Filosofi “Free Love” di Amerika, Menghasilkan Tsunami Penyakit Seksual

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ““Rates of 3 STDs have reached a record high in the US,” Business Insider, 28 Agus. 2018: “Ada 2,3 juta kasus baru chlamydia, gonorrhea, dan sifilis, yang didiagnosa di AS tahun lalu, menurut data awal yang dirilis oleh Centers for Disease Control (CDC). Data ini memperlihatkan rekor tinggi yang baru bagi negara tersebut, dan tahun keempat berturut-turut terjadinya ‘peningkatan tajam yang menetap’ pada tiga jenis infeksi ini, menurut pernyataan pers CDC. Data ini dipresentasikan di Konferensi Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Washington pada hari Selasa, demikian laporan CNN. Antara tahun 2013 dan 2017, kasus-kasus gonorrhea meningkat 67% secata total, dan hampir dua kali lipat pada laki-laki; kasus sifilis meningkat 76% dan chlamydia tetap menjadi kondisi yang paling sering dilaporkan ke CDC. … ‘Kita telah meluncur mundur,’ demikian kata Dr. Jonathan Mermin, direktur dari Pusat Nasional CDC untuk HIV/AIDS, Hepatitis Viral, Penyakit Menular Seksual, dan Pencegahan Tuberkulosis, dalam peryataan pers tersebut. ‘Sangat jelas bahwa sistem-sistem yang mengidentifikasi, mengobati, dan pada akhirnya mencegah Penyaki Menular Seksual, sudah bekerja lembur dan tidak cukup lagi.’ … Pernyataan pers CDC juga mencamkan meningkatnya ancaman gonorrhea yang resisten terhadap antibiotik, yang kadang disebut ‘super gonorrhea.’ Kuman-kuman yang menyebabkan gonorrhea telah menjadi resisten terhadap ‘hampir semua jenis antibiotik’ yang pernah dipakai untuk mengobati mereka, demikian bunyi pernyataan tersebut.”

Orang-Orang yang di Tengah-Tengah

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

James Henley Thornwell adalah seorang pengkhotbah Presbyterian zaman dulu yang dengan gigih berjuang melawan modernisme theologi di abad ke-19. Sebagai presiden keenam dari South Carolina College (hari ini namanya adalah University of South Carolina), Thornwell sangat capek dengan “orang-orang yang di tengah” pada zmaan dia, yang mengatakan bahwa mereka mencintai kebenaran tetapi mereka lemah dalam berposisi dan tidak mau dengan berani melawan kesalahan. “Menggunakan kata-kata yang gemulai dan dimanis-maniskan dalam membahas topik-topik yang memiliki nilai abadi; memperlakukan kesalahan-kesalahan yang menyerang fondasi segala pengharapan manusia, seolah-olah ini adalah kekhilafan yang wajar dan tidak berbahaya; memberkati hal-hal yang Allah tidak senangi, dan beramah tamah pada tempat-tempat Dia memanggil kita untuk berdiri seperti laki-laki dan tegas, walaupun adalah cara yang paling cocok untuk mendapatkan pujian populer di zaman yang canggih ini, sebenarnya adalah kekejaman terhadap sesama manusia dan pengkhianatan terhadap Sorga. Orang-orang yang pada topik-topik ini lebih mementingkan aturan-aturan kesopanan daripada poin-poin kebenaran, tidaklah membela benteng, tetapi menyerahkannya ke tangan para musuhnya. KASIH AKAN KRISTUS, DAN AKAN JIWA-JIWA YANG UNTUKNYA DIA MATI, AKAN MENJADI TAKARAN SEMANGAT KITA DALAM MEMBONGKAR BAHAYA-BAHAYA YANG MEMERANGKAP JIWA-JIWA MANUSIA” (dikutip dalam sebuah khotbah oleh George Sayles Bishop, penulis dari The Doctrines of Grace and Kindred Themes, 1910).

