Kotbah: Tuhan Mengajarkan Berdoa

Topik: Tuhan Mengajarkan Berdoa
Pembahasan: Matius 6:5-15
Pengkotbah: Ev. Andrew

Download | Playlist | torrent

Dengar Kotbah

Kotbah: Kebenaran Sejati

Topik: Kebenaran Sejati
Pembahasan: Filipi 3:1b-16
Pengkotbah: Andrew

Download | Playlist | torrent

Dengar Kotbah

Kotbah: Perumpamaan tentang Seorang Penabur

Topik: Perumpamaan tentang seorang penabur
Pembahasan: Luk 8:5-15
Pengkotbah: Dr Steven

Download | Playlist | torrent

Dengar Kotbah

Kotbah: Surat Tuhan Kepada Jemaat di Smirna

Topik: Surat Tuhan kepada Jemaat di Smirna

Pembahasan: Wahyu 2:8-11

Pengkotbah: Dr. Steven

Download | Playlist | torrent

Dengar Kotbah

Kotbah: Bendahara Tuhan

Topik: Perumpamaan tentang Bendahara yang tidak jujur.

Pembahasan: Lukas 1:1-13

Pengkotbah: Ev. Andrew

Download

Dengar Kotbah

Bagaimana Pastor Menerima Koreksi

Istimewa

(terjemahan https://www.wayoflife.org/reports/how-the-preacher-receives-correction.php )

Dalam laporan ini saya bicara mengenai bagaimana Pastor menerima nasihat, teguran, koreksi dan kritik yang membangun. Saya tidak sedang membahas mengenai dakwaan terhadap Pastor. Hal ini diatur dalam 1Tim 5:17-20. Dan ini tidak dilakukan oleh satu individu; tetapi dihadapan 2 atau 3 orang saksi. Tetapi itu bukan subyek laporan ini.

Menjadi anggota tim

Agar seorang pengkotbah mau menerima teguran baik dan kritik dengan baik dan efektif, dia harus melihat dirinya sebagai anggota tim. Jika dia mempunyai pikiran Diotrefes, dia tidak akan menerima kritikan bahkan dari seorang rasul Tuhan (3yoh9-11) Dan karena tubuh yang berdosa, sangatlah mudah mempunyai pikiran Diotrefes. Baik pengkotbah muda maupun pengkotbah tua bisa mempunyai pikiran ini.

Seorang Pastor PB adalah seorang gembala, bukan seorang tuan (1 Pet 5:1-4). Dia bukan pemilik domba. Domba adalah milik Tuhan, bukan milik manusia. Sang Gembala Agung sudah membeli domba-domba dengan darahNya sendiri dan memerintahkan setiap pastor seperti Dia memerintah Petrus: “gembalakanlah domba-dombaKu” (Yoh 21:16-17) Setiap pastor akan bertanggungjawab kepada Sang Gembala Agung. Baca lebih lanjut

eBook: Rahasia Kebenaran Ilahi

Istimewa

Rahasia Kebenaran Ilahi dari Kekal hingga Kekal

PENJELASAN RAHASIA ILLAHI

Kata rasul Paulus, “…bagaimana rahasiaNya dinyatakan kepadaku… kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, … , untuk memberitakan …, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah,…, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,…” (Ef.3:3, 8-11).

Rasul Paulus menyebut pengajarannya sebagai rahasia yang sebelumnya tersembunyi berabad-abad. Itulah sebabnya saya menyebut rangkaian penjelasan ini Rahasia Illahi Dari Kekal Hingga Kekal. Ini adalah sebuah kesimpulan yang ditarik berdasarkan ayat-ayat Alkitab dan akal sehat {common-sense). Otak kita adalah ciptaan Tuhan, dan Alkitab adalah firman Tuhan. Agama yang paling masuk akal (make-sense) adalah yang paling benar, dan kekristenan yang paling alkitabiah seharusnya paling masuk akal demikian sebaliknya. Selidikilah, kalau ada masalah, silakan hubungi GITS. Urutan penjelasannya diberi nomor agar sistematis dan rapi serta gampang dimengerti.

[1] Pertama adalah garis zaman. Kita melihat perjalanan waktu/zaman seperti menarik sebuah garis lurus.
Baca lebih lanjut

Menolak Jumboisme (ukuran jumlah / kuantitas)

terjemahan dari https://www.wayoflife.org/reports/renouncing_jumboism.php
(red. baca juga: https://yesustuhan.wordpress.com/tag/jumboisme/ )

Jika pastor ingin mengejar gereja alkitabiah yang semakin kuat, mereka harus berhenti mengukur dengan jumlah, baik sekolah minggu ataupun anggota jemaat atau pertemuan khusus atau persembahan atau misionaris yang didukung. Ukuran semacam ini tidak ada didalam Alkitab. Ini adalah rekayasa manusia, dan buahnya terlihat mengerikan. Bahkan sebenarnya jumlah tidaklah berarti dalam hubungan dengan kondisi rohani suatu gereja dan berfokus pada jumlah hanya membuat sombong atau mematahkan semangat.

Filosofi jumlah masa kini diciptakan oleh orang-orang seperti J. Frank Norris. Chester Tulga menyebutnya sebagai “jumboisme.” Selalu menekankan pada jumlah, selalu melaporkan jumlah, selalu membanggakan jumlah. Angka-angka dilaporkan dalam koran Norris. Pada September 1921 dilaporkan bahwa ada 5263 kehadiran pada Sekolah Minggu. Pada Sept 13, 1919, dilaporkan 12000 peserta dalam tiga pelayanan First Baptist of Ft. Worth. Jumlah meningkat ketika Norris menggembalakan Temple Baptist di Detroit dan First Baptist di Ft. Worth bersamaan. Dia menggunakan setiap kesempatan untuk membanggakan jumlah yang besar. Pada kuliah praktek kitab Roma 1946, Norris melaporkan 11 tahun penggembalaan bersama dalam jumlah: 18200 penambahan; $1900000 persembahan; $2 juta properti; 15 juta koran Fundamentalis didistribusikan; 845 ribu mil perjalanan. Dia membanggakan bahwa kedua gereja sebagai “dua sekolah minggu terbesar di dunia dari rata-rata kehadiran. Gabungan kedua jemaat pada 1946 dilaporkan 25000 orang. Norris menyombongkan diri sebagai pastor gereja terbesar di dunia.

