Komunis Cina Meneruskan Perang Melawan Gereja yang Tidak Terdaftar

(Berita Mingguan GITS 18 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari “China Cracks Down,” Radio Free Asia, 23 Feb. 2017: “Otoritas Cina di daerah bergejolak di timur laut, Xinjiang, telah melarang semua aktivitas Kristen yang tidak dilakukan oleh gereja-gereja yang disetujui negara. Hal ini meluncurkan penutupan besar-besaran terhadap kebaktian yang tidak resmi dengan alasan “anti-terorisme,” demikian diketahui oleh RFA. Gereja-gereja Katolik dan Protestan bawah tanah telah diperingatkan untuk menghentikan semua aktivitas di seluruh wilayah, seorang pejabat urusan agama mengkonfirmasi pada hari Kamis. ‘Ya, itu benar,’ kata pejabat itu, yang menerima telpon di Biro Urusan Agama dan Etnis Minoritas dari pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur. ‘Mereka semua harus beribadah di gereja [yang telah resmi disetujui],’ kata pejabat itu, mengindikasikan bahwa baik Katolik maupun Protestan terkena kebijakan baru ini. Di Cina diperkirakan ada 68 juta Protestan, dan 23 juta di antaranya berbakti di gereja-gereja yang diakui resmi, dan ada sekitar 9 juta Katolik, yang 5,7 jutanya masuk dalam organisasi-organisasi yang disponsor negara. Tetapi Partai Komunis Cina yang berkuasa, yang memegang atheisme, telah meningkatkan pengawasan atas semua bentuk praktek agama di kalangan rakyat dalam tahun-tahun belakangan ini, meningkatkan tekanan pada kelompok-kelompok beriman untuk bergabung dengan Asosiasi Prostestan Tiga Mandiri Patriotik, atau Asosiasi Katolik Cina Patriotik, yang tidak berada di bawah Vatikan. Administrasi Presiden Xi Jinping menganggap kekristenan sebagai barang impor luar negeri yang berbahaya, dan para pejabat tahun lalu memperingatkan tentang ‘infiltrasi kekuatan musuh dari Barat’ dalam bentuk agama. …Para otoritas di Korps 31, Produksi dan Konstruksi, dalam resimen agrikultur, yaitu bagian dari organisasi daerah yang didukung oleh militer, yang disebut juga bingtuan, pada tanggal 19 Februari, memerintahkan dua gereja rumah untuk tutup, cerita sumber-sumber lokal kepada RFA. Kedua gereja itu diserbu oleh polisi lokal dan lusinan pejabat dari biro urusan agama lokal, dengan 21 anggotanya dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan, kata mereka. Seorang anggota sebuah gereja rumah Protestan di wilayah Ili (Yili) Kazakh, memberitahu RFA pada hari Kamis bahwa polisi lokal telah memberikan hukuman penjara jangka pendek kepada anggota-anggota gereja di wilayah tersebut. ‘Kami tidak berani berkumpul untuk berbakti sekarang,’ kata anggota gereja tersebut. ‘Polisi mengatakan bahwa ini bagian dari pencegahan terorisme di Xinjiang, dan bahwa mereka tidak akan mengizinkan perkumpulan bahkan beberapa orang saja.’”

Seorang Kristen Ditembak Mati dan Putranya Dibakar Hidup-Hidup oleh Isis di Mesir

(Berita Mingguan GITS 18 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dicuplik dari “ISIS Terror Grows in Egypt,” Christian Today, 23 Feb. 2017: “Seorang lelaki Kristen telah ditembak mati dan putranya dibakar hidup-hidup di Mesir, menurut laporan dari daerah itu. Saad Hana, 65 tahun, dan putranya Medhat, 45 tahun, dibunuh di El-Arish, Sinai Utara, dalam gelombang kekerasan terbaru terhadap orang Kristen. Bapa Youssef Sobhy, dari Gereja Koptik Ortodoks Mar Girgis di El-Arish, mengatakan bahwa tiga orang bertopeng menyerang ayah dan anah itu di rumah mereka. ‘Orang-orang itu mengetuk pintu rumah orang Kristen tersebut, dan Medhat membuka pintu,’ Sobhy memberitahu International Christian Concern. ‘Orang-orang itu menembak ayahnya yang tua, Saad Hanna, di kepala, lalu mereka membakar rumah itu.’ Diperkirakan akan ada lebih banyak lagi orang Kristen yang dijadikan target sambil penganiayaan ini berlanjut, sesuai dengan pernyataan-pernyataan kelompok teror tersebut. Beberapa hari yang lalu, kelompok-kelompok teror di Mesir yang beraliansi dengan ISIS mengatakan bahwa orang Kristen adalah ‘mangsa favorit’ mereka.” Catatan Akhir: Gereja Koptik Ortodoks memberitakan Injil palsu, yaitu Injil sakramental. Tetapi faktanya tetap adalah bahwa orang-orang ini diserang dan dianiaya oleh pejihad Muslim dalam konteks sebagai orang Kristen.

