is, is not easy to say, since vessels and clothes are in common washed by putting them into water, and covering them with it: this passage therefore is of no service to those who plead for sprinkling, or pouring water in baptism, in opposition to immersion; nor of any disservice, but of real use to those who practise immersion, and must confirm them in it.

Jadi sang penginjil menggunakan kata-kata ??????? and ?????????, secara sangat benar, tanpa beranjak dari arti mereka yang primer dan literal; dan dia juga tidak bisa memakai kata-kata itu secara lebih cocok dan pantas lagi. Berbagai aturan, mengenai hal-hal ini, dapat dilihat dari tulisan “Celim” dan “Mikvaot”. Jadi terlihat, betapa sedikitnya logika, dan betapa sia-sianya perikop ini begitu sering disebut-sebut, untuk mengurangi arti dari kata ???????, “baptizo”; seolah-olah kata ini tidak berarti mencelupkan, tetapi semacam pencucian, yang tidak mencakup pencelupan; walaupun apa yang dimaksud dengan pencucian itu tidaklah begitu jelas, karena bejana-bejana dan pakaian biasanya dicuci dengan memasukkan mereka ke dalam air, dan menutupi mereka dengannya (air): jadi perikop ini tidak membantu bagi mereka yang mengusahakan pemercikan, atau pencurahan air dalam baptisan, berlawanan dengan penyelaman; dan juga [perikop ini] tidak membebani, tetapi malah berguna bagi mereka yang mempraktekkan penyelaman, dan mengukuhkan mereka dalam hal ini.

II. Alkitab Memberitahu Bahwa Baptisan Melibatkan Air yang Banyak dan Melibatkan Turun ke dalam Air

Setelah dibuktikan bahwa kata baptizo berarti mencelupkan atau membenamkan ke dalam suatu medium, gambaran baptisan Kristen dalam Alkitab mengukuhkan hal yang sama melalui deskripsinya. Pertama, Alkitab memberitahu bahwa upacara pembaptisan memerlukan sejumlah air yang cukup, yang tidak sedikit. Ini terlihat dari ayat-ayat berikut:

Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis (Yohanes 3:23)

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” (Kisah Para Rasul 8:37)

Fakta Alkitab ini mengukuhkan bahwa Yohanes Pembaptis menyelamkan orang-orang yang bertobat oleh khotbahnya. Tidak terbantahkan bahwa hanya metode penyelaman yang membutuhkan banyak air. Pemercikan dan pencurahan tidak memerlukan banyak air. Pemercikan hanya membutuhkan sebaskom air, dan itu cukup untuk ratusan bahkan ribuan orang. Seorang pendukung pemercikan pernah berkata bahwa banyaknya air tidak masalah, dan “lebih banyak iman lebih sedikit air, lebih sedikit iman lebih banyak air .”3 Tetapi, ini pendapat pribadi yang ditimbulkan oleh tradisi, sedangkan Yohanes Pembaptis sengaja mencari tempat yang banyak air, yang rupanya diperlukan untuk pembaptisan. Sebenarnya jumlah air tidaklah mengindikasikan apapun tentang iman seseorang, yang mengindikasikan iman seseorang adalah apakah ia taat kepada Firman Tuhan atau tidak.

Dalam kisah tentang sida-sida dari Etiopia ternyata juga ada prinsip yang sama mengenai air. Setelah percaya pada Yesus Kristus melalui pemberitaan Filipus, sida-sida itu melihat suatu tempat yang ada air, dan meminta dibaptis. Hal ini signifikan, karena jika yang mereka lakukan adalah pemercikan, mereka tidak perlu menunggu sampai bertemu tempat yang berair. Sida-sida tersebut pastinya memiliki persediaan air minum yang cukup banyak, mengingat perjalanan mereka yang cukup jauh, dan tidaklah sulit untuk mengeluarkan segelas untuk tujuan pemercikan atau pencurahan.