Filosofi “jumboisme” juga diikuti oleh sangat banyak Baptis Fundamental setelah Norris. Sepertinya dirangkumkan sebagai “dapatkan sebanyak mungkin secepat mungkin.” Hal ini dipromosikan dalam terbitan Sword of the Lord pada masa John R. Rice. Saya melihat ini dipraktekkan di Gereja Baptis Highlan Park di Chattanooga, Tennessee, ketika saya seorang murid di Tennessee Temple pada tahun 1970an. Ketika Lee Roberson menjadi pastor pada tahun 1942, anggotanya sebanyak 1000 orang, kehadiran sekolah minggu 400 orang dan pelayanan tengah minggu sekitar 10, jadi 60% anggota tidak hadir, tidak aktif dan hanya 10% yang cukup Kristen untuk menghadiri pelayanan tengah minggu (James Wigton, Lee Roberson: Always about His Father’s Business, 2010, halaman 22). Pola seperti ini sangat biasa baik dalam Southern Baptists ataupun Fundamental Baptis dan pola ini tidak pernah berubah di Highlan Park bahkan dengan jumlah yang melonjak. Ketika Dr. Roberson pensiun tahun 1982, anggota Highland Park dilaporkan lebih dari 60 ribu, tetapi kehadiran tengah minggu sekitar 3000. Ini adalah patokan anggota aktif yang paling tepat (kami mengabaikan fakta bahwa 3000 orang ini termasuk juga murid-murid yang bukan anggota jemaat), dan ini ada 5700 anggota yang tidak masuk hitungan. Jumlah jemaat yang sangat besar membuat Highland Park disebut sebagai gereja terbesar di dunia selama beberapa tahun, tetapi sebagian besar adalah anggota tidak aktif, apakah artinya? Dan gereja ini sudah tidak ada lagi. Bahkan tidak mampu bertahan satu generasi setelah penggembalaan Dr. Roberson.

Dengan patokan jumlah, “pertumbuhan” gereja Laodikia lebih unggul daripada “kekuatan kecil” gereja Filadelfia (Wahyu 3:8, 17), tetapi kita tahu bahwa tidak demikian menurut pandangan Kristus.

Pastor pada jemaat mula-mula tidak pernah diperkenalkan sebagai “besar,” dan gereja tidak pernah disebut “besar,” “terbesar,” “pertumbuhan paling cepat,” atau “paling menarik.” Ini bukan bahasa Perjanjian Baru; tetapi ini adalah bahasa duniawi.

Ingin menjadi yang terbesar dan terhebat bukanlah kerendahan hati dimana setiap orang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (Fil 2:3). Ini bukanlah merendahkan diri seorang terhadap yang lain (1Pet 5:5).

Gereja dengan 50 orang yang berjuang menjadi adonan yang murni bagi Kristus (1Kor 5:6-8) dan rumah rohani yang benar dibangun dengan batu hidup (1Pet 2:5) adalah jauh lebih menyenangkan bagi Allah, mempunyai potensi rohani yang lebih benar, daripada gereja dengan ratusan campuran orang.

1Kor 5:6 Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? 7 Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.8 Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

Daripada “berapa orang ikut sekolah minggu?” atau “berapa kehadiran minggu pagi?” atau “berapa kehadiran pada hari khusus?” atau “berapa anak dalam camp tahun ini?” pertanyaan yang lebih alkitabiah seperti ini:

  • apakah kamu melihat perubahan hidup orang berdosa?
  • berapa persentase orang yang mengaku Kristen dan sudah dibaptis dan bertumbuh didalam Kristus dan melayani Dia?
  • berapa persentase anggota yang murid Kristus sejati dan setia?
  • berapa persentase murid Alkitab sejati?
  • berapa persentase yang antusias dan setia menghadiri pertemuan doa?
  • adakah pertemuan doa yang benar?
  • berapa persentase rumah yang kudus dan terpisah dari dunia?
  • berapa persentase rumah yang mendidik anak untuk Kristus?
  • berapa persentase suami sebagai pemimpin rohani di rumah?
  • berapa persentase isteri yang mengurus rumah tangga?
  • berapa persentase pemuda yang membara untuk Tuhan, tunduk kepada Kristus dan terpisah dari dunia sepenuh hati dan menguji teman, musik dan sosmed dengan Firman Allah dan diubah oleh pembaharuan pikiran dengan menjadi murid Alkitab yang serius dan membedakan mana kehendak Allah menurut arahan Roma 12?
  • berapa persentase anggota yang aktif, setiap hari ingin membagikan Injil dan memenangkan jiwa kepada Kristus?
  • apakah gereja memegang batasan terhadap musik duniawi?
  • apakah gereja melatih jemaat untuk pelayanan?
  • apakah gereja semakin kuat secara rohani daripada 10 tahun lalu?
  • berapa gereja baru yang sudah dibangun?

Jika ini pertanyaan yang ditanyakan pengkotbah, mereka akan mempunyai tujuan lain, rencana lain, program lain, penekanan lain dari pada kebanyakan gereja saat ini. Juga mereka akan meletakkan dasar untuk menghindari keruntuhan besar yang kita saksikan di setiap sudut.

Jika melihat jumlah, pikiran Allah bukanlah pikiran kita. Ketika Gideon mempunyai 32 ribu pasukan yang mengesankan, Allah mengatakan, Terlalu banyak. Ketika 22 ribu pulang, Allah masih mengatakan, Terlalu banyak. Untuk pekerjaanNya, Dia memotong pasukan Gideon menjadi 300. Allah tidak mau manusia mendapatkan kemuliaan untuk pekerjaan yang Dia lakukan (Hakim 7:2). Ketika Daud menghitung bangsanya untuk melihat kehebatannya, Allah jauh dari senang (2Sam 24:1-17).

Suatu hari Allah mengatakan kepada jemaat Korintus, “Jemaatmu terlalu banyak. Kamu harus mengeluarkan satu karena dia tidak mau bertobat dari dosanya. Maka kamu akan mempunyai tubuh yang murni dan kamu akan mempunyai kuasa Ku.” Lihat 1 Kor 5. Untk mengurangi jumlah dengan disiplin Alkitabiah adalah jalan kepada berkat rohani. Ini adalah cara berpikir dan bekerja Allah.

