Sologami: Menikahi Diri Sendiri

(Berita Mingguan GITS 20 Mei 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sologami, atau menikahi diri sendiri, adalah contoh ekstrim mengasihi diri sendiri dalam zaman mengasihi diri sendiri ini, dan terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Sologami dimulai sekitar 15 tahun yang lalu di California, dan telah menyebar ke seluruh Amerika dan juga negara-negara lain. Praktek ini, yang sejauh ini belum mendapatkan pengakuan legal apapun, dapat dilakukan secara pribadi saja, atau bisa juga melibatkan acara penikahan yang mewah. Salah satu promotor utama dari sologami adalah Sasha Cagen, seorang guru self-esteem dan penulis dari Quirkyalone: A Manifesto for Uncompromising Romantics (2004). Website IMarriedMe.com memberikan berbagai rencana penikahan diri sendiri, termasuk cincin kawin yang dipakai “untuk mengingatkan dirimu setiap hari untuk mencintai dirimu sendiri.” Sebuah perusahaan Kanada, Marry Yourself Vancouver, menawarkan jasa konsultasi dan fotografi. Erika Anderson, seorang sologamis, yang memakai gaun pernikahan putih saat dia menikahi dirinya sendiri di hadapan keluarga dan teman-teman, diwawancara baru-baru ini oleh WUSA9 dari Washington D.C. Dia mengatakan, “Saya akan menggambarkan hal ini sebagai acara seorang wanita mengatakan ya kepada dirinya sendiri. Ini berarti kita sudah cukup, bahkan jika kita tidak berpasangan dengan orang lain” (“People are marrying themselves,” WUSA9, 12 Mei 2017). Sologami tidak terbatas pada para feminis. Pada tahun 2007, Liu Ye menikahi dirinya sendiri dalam sebuah acara penikahan Cina tradisional di Guangzhou, yang dihadiri oleh 100 tamu. “Pengantin wanita”nya adalah sebuah foto dirinya sendiri sedang memakai pakaian pernikahan berwarna merah (“Chinese Man Marries Himself,” Digital Journal, 29 Jan. 2007). Media tersebut melaporkan bahwa “seorang psikologis menggambarkan pengantin pria/wanita tersebut tidak normal.” Sungguh benar. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. 2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama…” (2 Tim. 3:1-2).

Perubahan Sikap terhadap Yesus di Sebagian Kalangan Yahudi

(Berita Mingguan GITS 20 Mei 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam edisi Mei 2017, Israel Today menayangkan suatu laporan (“Influential Israelis Speak about Jesus”) yang menggambarkan suatu perubahan sikap tentang Yesus di kalangan orang Yahudi yang memiliki pengaruh. Artikel tersebut dimulai dengan kata-kata berikut, “Selama hampir 2000 tahun, orang Yahudi telah dengan konsisten menolak Yesus, seringkali dengan sikap yang sangat benci. Tetapi selama 50 tahun terakhir, sejak Perang Enam Hari pada tahun 1967 dan pengembalian Yerusalem ke tangan Yahudi, sikap terhadap Yesus mengalami perubahan dramatis.” Dua contoh diberikan. Yang pertama adalah Yochi Brades, putri dari seorang Rabbi Hassidic yang terkenal, Yitzhak Rabinovitz. Yochi sendiri juga adalah seorang terpelajar yang terdidik dalam sekolah-sekolah ultra-Ortodoks, dan penulis dari berbagai buku tentang pemikiran Yahudi dan novel-novel yang banyak dibaca. Dia mengakui bahwa dia diajarkan untuk menyebut Yesus sebagai “Yeshu,” yang berarti, “Kiranya namanya dan ingatan tentang dia dihapuskan,” yang mana mencerminkan posisi historis Yudaisme rabinik yang sudah dimulai oleh orang-orang Farisi di zaman Yesus. Tetapi sekarang dia berkata, “Saya mengasihi Yeshua. Penelitian saya tentang asal usul Kekristenan di abad 1 memimpin saya untuk memahami bahwa dia tidak bertanggung jawab atas penganiayaan dan anti-Semitisme yang dilakukan orang-orang Kristen dalam namanya terhadap orang Yahudi. Yeshua hidup sebagai seorang Yahudi dan mati sebagai seorang Yahudi. Seorang Yahudi yang baik. Seorang Yahudi yang setia. Seorang Yahudi yang saleh yang mengikuti hukum-hukum Allah.” Kesaksian lainnya berasal dari Amnon Rubinstein, mantan Dekan Fakultas Hukum dari Universitas Tel Aviv, pendiri dari partai politik Shinui, mantan Menteri Pendidikan, dan penerima Israel Prize pada tahun 2006. Rubinstein mengatakan, “Yesus berkata, ‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.’ Yeshua yang historis tidak menghilangkan satu halpun dari Yudaisme; dia hanya menambahkan kepada Yudaisme visi dia tentang Kerajaan Sorga. Jika dia dibangkitkan hari ini, Yeshua akan lebih senang berdoa di sebuah sinagog kecil, dan bukan di salah satu katedral megah yang dibangun atas namanya.”

Jelas sekali bahwa individu-individu yang disebut ini mendapatkan pandangan mereka tentang Yesus bukan dari Perjanjian Baru, melainkan dari para “ahli Yesus” modernistik yang telah membebani Perjanjian Baru dengan tradisi mereka seburuk para rabbi menambahi Perjanjian Lama dengan tradisi mereka. Adalah benar bahwa Yesus tidak mendirikan tipe-tipe kekristenan yang banyak terlihat hari ini, dan Yesus bukanlah pencetus dari anti-Semitisme. Bahkan, Dia telah memperingatkan bahwa guru-guru palsu akan muncul dan mengajarkan kebohongan dalam namaNya. Dia memperingatkan bahwa begitu banyak orang Kristen akan mengakui namaNya, tetapi terbukti palsu (Matius 7:21-23). Jemaat yang Yesus dirikan, yaitu yang digambarkan dalam halaman-halaman Kitab Suci, adalah perkumpulan sederhana orang-orang percaya tanpa ritual rumit atau katedral megah, dan tidak seperti kaum Katolik, Ortodoks, dan Protestan, jemaat-jemaat Kristus yang sejati tidak pernah menganiaya siapapun, termasuk orang Yahudi. Tetapi Yesus bukan hanyas ekedar seorang Yahudi yang hebat dan saleh. Dia mengklaim diri sebagai Mesias, Anak Allah, dan Dia membuktikan klaim itu dengan memenuhi nubuat-nubuat tentang Mesias dan bangkit dari antara orang mati. Yesus tidak disalibkan karena
Dia seorang Yahudi yang baik dan seorang yang mencintai Hukum Musa. Dia disalibkan karena mengklaim diri sebagai Anak Allah. Kita dengan kuat menasihatkan orang Yahudi untuk mempelajari Perjanjian Baru
sendiri tanpa pengaruh para modernis. Baca itu dengan teliti dan dengan doa, mencari kebenaran dari Allah. “Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah’” (Yoh. 10:31-33).

Hillsong dengan Berani Mempromosikan Persatuan dengan Roma

(Berita Mingguan GITS 20 Mei 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Hillsong memproduksi musik Kristem kontemporer (CCM – Contemporary Christian Music) yang paling berpengaruh hari ini, dan Hillsong berada di garis depan pembangunan suatu “gereja esa sedunia” melalui persatuan ekumenis. Baru-baru ini, gembala senior dari Hillsong Phoenix membuat pernyataan berikut melalui video: “Saya Dr. Terry Crist, gembala senior dari City of Grace [Hillsong Phoenix], dan juga Ketua dari Governor’s Council of Faith and Community Partnership di Arizona. Dan saya mau mengucapkan selama kepada Dr. Gary Kinnaman, Joe Tuscany, Uskup [Katolik] Thomas Olmsted, dan Uskup [Katolik] Eduardo Nevares, atas kerja luar biasa mereka mempersatukan Katolik dan Injili. Sesuatu yang berkuada terjadi ketika kita berkumpul pada pribadi Yesus. Gereja kami adalah anggota dari keluarga global jemaat-jemaat yang disebut Hillsong. Gereja utama kami berlokasi di Sydney, Australia … Dan sangatlah indah untuk melihat selama beberapa tahun terakhir bagaimana orang-orang Katolik di seluruh dunia telah mengangkat lagu-lagu gereja kami dan telah menyanyikannya secara universal. Lagu-lagu seperti ‘Shout to the Lord,’ ‘Mighty to Save.’ … Begitu sering kita berfokus pada hal-hal yang memisahkan kita daripada Manusia yang menyatukan kita. Yesus adalah Allah-manusia yang memanggil kita semua kepada diriNya, dan ketika kita merespon kepada hal itu, sesuatu yang transenden terjadi, sesuatu yang menyatukan kita, jauh lebih dalam dari persetujuan semata. Dan dari persatuan itu muncul suatu misi bersama” (https://videos.files.wordpress.com/gp1P36St/roman-catholic-hillsong_dvd.mp4). Hanya seorang yang tersesat yang akan berkata bahwa Yesus senang dengan persatuan campuran khalayak ramai kekristenan yang terdiri dari orang-orang dengan doktrin yang berbeda-beda dan Injil yang berbeda-beda. Kitab Suci dengan berani memperingatkan tentang bahaya injil-injil palsu, kristus-kristus palsu, dan roh-roh palsu (2 Kor. 11:1-15). Hal ini sekali lagi menegaskan peringatan bahwa menggunakan musik penyembahan kontemporer sama dengan membangun jembatan berbahaya kepada “gereja esa sedunia.” Hal ini jelas dilarang dalam Kitab Suci (misal Roma 16:17; 1 Korintus 15:33; 2 Timotius 3:5). Sangatlah menyedihkan bahwa begitu banyak gembala Baptis tidak memahami isu ini, dan lebih sedih lagi jika mereka tidak mau dididik dengan baik. Sebaliknya, mereka sibuk membenarkan kompromi mereka dan mengecam dan mengucilkan sisa suara yang masih memberi peringatan. Mereka ini bukanlah gembala yang bijak atas kawanan domba Tuhan. Mari kita berdoa terus agar Tuhan membangkitkan orang-orang yang terpanggil, memenuhi syarat, dan berapi-api bagi Kristus dan kebenaran, orang-orang dengan visi alkitabiah, yang rajin berdoa, yang akan memimpin jemaatnya dalam pemuridan yang serius, bukan hiburan semata, yang akan memimpin jemaat-jemaat untuk menjadi kuat dalam Firman Allah, kuat dalam doa, bijak dan hati-hati dalam penginjilan, dan membangun rumah-rumah tangga yang kuat yang dapat mendisiplin dan mendidik anak-anak dengan efektif.

KERAJAAN SERIBU TAHUN

KERAJAAN SERIBU TAHUN

 

Akan Terjadi di Bumi dan Diperintah Oleh Mesias

I Tawarikh 17:12-15, Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan tahtanya untuk selama-lamanya.  Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau. Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.” Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.

 

Jelas janji Allah tersebut di atas ditujukan kepada Daud dan keturunannya yang bersifat jasmaniah. Ayat tersebut tidak perlu dikiaskan menjadi “gereja” atau “umat pilihan.” Karena dengan jelas dan literal Daud memahami bahwa janji itu diperuntukkan baginya dan keturunannya, Allah akan menegakkan tahta Daud selama-lamanya.

Janji Allah terbukti secara rinci bahwa ternyata yang dimaksud keturunan Daud yang akan memerintah selama-lamanya adalah Yesus Kristus. Secara ajaib menelusuri daftar keturunan Tuhan Yesus Kristus dari Maria (Lukas 3:23-38) mengambil garis keturunan Natan (anak Daud dari Batsyeba). Seperti kita ketahui bahwa Daud memperoleh 4 anak laki-laki dari kandungan Batsyeba, yaitu; Simea, Sobab, Natan dan Salomo (I Taw. 3:5). Hal ini berhubungan erat dengan nubuatan tentang dinasti keturunan Salomo yang hanya sampai pada Konya atau Yoyakhin bin Yoyakhim yang digantikan oleh Zedekia bin Yosia (paman Yoyakhin, (Yer. 22:28-30) (Yer. 37:1). Sementara klaim keturunan pewaris tahta pada Yesus Kristus dapat ditelusuri dalam daftar silsilah Yusuf yang berasal dari keturunan Salomo (Mat. 1:2-16).