Bertambahnya Informasi

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari CreationMoments.com, 4 Desember 2017: “Para evolusionis berasumsi bahwa evolusi terjadi dengan meningkatnya informasi genetika. Hal ini, mereka mengklaim, terjadi melalui mutasi, yang menciptakan informasi tambahan. Kita harus menganalisa bagaimana hal ini bisa terjadi. Telah sering dikatakan bahwa penciptaan informasi baru dalam organisme adalah seperti terjadinya suatu ledakan dalam sebuah pabrik percetakan, dan keluarlah hasilnya sebuah kamus. Tetapi para evolusionis berargumen bahwa ini adalah analogi yang tidak adil, karena evolusi seharusnya terjadi setahap demi setahap, bukan dengan cara ledakan. Jadi bagaimanakah satu tahap demi satu tahap itu bekerja? Salah satu evolusionis terkenal di Inggris, muncul dalam sebuah acara anak-anak, dengan sekantong huruf-huruf Scrabble, untuk mempertunjukkan cara kerjanya. Dia membuat anak-anak itu masing-masing mengambil sebuah huruf dari kantong tersebut. Lambat laun, ada tiga huruf berturut-turut yang m uncul yang bisa membuat suatu kata, misalnya C-A-T. ‘Aha!’ dia berseru. ‘Kita mendapatkan kata cat (kucing). Informasi telah muncul secara acak.’ Tetapi huruf C-A-T, hanyalah berarti “kucing” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, yang muncul haruslah huruf K-U-C-I-N-G. Jadi, C-A-T hanya mengandung informasi jika sudah ada kemampuan berbahasa untuk membaca informasi itu. Dengan cara yang sama, informasi DNA harus ‘dibaca’ oleh molekul-molekul RNA. Jadi informasi ini tidak terjadi dengan sendirinya. Bahkan jika informasi baru itu mungkin muncul, proses ini hanya bisa berhasil jika sudah ada metode yang eksis terlebih dahulu, untuk memahami informasi tersebut. Informasi tidak muncul dengan sendirinya. Informasi selalu muncul dari suatu tempat – atau lebih tepatnya dari seorang Pribadi.”

Sejarah Bagaimana Penginjilan Terkorupsi dalam Jemaat Baptis

terjemahan dari https://www.wayoflife.org/reports/the-history-of-how-evangelism-was-corrupted.php Berikut adalah rangkuman dari buku The Discipling Church: The Church That Will Stand Until Christ Comes (Gereja Pemuridan: Gereja yang tetap berdiri hingga Kristus datang). Lihat penjelasan pada bagian akhir. Pada awal tahun 1970, Gereja Baptis Independen pada umumnya secara rohani lebih kuat daripada...