Tidak ada orang “hebat”, yang ada hanya orang setia atau tidak setia. Hal yang sama juga untuk gereja. Yesus mengajarkan ketika kita melakukan segala perintah Allah, kita seharusnya mengatakan, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk 17:10).

Pengkotbah yang serius mengikuti Alkitab dalam masa ini dan memimpin gereja yang berjuang menjadi adonan yang murni (1Kor 5:7-8) dan rumah rohani (1Pet 2:5), mungkin akan kehilangan orang, paling tidak dalam jangka pendek. Hampir dipastikan, karena fondasi belum diletakkan dengan benar. Tetapi mempunyai gereja yang benar-benar Alkitabiah yang menyenangkan Tuhan adalah harga yang pantas. Setiap gembala akan bertanggung jawab kepada Sang Gembala Agung. Tidak akan ada canda dan kesombongan pada waktu itu, dan penghakiman terhadap pastor bukanlah berkelompok sehingga bisa mendapat dukungan dari teman pengkotbah lain. Rom 14:12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

Saya harus katakan bahwa kami tidak mempunyai tujuan untuk membuat gereja kecil. Tetapi tujuannya adalah membuat gereja murni. Dan gereja yang murni mempunyai kekuatan dengan Allah. Gereja akan bertumbuh karena Allah adalah Allah dari buah, tetapi bertumbuh dengan baik dalam kehendak Allah dan cara Allah dan waktu Allah, bukan dengan cara manusia dan pragmatisme..

Sangat menyedihkan manusia merusak rencana Allah dengan pikiran duniawi mereka.

Anggota Jemaat Bayi

disadur dari:
https://www.wayoflife.org/reports/baby_church_members.php

Berikut artikel yang akan segera diterbitkan sebagai komentari kitab Ibrani, judul terbaru dalam seri komentari Way of Life.

Ibrani 5:11 Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. 5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. 5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. 5:14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Bagian ini tidak hanya sebagai tuduhan atas individu Kristen yang tidak tumbuh dewasa, menjadi murid Firman Allah yang terlatih dan teliti, ini adalah tuduhan atas jemaat yang tidak menghasilkan orang Kristen demikian dan menerima ketidakdewasaan sebagai status quo. Ada ribuan “Gereja Alkitabiah” yang tidak mengajarkan anggotanya menjadi murid Alkitab yang terlatih, tidak mengharapkan mereka menjadi terlatih, dan tidak menegor mereka karena tidak terlatih. Dalam gereja ini, kotbah dan pengajarannya lemah dan tidak menghasilkan murid Alkitab yang terlatih. Orang-orang bisa duduk bertahun-tahun mendengarkan kotbah tanpa belajar bagaimana mempelajari Alkitab sendiri dan tanpa menimbulkan keinginan rasa lapar untuk melakukannya. Penulis kitab Ibrani tidak mengharapkan kondisi ini sebagai status quo. Dia dengan keras menegor mereka yang tidak dewasa. Dia memperingatkan mereka jika mereka tidak terlatih dalam Firman Kebenaran, mereka adalah bayi, walau berapa lama pun mereka didalam Tuhan. Ini adalah contoh yang harus ditiru setiap pengkotbah. Orang-orang harus dibangunkan menyadari kondisi rohani mereka dan tidak boleh dibiarkan tetap sebagai bayi.

Pertimbangkan beberapa pelajaran dari ayat penting ini:

1. Lamban dalam hal mendengarkan disebabkan karena tidak bertumbuh secara rohani (Ibrani 5:11). Pengajaran rohani hanya dapat dimengerti dengan baik oleh manusia rohani. Manusia duniawi atau yang belum ditebus sama sekali tidak dapat memahaminya. (1Kor 2:13-14). Orang percaya duniawi hanya dapat sedikit memahaminya (1Kor 3:1-2).

2. Setiap orang percaya seharusnya menjadi pengajar (Ibrani 5:12).

Ini adalah kehendah Allah. Ini tentunya tidak berarti setiap orang percaya harus menjadi pengkotbah atau pemimpin gereja; ini berarti setiap orang percaya harus terlibat dalam suatu bidang pengajaran. Setiap orang percaya harus mengetahui Firman Tuhan cukup baik untuk memenuhi panggilan ini. Ketika kita mendengarkan kotbah dan pengajaran, kita harus mengerti bahwa kita belum cukup mengerti apa yang kita dengar sampai kita bisa mengajarkan orang lain, setidaknya pada tingkat yang dasar.

Setiap orang percaya harus mempunyai pelayanan menasihati dan menegor (Ibrani 3:13). Ini termasuk mendorong dan menantang sesama saudara, mengangkat yang tersandung dan memperingatkan yang salah. Lihat juga Rom 15:14; Kol 3:16; 1 Tes 5:11.

Setiap orang percaya harus mempunyai pelayanan membagikan injil dengan orang lain (Mar 16:15). Orang percaya harus bekerja untuk bisa menangani Firman Tuhan dengan baik sehingga dia dapat secara efektif membantu orang mengerti injil. Orang-orang mempunyai pertanyaan dan argumen yang perlu dijawab.

Setiap orang percaya harus mempunyai pelayanan mempertahankan iman dengan tulus (Yudas 1:3). Perhatikan bahwa perintah Yudas untuk dengan tulus mempertahankan iman ini tidak ditujukan kepada pengkotbah saja tetapi kepada umat Tuhan secara umum. Setiap orang percaya harus mengenal Alkitab cukup baik untuk mempertahankan doktrin-doktrin utamanya, seperti keselamatan hanya oleh anugerah, keilahian Yesus, kepribadian Roh Kudus, kebangkitan badan, penghakiman kekal, dsb.

Walaupun perempuan dilarang untuk mengajari laki-laki (1Ti 2:12), mereka mempunyai pelayanan penting dalam mengajar perempuan (Tit 2:3-4) dan mengajar anak-anak (bandingkan 2Ti 1:5 dan 3:15)

3. Jika kamu tidak bertumbuh secara rohani, kamu mengalami kemunduran (Ibrani 5:12). Kehidupan Kristen adalah seperti perahu di sungai. Selama orang percaya mengayuh melawan arus maka dia membuat kemajuan, tetapi begitu dia berhenti mengayuh, dia mulai bergerak mundur mengikuti arus. Tekanan dan godaan kehidupan Kristen selalu mendorong kita mundur kecuali kita menghadapinya dengan tepat dalam kasih Allah dan bergerak maju.