Dosamu Pasti Akan Menimpamu

(Berita Mingguan GITS 18 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Valerian Trifa, seorang kriminal perang Nazi dari Romania, masuk Amerika Serikat tahun 1950 di bawah Undang-Undang Imigrasi Orang yang Tergusur dan diberikan kewarganegaraan. Dia menjadi seorang imam Ortodoks dan naik ke posisi uskup pada tahun 1955, pada tahun yang sama ia memimpin doa pembukaan dalam sidang Senat AS. Pada tahun 1970, dia dijadikan uskup agung. Sejak tahun 1950an dia sudah dikenali oleh para pengungsi Yahudi sebagai seorang anggota prominen dari Iron Guard, sebuah organisasi anti-semitik yang terlibat dalam penganiayaan dan pembunuhan orang-orang Yahudi, dan dia sudah dilaporkan ke Departemen Hukum AS. Tetapi bukti-bukti terhadap dia lemah. Sebuah penyelidikan dimulai pada tahun 1975, dan penelitian terhadap file-file simpanan Jerman Barat secara luar biasa menemukan sebuah kartu pos tahun 1942 dari “Viorel Trifa” kepada pemimpin Nazi, Heinrich Himmler. Ketika diteliti oleh ahli tulisan tangan, kartu pos itu dipastikan telah ditulis oleh Valerian, tetapi ini tidak dianggap sebagai bukti yang cukup untuk menyatakan dia bersalah. Ketika menyelidiki fotokopi dari kartu pos tersebut, para ahli percaya bahwa mereka dapat mendeteksi sidik jari yang samar-samar, tetapi otoritas Jerman Barat tidak mau menyerahkan kartu pos aslinya untuk dianalisis, karena akan rusak oleh metode bubuk tradisional yang dipakai untuk merekam sidik jari. Beberapa tahun kemudian, melalui teknologi baru, menggunakan laser yang tidak merusak, FBI dapat mengisolasi dan memfoto sidik jari tersebut, dan ternyata cocok dengan Valerian Trifa. Dia selanjutnya melepaskan status warga negara AS-nya, dan pindah ke Portugal sampai pada kematiannya tahun 1987. “…dosamu itu akan menimpa kamu” (Bil. 32:23).

Disney Terus Menjadi Agen Perubahan Sosial

(Berita Mingguan GITS 11 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Disney terus bertindak sebagai agen perubahan sosial besar dengan usaha-usahanya untuk menormalisasi dan memuliakan homoseksualitas. Dalam film Beauty and the Beast yang dibuat baru, ada hubungan homoseksualitas yang disorot. Sutradara film tersebut, Bill Condon, mengatakan, “LeFou [seorang teman Gaston] adalah seseorang yang pada hari tertentu ingin menjadi seperti Gaston [seorang pemburu kekar yang mau menikahi Belle, sang ‘beauty’] dan para hari-hari lain ingin mencium Gaston. Dia bingung tentang apa yang dia inginkan. Ini adalah seseorang yang baru mulai menyadari bahwa dia memiliki perasaan-perasaan ini. Dan Josh membuat sesuatu yang terselubung dan indah dari semua ini . … pada akhirnya … ada suatu moment gay yang manis dan eksklusif dalam sebuah film Disney” (“Beauty and the Beast Remake,” Christian Headlines, 2 Mar. 2017). Sifat manusia yang sudah jatuh dalam dosa memiliki banyak “perasaan” yang kuat dan “alami” tetapi tidak benar di hadapan Allah. Tetapi masyarakat modern menyangkal Allah dan mencoba untuk membenarkan semua perasaan manusia melalui suatu moralitas yang relativistik. Tidak banyak orang yang memiliki pengaruh lebih besar atas masyarakat Amerika dan kebudayaan global modern daripada Walt Disney. Dia mempionir industri animasi Amerika dan menangkap hati anak-anak dengan karakter-karakter kartun seperti Mickey Mouse dan Donald Duck. Dia membawa fantasi Hollywood ke suatu level pengaruh yang baru dengan pembangunan Disneyland di California dan Disney World di Florida. Film-film animasi klasik Disney penuh dengan gambaran kafir dan okultik, seperti nenek sihir, roh-roh jahat, penyihir dan mantera-mantera mereka, genie dan goblin, yang semua dikutuk keras dalam Alkitab. Sama seperti Harry Potter dan Lord of the Rings, kartun-kartun Disney menyampaikan konsep yang palsu dan terkutuk bahwa ada sihir baik dan sihir jahat. Disney sendiri tidak pergi ke gereja, dan tidak ada bangunan gereja di Main Street baik di Disneyland maupun Disney World, walaupun ada gereja di hampir semua jalan utama di Amerika ketika Disneyland dibuka pada tahun 1955. Begitu banyak orang tua Kristen yang telah secara tidak bijak membiarkan kartun-kartun dan film-film Disney mempengaruhi anak-anak mereka. Ketika Disneyland dibuka, majalah Time menayangkan Walt Disney di halaman cover mereka dan menyebutnya “pujangga humanisme baru Amerika.” Sungguh. Gereja-gereja Amerika telah menerima “hiburan” Hollywood selama setengah abad terakhir, dan ini membantu untuk membuka jalan bagi kesesatan besar-besaran yang kita lihat hari ini dan kehancuran moralitas masyarakat pada umumnya.