Source

Menjadi Kontemporer

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

“Menjadi Kontemporer” (Gone Contemporary) adalah judul dari sebuah artikel yang ditulis oleh Dave Mallinak, yang memaparkan kesalahan dan bahaya dari filosofi musik kontemporer yang sudah dianut oleh dunia kekristenan pada umumnya, dan sedang melanda gereja-gereja Baptis juga. Kami merekomendasi seluruh tulisan tersebut, yang juga memberikan tautan-tautan kepada contoh-contoh kebaktian-kebaktian Baptis Independen yang sudah menggunakan musik kontemporer, dan juga sebuah video dialog antara Josh Teis dan Robert Bakss, penulis dari buku Worship Wars. Berikut ini cuplikan dari laporan tersebut yang berkaitan dengan inti dari masalah ini, dan dengan tepat menyerukan separasi dari mereka yang sudah berkomitmen pada filosofi kontemporer: “Seruan untuk musik kontemporer adalah raungan kematian dari suatu gereja yang sekarat. Gaya ‘penyembahan’ ini tidaklah menjadi populer karena orang Kristen menjadi semakin setia. Dalam usaha untuk menyenangkan audiens, kita telah lupa bahwa Allah adalah audiens yang sebenarnya. Kita sekarang merasa bosan dengan Tuhan. Semakin tergantung kita pada pendekatan ‘penyembahan’ yang eksternal seperti ini, semakin kita kehilangan inti dari penyembahan. Pada akhirnya, orang Kristen akan mendapatkan bahwa mereka harus memiliki musik jenis kontemporer, atau mereka tidak bisa menyembah. Penyembahan kontemporer mengubah audiens menjadi penonton dan musiknya menjadi suatu pertunjukan. Hal ini menghasilkan suatu pandangan yang rendah akan Allah, suatu kesenangan terhadap pengalaman penyembahan itu, bukan pada Allah yang kita sembah, suatu passion yang superfisial yang kehilangan passion terhadap penyembahan yang sejati, suatu ketergantungan yang semakin hebat pada pengalaman yang dihasilkan oleh musik tersebut, dan suatu ide palsu bahwa penyembahan itu sesuatu yang mudah, bahwa devosi dapat ditingkatkan dengan beberapa baris reff nyanyian. Penyembahan yang sebenarnya adalah menantang – memerlukan fokus dan ketekunan dan kedalaman, yaitu hal-hal yang justru ditentang oleh CCM. … Gaya musik mengindikasikan apa yang suatu gereja konsepkan tentang Tuhan. Secara alkitabiah, kami tidak dapat berpura-pura bersekutu baik dengan gereja-gereja yang lebih mengutamakan relevansi dibandingkan reverensi (Ed: lebih mengutamakan relevan di mata dunia dari menghormati Allah). Jadi, walaupun kami tidak berusaha mendikte cara suatu gereja melakukan kebaktian, kami jelas memiliki tanggung jawab dari Allah untuk menentukan dengan siapa kami bersekutu atau tidak. … Klaim bahwa gaya musik tidak lebih dari suatu pilihan preferensi saja, menunjukkan betapa relativistiknya orang-orang ini. Mereka dengan sengaja mengabaikan pembelajaran teori musik. Mereka percaya bahwa kita hanya perlu mempelajari Alkitab untuk melihat gaya musik apa yang diperlukan. Mereka mengingat kita, dengan nada merendahkan, bahwa Alkitab tidak berkata apa-apa tentang sinkopasi, atau ‘ketukan antisipasi.’ Dengan demikian, mereka dengan sengaja mengabaikan pesan yang jelas yang disampaikan oleh gaya musik tentang makna dari kebaktian dan penyembahan itu. Para produsen film menyadari hal ini. Kebanyakan orang tahu bahwa ada musik tertentu yang cocok untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk restoran kelas atas, untuk barbecue di halaman belakang, untuk parade militer, dan untuk pertandingan basket. Orang-orang ini percaya bahwa kita bisa menyeret gaya apa saja untuk suatu kebaktian rohani, menempelkan kata-kata yang bagus padanya, dan dengan cara demikian ‘menebusnya.’ … Gaya musik itulah makna dari musik tersebut. Musik, pakaian, dan penampilan trendy dari kaum Baptis Independen yang kontemporer, lebih memberitahu kepada kita pandangan mereka tentang Allah daripada pandangan mereka tentang gaya musik. Hal ini benar untuk kebanyakan acara. Cara kita berpakaian dan musik yang kita mainkan, menyampaikan pandangan kita tentang acara tersebut, daripada pandangan kita tentang gaya yang kita pakai.” Laporan yang sepenuhnya dari Dave Mallinak dapat dilihat di villagesmithysite.wordpress.com/2018/08/31/gone-contemporary/