4. Alkitab adalah Firman Allah sendiri (Ibrani 5:12). Kata “penyataan” berasal dari kata Yunani logion, yang berarti firman (kamus Strong). Ini juga digunakan dalam Alkitab Perjanjian Lama (Kisah 7:38; Rom 3:2).

5. Setiap orang percaya harus bertumbuh dan menjadi dewasa (Ibrani 5:13-14). Orang yang baru percaya adalah bayi dan harus diberi susu Firman Allah, tetapi dia tidak boleh puas tetap menjadi bayi.

6. Karakter utama bayi Kristen adalah ketidakmampuan menggunakan Firman Allah dengan terampil (Ibrani 5:13) dan kurangnya ketajaman/ketelitian rohani (Ibrani 5:14). Tidak perduli bagaimana setia dan giatnya dia dalam pelayanan Kristus, jika orang percaya tidak dapat menangani Firman Tuhan dengan terampil dan tidak mampu membedakan yang benar dari yang salah, dia adalah bayi.

“Saya tidak perduli bagaimana kami giat didalam gereja. Bisa jadi kamu punya jabatan dalam gereja. Bisa jadi kamu ikut dalam setiap komite dalam gereja. … Saya tidak perduli siapa kamu, atau apa kamu, jika kamu tidak mempelajari Firman Tuhan, dan jika kamu tidak tahu menanganinya, kamu adalah bayi. Sangat tragis mempunyai jabatan dalam gereja ketika kamu hanya seorang bayi. Kamu harus bertumbuh. Sangat tragis ada orang yang sudah menjadi anggota gereja dan sudah diselamatkan bertahun-tahun dan mereka masih berkeliling mengatakan ‘Gu gu, ga ga.’ Mereka tidak mempunyai kontribusi apapun selain ucapan bayi”
(J. Vernon McGee).

7. Kedewasaan dalam Kristus membutuhkan hal-hal berikut:

Kedewasaan rohani perlu menjadi terampil dalam Alkitab (Ibrani 5:13). Pertimbangkan beberapa kunci pembelajaran Alkitab yang efektif:
– Perlu ada pembacaan (Ul 17:19; Wah 1:3). Alkitab pertama-tama adalah sebuah buku untuk dibaca. Ini harus dibaca secara sistematis, dengan rencana baca. Membaca hingga selesai setidaknya sekali setahun memudahkan pemahaman Alkitab yang menyeluruh.
– Perlu ada pembelajaran (2Ti 2:15). Pembelajaran Alkitab perlu mempelajari prinsip penafsiran Alkitab. Ini membutuhkan penggunaan alat pembelajaran yang baik, terutama konkordansi yang baik, kamus Alkitab dan Treasury of Scripture Knowledge dan pilihan komentari yang baik. Hal-hal ini dijelaskan dalam seri kursus pembelajaran lanjut Alkitab “How to Study the Bible,” tersedia dari Literatur Way of Life.
– Perlu meditasi / merenungkan (Maz 1:2; Yos 1:8). (Lihat Memory Verse Journal, www.wayoflife.org )
– Perlu memposisikan pembelajaran Firman Tuhan sebagai prioritas utama dalam kehidupan (carilah DAHULU, Mat 6:33). Untuk menjadi terampil dalam Firman Tuhan mutlak menuntut siswa menyediakan waktu serius untuk tujuan ini dan menjadikannya sebagai prioritas tertinggi. Tidak ada jalan pintas.
– Perlu adanya konsistensi dan kegigihan (“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran,” Yoh 8:31; “Bertekunlah dalam semuanya itu,” 1Tim 4:16). Pembelajaran Alkitab yang efektif menuntut saya menyediakan waktu dalam jadwal saya setiap hari dimana saya bertemu Tuhan dan menerapkan diri saya kepada FirmanNya. Sangat penting menjaga jadwal ilahi dan tidak lalai kecuali sangat amat mendesak.
“Baca Alkitab saat kamu merasa ingin membacanya, dan saat kamu merasa tidak ingin membacanya, baca sampai anda ingin membacanya.”
– Perlu ketekunan dan kerja keras (Ams 2:1-5). “Sebagian besar kebenaran tidak terletak pada permukaan. Itu harus dibawa kedalam terang dengan kesabaran kerja keras.” Frank Thompson.
– Perlu doa (Maz 119:18; Ams 2:3; Ef 1:17-18). “Doa akan mengerjakan lebih dari sekedar pendidikan perguruan tinggi untuk menjadikan Alkitab buku yang terbuka dan mulia” R.A. Torrey.
– Perlu ketaatan (Maz 119:133; Luk 11:28; Yoh 7:17; Ibr 5:14; Yak 1:22-27; 1 Pet 2:1-2). Untuk membuat kemajuan yang baik dalam pengetahuan Firman Tuhan, saya perlu menerapkan pelajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
– Perlu guru yang baik dan bantuan gereja yang baik (1Tim 3:15; Ef 4:11-12; Ibr 13:7; Wah 2:3). Setiap gereja harus menjadi institusi Alkitab untuk menghasilkan murid Alkitab yang terampil. Tujuannya haruslah agar setiap anggota menjadi murid yang terampil seperti yang dijelaskan dalam Ibrani 5:14. Gereja harus menuntut hal ini. Kotbah dan pengajaran haruslah sekaliber untuk menghasilkan ini. Jika anggota jemaat dapat duduk dalam pelayanan kotbah bertahun-tahun dan tidak ditantanga untuk menjadi murid Alkitab yang serius dan tidak diajarkan bagaimana menjadi murid Alkitab yang serius dan tidak ditegor dengan keras jika mereka tidak menjadi murid Alkitab yang serius, itu bukanlah Jemaat Perjanjian Baru.