Pandangan Amilenialisme (pandangan yang menentang akan ada Kerajaan Seribu Tahun di bumi yang dipimpin langsung oleh Mesias sebagai keturunan Daud). Mereka berkeyakinan bahwa tahta Daud disamakan dengan tahta Allah di sorga. Pandangan ini gagal memahami segala bentuk penggenapan nubuatan yang mengarah pada akan berlangsungnya kerajaan Mesias keturunan Daud selama Seribu Tahun di bumi.

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini, Yesaya 9:5-6.

 

Kita harus menerima fakta harfiah bahwa konteks ayat tersebut di atas menunjuk pada Tuhan Yesus Kristus yang akan memulihkan kerajaan Israel. Jelas “tahta Daud” yang dimaksudkan adalah tahta di bumi yaitu Kerajaan Seribu Tahun. Tahta yang termaktub dalam Doa Bapa Kami “datanglah kerajaanMu, di bumi seperti di sorga” (Matius 6:10). Peneguhan atas pemulihan kerajaan Daud diucapkan oleh malaikatNya kepada Maria ketika ia akan mengandung bayi Yesus. Lukas 1:30-33,

 

Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

 

Jelas janji pemulihan kerajaan Daud yang dipimpin oleh Mesias yang diucapkan oleh malaikatNya, berwujud fisik, “tahta Daud, bapa leluhurNya.” Sehingga terpilihnya Maria untuk mengandung bayi Yesus dari Roh Kudus beralasan Maria adalah keturunan Daud secara jasmani.

 

Kaum Amilenialisme mengkaitkan zaman ini sebagai pemulihan “kerajaan Israel,” mereka berpendapat bahwa Kerajaan Seribu Tahun bisa saja sudah terjadi secara “kiasan” pada zaman ini. Bahwa gerakan “Zionis” dan pembentukan negara Israel adalah bukti penggenapan pemulihan Israel tanpa harus secara harafiah meyakini adanya fisik Kerajaan Seribu Tahun di bumi.

 

Jika melihat berbagai ayat nubuatan yang sudah diuraikan di atas maka pemulihan kerajaan Israel memiliki kriteria mutlak yaitu dipimpin oleh Mesias.

 

Yeremia 23:5-8 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN–keadilan kita.

 

Pastilah yang dimaksud sebagai “Tunas adil bagi Daud” bukanlah Simon Perez atau Benyamin Netanyahu. Mesiaslah yang dimaksud ayat ini, menduduki tahta Daud memerintah dengan adil dan bijaksana sebagai Raja. Dapat mempersatukan Yehuda (kerajaan yang berjumlah dua suku) dan Israel (kerajaan yang berjumlah sepuluh suku). Julukan Sang Raja adalah TUHAN, keadilan kita. Maka kerajaan Israel yang dipulihkan, yaitu Kerajaan Seribu Tahun belum terjadi dan pasti akan terjadi secara fisik di bumi ini, dimana Tuhan Yesus adalah Raja yang bertahta di kerajaan itu.

 

 

Sebelumnya Bangsa Israel Akan Mengalami Kesusahan Besar

 

Yeremia 30:7-9, Hai, alangkah hebatnya hari itu, tidak ada taranya; itulah waktu kesusahan bagi Yakub, tetapi ia akan diselamatkan dari padanya. Maka pada hari itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan mematahkan kuk dari tengkuk mereka dan memutuskan tali-tali pengikat mereka, dan mereka tidak akan mengabdi lagi kepada orang-orang asing. Mereka akan mengabdi kepada TUHAN, Allah mereka, dan kepada Daud, raja mereka, yang akan Kubangkitkan bagi mereka.

Bahwa pemulihan kerajaan Israel akan didahului dengan “kesusahan Yakub.” Masa Kesusahan Besar yang akan dialami oleh bangsa Israel selama tujuh tahun yang rinciannya dinubuatkan oleh Daniel (Daniel 9:24-27). Setelah itu, barulah memasuki Kerajaan Seribu Tahun yang dipimpin oleh Mesias. Masa Kesusahan Besar yang akan dialami oleh bangsa Israel adalah “suatu waktu kesesakan yang besar seperti yang belum pernah terjadi pada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu” Daniel 12:1. Kesusahan pada masa itu akan jauh melebihi penganiayaan yang dilakukan oleh kaisar Nero, Hitler, dll.

 

Kaum Amilenialisme gagal memahami Kesusahan Yakub yang akan berlangsung selama tujuh tahun ini. Secara harfiah Daniel menguraikan nubuatnya dalam tujuh puluh kali tujuh masa. Terbagi dalam tujuh kali tujuh masa dan enam puluh dua kali tujuh masa, lalu Mesias disalib. Setelah itu bangsa Israel akan memasuki masa Kesusahan Besar atau Kesusahan Yakub selama satu kali tujuh masa.

 

 

Masa Sekarang Adalah Masa Jemaat

 

Namun ternyata, akibat penolakan Israel kepada Mesias maka keselamatan dialihkan kepada bangsa-bangsa lain (Matius 11:13, Efesus 3:8). Penggenapan adanya “masa jemaat” sebelum masa “Kesusahan Yakub” dinyatakan dengan jelas oleh Paulus bahwa hal itu adalah “musterion/misteri” yang tersembunyi dalam Allah selama berabad-abad. Artinya Daniel pun tidak diperlihatkan misteri ini (Efesus 3:9-10). Dalam masa jemaat adalah kesempatan bangsa-bangsa menerima Injil Keselamatan sebab masa ini akan berakhir “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (Roma 11:25). Itulah sebabnya di dalam I Tesalonika 4:16-17 setiap pribadi yang bertobat pada masa jemaat ini akan diangkat sewaktu-waktu sebagai tanda diakhirinya masa jemaat dan Allah akan berurusan kembali dengan bangsa Israel selama satu kali tujuh masa sebagai penggenapan akan nubuatan Daniel.  Dan setelah genap tujuh puluh kali tujuh masa, barulah memasuki Kerajaan Seribu Tahun yang dipimpin oleh Mesias.

 

 

Mesias Akan Naik Tahta Pada Kerajaan Seribu Tahun

 

Sesaat sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, murid-muridNya bertanya; “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Kis. 1:6. Tentu maksud para muridNya adalah Tuhan Yesuslah yang akan menjadi Raja bagi Israel sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan para nabi perihal pemulihan tahta Daud. Sesungguhnya ini akan terjadi pada masa Kerajaan Seribu Tahun. Atau dengan kata lain, murid-muridNya bertanya “kapan” Tuhan Yesus naik tahta Daud dan memulihkan kerajaan Israel. Tuhan Yesus menjawab bahwa mereka tidak perlu mengetahui masa dan waktu pemulihan kerajaan itu (ayat 7). Kerajaan Seribu Tahun dimana Mesias keturunan Daud akan naik tahta dan memimpin dengan adil dan bijaksana secara fisik sangat diyakini oleh para pengikutNya. Bahkan dalam suatu peristiwa, ibu dari anak-anak Zebedeus, (Yohanes dan Yakobus) mengerti betul bahwa kerajaan Mesias secara fisik dan harfiah akan terjadi sehingga beliau meminta anak-anaknya diberi kedudukan pada pemerintahanNya kelak, Matius 20:20-23.

 

Secara khusus Yesaya menubuatkan tentang kerajaan Israel yang dipulihkan, Yesaya 11:1-12:6;

  • Dipimpin oleh “tunas yang keluar dari tunggul Isai” yaitu Tuhan Yesus Kristus
  • Memerintah dengan kejujuran, kebenaran dan kesetiaan
  • Membunuh orang fasik dengan nafas mulutNya
  • Serigala akan tinggal bersama domba
  • Macan tutul akan berbaring di samping kambing
  • Lembu dan beruang makan rumput bersama
  • Tidak ada yang berbuat jahat atau berlaku busuk
  • Menghimpun Israel yang terserak.
  • Mengeringkan teluk Mesir
  • Membelah sungai Efrat menjadi tujuh bagian
  • Jalan Raya dibangun untuk umat Israel kembali

 

Secara rinci Yehezkiel menubuatkan tentang bangunan Bait Suci pada Kerajaan Seribu Tahun, Yehezkiel pasal 40 sampai pasal 43.

 

Mikha 4:1-5:3, seakan meneguhkan berdirinya Bait Suci pada Kerajaan Seribu Tahun

  • Bangsa-bangsa akan berduyun-duyun mengunjungi Bait Suci.
  • Sang Raja berasal dari Betlehem Efrata

 

Zakharia 14:8-10, menubuatkan adanya perubahan fisik pada wilayah sekitar Yerusalem.

  • Akan ada sungai yang hulunya dari Yerusalem
  • Mesias akan menjadi Raja seluruh bumi
  • Seluruh negeri akan berubah menjadi subur seperti Araba-Yordan

 

Rasul Yohanes menubuatkan dalam kitab Wahyu apa yang akan terjadi pada masa Kerajaan Seribu Tahun

  • Iblis diikat selama seribu tahun
  • Orang-orang percaya yang mati martir pada masa Kesusahan Besar akan dibangkitkan dan ikut memerintah bersama Tuhan Yesus.

 

(Gbl. Firman Legowo, http://www.gbia-filadelfia.org)


Filed under: Doktrin Alkitabiah Tagged: amill. pre-mill, bait suci, kerajaan damai, kerajaan seribu tahun, kesusahan besar, keturunan daud, masa anugerah, mesias, pengangkatan, perang armagedon, raja segala raja, tuhan yesus, tunas daud, yesus kristus

Orang-Orang yang Mau Membantah Alkitab Tetapi Malah Bertobat (bagian satu dan dua) UPDATED

oleh Dr. David Cloud (Penerjemah: Dr. Steven Liauw)

Lebih dari semua buku lain digabungkan, Alkitab telah dibenci, diserang, dicemooh, dikritik, dibatasi, dilarang, dan dihancurkan, tetapi semuanya tanpa hasil. Sepertinya yang pernah dikatakan seseorang dengan sangat tepat, “Lebih mudah untuk memakai pundak kita pada bola matahari yang membara, dan mencoba menghentikan pergerakannya dengan cara demikian, daripada mencoba untuk menghentikan beredarnya Alkitab” (Sidney Collett, All about the Bible, hal. 63).

Pada tahun 303 M, Kaisar Romawi Diocletian, mengeluarkan sebuah dekrit untuk menghentikan orang Kristen dari menyembah Yesus Kristus dan untuk menghancurkan Kitab Suci mereka. Semua pejabat di seluruh kerajaan diperintahkan untuk membakar gereja-gereja ke tanah, dan membakar setiap Alkitab yang ditemukan dalam daerah mereka (Stanley Greenslade, Cambridge History of the Bible). Dua puluh liima tahun kemudian, pengganti Diocletian, Constantine, mengeluarkan dekrit yang lain yang memesan penerbitan lima puluh Alkitab dengan uang negara (Eusebius).

Pada tahun 1778, atheis Perancis bernama Voltaire menyombong dengan berkata bahwa dalam 100 tahun kekristenan tidak akan eksis lagi, tetapi dalam 50 tahun, Geneva Bible Society menggunakan rumah dan peralatannya untuk menerbitkan Alkitab (Geisler and Nix, A General Introduction to the Bible, 1986, hal. 123, 124).

Robert Ingersoll pernah dengan sombong berkata, “Dalam 15 tahun saya akan membuat Alkitab tinggal di rumah jenazah.” Tetapi Ingersoll sudah mati, dan Alkitab masih hidup dan baik-baik saja.