Protein Penting untuk Kehidupan

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Sel-sel tubuh terbuat dari protein-protein (sekitar satu juta protein per sel, terdiri dari ribuan variasi), dan sel-sel dan protein-protein membentuk tubuh. Protein adalah ‘mesin di dalam jaringan makhluk hidup yang membangun struktur dan melaksanakan reaksi-reaksi kimia yang penting untuk kehidupan’ (Michael Behe, Darwin’s Black Box). Otot, kulit, rambut, mata, antibodi, enzim (senyawa yang menghasilkan reaksi kimia esensial seperti memecahkan gula), dan hormon-hormon, semua terbuat dari protein. Pembekuan darah dihasilkan oleh protein fibrinogen dan thrombin. Hemoglobin dalam sel darah merah adalah suatu protein yang memungkinkan oksigen dibawa ke semua bagian tubuh. Protein kolagen dan keratin, yang bersifat elastik dan lebih kuat dari baja, membentuk kulit, rambut, dan kuku, sekaligus juga dukungan struktural di dalam sel itu sendiri. Sel dapat membuat ribuan jenis protein yang berbeda-beda, masing-masingnya sangat kompleks dan didesain untuk fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, ada ratusan tipe protein yang menjembatani membran sel, bertugas sebagai gerbang dan transporter. Pertama, DNA (deoxyribonucleic acid) membuat tiga macam RNA (ribonucleic acid). RNA lalu membaca kode DNA yang rumit, mengetahui dengan persis di mana mulainya dan bagaimana menyelesaikan tugas ini, bekerja sama dengan berbagai organ sel untuk membuat protein menurut cetak biru master tersebut. Proses ini sangat kompleks, sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan para ilmuwan barulah mulai memahami bagian kecil darinya. Setiap protein terdiri dari serangkaian panjang sekitar 20an asam amino yang berbeda, biasanya ribuan asam amino panjangnya, dan setiap asam amino haruslah pada urutan yang tepat agar protein tersebut berfungsi dengan baik. Setelah protein itu selesai dirangkaikan, ia akan dilipat dan dibentuk secara sempurna dalam pabrik-pabrik sel, dan lalu diantarkan ke tempat yang benar. Pemberian bentuk yang tepat adalah essensial. Protein memerlukan DNA untuk dapat dibentuk, tetapi DNA itu sendiri terbentuk dari protein. ‘Karena DNA dan protein saling tergantung secara intim agar dapat eksis, sulit untuk membayangkan salah satunya berevolusi terlebih dahulu. Tetapi sama tidak mungkinnya kedua-duanya muncul berbarengan dari lautan pre-biotik’ (Carl Zimmer, “How and Where Did Life on Earth Arise?” Science, Vol. 309, 1 Juli 2005, hal. 89).”

Stress, Depresi, Agama Coca-Cola hingga Agama Opium

Matius 4
4. Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Tuhan memberikan rasa lapar dan haus supaya manusia mencari makanan dan minuman untuk kehidupan jasmaninya.

Mazmur 42
1. Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. (42-2) Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
(42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
(42-4) Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?”
(42-5) Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.
(42-6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Demikian juga Tuhan memberikan rasa stres dan depresi, yang adalah kelaparan dan kehausan rohani, supaya manusia mencari makanan dan minuman untuk kehidupan rohaninya, yaitu Alkitab, satu-satunya Firman Tuhan yang sempurna dan tanpa salah!

Yohanes 6
35. Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
36. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.
37. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
38. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
39. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
40. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
41. Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: “Akulah roti yang telah turun dari sorga.”

Tidak ada manusia dilahirkan atheis dan/atau evolusionis.
Semua suku di seluruh dunia mempunyai ritual penyembahan. Semua manusia lapar dan haus rohani dan mencari pemuasan rohaninya dalam berbagai bentuk ritual penyembahan.

Untuk makanan dan minuman jasmani sangat banyak ragam macam-macam jenisnya. Dari berbagai macam makanan dan minuman tentu saja tidak semuanya baik dan menyehatkan. Bahkan mungkin lebih banyak makanan minuman yang tidak menyehatkan daripada yang menyehatkan.

Terlebih lagi minuman, seringkali orang lebih suka Coca-cola daripada air yang murni untuk melepaskan dahaganya. Memang saat diminum rasanya lebih segar, seperti iklannya, lebih ahh…
Tetapi, seperti yang juga sudah menjadi pengetahuan umum, minuman soda ternyata tidak melepaskan dahaga sama sekali. Bahkan sebaliknya, bisa menyebabkan dehidrasi. Jadi, apa yang terasa sekejap di dalam mulut sepertinya menyegarkan, ternyata menipu.

Demikian juga dengan makanan dan minuman bagi jiwa kita. Banyak buku filosofi dan psikologi menawarkan ‘solusi’ mengatasi stres dan depresi, makanan dan minuman yang rohani. Tetapi kita perlu sangat waspada dan berhati-hati, jangan sampai tertipu dengan damai yang palsu dan sementara. Seperti makanan lezat dan minuman yang rasanya menyegarkan, efek jangka panjangnya malah bisa memperparah penyakit.