Kedewasaan rohani perlu membedakan yang baik dan yang jahat (Ibrani 5:14).
– Keterampilan dalam Firman Tuhan harus menghasilkan ketajaman rohani. Pembelajaran Alkitab bukanlah sekedar latihan intelektual. Tujuannya agar kehidupan murid sehari-hari akan diubah dengan pembaharuan budi (Rom 12:2).
Dalam 1 Korintus 2, kita diajarkan bahwa Alkitab mengandung hal-hal yang dalam dari Allah dalam pengajaran Roh; ini mengandung pikiran Kristus (1Kor 2:10-13, 16). Jadi dengan menjadi terampil dalam menggunakan Alkitab, murid sedang mengenakan pikiran Kristus. Dengan mengisi pikirannya dengan Firman Tuhan, dia sedang membuang semua imajinasi yang bertentangan dengan Firman Tuhan (2Kor 10:4-5). Ini adalah proses melatih indera rohani.
– Indera rohani harus dilatih seperti juga otot fisik. Beginilah bayi bertumbuh. Bahkan yang baru lahir pun terus bergerak dan berlatih.
– Otot rohani dilatih dengan membedakan yang baik dan yang jahat. Orang percaya harus mempelajari Firman Tuhan dan kemudian digunakan untuk menilai segala sesuatu. Dia mempertimbangkan segala sesuatu dalam kehidupannya dan semua yang dihadapinya untuk menilai apakah benar atau salah, baik atau jahat, kehendak Tuhan atau bukan, dan dia menolak semua yang tidak sesuai standar ilahi. Dalam hal ini dia membangun ketajaman indera rohani. Bandingkan Maz 119:129.
– Bertentangan dengan filosofi umum, sangat banyak penghakiman dalam kehidupan Kristen. Bandingkan Yoh 7:24; 1Kor 5:3; 14:29. Orang percaya harus menilai (KJV:menghakimi) segala sesuatu (1Kor 2:15; 1Tes 5:21), yaitu: kehidupan sehari-hari, pengajaran doktrin, filosofi, keputusan, persahabatan, hiburan, pakaian, semuanya. Orang percaya mempunyai standar mutlak untuk mengakimi menggunakan Alkitab (2Ti 3:16-17). Ketiadasalahan Firman Tuhan “bermanfaat untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Berhenti Menghakimi !

disadur dari

https://www.wayoflife.org/reports/stop_that_judging.php

Ada kebingungan besar tentang “menghakimi” harini, tidak hanya dalam Kekristenan pada umumnya tetapi bahkan dalam beberapa lingkaran yang paling “fundamentalis”. Sesaat setelah seorang pemimpin terkemuka dikritik, segera timbul seruan dari ribuan bibir, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi! Kamu pikir kamu siapa? Kamu pasti iri. Kamu pasti seorang yang picik. Kamu pasti seorang blogger kurang kerjaan.”

Hal ini disebabkan oleh ketidakmautahuan mengenai Alkitab, kekurangan hikmat rohani, ketidaktaatan kepada Firman Tuhan dan roh pengikut-manusia.

Alkitab mengutuk empat jenis penghakiman.

Pertama, Alkitab melarang penghakiman yang munafik.

Matius 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Matius 7:1 seringkali dibawa keluar dari konteks dan disalahgunakan untuk mengajarkan untuk tidak menghakimi sama sekali.

Tetapi Yesus menjelaskan persis apa yang Dia maksudkan. Dia tidak mengutuk semua jenis penghakiman. Dia mengutuk penghakiman yang munafik. Menghakimi sesuatu pada orang lain yang saya sendiri perbolehkan dalam hidup saya adalah munafik, yang adalah dosa besar.

Bahwa Kristus tidak melarang semua jenis penghakiman sangatlah jelas dalam kotbah ini, dimana Dia mengajarkan pendengarnya untuk menghakimi nabi dengan teliti menyelidiki apakah mereka benar atau salah. ‘Matius 7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.’ Sangat tidak mungkin untuk waspada terhadap nabi palsu tanpa menghakimi pengajaran dan praktek dari Firman Tuhan. Bagaimana mungkin saya bisa tau siapa nabi palsu jika saya tidak mengukur pengkotbah dan pengajar dengan Alkitab?

Kedua, Alkitab melarang penghakiman berdasarkan pendapat pribadi atau sesuatu yang selain dari pengajaran Alkitab yang jelas.

Roma 14:4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

Ini adalah ayat lain yang sering disalahgunakan. Pada umumnya dikatakan ayat ini melarang mengungkapkan dosa dan kesalahan.

Roma 14 juga digunakan untuk mendukung pengajaran bahwa Alkitab dapat dipecah-pecah menjadi yang penting dan yang tidak penting.

Tetapi Roma 14 sama sekali tidak berhubungan dengan ide populer bahwa di Alkitab ada yang tidak penting atau sekunder.

Kita tidak dibiarkan ragu mengenai jenis penghakiman yang dilarang Paulus. Dia memberikan dua contoh jelas: makan daging (Rom 14:2-3) dan hari raya (Rom 14:5-6). Alkitab diam dalam hal-hal ini. Tidak ada perintah ilahi dalam iman Perjanjian Baru mengenai hal-hal ini.

Jadi pokok dalam Roma 14 adalah bagaimana kita menghadapi hal-hal yang TIDAK JELAS DIAJARKAN DALAM ALKITAB. Jika Tuhan tidak mengatakan dengan tegas, maka saya diberikan kebebasan.

Pada sisi lain, dalam hal-hal yang Tuhan ajarkan dengan tegas, satu-satunya kebebasan adalah untuk taat.

Banyak orang menggunakan Roma 14:4 untuk membela banyak ketidaktaatan yang jelas, seperti musik duniawi, rambut panjang pria, pakaian tidak pantas, pengkotbah wanita, dsb. Karena Alkitab sangat jelas dalam hal-hal ini, adalah penyalahgunaan Roma 14:4 jika digunakan sebagai pembelaan.

Roma 14 tidak memberikan larangan penghakiman yang menyeluruh, dan tidak mengatakan bahwa ada doktrin yang penting dan ada yang tidak penting. Tetapi ini mengajarkan bahwa ada hal-hal yang diajarkan Alkitab dengan tegas dan hal-hal ini mengikat, tetapi ada banyak hal yang tidak diajarkan dalam Alkitab dan hal-hal ini tidak mengikat. Dalam hal-hal demikian, setiap orang percaya bebas membuat keputusannya sendiri dihadapan Tuhan, tetapi dia tidak boleh menjadikan keputusannya sebagai hukum untuk orang lain dan dia tidak boleh menghakimi dalam hal-hal ini.