Faktanya, banyak orang yang berusaha untuk membuktikan Alkitab salah, tetapi malah menjadi bertobat. Berikut adalah beberapa contoh:

 

Gilbert West (1703-1756)

Nama Gilbert West dimasukkan dalam buku Samuel Johnson, Lives of the Most Eminent English Poets [jadi dia termasuk seorang pujangga terkenal]. Sewaktu dia adalah seorang pelajar di Oxford, West mencoba untuk membantah catatan Alkitab tentang kebangkitan Kristus. Namun, ia malah membuktikan untuk dirinya sendiri bahwa Kristus sungguh bangkit dari kematian, dan dia bertobat. West menerbitkan kesimpulan-kesimpulannya dalam buku Observations on the History and Evidences of the Resurrection of Jesus Christ (1747). Di bagian sampul buku tersebut, dia menulis berikut: “Jangan mempersalahkan sebelum anda meneliti kebenarannya.”

West menyimpulkan bukunya dengan kata-kata berikut:

“Jika Kristus tidak bangkit kembali, dan membuktikan diriNya sendiri dengan banyak hal-hal yang tidak terbantahkan bahwa Ia bangkit dari kematian, maka para Rasul dan Murid tidak mungkin tertarik untuk mempercayaiNya, yaitu mengakuiNya sebagai sang Mesias, Yang Diurapi oleh Allah; tetapi sebaliknya mereka pastilah menganggap Dia sebagai seorang penipu, dan dalam keyakinan seperti itu tidaklah mungkin mereka menjadi pemberita-pemberita Injil, tanpa menjadi orang-orang gila atau penipu-penipu, yang jika memang itu karakter mereka, maka tidak mungkin mereka berhasil seperti yang kita lihat mereka berhasil, jika kita mempertimbangkan ketidakmampuan alamiah mereka, kerasnya penentangan dunia terhadap doktrin-doktrin kekristenan, dan klaim-klaim palsu mereka tentang kemampuan ajaib, yang [jika Yesus tidak bangkit] tentunya tidak dapat mereka pakai untuk menipu diri sendiri, ataupun orang-orang lain. Jika kita berasumsi bahwa Kristus tidak bangkit dari kematian, maka sudah pasti, menurut segala perhitungan kemungkinan manusiawi, bahwa tidak mungkin akan pernah muncul yang namanya kekristenan, atau gerakan ini akan segera mati setelah kelahiran. Ini adalah fakta yang tidak dapat diperdebatkan, tetapi orang Kristen dan orang Kafir menjelaskan hal ini secara berbeda. Orang Kristen menegaskan bahwa kepercayaan mereka memiliki asal muasal yang ilahi, dan bertumbuh berkembang di bawah bantuan dan perlindungan ajaib dari Allah; hal ini bukan saja mereka tegaskan, tetapi juga mereka buktikan dengan cara-cara yang sama yang biasa dipakai untuk membuktikan segala hal yang terjadi di masa lampau yang sudah lama berlalu, tetapi sebenarnya mereka merasa bahwa hal ini sudah dapat secara fair disimpulkan dari kondisi luar biasa yang menyertai pertumbuhan dan perkembangannya, dan eksistensinya saat ini. Di sisi yang lain, orang-orang tidak percaya menegaskan bahwa kekristenan hanyalah suatu kebohongan, yang diciptakan dan diteruskan oleh manusia. Untuk mempertahankan pernyataan ini, maka mereka tidak bisa memakai argumen yang paling biasa mereka pakai untuk melawan Kebangkitan Kristus dan mujizat-mujizat lainnya dalam Injil, yaitu bahwa itu semua adalah mujizat, sehingga sesuatu yang berada di luar cara kerja alam, sehingga tidak dapat dipercaya. Mereka tidak bisa memakai argumen ini, karena jika tidak ada kebangkitan Kristus, maka mereka mereka akan menemukan mujizat lain, yaitu mujizat lahirnya, berkembangnya, dan menjamurnya kekristenan. Fakta ini, walaupun tidak dapat mereka jelaskan, toh tidak dapat mereka sangkali juga. Jadi, untuk menghancurkan bukti ini yang dipakai oleh orang-orang Kristen, mereka harus memperlihatkan bahwa hal-hal ini tidak ajaib, dengan cara memperlihatkan bagaimana itu [munculnya kekristenan] bisa saja terjadi dalam perjalanan sejarah manusia secara alami, melalui alat-alat yang sedemikian lemah seperti Kristus dan para RasulNya (jika kita menerima mereka sebagaimana diklaim, yaitu orang gila atau penipu), dengan lemahnya kemampuan dan harta benda yang mereka miliki. Tetapi, saya membayangkan bahwa hal seperti itu tidak mampu dibuktikan oleh para filsuf yang terbesar sekalipun, sama seperti tidak mungkin untuk membuktikan ucapan sombong Archimedes mengenai memindahkan dan memegang bola dunia ini, melalui mesin ciptaan manusia, dan hanya dengan menggunakan bahan yang disediakan oleh alam bagi manusia biasa” (Observations on the History and Evidences of the Resurrection of Jesus Christ, hal. 442-445).


George Lyttelton (1709-1773)

George Lyttelton adalah seorang negarawan Inggris, penulis, dan pujangga yang dididik di Eton dan Oxford. Di antara karya-karyanya yang lain, ia menerbitkan buku History of Henry II.

Sebagai seorang muda, dia waktu itu memulai misi untuk membuktikan bahwa Paulus tidak bertobat seperti yang dikisahkan Alkitab. Namun yang terjadi sebaliknya, ia menulis sebuah buku yang memberikan bukti bahwa Paulus sungguh bertobat dan bahwa pertobatannya adalah bukti bahwa Yesus bangkit dari kematian. Buku itu berjudul Observations on the Conversion and Apostleship of St. Paul (1747). Lyttlelton mengobservasi bahwa dari sudut pandang dunia, Paulus sama sekali tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dan malah kehilangan segala sesuatu ketika ia bersaksi bahwa ia telah melihat Kristus yang telah bangkit. Melepaskan posisi dan kehormatannya sebagai seorang pemimpin agama Yahudi, dia bergabung dengan sekte Kristen yang dibenci dan ia dikejar-kejar, dihina, dan dianiaya selama sisa hidupnya, dan akhirnya membayar harga terakhir demi iman Kristennya, yaitu mati dipenggal.

Lyttelton memulai bukunya dengan kata-kata berikut:

“Dalam sebuah percakapan kita suatu larut malam tentang topik agama Kristen, saya telah memberitahu kepadamu, bahwa selain semua bukti-bukti yang dapat ditarik dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama, dari koneksinya yang pasti dengan seluruh sistem agama Yahudi, dari mujizat-mujizat Kristus, dan dari bukti-bukti tentang KebangkitanNya oleh semua Rasul lain, saya merasa bahwa pertobatan dan kerasulan Paulus sendiri, jika dipertimbangkan dengan baik, dengan sendirinya cukup untuk menunjukkan kekristenan sebagai Pewahyuan yang ilahi. Karena kamu berpikir bahwa bukti yang seperti ini bisa jadi dapat dipakai untuk meyakinkan orang-orang yang tidak percaya yang tidak mau menyelidiki bukti-bukti yang lebih panjang, saya telah menuangkan alasan-alasan yang saya pakai dalam proposisi tersebut” (hal. 4).

Samuel Johnson, penulis kamus Inggris yang terkenal, berkata “kekafiran masih belum bisa menciptakan jawaban konyol” terhadap buku Lyttelton.

 

Albert Henry Ross (Frank Morison) (1881-1950)

Albert Ross adalah seorang pengacara, dan penulis novel yang tumbuh besar di Stratford-on-Avon, Inggris. Dia sangat dipengaruhi oleh gelombang skeptikisme yang melanda zaman itu, terutama serangan-serangan terhadap Alkitab oleh liberalisme theologi dan Darwinisme. Setelah menjadi seorang pengacara, dia berniat untuk menulis sebuah buku untuk membantah kebangkitan Yesus Kristus. Yang terjadi adalah sebaliknya, dia bertobat dan menulis sebuah buku untuk mempertahankan kebangkitan, yang berjudul WHO MOVED THE STONE? — yang masih dicetak hingga hari ini. Dia menulis buku ini dengan nama pena Frank Morison.

“Jika kamu membawa pikiranmu kembali membayangkan tahun 1890an, kamu akan mendapatkan bahwa sikap intelektual pada umumnya pada waktu itu adalah kunci dari pikiran saya. … karya-karya para pengritik Alkitab – terutama para kritikus Jerman – telah berhasil menyebarkan kesan yang meluas di antara para mahasiswa bahwa bentuk khusus narasi tentang hidup dan kematianNya telah disampaikan kepada kita dalam bentuk yang tidak dapat dipercayai, dan bahwa salah satu dari empat catatan itu tidak lain dari suatu bentuk apologetika brilian yang ditulis banyak tahun kemudian, mungkin puluhan tahun, setelah generasi yang pertama tiada.

“Seperti kebanyakan orang muda yang terlibat secara mendalam di bidang-bidang lain, saya tidak memiliki kemampuan untuk mem-verifikasi atau membuat penilaian sendiri tentang pernyataan-pernyataan ini, tetapi fakta bahwa hampir setiap kata-kata dalam Injil menjadi objek perdebatan dan perbantahan sangatlah mempengaruhi atmosfir waktu itu, dan saya rasa saya tidak bisa lepas dari pengaruh seperti itu.”

“Tetapi ada satu aspek dari subjek ini yang menyentuh saya secara mendalam. Saya telah mulai sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan fisika, dan pada zaman itu jelas bahwa pemikiran sains sangatlah keras dan dogmatis melawan apa yang disebut elemen-elemen mujizat dalam Injil. Sering terjadi bahwa beberapa hal yang tidak diganggu gugat oleh para kritikus tekstual, selanjutnya akan diserang oleh sains. Secara pribadi, saya lebih memperhatikan masalah mendasar mengenai hal-hal ajaib ini daripada kesimpulan-kesimpulan para kritik tekstual. Bagi saya, kritik yang murni dokumenter bisa jadi salah, tetapi bahwa hukum-hukum alam semesta bisa berlawanan dengan dirinya sendiri dalam cara yang arbiter dan acak, bagi saya sangatlah tidak mungkin. Bukankah Huxley sendiri telah mendeklarasikan dengan cara yang menetap bahwa ‘mujizat tidak terjadi,’ sementara Matthew Arnold, dengan injil “kemasukakalannya” yang terkenal itu, telah menghabiskan banyak waktu untuk mencoba menciptakan suatu versi kekristenan yang tanpa mujizat?

“Kira-kita pada waktu itulah – lebih demi ketenangan pikiran saya sendiri daripada untuk dicetak umum – saya menghasilkan ide untuk menulis sebuah monograf pendek tentang apa yang menurut saya adalah suatu fase yang sangat penting dan kritis dalam hidup Kristus – yaitu tujuh hari terakhir – walaupun belakangan saya akhirnya menyadari bahwa hari-hari setelah Penyaliban juga sama pentingnya. Judul yang saya pilih adalah ‘Yesus, Fase Terakhir,’ yang isinya akan banyak mengulang dan mengingat kembali sebuah penelitian sejarah terkenal oleh Lord Rosebery. …”

“Demikianlah, secara singkat, tujuan buku yang saya rencanakan waktu itu. Saya mau mengambil fase terakhir dari hidup Yesus ini, dengan segala drama cepat dan intens yang terjadi, dengan latar belakang sejarah kuno yang tajam dan jelas, dan juga kepentingan psikologis dan manusiawi – dan membersihkannya dari segala tambahan kepercayaan kuno dan asumsi dogmatis, dan menampilkan pribadi yang besar ini apa adanya.”