Juga, agama-agama berlomba-lomba memberikan makanan yang, katanya, rohani dan menyegarkan jiwa. Bahkan ada yang mengaku nabi yang menuliskan kitab yang lebih sempurna, ternyata mengajarkan kekerasan untuk melampiaskan stres dan depresinya. Atau bahkan sampai melakukan bunuh diri sambil membunuh banyak orang juga, katanya akan mendapatkan kebahagiaan yang kekal.

Waspada dan berhati-hatilah! Seperti Coca-cola yang memang terasa menyegarkan, tetapi jangka panjangnya memberikan efek sebaliknya, merusak. Demikian juga dengan Agama Coca-cola, bisa saja memberikan perasaaan damai sentosa untuk sementara waktu. Bahkan beberapa orang ‘kecanduan’ dengan ritual-ritual ibadah yang memberikan rasa damai yang palsu dan sementara. Seperti juga disebut dengan cukup tepat oleh Karl Marx, ” Die Religion … ist das Opium des Volkes,” (Religion is the opium of the people, Agama adalah opium bagi masyarakat.) Ya, banyak agama menjual ritual-ritual (yoga, meditasi, spiritualisme, puterin kotak, macam-macam gaya sembah, dsb.) yang memang bisa memberikan rasa tenang damai yang sementara. Seperti opium, orang-orang akan terus kembali lagi untuk melakukan ritual-ritual tersebut (bahkan, seperti opium, seringkali ritualnya harus dibayar sangat mahal) agar mendapatkan rasa tenang dan damai yang mereka inginkan.

Kolose 2
16. Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;
17. semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.
18. Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi,
19. sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.
20. Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:
21. jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;
22. semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.
23. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.

Firman Tuhan, mata air yang memancar terus

Alkitab saja satu-satunya Firman Tuhan yang sempurna, yang tidak ada salah sama sekali. Alkitab saja yang akan menciptakan mata air kehidupan didalam hati setiap orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus yang sudah dikorbankan untuk dosanya.

Efesus 1
13. Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.

Yohanes 4
13. Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
14. tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Jika anda sudah menerima Yesus Kristus yang menebus segala dosa kita diatas salib, maka hatimu akan dimeterai dengan Roh Kudus dan mata air yang memancar terus.

Jika orang percaya mulai stres, mungkin lupa dengan mata air yang dimilikinya maka berdoalah dan gali kembali mata airmu dengan membaca Alkitab satu-satunya Firman Tuhan.

Mazmur (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

Yohanes 6
68. Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
69. dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Yohanes 14:
25. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;
26. tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
27. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Penelitian Baru Mematahkan Mitos Bahwa Minum Alkohol Baik untuk Kesehatan

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Dengan mengutip berbagai penelitian secara selektif, industri alkohol dengan gencar mempromosikan ide bahwa minum alkohol secara moderat membawa keuntungan medis. Namun sebuah penelitian skala besar yang baru-baru ini selesai, oleh Institute for Health Metrics di Universitas Washington, telah menemukan bahwa keuntungan apapun yang diperoleh dari minum alkohol, kalah dari kerugian yang diakibatkan. Dr. Max Griswold, pemimpin penelitian tersebut, mengatakan, “Kami telah menemukan bahwa kombinasi resiko-resiko kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, meningkat seiring dengan konsumsi alkohol dalam jumlah berapapun” (“Study shows women in Ireland have three alcoholic drinks a day,” RTE, Ireland’s national public service broadcaster, 24 Agus. 2018). “Para ilmuwan mengumpulkan data dari 592 penelitian, dengan total 28 juta peserta, untuk mengakses data resiko kesehatan global yang terhubung ke alkohol.” “Setiap tahun, 2,2% wanita dan 6,8% pria mati dari masalah kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, termasuk kanker, tuberkulosis, dan penyakit hati. Konsekuensi merugikan lainnya dari minum alkohol mencakup kecelakaan dan kekerasan. Secara global, minum alkohol adalah faktor resiko ketujuh untuk keseluruhan kematian prematur dan penyakit pada tahun 2016, demikian didapatkan oleh hasil penelitian tersebut.”