Ketiga, Alkitab melarang penghakiman berdasarkan pemikiran dan tradisi manusia.

1 Korintus 4:3 Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. 4:4 Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. 4:5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

Ini adalah ayat lain yang seringkali disalahgunakan. Ayat ini sering digunakan untuk mengajarkan orang percaya tidak boleh menghakimi apapun di dunia ini dan harus memberikan semua penghakiman kepada Allah.

Tetapi ini akan menyebabkan pertentangan dengan banyak ayat lain dalam surat yang sama.

1 Korintus 2:15 Tetapi manusia rohani menilai (KJV:menghakimi) segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.
5:3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku–sama seperti aku hadir–telah menjatuhkan hukuman (KJV:menghakimi) atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu.
6:5 Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus (KJV:menghakimi) perkara-perkara dari saudara-saudaranya? 6:6 Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya?
14:29 Tentang nabi-nabi–baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi (KJV:menghakimi) apa yang mereka katakan.

Dalam 1 Kor 4:3-5, Paulus jelas memaparkan jenis penghakiman yang dilarang. Dia melarang penghakiman berdasarkan “penghakiman manusia.” Ini adalah penghakiman berdasarkan pemikiran dan tradisi daripada berdasarkan Firman Allah.

Paulus juga mengatakan bahwa penghakiman utama dan terakhir adalah milik Tuhan; jadi kita harus rendah hati dan berhati-hati dalam penghakiman kita pada masa ini. Walaupun kita mempunyai Firman Tuhan dan kita harus menghakimi segala sesuatu berdasarkan Firman Tuhan, kita tidak boleh berpikir kita tidak bisa salah. Kita bahkan tidak mengetahui hati kita sendiri tanpa salah (Yer 17:9). Kita harus berjalan dalam terang yang kita miliki dan menghidupi kehidupan kita dan melatih pelayanan kita dengan terang itu, tetapi pengetahuan kita tidak sempurna pada masa ini dan penghakiman kita bisa salah.

Kita bisa mengetahui jika pengajaran doktrin seseorang adalah salah dan kita bisa cukup mengetahui, sehingga kita bisa menandai dan menghindari kesalahan itu, tetapi kita tidak mengetahui rahasia hati manusia dan kita tidak mengetahui segala hal yang akan datang ketika Tuhan menghakimi manusia dalam terang yang sempurna nanti. Jadi kita tahu bahwa semua penghakiman kita di dunia ini adalah sementara dan penghakiman terakhir akan diberikan oleh Allah saja.

Keempat, Allah melarang menghakimi dengan jahat.

Yakobus 4:11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. 4:12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

Yakobus memperingatkan tentang dua macam penghakiman.

Pertama, Yakobus memperingatkan tentang fitnah (Yak 4:11).

Penghakiman yang tepat adalah mengatakan kebenaran dalam kasih. Kebenaran tidak jahat dan mengatakan kebenaran dalam kasih adalah tidak jahat. Keinginan akan kebenaran dan semangat melawan kesalahan adalah tidak jahat. Pemazmur mencontohkannya. Mazmur 119:128 Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci.

Jenis penghakiman yang dikutuk oleh Yakobus adalah menghakimi dengan merusak, mengarang cerita dan fitnah. Itu adalah menghakimi dengan tujuan jahat. Ketika seseorang menghakimi dosa dan kesalahan dengan benar dan alkitabiah, tidak pernah dengan tujuan untuk menyakiti orang lain.

Kita melihat contoh penghakiman jahat pada orang Farisi. Mereka menghakimi Yesus dengan cara yang jahat dan tidak berdasarkan kebenaran; mereka menghakimi berdasarkan tradisi mereka, dan mereka ingin menyakiti Dia (Yoh 7:52). Guru-guru palsu di Galatia dan Korintus menghakimi Paulus dengan cara yang sama, berusaha merusak dia dihadapan jemaat (2Kor 10:10).

Inilah yang dilarang oleh Yakobus, tetapi dia tidak melarang penghakiman yang alkitabiah dan kasih dan bahkan semangat menghakimi kesalahan dan orang yang menyebarkan kesalahan. Para rasul dan nabi pada masa awal jemaat semuanya terus memberikan penghakiman seperti ini, seperti yang kita lihat dalam kitab Kisah Para Rasul dan semua surat-surat Perjanjian Baru.

Kedua, Yakobus memperingatkan penghakiman yang bertentangan dengan hukum Allah. (“Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim” Yak 4:12).

Hal ini mengenai menghakimi dengan standar manusia daripada ilahi, sehingga memposisikan diri sendiri sebagai pemberi hukum. Orang Farisi melakukan ini ketika mereka menghakimi Yesus dengan tradisi mereka (Mat 15:1-3).

Pada sisi lain, ketika orang percaya menghakimi dengan Firman Tuhan dengan saleh dan kasih, dia tidak melaksanakan penghakimannya sendiri; dia sedang mempraktekkan penghakiman Tuhan. Contohnya, ketika kita katakan bahwa adalah salah jika seorang wanita menjadi pastor atau adalah kehinaan bagi laki-laki berrambut panjang atau bahwa orang yang mengasihi dunia adalah penzinah, ini bukanlah penghakiman kita sendiri; ini adalah penghakiman Tuhan (1Ti 2:12; 1Kor 11:14; Yak 4:4).

Charles Spurgeon dan Keanggotaan Jemaat Lahir Baru

diterjemahkan dari https://www.wayoflife.org/reports/charles_spurgeon_and_a_regenerate_membership.php

Charles Spurgeon mulai menggembalakan Metropolitan Tabernacle di London, Inggris pada tahun 1853 pada usia 19 dan adalah pastor senior sampai kematiannya pada tahun 1892. Kotbah yang hebat menarik keramaian yang besar, dan jemaat bertumbuh dari dua menjadi tiga ratus menjadi lebih dari 5300.
Spurgeon percaya pada keanggotaan jemaat lahir baru dan sangat berhati-hati dalam hal ini.
Dia tidak memberikan undangan untuk maju setelah kotbahnya. Tetapi dia mengundang orang untuk menemuinya di kantornya pada hari Senin pagi. Dia ingin menangani orang dengan baik dan hati-hati.
Kandidat baptisan dan keanggotaan melalui proses bertingkat.

