Gembala Sidang Sebuah Megachurch Mengatakan Yesus Bukan Satu-Satunya Jalan kepada Allah

(Berita Mingguan GITS 9 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Why Jesus Is No Longer the Only Way for Many American Christians,” Christian Post, 19 Mei 2018: “Kira-kira dua bulan lalu, ketika musim dingin memberikan salju terakhir di New York City, Michael A. Walrond Jr., dari Gereja First Corinthian Baptist Church di Harlem, dengan 10.000 anggota, melancarkan serangan ideologis terhadap kekristenan tradisional. Walrond, yang disebut sebagai ‘Salah Satu Prajurit Tuhan’ oleh majalah Newsweek, memberitahu jemaatnya bahwa kepercayaan bahwa siapapun yang tidak percaya Yesus akan masuk neraka, adalah hal yang ‘gila.’ … Orang mengambil banyak jalan menuju Allah, dia berargumen, sambil menekankan bahwa dia pribadi merayakan jalan-jalan yang dipakai orang-orang lain untuk menemukan Dia – bahkan jika jalan itu tidak melibatkan iman pada Yesus. ‘Dan kuncinya adalah anda percaya pada Allah. Dan apapun jalan anda menuju Allah, saya merayakan itu. Secara pribadi, saya merayakan itu,’ kata Walrond. Pesan dari pengkhotbah New York City tersebut mengundang kritik dari lingkaran Kristen tradisional. Uskup Robert E. Smith, Sr., pendiri dari Total Outreach for Christ Ministries, mengatakan, ‘Pengkhotbah dalam video ini adalah benar sekaligus salah: dia benar bahwa semua jalan memang memimpin kepada Allah; tetapi Allah ini adalah kasih sekaligus api yang menghanguskan. Jika anda bertemu Dia pada jalan kasih Kristus, anda akan hidup, tetapi jalan lain manaupun, baik itu agama, filosofi, atau suatu kesalahpahaman akan Pribadi Kristus, maka yang menunggu adalah lautan api!’ Sementara keterbukaan Walrond, sebagai seorang Kristen, pada ide bahwa ada banyak jalan kepada Allah di luar dari kekristenan, bisa jadi mengejutkan bagi sebagian orang, riset baru menunjukkan suatu pergeseran besar-besaran di antara orang-orang Kristen dari pengajaran tradisional Alkitab seperti Yesus sebagai satu-satunya jalan menuju Allah.” “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12).

Penelitian DNA Membuat Lobang Besar dalam Teori Darwin

(Berita Mingguan GITS 9 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “When your DNA research pokes holes in Darwin,” OneNewsNow.com, 31 Mei 2018: “Para peneliti mengumumkan bahwa mereka telah membuat suatu penemuan yang sangat penting dalam evolusi biologis dan penemuan ini dapat membawa ilmu pengetahuan selangkah lebih dekat kepada kebenaran Alkitab. Menurut para peneliti, yaitu dua orang ilmuwan, seorang dari Amerika dan seorang dari Swiss, penelitian mereka terhadap DNA menunjukkan bahwa 100.000 binatang muncul pertama kalinya pada waktu yang hampir bersamaan – bukan secara perlahan melalui jutaan tahun. Karena sepertinya menyadari betapa berbahayanya hasil penemuan ini terhadap model evolusi, salah satu ilmuwan itu secara publik menyatakan bahwa mereka ragu untuk menerbitkan hasil penemuan mereka. ‘Ada bahaya besar terhadap model evolusi dalam penelitian ini yang belum sepenuhnya mereka sadari,’ komentar Dr. Nathaniel Jeanson, seorang peneliti biologis bagi Answers in Genesis. Jeanson, yang memiliki gelar Ph.D. dalam bidang perkembangan sel dari Harvard, memberitahu OneNewsNow bahwa adalah benar pada peneliti itu menyimpulkan bahwa binatang dan manusia muncul di bumi ini pada waktu yang kira-kira sama. Penelitian yang sama, ujar dia, juga menemukan bahwa tidak ada spesies silang. Seekor robin bisa saja berevolusi menjadi robin yang lebih baik, contohnya, tetapi ia tidak bisa menjadi seekor kadal. Para peneliti ini tidak mengakui bahwa Kejadian 1:1 adalah benar, tentunya, dan artikel headline pada tanggal 28 Mei itu menyinggung tentang ‘aspek baru evolusi’ dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam sebuah jurnal berjudul Human Evolution. Tetapi artikel itu menggambarkan ‘hasil mengejutkan’ bahwa sembilan dari 10 spesies di bumi hari ini, termasuk manusia, ‘muncul’ sekitar 100.000 hingga 200.000 tahun lalu. … ‘Kesimpulan ini sungguh mengejutkan,’ kata salah satu peneliti tadi, ‘dan saya melawannya semampu saya.’”