Ada sebagian orang yang berdalih dengan berkata bahwa daerah Gaza di sana tidak memiliki sungai, dan air yang dimaksud hanyalah genangan kecil yang diambil airnya untuk pemercikan. Pendapat ini tentu tidak berdasar, karena mereka yang berkata bahwa tidak ada sungai di sana tidak pernah mengecek daerah itu pada zaman Filipus. Sekitar 2000 tahun sudah berlalu, dan banyak sungai yang bisa hilang dan timbul dalam waktu itu, sehingga argumen ini tidak berdasar. Bukan hanya tidak berdasar, pendapat ini juga secara terang bertentangan dengan deskripsi Alkitab, yang berkata bahwa “keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia” (Kis. 8:38). Tentu tidak mungkin dua orang dewasa turun ke air yang hanya genangan kecil saja. Dan juga tidak ada keperluannya untuk turun ke air dan keluar dari air, jika memang hanya perlu mengambil air sedikit untuk pemercikan. Sekali lagi, deskripsi Alkitab mendukung arti kata baptizo, yaitu menyelamkan.

Melanjutkan pemikiran yang baru saja diangkat adalah fakta kedua, yaitu bahwa dalam Alkitab, gambaran pembaptisan dalam Alkitab sering disertai dengan deskripsi orang-orang bersangkutan turun ke air, dan setelah itu keluar dari air.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya (Mat. 3:16)

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. (Mar. 1:9-10)

Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. (Kis. 8:38-39)

Baik dalam pembaptisan terhadap Tuhan Yesus, maupun pembaptisan terhadap sida-sida dari Etiopia, keduanya masuk ke dalam air, lalu keluar dari air setelah pembaptisan itu selesai. Kaum pemercik sering berargumen bahwa tindakan masuk dan keluar dari air bukanlah tindakan pembaptisan itu sendiri. Mereka berkata bahwa “masuk ke dalam air” adalah sebelum pembaptisan, dan “keluar dari air” adalah setelah pembaptisan. Jadi, bagi mereka pembaptisan itu sendiri bisa saja pemercikan atau penuangan.

Tetapi, bukan saja pemahaman demikian menyalahi arti dari kata baptizo, yang tidak pernah diartikan mencurah atau memercik dalam kamus Yunani, tetapi juga menyalahi akal sehat mengenai “masuk” dan “keluar” dari air ini. Gambaran yang sering diberikan oleh para pemercik adalah bahwa Tuhan Yesus dan sida-sida, dan orang-orang Kristen mula-mula lainnya, masuk ke sungai yang tingginya semata kaki, atau sepaha, lalu melakukan pemercikan di sana. Tetapi ini sungguh tidak masuk akal. Untuk apa, untuk melakukan suatu pemercikan, seseorang masuk ke dalam sungai? Bukankah jauh lebih praktis jika air itu dicedok sedikit dari sungai, lalu pemercikan dilakukan di tepi sungai, atau di tempat lainnya yang kering? Buktinya, gereja-gereja pemercik dan pencurah hari ini tidak mencari sungai atau laut, atau air yang banyak, untuk melakukan praktek mereka! Dan gereja-gereja pemercik dan penuang hari ini tidak masuk ke dalam air, dan tidak keluar dari air! Jika masuk ke dalam air dan keluar dari air tidak penting untuk pembaptisan, mengapa Yohanes Pembaptis, sida-sida dari Etiopia, dan orang-orang Kristen abad pertama melakukannya? Apakah orang zaman dulu senang main basah-basahan? Tentu tidak, itu konyol sekali. Tetapi orang yang paham arti kata baptizo tidak bingung sama sekali. Alasan orang yang dibaptis masuk ke dalam air, dan setelah itu keluar dari air, adalah karena baptizo berarti mencelupkan, dan untuk mencelupkan seseorang ke dalam air, ia perlu masuk dan keluar dari air. Ini akal sehat yang sangat cocok dengan bukti Alkitab.

Lebih lanjut lagi, dalam Markus 1:9-10, dikatakan bahwa Yesus, “Ia dibaptis di sungai Yordan.” Kata depan “di” dalam frase ini berasal dari preposisi Yunani eis. Biasanya, kata baptizo dipadankan dengan preposisi en, yang paling sering berarti “di,” tetapi terkadang diterjemahkan “dengan.” Oleh sebab itu ayat yang berbunyi “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia . . . akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat. 3:11), lebih cocok diterjemahkan “Aku membaptis kamu dalam air…. Ia akan membaptis kamu dalam Roh Kudus dan dalam api.” Tetapi para pemercik berdalih dengan berkata bahwa walaupun kata en dasarnya berarti “dalam,” tetapi juga bisa berarti “dengan.” Dan memang benar demikian. Tetapi, Markus 1:9 adalah ayat yang signifikan, karena di ayat ini kata baptizo bukan dipadankan dengan preposisi en, melainkan dengan preposisi eis. Preposisi eis memiliki arti “ke dalam,” mensinyalir adalah pergerakan ke dalam sesuatu, terutama ketika dipakai dengan kata kerja yang memiliki aksi pergerakan. Jadi, ayat ini paling baik diterjemahkan “Ia dibaptis ke dalam sungai Yordan.” Terlihat jelas bahwa penggunaan preposisi eis dengan kata baptizo, sangat cocok, karena ketika seseorang mencelupkan, ia mencelupkan ke dalam sesuatu.