1. Kandidat bertemu dengan salah seorang yang dituakan atau diaken untuk membagikan kesaksiannya.
Berikut satu kutipan dari “Wonders of Grace: Original testimonies of converts during Spurgeon’s early years” (dikumpulkan oleh Hannah Wyncoll, hak cipta 2016 Wakeman Trust.)
“Pada malam setiap minggu jemaat yang dituakan akan menemui kandidat di Tabernacle. Untuk setiap orang mereka akan menuliskan kisah perjalanan rohani mereka. Seringkali ketajaman (rohani) yang mereka praktekkan dapat terlihat dari nasihat yang diberikan, dan dalam kunjungan lanjutan dalam beberapa minggu atau bulan sampai mereka yakin bahwa kandidat benar-benar diselamatkan. Kesaksian terutama harus menunjukkan bahwa kandidat hanya bersandar pada darah Kristus untuk keselamatannya. Mereka juga akan ditanyakan jika mereka mengerti perlunya diperhitungkan kebenaran dari Kristus. Mereka akan membahas doktrin kasih karunia dan apakah kandidat melihat hanya kepada Kristus dan bukan usaha sendiri. Jika kandidat tidak mengerti mengenai suatu hal, jemaat yang dituakan akan memberikan pertanyaan lanjutan untuk dijawab, ayat-ayat Alkitab untuk dibaca dan berdoa, atau seperti dikatakan seorang yang dituakan, dia ‘meresepkan dia pil janji yang mahal dengan sedikit pengalaman simpati untuk menelannya.’ Mereka mungkin diberikan Pengakuan Iman Baptis untuk dipelajari, atau diarahkan untuk menghadiri salah satu kelas Alkitab untuk menuntun mereka lebih lanjut. … “The Sword and the Trowel” pada tahun 1865 mengatakan bahwa jemaat yang dituakan mencari empat hal: kelembutan hati nurani, keterlekatan pada sarana kasih karunia, keinginan untuk keluar dari dunia, dan sangat memperhatikan kepentingan orang yang belum bertobat.

2. Jika jemaat yang dituakan dan diaken puas dengan kesaksian, kandidat direkomendasikan untuk bertemu dengan Spurgeon.
“Jika puas, seorang yang dituakan akan memberikan kartu, dengan nomor laporan, agar kandidat bertemu dengan C.H. Spurgeon” (Wonders of Grace).

3. Jika Spurgeon puas, dia menyarankan seorang untuk mengunjungi kandidat “untuk menanyakan karakter moral dan reputasi.”
“Spurgeon akan menghabiskan beberapa jam setiap Selasa sore untuk menemui kandidat, mengambil waktu untuk membandingkan catatan dengan jemaat yang dituakan. Dia kemudian menunjuk seorang jemaat yang dituakan atau diaken untuk mengunjungi untuk memastikan kehidupan kandidat yang baik dan konsisten di rumah. Kehadiran pada sebanyak mungkin pertemuan pada hari Minggu dan hari lain menunjukkan tanda kehidupan Kristen yang benar. Banyak yang bekerja dan mempunyai sedikit waktu luang dari pekerjaan mereka, tetapi naluri Kristen baru mereka seharusnya terlihat — untuk berkumpul bersama jika memungkinkan. … suatu tema yang mencolok dalam banyak catatan adalah meninggalkan keduniawian pada saat pertobatan. Semuanya berubah bagi yang bertobat. Kenikmatan duniawi dilepaskan dan membaktikan kehidupan kepada Kristus dan umatNya sejak pertobatan. Mengejar hal seperti teater seni, tempat minum, pesta musik, dan penggunaan lagu pop, dan perjudian dibahas berulang kali sebagai hal yang tidak menyenangkan bagi orang percaya. Kehidupan orang percaya yang sangat berbeda sering disebut sebagai alat membawa orang lain untuk menyelidiki Kekristenan. Perubahan tidak terbatas pada kehadiran saja, tetapi meluas ke semua bidang kehidupan” (Wonders of Grace).

4. Jika kunjungan rumah memuaskan, dia mengundang kandidat untuk menghadiri pertemuan jemaat khusus untuk tampil di hadapan keluarga jemaat. Disana kandidat akan memberikan kesaksian lagi dan menjawab pertanyaan dari anggota jemaat. Pertemuan ini tidak terburu-buru dan bisa memakan waktu beberapa jam, mulai dari jam 2 siang dan kadang kala “sampai larut malam.”

5. Jemaat kemudian mengadakan penghitungan suara apakah akan menerima kandidat sebagai anggota.

6. Jika disetujui dengan pemungutan suara jemaat, kandidat dibaptis dan diterima sebagai anggota dan ikut serta dalam perjamuan berikutnya.

Proses ini dimulai sejak awal penggembalaan Spurgeon di Metropolitan. Selama enam setengah tahun pertama, ada 1442 anggota baru, sebagian besar dengan baptisan. “Itu adalah 1442 wawancara kandidat oleh diaken, 1442 pertemuan dengan Spurgeon, 1442 kunjungan rumah, 1442 kesaksian didepan jemaat, dan 1442 persetujuan oleh jemaat (belum dihitung lebih dari seribu baptisan, karena sebagian besar adalah orang baru percaya)” (“Meaningful Membership at Spurgeon’s Metropolitan Tabernacle,” The Spurgeon Center, Feb. 8, 2018).

Untuk tetap mempertahankan keanggotaan jemaat membutuhkan kesetiaan mengikuti perjamuan Tuhan. “Saat bergabung dalam jemaat, anggota diberikan kartu komuni yang dibagi dalam dua belas bagian bernomor, setiap bagian dikumpulkan saat perjamuan Tuhan setiap bulan. Tiket ini akan diperiksa oleh jemaat yang dituakan dan jika ada anggota yang “tidak hadir lebih dari tiga bulan. Ini memungkinkan jemaat mengusahakan keanggotaan yang bermakna dengan perhatian dan pemuridan yang lebih baik, atau dengan mengeluarkan anggota dari jemaat” (“Meaningful Membership at Spurgeon’s Metropolitan Tabernacle”).