Reporter Televisi Mengatakan Bahwa Mengendalikan Pikiran Orang Adalah “Tugas Kami”

(Berita Mingguan GITS 11 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam program MSNBC, “Morning Joe,” edisi 22 Februari, pembawa acara Mika Brzezinski memperingatkan bahwa Presiden Donald Trump “sedang berusaha melemahkan media” dan “melemahkan pesan-pesan yang diberikan” secara sedemikian efektif sehingga “dia bisa mengendalikan apa yang orang pikirkan secara persis.” Brzezinski mengatakan, “Itu adalah tugas kami,” mengacu kepada media berita. Ini adalah komentar yang sangat mengena. Dia benar-benar berpikir bahwa tugasnya adalah mengendalikan bagaimana orang berpikir, sementara sebenarnya tugas media berita yang sejati adalah melaporkan berita tanpa adanya penyaringan bias-bias apapun. Tetapi dalam dunia penuh kebohongan ini, satu-satunya tempat kebenaran dapat ditemukan secara utuh tanpa bias adalah dalam Firman Allah. Melalui kebenaran yang seutuhnya di sana, anak Allah dapat menguji segala sesuatu sehingga ia dilindungi dari kebohongan Iblis. “karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Kor. 10:4-5).

Sekolah Theologi Mendorong Para Profesor Mereka untuk Menggunakan Bahasa yang Netral-Gender Ketika Mengacu pada Allah

(Berita Mingguan GITS 11 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Vanderbilt, Duke Divinity Schools,” TruthRevolt.org, 17 Jan. 2017: “Dua sekolah theologi terkenal di negara ini [Amerika Serikat], kini menganjurkan para profesor mereka untuk menghilangkan kata ganti maskulin ketika mengacu kepada Allah dan mencoba untuk mengadakan ‘eksplorasi bahasa baru untuk Allah.’ HeatStreet menemukan bahwa dalam katalog Vanderbilt tahun 2015-2016, sekolah theologi tersebut telah memutuskan untuk ‘secara terus menerus dan eksplisit’ memakai ‘bahasa inklusif, terutama dalam hubungannya dengan pribadi Ilahi, sebagai cara untuk mengurangsi sexisme.’ Ini bukanlah konsep yang baru, karena garis-garis panduan ini telah muncul pada tahun 1999, menurut Dekan Theologi, Melissa Snarr. Dokumen yang lama menekankan bahwa setiap nama Allah tidaklah selalu ber-gender dan menyatakan bahwa ‘gelar, kata ganti, dan gambaran Allah yang maskulin telah menjadi batu penjuru bagi patriarki.’ Telah dilaporkan bahwa Vanderbilt tidak memaksakan perubahan ini sebagai sesuatu yang diharuskan, dan Snarr berkata, ‘Ini tergantung pada penafsiran setiap individu profesor bagi kelas mereka dan ini hanyalah usulan bukan keharusan.’ Sekolah Theologi Duke juga memiliki garis panduan yang serupa, menyerukan ‘pengembangan bahasa yang lebih inklusif bagi Allah’ dan menghindari kata ganti maskulin. ‘Allah’ atau ‘Allah sendiri’ sudah cukup. Daripada mengatakan ‘Allah Bapa’ (God the father), seorang profesor di Duke didorong untuk mengatakan ‘Allah orang tua’ (God the parent). Contoh lain: ‘Allah adalah ayah yang menyambut putranya, tetapi Dia juga wanita yang mencari koin yang hilang.’”