III. Alkitab Memberitahu Bahwa Baptisan Menggambarkan Mati, Dikuburkan, dan Bangkit bersama dengan Yesus Kristus

Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (Roma 6:3-4)

…karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (Kol. 2:12)

Mengapakah Tuhan memerintahkan orang yang percaya kepadaNya untuk diselamkan? Mengapakah Tuhan tidak memerintahkan orang yang percaya untuk diputar-putar tujuh kali, atau dikibari bendara, atau diguling-gulingkan di tanah? Jelas ada elemen penggambaran di sini. Puji syukur kita tidak perlu menebak-nebak maksud Tuhan, karena Ia menyingkapkannya di dalam FirmanNya. Baik dalam Roma 6:3-4 maupun dalam Kolose 2:12, dengan jelas terlihat bahwa tindakan memasukkan seseorang ke dalam air, lalu menaikkannya kembali, menggambarkan mati bersama Tuhan, dikuburkan bersama Tuhan, untuk kemudian dibangkitkan bersama Tuhan.

Gambaran di atas cocok dengan makna baptisan, yaitu suatu kesaksian dan pengumuman tentang perubahan status seseorang. Pada waktu Yohanes Pembaptis mulai membaptis, ia menyerukan pertobatan, dan orang-orang yang menerima perkataannya memberi diri dibaptis. Jadi, baptisan merupakan tanda pertobatan (Mat. 3:11). Orang yang bertobat, dituntut untuk melakukan sesuatu secara publik, yaitu memberi diri dibaptis, untuk menunjukkan pertobatannya. Oleh sebab itulah, ketika Yohanes Pembaptis melihat sekelompok orang ingin dibaptis dengan motivasi yang diragukan (Mat. 3:7-8), ia menuntut adanya bukti pertobatan.

Setelah Yesus Kristus memulai pelayananNya, dan terutama setelah Ia menyelesaikan jalan keselamatan di atas kayu salib, orang yang bertobat secara benar di hadapan Allah, juga mempercayai Yesus Kristus. Bertobat dan percaya menjadi satu paket rohani (Kis. 19:4; 20:21). Oleh sebab itu, dalam Kisah Para Rasul 8:37, syarat baptisan bagi seseorang adalah jika orang itu telah sungguh percaya kepada Yesus Kristus.

Jadi, orang yang sudah bertobat dan percaya, memberi diri dibaptis untuk menjadi kesaksian publik tentang imannya. Dan pembaptisan itu sendiri menggambarkan apa yang terjadi pada dirinya, yaitu ia kini berada dalam Kristus. Ketika Kristus mati di atas kayu salib, orang percaya yang ada dalam Kristus, juga dihitung telah mati bersama Kristus. Dan ia dikuburkan bersama Kristus, dan seperti Kristus dibangkitkan, ia juga memiliki kebangkitkan. Masuk ke dalam air menggambarkan mati dan dikuburkan, lalu naik keluar dari air menggambarkan bangkit bersama Kristus. Itulah mengapa Tuhan memerintahkan pembaptisan, yaitu penyelaman. Pemercikan, penuangan, atau hal-hal lain, tidak dapat menggambarkan hal ini.

(Berlanjut minggu depan)…………………..

1Liddell-Scott juga memberikan arti kedua dari kata baptizo, yaitu “to baptize,” yang tidak banyak membantu, tetapi merupakan observasi mereka bahwa kata ini dipakai untuk kegiatan religius dalam teks Perjanjian Baru. Tentunya makna dasar dari kata ini, yaitu “mencelupkan” tidak hilang.

2https://bibleresourceman.wordpress.com/01-theology/03a-baptism-sprinkling-pouring-or-immersion/ (diakses Juni 2017).

3Kata-kata ini diucapkan oleh John Sung, seorang ahli kimia yang menjadi penginjil di Cina. Walaupun seorang penginjil yang hebat, John Sung dibesarkan dalam tradisi pemercikan, dan oleh karena itu membuat pernyataan yang salah ini.