“Saya tidak perlu menggambarkan sekarang, bagaimana, sepuluh tahun kemudian, ada kesempatan untuk mempelajari hidup Kristus sebagaimana saya pernah rindu untuk mempelajarinya, untuk menyelidiki asal muasal dari literatur-literatur tersebut, untuk memeriksa beberapa bukti-buktinya dari tangan pertama, dan untuk membentuk penilaian saya sendiri tentang masalah-masalah yang ditimbulkan. Saya hanya akan berkata bahwa hal ini menimbulkan suatu revolusi dalam pikiran saya. Hal-hal muncul dari kisah yang kuno tersebut yang sebelumnya saya pikir tidak mungkin. Secara perlahan namun pasti, keyakinan mencuat bahwa drama yang terjadi dalam minggu-minggu yang tidak terlupakan dalam sejarah manusia tersebut, lebih aneh dan lebih dalam dari yang terlihat awalnya. Keanehan dari banyak hal yang menarik, itulah yang pertama menangkap perhatian saya. Barulah belakangan logika makna mereka yang tidak dapat ditolak, menjadi jelas.”

“Saya ingin mencoba, dalam pasal-pasal buku ini, untuk menjelaskan mengapa buku yang tadinya saya rencanakan itu tidak pernah berlayar, batu karang apakah yang menenggelamkannya, dan bagaimana saya akhirnya mendarat di pantai yang tidak disangkakan” (“The Book That Refused to Be Written,” pasal 1, Who Moved the Stone?).

Morison menyimpulkan bahwa satu-satunya penjelasan yang dapat memuaskan semua fakta historis adalah bahwa Yesus Kristus sungguh bangkit dari kematian. Morison menjadi orang Kristen tipe C.S. Lewis, yaitu percaya keilahian dan kebangkitan Kristus, tetapi tidak percaya pengilhaman yang tanpa salah atas Kitab Suci, dan bukunya Who Moved the Stone? lemah dalam hal yang satu ini. Sementara Morison menerima bahwa keempat Injil bersifat historis, dia percaya bahwa sebagian pernyataan lebih dapat dipercaya daripada pernyataan lain, dan bahwa bisa saja ada hal-hal yang ditambahkan belakangan. Jadi, walaupun dia melepaskan diri dari rantai modernisme theologi mengenai pribadi Kristus, dia tidak melepaskan diri dari “prinsip-prinsip kritik tekstual modern” yang sama salahnya. Dia berpegang, misalnya, pada kesalahan bahwa Injil Markus berakhir di pasal 16 ayat 8.

 

Simon Greenleaf (1783-1853)

Simon Greenleaf, Royall Professor fakultas Hukum di Harvard University, adalah salah satu otak hukum yang paling terkenal di sejarah Amerika. Tulisannya, Treatise on the Law of Evidence “masih dianggap sebagai otoritas terbesar mengenai bukti dalam semua literatur prosedur legal.”

Sebagai seorang profesor hukum, dia menetapkan diri untuk mengekspos “mitos” tentang kebangkitan Kristus, sekali dan untuk selamanya, tetapi pemeriksaan yang dia lakukan secara menyeluruh memaksa dia untuk menyimpulkan, sebaliknya, bahwa Yesus benar bangkit dari kematian. Pada tahun 1846, dia menerbitkan An Examination of the Testimony of the Four Evangelists by the Rules of Evidence Administered in the Courts of Justice.

Jadi, salah satu otak yang paling cemerlang dalam profesi legal dalam dua abad terakhir, membawa kebangkitan Yesus ke pengadilan, secara rapi meneliti bukti-buktinya, dan memvonis bahwa hal itu adalah fakta sejarah! Dan ini terjadi sekalipun dia memulai semua ini dari posisi seorang skeptis yang tidak percaya.

Salah satu poin yang diangkat oleh Greenleaf adalah bahwa hanya kebangkitan itu sendiri yang dapat menjelaskan perubahan dramatis dalam diri murid-murid Kristus dan kerelaan mereka untuk menderita dan mati bagi kesaksian mereka.

Perhatikan sebuah cuplikan:

“Tuan mereka baru saja mati tertuduh sebagai seorang pengacau, menjalani suatu pengadilan di muka umum. AgamaNya mencoba untuk melengserkan semua agama lain di dunia. Hukum dari setiap negara melawan pengajaran murid-muridNya. Kepentingan dan emosi dari semua penguasa dan pembesar-pembesar dunia bertentangan dengan mereka. Fashion dunia melawan mereka. Ketika menyebarkan iman baru ini, bahkan jika dengan cara yang paling bersahabat dan damai, mereka hanya dapat berharap akan menerima permusuhan, pencemoohan, rasa jijik, penganiayaan keras, cambuk, pemenjaraan, aniaya, dan kematian yang kejam. Namun mereka menyebarkan iman ini dengan semangat; dan semua nista tersebut mereka terima tanpa menjadi lemah, ya bahkan dengan sukacita. Sambil satu demi yang lainnya dimatikan secara kejam, yang masih tinggal hidup malah semakin semangat dan bertekad dalam pekerjaan mereka. Catatan sejarah peperangan militer hampir tidak ada mengandung contoh ketekunan, kepahlawanan, dan keberanian yang tidak padam seperti ini. Mereka memilki segala motif untuk berpikir ulang tentang dasar iman mereka, dan bukti-bukti tentang fakta dan kebenaran yang mereka kumandangkan; dan motif ini dipaksakan pada mereka dengan frekuensi yang menyedihkan dan menakutkan. Jadi tidaklah mungkin bahwa mereka dapat bertahan untuk mengiyakan kebenaran yang mereka ceritakan, kalau bukan Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati, dan jika mereka tidak mengetahui fakta ini sejelas mereka mengetahui semua fakta lain. … Jika kesaksian mereka tidak benar, tidak ada kemungkinan motif lain untuk memalsukannya” (Greenleaf, An Examination of the Testimony of the Four Evangelists by the Rules of Evidence).

 

William Mitchell Ramsay (1851-1939)

William Ramsay adalah seorang arkeolog ternama dan ahli Perjanjian Baru dari Skotlandia. Dia diberi gelar “knight” oleh raja Inggris untuk karyanya dalam bidang arkeologi.

Dia dibesarkan sebagai seorang atheis, dan sebagai seorang murid teladan di Universitas Aberdeen di Skotlandia dan di Universitas Oxford di Inggris, dia duduk belajar pada kaki para modernis dan skeptis yang tidak mempercayai Alkitab. Diasumsikan bahwa Alkitab tidak akurat secara historis dan mengandung banyak mitologi. Kitab Kisah Para Rasul dikira baru ditulis setelah tahun 150 M., sekitar satu abad setelah peristiwa-peristiwa yang tercantum di dalamnya.

Ketika Ramsay memulai riset arkeologis dan historis di Asia Kecil, mulai tahun 1881, dia mengira dan berharap akan menemukan lebih banyak lagi bukti untuk melawan Alkitab. Sebaliknya, dia menemukan fakta demi fakta yang mendukung Alkitab. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa kitab Kisah Para Rasul ditulis selama hidup para Rasul dan bahwa kitab ini akurat secara historis. Penemuan-penemuannya membuat dia bertobat menjadi orang Kristen.

“Dia menghabiskan banyak tahun sengaja mempersiapkan dirinya untuk tugas yang telah diumumkan, yaitu memimpin sebuah ekspedisi penjelajahan ke Asia Kecil dan Palestina, dan disana dia akan [menemukan] bukti bahwa Kitab tersebut adalah produksi para rahib yang berambisi, bukan buku dari sorga sebagaimana yang diklaim. Dia menganggap titik terlemah dalam seluruh Perjanjian Baru adalah kisah-kisah perjalanan Paulus. Hal-hal tersebut belum pernah diselidiki secara menyeluruh oleh seseorang di tempat aslinya. Dengan perlengkapan penuh yang melebihi siapapun sebelumnya, dia menuju ke tanah air Alkitab. Di tempat itulah dia menghabiskan lima belas tahun menggali. Lalu pada ahun 1896, dia menerbitkan sebuah buku besar, Saint Paul, the Traveler and the Roman Citizen. …Buku tersebut menimbulkan kegusaran besar di antara para skeptik dunia ini. Nada dan sikap buku ini sama sekali tidak terduga karena bertentangan dengan tujuan sang penulis yang telah diumumkan bertahun-tahun sebelumnya. Selama dua puluh tahun setelah itu, buku demi buku diterbitkan oleh penulis yang sama, yang masing-masingnya menambahkan bukti tentang ketepatan dan ketelitian kebenaran dari seluruh Perjanjian Baru, sebagaimana diuji oleh cangkul dan sekop di tempatnya. Dan buku-buku ini telah teruji oleh waktu, tidak ada satu pun yang dapat disangkal, dan bahkan saya tidak pernah menemukan ada usaha untuk menyangkal mereka” (Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict, hal. 62).

Ramsay bersaksi:

“Penulis ini mengambil posisi bahwa sejarah yang ditulis Lukas tidak dapat tertandingi dalam hal sifat dapat dipercaya. Pada titik ini kita akan menggambarkan apa alasan dan argumen yang mengubah pikiran seseorang yang memulai perjalanan dengan kesan bahwa sejarah itu telah ditulis jauh setelah kejadiannya, dan bahwa ia tidak dapat dipercaya secara keseluruhan” (The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament, 1915).

 

Viggo Olson

Berikut ini disadur dariFrom Agnostic to Ambassador to Bangladesh,” Thanthropos.org:

Viggo Olsen adalah seorang dokter bedah brilian yang tamat cum laude dari sekolah kedokteran dan belakangan menjadi seorang diplomat dari American Board of Surgery dan seorang fellow di American College of Surgeons. Pada tahun 1951, dia ditantang oleh orang tua istrinya untuk meneliti klaim-klaim kekristenan untuk dirinya sendiri.

Olsen mengingat, ‘Sama seperti seorang dokter bedah memotong dada, kami akan memotong ke dalam Alkitab dan membeberkan semua kesalahan-kesalahan ilmiahnya yang memalukan.’

Setelah dia memulai penyelidikannya, dia menemui masalah. Dia ingat bahwa dia kesulitan untuk menemukan kesalahan ilmiah. ‘Kami akan menemukan sesuatu yang sepertinya adalah kesalahan, tetapi setelah ditimbang-timbang dan dipelajari lebih lanjut, kami melihat bahwa pemahaman kami yang terlalu cetek. Ini membuat kami terperanjat dan menaruh perhatian.’

Setelah menyelidiki bukti-buktinya, Olsen menjadi seorang Kristen dan belakangan memberikan hidupnya untuk menjadi seorang misionari ke Bangladesh. Belakangan dia dihargai dengan Visa #001 karena sumbangsihnya bagi negara tersebut.

Ini adalah seorang yang sangat berpendidikan, seorang ahli bedah brilian, seorang yang tidak rela untuk beriman secara buta, dan yang setelah penyelidikan yang menyeluruh rela untuk mengakui, sama seperti begitu banyak lainnya, bahwa iman Kristiani yang bersejarah itu jauh lebih dari sekedar suatu agama. Iman Kristen didasarkan pada seseorang yang pernah berjalan di atas muka Bumi sebagai Theanthropos, yaitu sang Allah-Manusia. Ada begitu banyak bukti-bukti yang mendukung kebangkitan Yesus sehingga mengharuskan suatu keputusan, dan hidup matinya kekristenan bergantung pada fakta kebangkitan – tanpanya, kekristenan tidak ada gunanya.

Olsen berubah dari seorang agnostik, menjadi seseorang yang mengesampingkan karirnya, seluruh hidupnya, demi melayani orang-orang di Bangladesh. Olsen bersaksi:

‘Ini adalah pertualangan terbesar yang bisa kami miliki. Ketika anda di suatu posisi yang sulit, ketika anda berada dalam situasi yang di luar kemampuan anda berkali-kali lipat, ketika anda sedang tenggelam dan tidak mampu dan anda berdoa segenap hati – lalu anda melihat Allah mengulurkan tangan dan menyentuh hidupmu dan menyelesaikan situasi itu lebih hebat dari apapun yang bisa anda harapkan. … Itu sungguh hidup! Dalam pendapat saya, menemukan tujuan Allah menciptakan anda – apapun itu – lalu sepenuhnya mengejar tujuan itu, itu adalah cara terbaik untuk hidup.’