Paus Mendorong “Orang Beriman” Mengecek Alkitab Sebanyak SMS

(Berita Mingguan GITS 11 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berbicara dari balkon apartemennya di Vatican Square, minggu ini Paus Fransiskus menyerukan kepada “orang-orang beriman” untuk berkonsultasi dengan Alkitab sebanyak mereka mengecek pesan-pesan handphone mereka. “Apa yang akan terjadi jika kita balik ke rumah apabila lupa membawanya, jika kita membukanya lebih sering dalam sehari, jika kita membaca pesan Allah yang terkandung dalam Alkitab dengan cara yang sama kita membaca pesan di handphone kita” (“Pope Urges Faithful,” Newsmax, 5 Mar. 2017). Ini adalah nasihat yang baik, walaupun berasal dari sumber yang tidak terduga. Faktanya, banyak mengecek Alkitab adalah alasan mengapa saya tidak percaya pada sang paus. Dalam halaman-halaman Kitab Suci saya tidak pernah menemukan ada Paus, kepausan, berkat kepausan, kursi kepausan, istana kepausan, Petrus sebagai paus pertama, Roma sebagai gereja induk, kardinal, uskup agung, misa, berdoa kepada roti hosti, baptisan bayi, kenaikan Maria, duduknya Maria di takhta, doa kepada Maria, doa kepada “orang-orang kudus” yang mati, mengaku dosa kepada imam, purgatori, rosario, skapular, penghormatan kepada benda-benda kudus, atau apapun juga lainnya yang unik bagi Roma Katolik.

Selfie

(Berita Mingguan GITS 25 Februari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Kita hidup di zaman selfie, and ini adalah zaman yang aneh. Pada tahun 2013, hashtag Instagram yang terpopuler nomor 3 adalah #me. Sebuah penilitian tahun 2014 menemukan bahwa orang-orang muda hari ini “lebih narsistik daripada pada tahun 1980an dan 1990an” (“Research Says,” abc.net.au, 16 Mei 2014). Pada tahun 2015, 24 milyar foto selfie diupload ke Google Photo, dan itu baru di satu platform tersebut. Ada kalanya selfie disebut sebagai “gambar ego.” Kim Karshashian menggambarkan semangat zaman ini ketika dia menerbitkan sebuah buku yang isinya selfie dirinya, dengan judul yang cocok: “Me.” Tahun lalu, saya duduk di sebuah restoran sambil minum kopi dan melakukan pekerjaan, ketika seorang lelaki muda duduk di meja dekat saya dan mulai mengambil foto-foto selfie. Saya tidak bisa tidak memperhatikan dengan takjub, bagaimana dia mengambil barangkali 50an foto dirinya sendiri dalam berbagai pose dari berbagai sudut. Ini adalah tindakan narsisme yang luar biasa. Saya punya kesempatan banyak berperjalanan dan menyaksikan berbagai pemandangan terindah di dunia ini, tetapi ketika saya sedang memotret pemandangan-pemandangan tersebut, banyak orang yang memotret dirinya sendiri di depan pemandangan. Ada orang-orang yang sedemikian tenggelam dalam dunia selfienya sehingga mereka jatuh ke jurang atau ditabrak kereta api. Saya sering bertanya-tanya apakah ada orang yang benar-benar suka memandangi foto selfie orang lain, dan sebuah survei kecil baru-baru ini di Erope menemukan bahwa ternyata tidak. Sementara 77% orang mengatakan mereka memotret selfie minimal sekali sebulan, 90% mengatakan bahwa mereka melihat selfie orang lain sebagai suatu bentuk “promosi diri” (“Study Finds People Like Taking Selfies But Not Looking at Them,” PetaPixel, 10 Feb. 2017). Sebuah studi tahun 2013 menemukan bahwa “membanjiri sosial media anda dengan terlalu banyak foto diri, ternyata dapat menjauhkan teman-teman anda” dan membuat orang merasa kurang intim dengan sang penggemar selfie (“How Your Friends Really Feel about Your Selfies,” Women’s Health, 30 Agus. 2013).