Save

Save

Hati-Hati Lobangnya

(Berita Mingguan GITS 01 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 8 Juni 2017: “Hati-hati lobang (gap) adalah perkataan yang sering terdengar di Stasiun Kereta Bawah Tanah London, yang memperingatkan orang-orang untuk tidak melangkah ke dalam gap (lobang atau jarak) antara platform stasiun dengan kereta itu. Tetapi ‘hati-hati gap (lobang)’ juga adalah nasihat baik bagi para pelajar Alkitab! Ada orang-orang yang mengusulkan bahwa ada gap, ada lobang / jarak, antara Kejadian pasal 1, ayat pertama dan ayat kedua. Beberapa bahkan mengusulkan bahwa gap atau lobang waktu ini bisa jadi selama jutaan tahun, atau milyaran tahun, dan pada masa inilah Lucifer jatuh dari Sorga, manusia pra-Adam hidup, bersama dengan binatang-binatang, termasuk dinosaurus. Dan akhirnya, Allah menghancurkan dunia dalam apa yang mereka sebut Air Bah Lucifer, yang lalu memimpin ke ayat 2 (dari Kejadian 1). Ide ini sudah lama muncul, bahkan sebelum teori evolusi populer, ke para geologis yang percaya zaman yang lama, seperti James Hutton. Sebagian theolog menjadi yakin bahwa suatu masa yang panjang bagi Bumi telah dibuktikan, jadi mereka mencoba untuk mengakomodasi jutaan tahun yang dicanangkan melalui ide ini. Tidak ada pembenaran Alkitab maupun sains untuk apa yang disebut Teori Gap ini. Sungguh, Alkitab menyatakan sebaliknya. Dalam Keluaran 20:11, Allah menyatakan, sebagai alasan dari Hukum Keempat, bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Ini berarti bahwa Kejadian 1:1 – penciptaan langit dan bumi – adalah bagian dari enam hari itu. Jadi, tidak mungkin ada gap atau lobang waktu di antara ayat pertama dan kedua dalam Alkitab.” EDITOR: Sebagai tambahan, bahasa Ibrani di ayat 1 dan 2 Kejadian 1 tidak memungkikan adanya gap. Di antara ayat 1 dan ayat 2, ada conjunctive waw, yang berarti ayat 2 bukanlah ‘peristiwa selanjutnya,’ tetapi adalah menggambarkan bumi yang disebut di ayat 1.

Peringatan 500 Tahun Reformasi Protestan

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Tahun ini adalah peringatan 500 tahun Martin Luther memakukan 95 dalil yang membuka jalan bagi Reformasi Protestan. Istilah “Protestan” sendiri muncul dari sekelompok pangeran Jerman yang melakukan protes melawan Roma dua belas tahun kemudian, yaitu pada tahun 1529. Istilah Protestan biasanya mengacu kepada denominasi-denominasi yang muncul dari era tersebut – terutama Lutheran, Presbyterian, Anglikan (Episkopal), dan Methodis – tetapi sering juga dipakai untuk menggambarkan semua denominasi non-Katolik. Walaupun kaum Protestan keluar dari Roma dan menolak banyak dari kesalahan Roma, mereka juga masih menyimpan banyak hal yang tidak alkitabiah, seperti baptisan bayi, suatu keimamatan terbatas, penafsiran nubuat yang alegoris, theologi penggantian (replacement theology), dan penggabungan gereja dengan negara. Reformasi adalah suatu fenomena sosial, politik, dan agamawi yang besar dan kompleks, yang melibatkan banyak negara dan mencakup waktu yang panjang dan gerakan in berperan besar dalam membentuk dunia modern sekarang ini. Terjadi perubahan zaman yang besar (Dan. 2:21). Penyebaran terang rohani melalui pemberitaan Injil dan penerbitan Alkitab menghasilkan hal-hal seperti konsep kebebasan manusia yang maju, perbaikan kondisi ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan dalam bidang seni, dan kemajuan sosial (misal meningkatkan angka literasi, berakhirnya perbudakan, kondisi bekerja yang membaik, gaji yang lebih tinggi). Buku The Bible and Western Society yang Dr. Cloud tulis, menggambarkan sebagian buah baik hasil dari Reformasi. Sebuah penjabaran ekstensif tentang Reformasi Protestan dapat ditemukan dalam buku dua volume, A History of the Churches from a Baptist Perspective, edisi 2016.