Olsen mendokumentasikan hidupnya dalam buku yang terkenal, Daktar.

 

Josh McDowell

Josh McDowell, penulis dari buku Evidence That Demands a Verdict, tadinya adalah seorang skeptik ketika dia masuk universitas untuk mengejar gelar bidang hukum. Di sana dia bertemu dengan beberapa orang Kristen yang menantang dia untuk menyelidiki bukti-bukti Alkitab dan Yesus Kristus. Berikut adalah kesaksiannya:

Sebagai seorang remaja, saya menginginkan jawaban terhadap tiga pertanyaan dasar: Siapa saya? Kenapa saya ada di sini? Dan saya sedang menuju ke mana? … Jadi sebagai seorang pelajar muda, saya mulai mencari jawaban-jawaban.

Saya mengira bahwa pendidikan bisa jadi memiliki jawaban terhadap pencarian saya akan kebahagiaan dan makna. Jadi saya mendaftar masuk universitas. Betapa mengecewakan! Saya barangkali sudah berada di lebih banyak kampus universitas dalam hidup saya dibandingkan siapapun dalam sejarah. Anda bisa menemukan banyak hal di universitas, tetapi mendaftar masuk untuk menemukan kebenaran dan makna kehidupan adalah suatu usaha yang sia-sia.

Saya sering menghabiskan banyak waktu dengan para profesor di kantor mereka, mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan saya. Ketika mereka melihat saya sedang datang, mereka akan mematikan lampu, menurunkan horden jendela mereka, dan mengunci pintu, supaya mereka tidak perlu berbicara dengan saya. Saya segera menyadari bahwa universitas tidak memiliki jawaban yang saya cari. Staf fakultas dan teman-teman pelajar saya memiliki sama banyaknya masalah, frustrasi, dan pertanyaan tentang kehidupan tanpa jawaban, dengan saya sendiri. Beberapa tahun yang lalu saya melihat seorang mahasiswa berjalan keliling kampus dengan tulisan di punggungnya: ‘Jangan ikuti saya, saya tersesat.’ Bagi saya seperti itulah semua orang di universitas. Pendidikan bukanlah jawabannya!

Saya memutuskan, kalau begitu jalan keluarnya pastilah kehormatan. Sepertinya benar untuk menemukan suatu perjuangan yang agung, dan menenggelamkan diri dalam hal itu, dan menjadi seorang yang terkenal. Orang-orang yang paling terhormat di universitas, dan yang juga mengendalikan keuangan, adalah para mahasiswa pemimpin. Jadi saya berkampanye untuk berbagai jabatan senat mahasiswa, dan akhirnya terpilih. Sungguh hebat bisa mengenal semua orang di kampus, membuat keputusan-keputusan penting, dan menghabiskan uang universitas untuk melakukan hal-hal yang saya ingin lakukan. Tetapi rasa seru ini segera memudar, sama seperti semua hal lain yang pernah saya coba.

Setiap Senin pagi, saya akan bangun tidur dengan sakit kepala karena cara saya menghabiskan malam sebelumnya. Sikap saya adalah, Yah kita memulai lagi lima hari yang membosankan. Kebahagiaan bagi saya berpusat pada tiga malam pesta itu: Jumat, Sabtu, dan Minggu. Lalu seluruh siklus kebosanan akan dimulai lagi.

Sekitar waktu itu, saya mulai memperhatikan ada sekelompok kecil orang di kampus – delapan mahasiswa dan dua orang staf fakultas – dan ada sesuatu yang berbeda dengan mereka. Mereka sepertinya tahu mereka sedang menuju ke mana dalam hidup ini. Dan mereka memiliki kualitas yang saya kagumi secara mendalam – yaitu keyakinan. Tetapi ada sesuatu yang lebih pada kelompok ini yang menarik perhatian saya. Yaitu kasih. Murid-murid dan para profesor ini bukan hanya mengasihi satu sama lain, mereka mengasihi dan mempedulikan orang-orang di luar kelompok mereka.

Sekitar dua minggu kemudian, saya sedang duduk di suatu meja di perkumpulan mahasiswa, berbicara dengan beberapa anggota kelompok ini. …Saya berpaling pada salah satu perempuan dalam kelompok itu ddan berkata, ‘Beritahu saya, apa yang mengubah hidupmu? Mengapa kamu begitu berbeda dari mahasiswa dan dosen yang lain?’

Dia menatap saya persis di mata dan mengatakan dua kata yang tidak pernah saya duga akan saya dengar dalam suatu diskusi intelijen di suatu kampus universitas: ‘Yesus Kristus.’

‘Yesus Kristus?’ saya bereaksi. ‘Jangan berikan saya sampah seperti itu. Saya sudah muak dengan agama, Alkitab, dan gereja.’

Dengan cepat dia membalas, ‘Mister, saya tidak mengatakan “agama”; saya berkata “Yesus Kristus.”’

Lalu teman-teman baru saya memberikan suatu tantangan yang tidak dapat saya percayai. Mereka menantang saya, seorang mahasiswa hukum, untuk menyelidiki secara intelektual, klaim bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Saya pikir ini suatu lelucon. Orang-orang Kristen ini begitu bodoh. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu loyo seperti kekristenan dapat menghadapi suatu penyelidikan intelektual? Saya menertawakan tantangan mereka.

Akhirnya saya menerima tantangan mereka, bukan untuk membuktikan apa-apa tetapi untuk membungkam mereka. Saya memutuskan untuk menulis sebuah buku yang akan membuat kekristenan menjadi lelucon intelektual. Saya meninggalkan universitas dan berperjalanan ke seluruh Amerika Serikat dan Eropa untuk mengumpulkan bukti bahwa kekristenan adalah suatu kepalsuan.

Suatu hari saya sedang duduk di sebuah perpustakaan di London, Inggris, saya merasa seperti ada suara dalam diri saya, ‘Josh, kamu sama sekali tidak memiliki dasar.’ Segera saya menekan perasaan ini. Tetapi hampir setiap hari setelah itu saya mendengar suara batin yang sama. Semakin saya meriset, semakin saya mendengar suara ini. Saya kembali ke Amerika Serikat dan ke universitas, tetapi saya tidak bisa tidur pada malam hari. Saya akan naik tempat tidur jam sepuluh, dan terbaring saja sampai jam empat pagi, mencoba untuk membantah banyaknya bukti yang saya telah kumpulkan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.

Saya mulai menyadari bahwa saya sedang tidak jujur secara intelektual. Pikiran saya memberitahu saya bahwa klaim-klaim Kristus sungguh adalah benar, tetapi kehendak saya ditarik ke arah yang lain. Saya telah memberikan penekanan yang begitu besar pada pencarian kebenaran, tetapi saya tidak rela untuk mengikutinya begitu saya menemukannya. Saya mulai merasakan tantangan pribadi Kristus bagi saya dalam Wahyu 3:20: ‘Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Tetapi menjadi orang Kristen terasa begitu menghancurkan ego bagi saya. Saya tidak bisa membayangkan ada cara lain untuk lebih cepat merusak semua kesenangan saya.

Saya tahu bahwa saya harus menyelesaikan konflik internal ini karena hal ini membuat saya gila. Saya selama ini menganggap diri sendiri sebagai seorang yang berpikiran terbuka, jadi saya memutuskan untuk memberikan tes paling supreme terhadap klaim Kristus ini. Pada satu malam di rumah saya di Union City, Michigan, pada akhir tahun kedua saya di universitas, saya menjadi seorang Kristen.

Saya berkata, ‘Tuhan Yesus, terima kasih telah mati di atas kayu salib untuk saya.’ Saya sadar bahwa jika saya adalah satu-satunya orang di bumi, Kristus tetap akan mati untuk saya.’ …Saya berkata, ‘Saya mengaku saya orang berdosa.’ Tidak ada yang perlu memberitahu saya hal itu. Saya tahu ada hal-hal dalam hidup saya yang tidak cocok dengan Allah yang kudus, adil, dan benar. …Saya berkata, ‘Sekarang ini, dengan sebisa saya, saya membuka pintu hidup saya dan mempercayai Engkau sebagai Juruselamat dan Tuhan. Kendalikanlah hidup saya. Ubahlah saya dari dalam keluar. Jadikan saya tipe orang yang Engkau kehendaki ketika Engkau menciptakanku’ (Josh McDowell, “He Changed My Life,” The New Evidence That Demands a Verdict, Thomas Nelson, 1999, hal. xxv).

McDowell menyimpulkan:

Setelah mencoba untuk menghancurkan historisitas dan kesahihan Kitab Suci, saya tiba pada kesimpulan bahwa Kitab Suci dapat dipercayai sebagai sejarah. Jika seseorang membuang Alkitab dengan alasan tidak dapat dipercayai, maka ia juga harus membuang hampir semua literatur kuno.

“Satu masalah yang selalu saya hadapi adalah keinginan banyak orang untuk menerapkan satu standar atau tes terhadap literatur sekuler dan standar lain untuk Alkitab. Kita harus menerapkan tes yang sama, tidak peduli apakah literatur yang diteliti itu sekuler atau agamawi.”

“Setelah melakukan ini, saya percaya kita bisa memegang Kitab Suci di tangan kita dan berkata, ‘Alkitab dapat dipercaya dan dapat diandalkan secara historis” (The New Evidence, hal. 68).

 

Richard Lumsden

Richard Lumsden (1938-97), Ph.D., bertobat dari seorang atheis Darwinian menjadi seorang Kristen yang percaya Alkitab pada puncak karir profesionalnya ketika, ditantang oleh salah satu mahasiswanya, dia mengecek bukti-bukti itu untuk dirinya sendiri.

Seorang profesor parasitologi dan biologi sel, Lumsden adalah dekan program S2 di Universitas Tulane. Dia telah mendidik 30 orang Ph. D., menerbitkan ratusan paper ilmiah, dan adalah pemenang hadiah tertinggi dalam bidang parasitologi.

Berikut ini disadur dari “The World’s Greatest Creation Scientists” oleh David Coppedge, yang tersedia di Master Plan Association, http://www.creationsafaris.com/products.htm —

“Dr. Richard D. Lumsden telah tercacak penuh dalam filosofi Darwinian, dan tidak memiliki alasan ataupun keinginan untuk mempertimbangkan kekristenan. Ilmu pengetahuan adalah agamanya: fakta, dan hanya fakta. Tetapi pada puncak karir profesionalnya, dia memiliki cukup integritas untuk mengecek fakta-faktanya, dan membuat keputusan sulit untuk berangkat ke mana pun fakta-fakta memimpin, untuk melawan segala sesuatu yang pernah dia pelajari, dan melawan apa yang dia sendiri pernah ajarkan. Hidupnya berubah secara dramatis, dari seorang Darwinian menjadi seorang Kreasionis, dari seorang atheis menjadi seorang Kristen.”

“Selama karirnya dia percaya bahwa evolusi Darwinian adalah suatu prinsip ilmiah yang telah dibuktikan, dan dia sangat senang mengolok-olok kepercayaan Kristen. Suatu hari, dia mendengar bahwa [negara bagian] Louisiana telah mengeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan [sekolah] memberikan waktu yang sama untuk [mengajar] penciptaan dan evolusi, dan dia sangat syok – betapa bodoh, dia berpikir, dan betapa jahat! Dia memakai kesempatan ini untuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap penciptaan dalam kelasnya, dan untuk menyampaikan kata-kata paling hebatnya untuk mendukung Darwinisme. Dia tidak sadar sama sekali bahwa pada hari itu, dalam kelasnya ada seorang lawan yang tangguh. Tidak, bukan seorang pembicara berlidah emas yang dapat berperang pikiran dengan dia; itu terlalu mudah. Kali ini lawan itu adalah seorang mahasiswi perempuan muda yang lembut dan sopan.”