Superhero Favorit di Coastline Baptist

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sangat disayangkan bahwa gereja-gereja hari ini semakin lama semakin menyerupai dunia. Hal ini bahkan terjadi di kalangan Independen Baptis juga [apalagi di gereja-gereja lain], dengan sebagian gereja semakin menuju dunia dan sikap yang kontemporer. Kami telah memperingatkan akan hal ini sejak lama, tetapi kebanyakan gembala sidang lebih senang menyembunyikan kepala di dalam pasir, dan masalah bertambah serius dari tahun ke tahun. Banyak orang yang seharusnya tahu lebih baik, terus mendukung sekolah-sekolah yang menghasilkan pengkhotbah-pengkhotbah kontemporer yang memulai gereja-gereja kontemporer, sambil berpura-pura bahwa mereka tidak mendukung posisi kontemporer. Perhatikan salah satu contoh, Coastline Baptist Church di Oceanside, California, yang digembalakan oleh Steve Chappel, saudara dari Paul Chappell, yang adalah gembala dari Lancaster Baptist Church, Lancaster, California, dan kepala dari West Coast Baptist College. Putra Paul, Matt, yang mendirikan Rock Hill Church di Fontana, California, pada tahun 2017, adalah seorang gembala muda di Coastline selama beberapa tahun setelah ia meninggalkan Lancaster, jadi Matt ini pernah dididik oleh Paul dan Steve. Paul menahbiskan Matt untuk mendirikan gereja baru pada tanggal 25 April 2016, dan men-tweet pujian untuk pekerjaan baru tersebut. Dalam sebuah blog saat pendirian Gereja Rock Hill, Paul Chappell men-tweet, “Bersyukur karena mendengar dari putra kami, Matt, bagaimana Tuhan sudah mulai bekerja sementara mereka mendirikan Rock Hill Baptist Church di Fontana, CA.” (Nama “Baptist” jarang sekali muncul dalam koneksi dengan gereja tersebut, dan sepertinya dimasukkan di sini hanya untuk dilihat kalangan tertentu.)

Robert Bakss, seorang gembala sidang yang terang-terangan memeluk rock ‘n roll, dengan filosofi emerging, yang telah menimbulkan kebingungan besar di kalangan gereja-gereja Baptis Independen di Australia, menjadi pembicara di Coastline pada tanggal 5 Februari 2017. Di website Coastline, pada halaman mengenai “Our Team,” para hamba Tuhan di sana menyampaikan super-hero favorit mereka. Gembala Sidang Worship, Ryan Gass, mem-favoritkan Wolverine; Asisten Gembala, Jon Telles, memilih Captain America; Gembala Pelajar Pelayanan, J.J. Mordh, memilih Batman; Gembala Sidang bahasa Spanyol, Jairo Dominguez, memilih Spiderman; Sekretaris Kantor, Lisa Chappel, memilih Wonder Woman. Hal-hal seperti ini adalah sinyal lampu hijau yang terang benderang kepada kaum muda di gereja tersebut untuk mencelupkan diri sepenuh-penuhnya ke hal-hal yang sensual dan duniawi, yang dilarang dalam Firman Tuhan (Ef. 5:11; 1 Yoh. 2:15-16). Tidak heran bahwa kebanyakan gereja telah mencampakkan standar berpakaian yang saleh dan sopan, ketika pikiran para pemimpinnya sendiri sudah dipenuhi oleh sampah-sampah seperti itu.