Spurgen berkotbah menentang praktek penggelembungan (melebih-lebihkan) jumlah anggota jemaat dengan menghitung orang yang tidak hadir dan tidak aktif. “Kita jangan menyimpan nama dalam buku kita jika mereka hanya nama. Beberapa orang suka menyimpan nama disana, dan tidak tahan jika mereka dihapuskan; tetapi jika kamu tidak tahu dimana orangnya atau siapa mereka, bagaimana kamu bisa menghitung mereka? Mereka sudah pergi ke Amerika atau Australia atau ke surga, tetapi di buku catatanmu mereka masih disana. Apakah ini hal yang benar? Memang tidak mungkin bisa benar-benar akurat, tetapi mari kita usahakan… Jaga jemaatmu nyata dan efektif, atau jangan membuat laporan. Jemaat yang hanya nominal adalah kebohongan. Jadikan jemaat sungguh menjadi jemaat yang benar” (Spurgeon’s final message to the Pastors’ College, cited from “Meaningful Membership at Spurgeon’s Metropolitan Tabernacle”).

Benteng Pertahanan Jemaat Alkitabiah

terjemahan https://www.wayoflife.org/reports/biblical_walls.php

Belakangan ini banyak pembicaraan tentang tembok, terutama rencana Presiden Donald Trump untuk membangun tembok di perbatasan selatan Amerika. Hal ini sangat masuk akal, hal yang wajar. Bahkan penentang Tembok Trump juga menggunakan tembok. Mereka mempunyai tembok pada properti mereka, dengan gerbang dan pintu dan kunci yang kuat. Semua orang waras mengerti pentingnya tembok dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Tembok adalah pertahanan. Tembok menghalangi apa yang tidak seharusnya masuk.

Jemaat Perjanjian Baru (PB) juga membutuhkan tembok. Benteng pertahanan rohani.

Kami mempunyai lima tembok dalam gereja kami.

Pertama, kami mempunyai tembok standar alkitabiah untuk baptisan, yaitu hanya untuk yang sudah dilahirbarukan, sudah menerima keselamatan (Kisah 2:42; 8:36-37). Kami tidak terburu-buru dalam hal ini. Kami berusaha sekuatnya hanya membaptis yang sudah memberikan bukti keselamatan (2Kor 5:17; 1Yoh 2:3-4). Kami memastikan setiap orang mengerti semua inti Injil (1Kor 15:1-4). Kami tidak membaptis orang yang sama sekali asing; kami ingin mengenal pribadi cukup baik untuk mengetahui dia sudah dilahirkan kembali. Kami menuntut setiap calon baptis untuk tampil dihadapan para pemuka jemaat dan isterinya dan memberikan kesaksian dan menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Kami memberikan kesempatan kepada jemaat untuk mengutarakan kekhawatiran akan kelayakan calon baptis.

Kedua, kami mempunyai tembok standar alkitabiah untuk keanggotaan jemaat. Kami tidak tergesa-gesa menerima anggota. Sebuah gereja PB adalah tubuh rohani yang seharusnya terdiri dari anggota rohani. Jemaat adalah bait rohani yang dibangun hanya dengan batu bata rohani. Tubuh dan bait adalah milik Kristus, dan Dia saja yang boleh menambahkan kedalamnya. Tugas gereja adalah memahami keinginan Kristus. Kami mau berusaha sekuatnya untuk memastikan bahwa calon anggota sudah dilahirkan kembali (Kisah 2:41), seroang murid Kristus sejati (Kisah 2:42; 1Tes 1:9-10), sepaham dengan tubuh jemaat (1Kor 1:10), dan adalah keinginan Allah untuk orang ini menjadi bagian dalam jemaat.

Ketiga, kami mempunyai tembok alkitabiah untuk mereka yang ikut dalam pelayanan (Kisah 6:3; 1Kor 4:2; 2Kor 8:22; 1Ti 3:8-13). Kami ingin setiap pelayan – baik penerima tamu maupun pemain musik, guru sekolah minggu ataupun pembaca Alkitab – harus mempunyai kesaksian yang baik dan menjadi teladan rohani yang baik, mengetahui mereka akan mempunyai pengaruh besar kepada tubuh sendiri dan mereka juga mempengaruhi kesaksian gereja kepada dunia.

Keempat, kami mempunyai tembok alkitabiah untuk pentahbisan jabatan kepemimpinan (1Ti 3:1-7; Tit 1:5-9). Tidak ada yang lebih penting daripada mentahbiskan pemimpin yang tepat dalam jemaat, karena “semua kemajuan dan kemunduran pada kepemimpinan.” Allah menekankan pentingnya ini dengan standar yang tinggi dalam Surat Pastoral dan dengan fakta bahwa standar ini diulangi kembali.

Kelima, kami mempunyai tembok alkitabiah untuk pendisiplinan. Ketika seorang jemaat tidak setia lagi atau tidak lagi memberikan kesaksian moral yang Allah tuntut, kami menaikkan tembok pendisiplinan untuk mengeluarkan mereka sampai mereka menunjukkan pertobatan sejati untuk perbaikan (Mat 18:15-17; 1Kor 5)

Tembok alkitabiah tidak berbahaya. Tembok tidak menghalangi mereka yang Allah mau untuk masuk. Tembok membantu menjaga gereja sebagai adonan yang murni yang Allah tetapkan.

1Kor 5:
6 Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan?
7 Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.
8 Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

Saya menyukai tembok kami! Saya membutuhkan waktu lama untuk memahami hal ini dengan tepat, karena tradisi gereja dijaga begitu kuat dan tidak menerima kritik. Belum terlalu lama ini saya menanyakan pada Tuhan apakah bisa Dia terima jika kami menuntut kesetiaan dari semua jemaat. Jawabannya adalah Kisah Para Rasul 2:41-42. Tidak hanya diterima Allah jika kami menuntut ini, bahkan sangat tidak menyenangkan Dia jika kita tidak menuntutnya, karena ini telah menjadi standar Allah yang jelas selama 2000an tahun.

Kami mempunyai banyak pengunjung dalam pelayanan gereja. Kami mempunyai pengunjung yang tidak mengaku diselamatkan, dan kami mempunyai pengunjung yang sudah menjadi anggota jemaat lain. Karena tembok kami, kami bisa dikatakan tenang, dan melayani pengunjung, mengetahui bahwa kami mempunyai tembok alkitabiah yang menjaga gereja sehingga tidak mudah dirusak.

Untuk lebih lengkapnya, baca “The Discipling Church”

https://www.wayoflife.org/publications/books/the-discipling-church.php