“Mahasiswi ini mendatangi dia setelah kelas dan dengan gembira berseru, ‘Kuliah yang hebat, Doc! Hmm, saya berpikir, bolehkah saya buat perjanjian temu dengan anda; saya memiliki beberapa pertanyaan tentang apa yang anda katakan, dan hanya mau meluruskan fakta-fakta dalam pikiran saya.’ Dr. Lumsden, merasa tersanjung dengan pendekatan positif mahasiswi ini, menyetujui suatu waktu mereka dapat bertemu di kantornya. Pada hari yang ditentukan, mahasiswi ini berterima kasih padanya untuk waktunya, dan memulai. Dia tidak berargumentasi dengan apapun yang dia katakan tentang evolusi dalam kelas, tetapi hanya mulai menanyakan serangkaian pertanyaan: ‘Bagaimana kehidupan bisa mulai? . . . Bukankah DNA terlalu kompleks untuk bisa terbentuk dari kebetulan? . . . Mengapa ada lobang dalam catatan fosil antara berbagai jenis makhluk hidup? . . . Apa mata rantai yang hilang antara kera dan manusia?’ Dia tidak bertindak menghakimi atau provokatif; dia hanya ingin tahu. Lumsden, tanpa malu-malu, memberikan jawaban-jawaban standar evolusi untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Tetapi ada sesuatu dalam percakapan ini yang membuat dia sangat tidak nyaman. Dia telah siap untuk bertempur, tetapi tidak siap menghadapi rangkaian pertanyaan yang lembut dan jujur. Sambil dia mendengarkan dirinya sendiri mengeluarkan respons biasa evolusi, dia berpikir dalam hati,

Ini tidak masuk akal sama sekali. Apa yang saya ketahui tentang biologi bertentangan dengan apa yang saya katakan. Ketika tiba waktunya untuk selesai, mahasiswi itu membereskan buku-bukunya dan tersenyum, ‘Terima kasih, Doc!’ dan pergi. Dari luar, Dr. Lumsden terlihat percaya diri; tetapi di dalam, dia sungguh hancur. Dia tahu bahwa semua yang dia baru saja katakan kepada mahasiswi ini adalah salah.

“Dr. Lumsden memiliki integritas untuk menghadapi keraguan yang baru muncul ini dengan jujur. Dia menjalani suatu proyek riset pribadi untuk mengecek argumen-argumen untuk evolusi, dan dengan beriringnya waktu, dia mendapatkan argumen-argumen tersebut sangat tidak mencukupi. Berdasarkan fakta-fakta ilmiah saja, dia memutuskan harus menolak Darwinisme, dan dia menjadi seorang Kreasionis. Tetapi sebagaimana pagi pasti mengikuti malam, dia harus menghadapi pertanyaan berikutnya, Siapakah sang Pencipta? Tidak lama kemudian, apakah kebetulan atau bukan, putrinya mengajak dia ke gereja. Sangatlah tidak biasanya bagi pribadi evolusionis yang dulunya dingin dan yakin diri ini untuk pergi ke gereja! Belum lama yang lalu, dia tidak mau ada hubungan apapun dengan agama. Tetapi sekarang, dia terbuka untuk mempertimbangkan identitas sang Pencipta, dan apakah klaim-klaim Alkitab itu benar. Filosofi atheistiknya telah membuat dia tanpa daya untuk berhadapan dengan rasa bersalah dan kebiasaan buruk dalam hidup pribadinya. Kali ini dia terbuka, dan kali ini dia mendengarkan Kabar Baik bahwa Allah telah mengutus AnakNya untuk membayar hukuman dosa-dosa kita, dan untuk menawarkan kepada manusia pengampunan dan hidup yang kekal.

“Suatu pergumulan besar berlangsung dalam hati Dr. Lumsden sambil dia mendengarkan khotbah. Ketika kebaktian selesai, gembala sidang memberikan undangan untuk maju ke depan dan memutuskan sekali untuk selamanya, secara publik, untuk menerima Kristus. Dr. Lumsden menggambarkan pergumulan yang dia hadapi: ‘Sambil daging saya protes setiap langkahnya yang saya ambil, saya menemukan diri berjalan maju, maju ke depan. Dan di sana, saya menemukan Allah! Sungguh, pada saat itu, saya mengenal Dia, dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.’ Ada tempat pada salib bahkan untuk seorang profesor yang sok tahu semuanya, jika saja rela untuk merendahkan hati dan menunduk di hadapan sang Pencipta yang disaksikan oleh semua bukti-bukti ilmiah.”

“Dr. Lumsden bersukacita atas imannya yang baru, tetapi menemukan bahwa ada harga yang harus dibayar. Dia dikeluarkan dari fakultas ilmiah tempat dia dulu, setelah pertobatannya kepada Kristus dan kreasionisme. Institute for Creation Research mengundang dia untuk mengepalai departemen biologi mereka, yang dia lakukan dari tahun 1990 sampai 1996. Dr. Henry Morris berkata tentang dia, ‘Dia memiliki kesaksian yang kuat tentang pertobatannya beberapa tahun lalu dan peran yang dimainkan salah satu muridnya dalam menkonfrontir evolusionismenya dengan pertanyaan-pertanyaan yang persisten dan menusuk. Dia menjadi yakin penuh tentang bobroknya kepercayaannya dulu, dan menyadari bahwa satu-satunya alternatif yang masuk akal adalah bahwa harus ada seorang Pencipta.’ Dick Lumsden juga ditunjuk sebagai dosen fakultas ilmiah di The Master’s College, dan dia memakai pengetahuannya yang mendalam tentang mikroskop elektron untuk membantu kampus itu mendirikan satu instrumen yang operasional untuk mendidik para murid di situ. Ada sukacita dalam hidup dan cara-caranya yang membuat kuliah-kuliahnya berkilau, dan dia sangat suka untuk mendemonstrasikan desain dalam sel hidup yang tidak dapat muncul dari proses-proses Darwinian. Ketika berdiskusi dengan para evolusionis, dia tahu persis ‘di mana harus menekan mereka’ (dia akan tersenyum), karena dia pernah pada posisi yang sama. Murid-muridnya mengapresiasi pendidikan yang dia berikan kepada kelas dan lab-nya, melalui pengetahuannya yang mendalam dan luas.”

Sebelum dia meninggal, kesaksian Lumsden direkam dalam video, dan saat ini tersedia di lokasi berikut: https://vimeo.com/11466124

 

Gary Parker

Gary Parker memiliki gelar doktor pendidikan dalam bidang biologi/geologi dari Ball State University. Berikut adalah kesaksiannya:

“Saya dulu bukan hanya mengajarkan evolusi, saya mengkhotbahkannya. ‘Yang menjadikan umat manusia dan semua binatang dan tumbuhan lainnya adalah jutaan tahun pergumulan dan kematian,’ demikian saya katakan kepada para mahasiswa saya. Saya memuji Darwin sebagai orang pertama yang memahami cara kerja evolusi. … Saya membiarkan para murid dengan bebas mengekspresikan kepercayaan agamawi mereka, tetapi saya tidak mengizinkan mereka menggunakan iman pribadi mereka untuk menantang apa yang saya anggap adalah sains evolusi yang sekokoh karang. Saya mengira adalah tugas saya sebagai seorang guru ilmu pengetahuan untuk menyelamatkan murid-murid saya dari tahayul-tahayul kuno yang konyol, seperti memahami Alkitab secara literal dan mencoba untuk membantah evolusi dengan ‘sains kreasionisme.’”

“Perubahan terjadi ketika Dr. Charles Signorino, seorang profesor kimia di sekolah tinggi yang sama dengan tempat saya mengajar biologi, mengundang istri saya dan saya ke rumahnya untuk pembelajaran Alkitab. …Saya mulai mempelajari Alkitab, terutama untuk mengritiknya lebih efektif lagi. …”

“Jangan salah – penciptaan/evolusi adalah hal yang menyangkut keselamatan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa anda harus memiliki pengetahuan mendetil tentang sains penciptaan untuk menjadi seorang Kristen; saya hanya memaksudkan bahwa kepercayaan pada evolusi, bagi banyak orang seperti juga bagi saya, adalah batu sandungan besar untuk menerima (atau bahkan mempertimbangkan) tuntutan-tuntutan Kristus. Paulus memperingatkan Timotius untuk menghindari pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, yang telah membuat sebagian orang menyimpang dari iman (1 Tim. 6:20). Evolusi sesungguhnya adalah ‘humanisme yang memakai baju laboratorium,’ suatu filosofi dunia yang berpusatkan pada manusia, yang menggunakan istilah-istilah sains untuk menempatkan opini manusia jatuh di atas Firman Allah (sama seperti Hawa lakukan di taman Eden).

“Pengetahuan saya yang luas, dan juga semangat menggebu, untuk evolusi, jelas menghalangi saya untuk bahkan mempertimbangkan bahwa Allah bisa jadi adalah riil dan Alkitab benar adanya. Jadi apa yang terjadi? Nah, Dr. Signorino, sejawat yang mengundang saya ke pembelajaran Alkitab itu, bukan hanya adalah seorang pengajar Alkitab yang luar biasa, dia juga adalah seorang ilmuwan yang dihormati secara internasional karena karyanya di bidang kimia. Dia menantang saya untuk memperhatikan lagi sains yang selama ini saya kira telah sangat saya pahami. Karena yakin bahwa sains akan mendukung evolusi dan membantah literalisme Alkitab, saya dengan senang hati menerima tantangannya.

“Pertempuran dimulai. Selama tiga tahun, kami berargumen tentang penciptaan/evolusi. Selama tiga tahun saya memakai semua argumen evolusionis yang telah sangat saya pahami itu. Selama tiga tahun, saya kalah dalam setiap argumen sains. Dengan putus asa, saya memandangi mitos evolusi menguap di bawah terang pemeriksaan sains, sementara argumen-argumen yang mendukung Penciptaan-Kejatuhan-Bencana-Kristus, semakin lama semakin baik. Tidak heran bahwa ACLU [Editor: ini organisasi di AS yang sering mengajukan tuntutan hukum untuk menyerang banyak isu-isu Kristen] berusaha keras untuk mensensor setiap tantangan sains terhadap evolusi!…

“Kira-kira pada waktu yang bersamaan, saya mendapatkan satu kopi dari buku pertama yang saya tulis, suatu buku instruksi sains yang terprogram, berjudul DNA: The Key to Life. Sampai dengan titik itu, saya mengira bahwa orang-orang yang menulis buku, apalagi buku teks dalam sains, pastinya memahami apa yang mereka bicarakan. Nilai saya dulu hampir A semua, dan saya juga pernah memenangi berbagai hadiah akademik, dan buku saya telah di-review oleh berbagai ahli bidang DNA< tetapi saya tahu segala ketidakpastian yang sebenarnya ada di dalam buku itu. (Bahkan, ketika saya menerbitkan ulang edisi kedua lima tahun belakangan, saya mengesampingkan edisi pertama dan memulai dari nol; begitu banyaknya informasi tambahan tentang DNA telah muncul). Akhirnya suatu pemahaman mencuat bagi saya: jika para ahli sains dapat menulis buku-buku yang harus terus menerus diperbaiki, direvisi, dan diperbaharui, mungkin Allah menulis suatu Kitab yang di dalamnya Ia mengatakan persis apa yang Ia maksudkan dan Ia memaksudkan persis yang Ia tuliskan: kebenaran yang kekal dan tak berubah, suatu dasar yang pasti secara absolut untuk memahami kehidupan yang akan berguna bagi semua orang di segala tempat di setiap waktu!

“Setelah kini memandang Alkitab sebagai satu-satunya ‘Buku Sejarah Alam Semesta’ yang sejati, saya terangkat dari penjara waktu, ruang, dan budaya, dan dimampukan untuk melihat melampaui kata-kata ahli-ahli manusia yang dangkal dan selalu berubah, kepada Firman Tuhan Allah, Pencipta langit dan bumi, yang tidak pernah berubah! Saya merasakan siapa Yesus itu, dan apa yang Yesus maksudkan ketika Ia mengatakan, “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).