Desain Radar Kelelawar yang Spesial

(Berita Mingguan GITS 25 Februari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 8 Februari 2017: “Jika anda bangun dan hari masih gelap, anda tahu betapa silaunya jika lampu tiba-tiba dinyalakan. Bisa jadi pada awalnya mata anda akan terasa sakit. Jika anda pernah mengalami hal ini, maka anda dapat memahami salah satu problem yang harus dipecahkan ketika radar sedang dikembangkan. Pada dasarnya, radar terdiri dari dua bagian. Bagian transmiter mengirimkan gelombang radar dengan kekuatan yang tinggi. Tetapi bagian yang satunya lagi dari sistem radar adalah receiver yang sensitif, yang tidak bisa tahan terhadap gelombang kuat yang dipancarkan keluar. Salah satu masalah teknis besar yang dipecahkan dalam pengembangan sistem radar modern adalah bagaimana mengirimkan sinyal yang kuat keluar ini tanpa meng-overload receiver yang sensitif. Apa yang akhirnya dikembangkan oleh pada ilmuwan adalah semacam saklar yang cepat yang mematikan receiver yang sensitif itu setiap kali gelombang radar dikirim keluar. Kelelawar, yang memiliki sistem radar sonik mereka sendiri, ternyata sudah menyelesaikan masalah ini dari awalnya. Mereka memiliki otot-otot di telinga mereka, dan telinga itu yang berfungsi sebagai receiver untuk menerima pantulan balik suara. Otot-otot ini menutup telinga itu untuk sepersekian detik ketika kelelawar sedang mengirimkan sinyal suara mereka yang berfrekuensi tinggi. Tanpa fitur ini, sistem navigasi kelelawar tidak akan ada gunanya. Bagaimanakah kelelawar dapat memikirkan bahwa ia memerlukan kemampuan ini, lalu mengembangkan otot dan jaringan yang diperlukan untuk fungsi ini? Ketika seseorang memutuskan bahwa adalah ciptaan, bukan sang Pencipta, yang menjadikan diri mereka sendiri, maka ia akan tiba pada kesimpulan-kesimpulan yang konyol sekali!”

Mantra Lacewing

(Berita Mingguan GITS 25 Februari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari CreationMoments.com, 17 Nov. 2014: “Hubungan antara larva binatang beaded lacewing (Editor: nama ilmiahnya Lomamyia latipennis, yaitu semacam serangga kecil yang bersayap) dengan rayap Kalifornia, menimbulkan masalah besar bagi orang-orang yang percaya bahwa tidak ada Pencipta. Larva lacewing akan masuk ke sarang rayap untuk dapat menyelesaikan siklus perkembangan mereka. Belakangan, mereka akan pergi dari sana sebagai lacewing dewas. Masalahnya adalah, rayap-rayap itu seringkali masih ada di rumah mereka ketika larva memasuki sarang. Rayap, yang berukuran 30 kali lebih besar dari larva itu, adalah ancaram yang serius bagi sang larva. Tetapi jika anda memperhatikannya, ketika larva itu masuk ke sarang, mereka akan menggoyangkan perut mereka ke rayap yang mau mendekatinya, dan rayap yang dibidik itu akan segera jatuh pingsan. Melalui penelitian lebih lanjut, para ilmuwan telah mengetahui bahwa larva yang kecil itu mengeluarkan semacam zat kimia yang secara total melumpuhkan rayap. Penelitian telah menunjukkan bahwa zat kimia itu hanya ampuh terhadap spesies rayap yang spesifik ini. Penjelasan evolusinya adalah bahwa selama jutaan tahun, larva lacewing mendekati segala macam sarang serangga, menggoyang-goyangkan perut mereka dengan semangat pada berbagai serangga itu – dan segara dimakan! Kita bertanya-tanya bagaimana larva ini bisa bertahan hidup sama sekali, dan mengapa proteksi kimiawi mereka pas sekali bekerja pada rayap yang membuat terowongan yang juga cocok sekali untuk pertumbuhan larva itu? Mempercayai bahwa sistem pertahanan lacewing ini muncul hanya karena kebetulan adalah iman yang buta. Ini bukan ilmu pengetahuan. Ini adalah lawan dari iman orang-orang yang percaya pada sang Pencipta!”