Para Peneliti Menemukan Bahwa Neanderthal Dapat Membuat Api Mereka Sendiri

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Para peniliti yang menyelidiki alat-alat yang dipakai oleh “Neanderthal,” telah menemukan bahwa mereka bisa memulai api dengan menggunakan batu api. Arkeolog, Andrew Sorensen, dari Universitas Leiden di Belanda, mengatakan, “Saya mengenali pola pemakaian seperti ini dari pekerjaan eksperimental saya dulu. … Mampu membuat api mereka sendiri memberikan para Neanderthal lebih banyak fleksibilitas dalam kehidupan mereka. Ini adalah keahlian yang telah kita duga, tetapi yang tadinya tidak kita pastikan mereka miliki” (“Neanderthals could start their own fires,” UPI, 19 Juli 2018). Ini adalah penemuan terakhir yang mematahkan klaim-klaim terdahulu kaum Darwinis bahwa Neanderthal adalah manusia gua yang hanya bisa menggeram satu terhadap yang lain. Pada tahun 1907, Ernst Haeckel, murid utama Charles Darwin di Jerman, menggambarkan Neanderthal sebagai pra-manusia, dan menaruh mereka di antara Pithecanthropus (Java Man) dan Homo Australis, yang dia sebut “ras terendah dari manusia belakangan.” Paleontologis terkenal Perancis, Marcellin Boule, percaya bahwa Neanderthal adalah suatu cabang manusia-kera yang menjadi punah tanpa menjadi “manusia modern.” Dia percaya bahwa Neanderthal berjalan dengan bungkuk, dengan lutut yang tertekuk dan mengesot, dan memiliki “hanya bahasa yang paling sederhana” (Fossil Men, 1957, hal. 251). Pada tahun 1930, Frederick Blaschke membuat model sebuah keluarga Neanderthal dalam setting gua, didasarkan pada interpretasi Boule. Mereka bungkuk, setengah berpakaian, memegang tulang-tulang, dan memiliki ekspresi wajah yang sangat bodoh. Model ini ditaruh sebagai ekshibit permanen di Field Museum of Natural History di Chicago, dan disalin di banyak sekali buku teks, ensiklopedia, jurnal, majalah-majalah populer dan koran-koran, dan museum-museum. Ini adalah pandangan yang berkuasa selama hampir setengah abad, tetapi ini bukan sains; ini adalah pembentukan mitos didasarkan pada asumsi dan spekulasi. Sejak tahun 1960an, Neanderthal telah perlahan-lahan semakin di-manusiawi-kan. Neanderthal bahkan telah diklasifikasikan ulang menjadi Homo sapiens neanderthalensis, suatu tipe “manusia modern.” Sekarang diakui bahwa Neanderthal memiliki budaya yang maju (mereka mempedulikan kaum yang sakit dan lanjut usia, menguburkan orang-orang mereka yang mati, memegang agama), membuat obat-obatan, menggunakan berbagai jenis alat, menggunakan pelekat, membuat tindik atau jarum dari tulang, membangun rumah-rumah berdinding, membuat tempat perapian untuk memasak dan kehangatan, membuat ornamen-ornamen dan patung-patung dari tulang, gigi, gading, dan kayu halus, dan memainkan suling dengan sistem musik tujuh not yang didapatkan juga dalam sistem musik Barat (Marvin Lubenow, Bones of Contention, hal. 239-244, 254-257). Apakah para evolusionis telah meminta maaf karena kesalahan yang telah mereka sebarkan di dunia? Tentu tidak sama sekali. Faktanya, barulah setelah dua dekade penuh, Chicago Field Museum mengoreksi ekshibit Neanderthal mereka yang berpengaruh namun sangat salah tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Melvin Lubenow di Bones of Contention, “Barulah pada pertengahan 1970an, Field Museum tersebut menurunkan ekshibit mereka yang lama yang menggambarkan Neanderthal yang mirip kera, dan menggantinya dengan Neanderthal yang tegak, yang terlihat hari ini. Apa yang mereka lakukan dengan ekshibit yang lama? Apakah mereka membuangnya ke tong sampah, tempat yang pantas untuknya? Tidak. Mereka memindahkan ekshibit lama ke lantai dua, dan menaruhnya persis di samping kerangka dinosaurus Apatosaurus yang besar, dan di sana jauh lebih banyak lagi orang – terutama anak-anak – akan melihat ekshibit lama tersebut. Mereka memberikan label pada ekshibit itu ‘Suatu pandangan alternatif tentang Neanderthal.’ Ini bukan pandangan alternatif. Ini adalah pandangan yang salah. Dan para ilmuwan sering mengklaim bahwa sains memiliki mekanisme koreksi diri sendiri. Ternyata dalam kasus Neanderthal, tidak demikian.”