“Saya sekarang dapat melihat fakta-fakta yang sudah lama dengan cara yang baru – cara yang lebih masuk akal secara ilmiah dan membantu saya untuk menyelesaikan masalah-masalah asal usul yang telah membingungkan saya sebagai seorang evolusionis. Sambil saya melihat biologi dengan penutup mata evolusi yang telah disingkirkan, tema alkitabiah tentang Penciptaan-Kejatuhan-Bencana-Kristus tergambarkan di mana-mana! …

“…ada yang mengatakan bahwa andai saya tahu lebih banyak tentang fosil, maka saya akan meninggalkan ‘omong kosong penciptaan’ ini dan menerima ‘fakta evolusi.’ Lalu Tuhan melakukan sesuatu yang luar biasa pada saya: masuk program studi doktoral penuh waktu selama 15 bulan di National Science Foundation. Dengan takut dan gentar, saya menambahkan cabang minor dalam geologi, dengan penekanan paleontologi dan asal usul, untuk mengecek bukti fosil secara langsung. Saya diajar oleh profesor-profesor yang hebat, termasuk beberapa orang Kristen, tetapi mereka semua mengasumsikan evolusi tanpa ragu. Namun, apa yang mereka ajarkan pada saya tentang fosil justru membuat sulit untuk mempercayai evolusi dan mudah untuk menerima catatan Alkitab tentang penciptaan yang sempurna, yang dirusak oleh manusia, dihancurkan oleh air bah, dan dipulihkan kepada hidup yang baru dalam Kristus. …”

“Pada akhir pelajaran saya dalam unit geofisika, tentang penanggalan radiometris, sang profesor sedang menjelaskan suatu daftar panjang asumsi yang diperlukan untuk mengkonversi pengukuran jumlah radioisotop menjadi pekiraan umur. Setengah jalan menjelaskan daftar asumsi yang tidak dibenarkan dan hasil-hasil yang inkonsisten ini, sang profesor berhenti sejenak untuk bercanda bahwa jika seorang Kristen yang percaya Alkitab sampai tahu tentang masalah-masalah ini, ia akan membongkar-bangkirkan sistem penanggalan radiometrik! Lalu dia menasihatkan kami untuk ‘mempertahankan iman.’”

“Mempertahankan iman. Pada ujungnya, itulah inti dari penanggalan berdasarkan peluruhan radioaktif: iman yang telah ditinggalkan oleh fakta. Pada ujungnya, itulah evolusi: iman yang telah ditinggalkan fakta. Evolusi hanya mampu untuk masuk ke ranah sains karena pada abad 19 manusia masih buta tentang biologi molekuler, struktur seluler, ekologi, dan sistematika. Penemuan-penemuan dalam bidang-bidang ini secara total menghancurkan evolusi sebagai suatu sains, tetapi ia bertahan sebagai agama sekuler yang dilindungi dari bukti-bukti yang menghancurkannya oleh kelompok-kelompok anti-Kristen dan atheis” (Persuaded by the Evidence, hal. 251, 252, 253, 254, 255, 258, 260, 261).

 

Lee Strobel

Lee Strobel mempunyai gelar hukum dari Universitas Yale, dan bekerja sebagai seorang wartawan penyelidik untuk salah satu koran terbesar Amerika, yaitu Chicago Tribune. Dia awalnya adalah seorang atheis. Setelah istrinya menjadi seorang Kristen pada tahun 1979, dia tidak senang dengan keputusannya dan menetapkan hati untuk membuktikan bahwa Alkitab tidaklah benar dan Yesus Kristus bukanlah Anak Allah. Selama dua tahun dia mengejar tujuan ini, menggunakan segala kemampuan legal dan jurnalistik yang dia miliki, tetapi pada akhirnya dia membuktikan bagi dirinya sendiri bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan Yesus bangkit dari antara orang mati. Dia menjadi orang Kristen pada tahun 1981 dan sejak itu telah banyak menulis buku yang mempertahankan iman Kristiani.

“Bukanlah sebuah telpon dari seorang informan yang mendorong saya untuk meneliti ulang kasus tentang Kristus. Adalah istri saya. Leslie mengejutkan saya pada musim gugur 1979 dengan mengumumkan bahwa dia telah menjadi seorang Kristen. Saya memutar mataku dan mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk, sambil merasa telah menjadi korban penipuan. Saya telah menikahi satu Leslie – Leslie yang fun, yang bebas, yang senang mengambil resiko – dan sekarang saya takut bahwa dia akan berubah menjadi semacam orang kuno yang terbelakang seksualitasnya yang akan mengganti gaya hidup kami yang mobile dan menanjak menjadi malam penuh doa khusyuk dan kerja sukarela di dapur-dapur umum.”

“Sebaliknya, saya mendapat kejutan gembira – bahkan terpukau – oleh perubahan fundamental dalam karakternya, dan keyakinan pribadinya. Lambat laun saya ingin menelusuri sampai dasarnya apa yang menyebabkan perubahan yang sedemikian halus namun signifikan dalam sikap istri saya, sehingga saya melancarkan suatu penyelidikan menyeluruh tentang fakta-fakta seputar kasus kekristenan.”

“Mengesampingkan kepentingan dan prejudis pribadi sebisa mungkin, saya membaca buku-buku, mewawancarai ahli-ahli, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menganalisa sejarah, menjelajahi arkeologi, mempelajari literatur kuno, dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, menelusuri Alkitab ayat demi ayat.”

“Saya membenamkan diri ke dalam kasus ini dengan semangat yang jauh melebihi berita apapun yang pernah saya liput dan selidiki. Saya mengaplikasikan pendidikan yang telah saya terima di Sekolah Hukum Yale, sekaligus pengalaman saya sebagai editor bagian legal dari Chicago Tribune. Dan seiring waktu, bukti-bukti dunia ini – dari sisi sejarah, sains, filosofi, psikologi – mulai menunjuk ke arah yang tidak terbayangkan”(Lee Strobel, The Case for Christ: A Journalist’s Personal Investigation of the Evidence for Jesus, 1998, hal. 14).

Strobel menjadi yakin bahwa Alkitab adalah benar dan Yesus Kristus bangkit dari kematian. Dia telah menulis banyak buku yang mempertahankan iman Kristen, termasuk The Case for Christ: A Journalist’s Personal Investigation of the Evidence for Jesus and The Case for the Resurrection.

(Dengan sedih kami tidak bisa merekomendasi pelayanan Strobel. Dia mengadopsi filosofi New Evangelical, sejak lama berasosiasi dengan Bill Hybles dan Willowcreek Community Church, dan telah berbicara mendukung Robert Schuller, sang penyesat self-esteem itu).

 

Jobe Martin

Dr. Jobe Martin adalah seorang dokter gigi. Dia tamat dari Universitas Pittsburgh Jurusan Kedokteran Gigi, tahun 1966. Sementara di militer, dia melayani di Air Force One, pesawat presiden. Dia pernah bekerja bagi NASA di Houston, Texas, dan memegang jabatan pengajar di Kedokteran Gigi Baylor College.

Dia adalah seorang evolusionis Darwinian sampai dia beriman pada Yesus Kristus pada tahun 1976. Dan dia menjadi penulis dari “Incredible Creatures that Defy Evolution” dan “The Evolution of a Creationist.”
Berikut ini adalah kesaksian dia:

“Pada musim gugur 1971, saya pergi ke Universitas Baylor di Dallas dan memberikan ceramah saya yang pertama. Ceramah itu adalah tentang evolusi gigi. Saya berbicara mengenai bagaimana sisik-sisik ikan secara perlahan bermigrasi ke dalam mulut dan menjadi gigi. Beberapa murid datang kepada saya setelah kelas pada hari itu, dan berkata, ‘Dr. Martin, apakah anda pernah menyelidiki klaim-klaim dari sains penciptaan?’ Saya bahkan belum pernah mendengar hal seperti itu. Jadi saya berkata, ‘Tentu, saya akan memeriksanya bersama kalian.’ Dan saya berpikir, sebagai seorang profesor muda yang sombong, ‘Saya akan bantai kalian.’

“Yah, mereka meminta saya untuk mempelajari asumsi-asumsi yang dibuat oleh evolusionis. Selama delapan tahun pendidikan sains saya, saya belum pernah mendengar satu orang profesor pun yang memberitahu saya tentang suatu asumsi. Jadi kami mulai melihat asumsi-asumsi. Saya mulai menyadari bahwa para evolusionis membuat sebagian klaim yang didasarkan pada asumsi yang tidak sah, ketika mereka mengatakan bahwa batu-batu ini sedemikian tua dan hal-hal semacam itu.”

“Lalu mereka meminta saya untuk mulai mempelajari beberapa binatang untuk melihat apakah mereka bisa muncul dari evolusi. Yang pertama yang kami pelajari bersama adalah serangga kecil ini yang disebut bombardier beetle. Serangga kecil ini, yang sekitar satu setengah centimeter, mencampurkan bahan-bahan kimia yang bisa meledak. Saya mulai berpikir, OK, bagaimana ia dapat berevolusi? Jika evolusi benar, maka dengan suatu cara serangga ini mendapatkan fitur ini melalui evolusi. Mari kita asumsikan bahwa ia sedang mengevolusikan mekanisme pertahanan ini, tetapi kali pertama ia akhirnya bisa menghasilkan ledakan, apa yang terjadi pada serangga itu? Yah, ia hancur oleh karena ledakan, dan kita tahu bahwa serangga yang hancur tidak bisa berevolusi. Jadi saya berpikir, bagaimana ini bisa terjadi? Jadi, [karena sistem serangga ini yang dibangun secara cermat] ia tidak meledakkan diri serndiri. Ia memiliki semacam pabrik kecil lainnya dalam dirinya, dan pabrik ini menghasilkan suatu zat kimia yang berfungsi sebagai katalis, sehingga ketika dia menyemprotkan zat kimia itu ke dalam zat-zat kimia lainnya yang sedang dalam suatu suspensi, ledakan akan terjadi. Dan ia memiliki suatu ruang tembak yang dilapisi asbestos untuk melindungi diri sendiri. Dan ia memiliki tuba ekor ganda yang kecil, dan ia bisa membidikkan tuba ini ke samping, bahkan ke depan. Andai kata seekor laba-laba mendekatinya dari samping dan ia tidak punya waktu untuk berputar dan menembah, maka ia bisa memakai penembaknya itu, dan membidiknya ke samping, dan menembak. Jika anda mendengarkan ledakannya, yang terdengar adalah satu suara ‘pop,’ tetapi para ilmuwan telah meneliti suara itu dalam rekaman slow-motion, dan sebenarnya itu adalah sekitar seribu ledakan kecil yang berurutan yang begitu cepat sehingga hanya terdengar satu pop. Jadi anda berpikir, bagaimana ini bisa terjadi? Ini adalah hal yang menggelitik bagi para ilmuwan yang menyelidiki serangga ini. Banyak di antara mereka adalah di Universitas Cornell dan beberapa tempat lain. Yang mereka temukan adalah bahwa jika hanya ada satu ledakan besar, serangga kecil ini adalah terlempar oleh kekuatan ledakan!Tetapi selama itu adalah ledakan beruntun, serangga dengan kaki-kakinya yang kecil itu bisa bertahan. Bagaimana evolusi dapat menerangkan ledakan yang beruntun?

“Serangga kecil ini mengacaukan semua teori evolusi. Tidak mungkin suatu proses yang pelan dan bertahap dapat menghasilkan serangga ini. Bahkan, tidak ada cara bagi teori-teori yang lebih baru, seperti punctuated equilibrium untuk menjelaskan serangga ini. Saya mulai menyadari bahwa serangga kecil ini memerluka semua bagiannya sekaligus, dan jika tidak maka tidak bisa ada binatang ini.”

“Dan perut saya mulai tidak enak. Istri saya akan memberitahu bahwa perut saya tidak enak selama lima tahun. Diperlukan pergumulan lima tahun bagi saya untuk membalikkan cara saya berpikir, dari berpikir dengan cara evolusi, menjadi berpikir bahwa makhluk ini diciptakan secara lengkap seperti yang kita lihat. Ini bertentangan dengan semua yang saya pernah pelajari” (Jobe Martin, Incredible Creatures that Defy Evolution 1, ExplorationFilms.com).

 

 

 

 

Penua-Super

(Berita Mingguan GITS 15 April 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Banyak penyelidikan dilakukan terhadap orang-orang yang diberi predikat “penua-super” (super-agers), yaitu orang-orang di atas 80 tahun yang ketika diuji, memili ingatan yang sama dengan orang-orang yang puluhan tahun lebih muda. Sebuah penelitian baru diterbitkan di Journal of the American Medical Association, yang menemukan bahwa para “penua-super” kehilangan lebih sedikit massa otak dan juga secara lebih perlahan dalam proses penuaan dibandingkan dengan orang-orang yang menua secara normal. Fakta bahwa sebagian orang mengalami proses penuaan secara lebih mulus dibandingkan orang lain sudah sejak lama diketahui. Hal yang baru adalah ide bahwa para “penua-super” ini bisa memberikan petunjuk tentang cara memutar balik proses penuaan, yang adalah obsesi bodoh dari generasi yang tidak beriman ini. Amanda Cook, penulis dari penelitian baru tersebut, mengatakan, “Para penua-super memberikan petunjuk bahwa penurunan kognitif karena umur ternyata tidak harus terjadi” (“Brains of ‘super-agers,’” Agence France-Presse, 5 Apr. 2017). Sebenarnya, tidak ada petunjuk semacam ini, karena penuaan dan kematian adalah hal yang universal, dan para “penua-super” yang paling super sekalipun akan mati juga, tidak peduli berapa tajam ingatan dia pada saat kematian itu. Beberapa bilyuner teknologi, termasuk pendiri Google, Larry Page, dan CEO Oracle, Larry Ellison, sedang membiayai riset untuk menghilangkan kematian. Ellison berkata, “Kematian membuat saya sangat marah,” jadi dia menciptakan Ellison Foundation untuk menemukan cara untuk menghindari kematian (“Larry Page Lists 5 Things That Google Will Conquer,” Business Insider, 15 Mei 2014). Setelah mencapai hal-hal yang luar biasa melalui teknologi dan meninggikan intelek manusia ke posisi Allah, para pemimpin industri teknologi ini kini terjebak dalam pemikiran bahwa mereka dapat menyelesaikan kebutuhan rohani dan moral manusia yang terdalam. Saya menggunakan dan menikmati teknologi modern, tetapi saya tidak mengandalkannya untuk keselamatan. Orang-orang ini secara sengaja mengabaikan fakta bahwa maut adalah upah dosa (Roma 6:23). Upah yang mengerikan itu termasuk kematian fisik dan “kematian kedua,” yang adalah hukuman kekal dalam lautan api (Wahyu 21:8). Mengenai para penua-super, tidak peduli berapa tajam ingatan mereka sampai usia lanjut, mereka tetap akan merasakan efek-efek penuaan dalam berbagai cara yang lain. Mungkin mereka tidak melihat sejelas dulu, atau mendengar sejelas waktu muda, atau tidak bisa melompat dan berlari sebaik dulu, sembuh dari cedera tidak secepat orang muda. Rasa sakit yang dulu timbul dan segera hilang, kini menetap. Para penua-super mengingatkan saya akan si optimis yang jatuh dari gedung pencakar langit tinggi. Sambil dia jatuh melewati lantai 50, ada yang mendengar dia berkomentar, “Sejauh ini masih baik-baik saja!” Bagi orang yang menjadi tua di dalam Kristus, Allah memiliki janji-janji yang sangat indah, seperti yang menjadi favorit nenek saya yang saleh: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” (Maz. 37:25).

Simbiosis Ikan-Bakteri

(Berita Mingguan GITS 15 April 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Ikan senter (flashlight fish) bergantung pada koloni-koloni bakteri yang berpendar (luminescent), yang bergerombol di organ cahayanya. Bakteri tersebut, tentunya, adalah makhluk mikroskopk yang kompleks dengan sendirinya. “Para ikan menyediakan makanan dan lingkungan yang stabil bagi bakteri, dan bakteri dengan senang hati berfungsi sebagai ‘senter’ bagi ikan tersebut” (William Agosta, Bombardier Beetles and Fever Trees, hal. 127). Dua organ cahaya (senter) ikan tersebut terletak di bawah matanya. Walaupun bakteri tersebut senantiasa berpendar, ikan dapat mengendalikan cahaya yang nampak dengan menggunakan penutup yang mirip kelopak mata. Ikan ini menggunakan cahaya untuk melihat mangsanya. Tes-tes laboratorium membuktikan bahwa ikan tersebut tidak dapat menentukan lokasi mangsanya dalam tangki yang gelap tanpa cahaya. Ia juga menggunakan cahayanya untuk berkomunikasi dengan ikan senter lainnya melalui sinyal-sinyal. Ia juga dapat melarikan diri dari bahaya dengan berenang dalam pola “kedip-lari.” Pertama ia berenang ke satu arah dengan cahayanya menyala, sehingga pengamat berpikir ia sedang lari ke arah itu. Lalu ia mengedipkan cahayanya dan pada saat yang sama secara tiba-tiba berubah arah, mengedipkan cahayanya lagi ketika ia sudah di lokasi yang berbeda, dan mengulangi perilaku ini. Hal ini membuat pemangsanya bingung dan membuat ikan ini sulit diikuti.

Hank Hannegraaff Bergabung dengan Gereja Ortodoks Yunani

(Berita Mingguan GITS 15 April 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Hank Hannegraaff, presiden dari Christian Research Institute dan pembawa acara radio The Bible Answer Man, telah meninggalkan kelompok “injili” dan bergabung dengan Gereja Ortodok Yunani. Pada hari Minggu Palem, dia di-”krismasi” (diurapi) di Gereja Ortodoks Yunani Santo Nektarios, di Charlotte, North Carolina (Christian Post, Apr. 11, 2017). Ortodoks Yunani, sebuah pecahan dari Gereja Roma Katolik, benar-benar dipenuhi dengan berbagai kesesatan. Keselamatan adalah melalui ketujuh sakramen, mulai dari baptisan, yang disebut “kelahiran kembali,” lalu diikuti dengan “krismasi kudus,” yaitu pengurapan oleh seorang imam Ortodoks dan “membuat orang yang dibaptis menjadi pemilik Roh.” Keselamatan lalu diteruskan oleh “Ekaristi Kudus,” dan dalam acara ini Kristus dikatakan dikorbankan lagi dan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus yang sebenarnya. Dalam Ortodoksi, Maria “diagungkan” sebagai Bunda Allah yang “selalu perawan,” “lebih terhormat dari para Kerubim dan lebih mulia, tidak dapat dibandingkan, dengan para Serafim,” dengan gelar “Panagia All-Holy,” yang “diangkat tubuh dan jiwanya ke Sorga.” Dalam Ortodoksi, tradisi memiliki bobot yang sama dengan Kitab Suci, dan doa-doa dinaikkan kepada orang-orang yang sudah mati. Semua ini dapat ditemukan dalam website Gereja Ortodoks Yunani Santo Nektarios. Penekanan Ortodoks Yunani bukanlah pada iman, tetapi apa yang terlihat. “Gereja adalah ikon Kristus dan Tubuh Kristus.” Kristus dikatakan dapat dikenal dan dialami melalui sakramen-sakramen, liturgi, ikon-ikon, kemenyan, lilin-lilin, bel-bel, ritual-ritual, ziarah-ziarah, penghormatan terhadap relik-relik kuno, monastikisme. Saya telah mengunjungi gereja-gereja dan biara-biara Ortodok di banyak negara dan menyaksikan pemberhalaan yang luar biasa. Teman-teman Hindu saya yang bertobat, ketika masuk ke gereja Ortodoks, selalu berkomentar bahwa “ini persis seperti Hinduisme.” Perairan Injili hari ini penuh dengan berbagai kompromi theologi yang membingungkan, keduniawian, dan kesesatan-kesesatan. Orang-orang yang mau memakai Musik Kristen Kontemporer sedang membangun jembatan ke perairan semacam ini, dan hasilnya pastilah karam kapal.

Para Arkeolog Menemukan Tembok Yerusalem yang Dibobol oleh Romawi Tahun 70 M

(Berita Mingguan GITS 8 April 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Uncovering Jerusalem’s Ancient Walls,” Israel Today, April 2017: “Para pekerja sedang membongkar tanah untuk pembangungan kampus baru Akademi Seni dan Desain Bazalel, ketika mereka secara tidak sengaja menemukan tempat persis para prajurit Romawi menembus tembok kota Yerusalem, 2000 tahun yang lalu. Para arkeolog lalu dipanggil untuk meneliti bukti-bukti pembobolan tembok oleh Romawi tersebut, yang terjadi pada akhir periode masa Bait Kedua. Mereka menemukan sisa-sisa sebuah menara yang menjulang dari tembok kota, dan lusinan catapult [Editor: mesin perang untuk membobol tembok] dan batu-batu raksasa yang dipakai oleh Romawi untuk dilemparkan ke penjaga Yahudi yang mempertahankan Yerusalem dari atas menara tersebut. … ‘Ini adalah kesaksian yang menarik sekali tentang betapa intensifnya pengeboman yang dilakukan oleh tentara Romawi, dipimpin oleh Titus, ketika mereka mengalahkan kota dan menghancurkan Bait Kedua,” kata para Arkeolog dalam sebuah pernyataan. ‘Pengeboman itu dimaksudkan untuk menyerang pada penjaga yang berpatroli di atas tembok dan untuk menyediakan naungan bagi pasukan Romawi supayan mereka bisa mendekati tembok dengan alat pendobrak dan dengan demikian membobol pertahanan kota.’ Flavius Josephus, sejarahwan Yahudi-Romawi abad pertama, adalah seorang saksi mata tentang Perang Yahudi melawan Roma dan dia memberikan banyak detil tentang tembok ini. ….Penemuan tembok ini, yang ternyata melingkar sampai daerah Coumpound Rusia hari ini, adalah bukti bahwa batas-batas Yerusalem kuno jauh lebih besar dari batasan yang dikenal sebagai Kota Tua.”

Pohon Ara dan Tawon Ara

(Berita Mingguan GITS 8 April 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 7 Nov. 2014: “Makhluk hidup yang sama sekali tidak berhubungan, tetapi yang ternyata saling bergantung satu sama lain untuk bisa hidup, dan bahkan tidak dapat hidup tanpa yang lainnya, menimbulkan tantangan yang sangat serius bagi mereka yang mengklaim bahwa semua makhluk hidup muncul dari evolusi. Hubungan yang dimaksud dikenal dengan istilah reciprocal altruism. Salah satu contoh yang mengejutkan adalah hubungan antara tawon ara dengan pohon ara itu sendiri. Ara jantan bukanlah untuk dimakan; mereka menghasilkan polen untuk membuahi ara betina yang manis dan ranum. Tetapi bagian bunga dari ara jantan maupun betina berada di dalam ara tersebut. Tidak ada kemungkinan bahwa angin dapat menyebarkan polen dari ara jantan ke ara betina. Dan tidak ada makhluk hidup lain yang dapat mentransfer polen tersebut, kecuali tawon ara. Dan di sinilah letak suatu kisah yang luar biasa. Tawon ara menetas dari telur yang ditempatkan di dalam ara jantan, dan tujuan dari hidupnya yang pendek tersebut (hanya 24 jam), adalah untuk menempatkan telur di dalam ara jantan lainnya. Tawon betina keluar dari ara jantan dengan tubuh yang tertutup oleh polen, dan ia telah diprogram untuk mencari di antara ara betina, dan pada saat yang sama membuahi ara-ara betina tersebut dengan polen dari ara jantan. Barulah setelah itu tawaon betina akan menempatkan telur di ara jantan dan memulai siklus ini kembali. Tawon ara hanya akan menempatkan telur di ara jantan, sementara ara betina tidak bisa dibuahi dengan cara lain. Jelas, bahwa baik tawon ara maupun pohon ara, diciptakan untuk memiliki hubungan yang spesial ini.”