Laporan Departemen Luar Negeri AS Memberi Gambaran Suram tentang Penganiayaan Agamawi di Korea Utara

(Berita Mingguan GITS 9 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Report: ‘Praying, Singing Hymns, and Reading the Bible’ Can Lead to Prison Camp,” CNSNews.com, 30 Mei 2018: “Beberapa minggu sebelum Presiden Trump dijadwalkan akan bertemu dengan Kim Jong Un, sebuah laporan Departemen Luar Negeri yang dikeluarkan hari Selasa, memberi gambaran suram berbagai penganiayaan agamawi yang dilakukan oleh rezim Stalinis tersebut – termasuk ‘eksekusi, penyiksaan, pemukulan, dan penangkapan’ orang-orang beriman. Laporan tersebut mengatakan bahwa sebagian dari hingga 120.000 orang Korea Utara yang ditahan di kamp-kamp penjara ‘dalam kondisi yang mengerikan’ berada dalam tahanan itu karena alasan agama. Laopran itu mengutip berbagai orang yang telah berhasil lari dari Korea Utara, dan berbagai organisasi internasional non-pemerintah, yang melaporkan bahwa ‘aktivitas agama apapun yang dilaksanakan di luar dari yang disetujui pemerintah, termasuk berdoa, menyanyikan himne, dan membaca Alkitab, dapat menyebabkan hukuman berat, termasuk pemenjaraan di kamp-kamp penjara politik.’ Sebuah NGO (Non-Governmental Organization) dari Korea Selatan telah mencatat 1.304 kasus pelanggaran kebebasan beragama yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Korea Utara selama tahun yang dimaksud, termasuk 119 pembunuhan dan 87 orang yang menghilang. Penangkapan menyumbang 770 insiden lainnya. …’Kira-kira 80.000 hingga 120.000 tahanan politik, sebagiannya karena dipenjara karena alasan agama, dipercaya sedang ditahan dalam sistem kamp penjara politik di tempat-tempat terpencil dengan kondisi yang mengerikan.’ Laporan itu mengutip suatu grup advokasi kebebasan beragama, Christian Solidarity Worldwide, yang mengatakan bahwa rezim itu sering menerapkan kebijakan ‘bersalah karena asosiasi,’ yang menargetkan bukan hanya orang-orang Kristen tetapi juga menahan keluarga mereka, tidak peduli apa yang mereka percayai. Pertemuan Trump-Kim yang dicanangkan di Singapura, berfokus pada krisis program senjata nuklir Korea dan isu-isu keamanan yang berputar sekitar ittu. Tetapi para aktivis mendorong sang presiden untuk juga memasukkan agenda hak asasi manusia juga. …Duta Departemen Luar Negeri untuk kebebasan beragama internasional, Sam Brownback, mengatakan, ‘Presiden memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi Korea Utara. Dia sangat peduli hal ini, seperti anda ketahui. Menteri Luar Negeri (Mike Pompeo) sangat terlibat dalam hal ini. Dan saya rasa mereka akan menyinggung semua hal-hal ini,’ katanya. …Brownback mengingat bahwa pada zaman waktu di masih di Senat – dia adalah senator Republikan dari Kansas periode 1996-2011 sebelum menjabat sebagai gubernur Kansas – dia memunculkan isu Korea Utara, ‘tetapi tidak ada seorang pun yang mau bertindak.’ ‘Nah, presiden ini sekarang sedang bertindak dan dia mau menyelesaikan isu ini, walaupun isu ini telah mengancam kita selama bertahun-tahun, jika bukan puluhan tahun.’”

Jalur Sutra Cina yang Baru

(Berita Mingguan GITS 2 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Cina telah mengalami perkembangan yang sulit digambarkan dalam beberapa puluh tahun terakhir, dan setiap tahun menghabiskan dana untuk infrastruktur lebih dari Amerika Serikat dan Eropa Barat digabung. Sebagai contoh, 10 tahun lalu, Cina tidak memiliki kereta api kecepatan tinggi, tetapi hari ini Cina memiliki sistem kereta api cepat yang terbesar dan tercepat di dunia. Faktanya, ia memiliki lebih banyak kereta api kecepatan tinggi (12.000 mil) dari sisa dunia lainnya digabungkan, dan sedang bergerak menuju target 24.000 mil pada tahun 2025. Kereta-kereta listrik, dengan kecepatan hingga 350 mph, memiliki berbagai pelayanan di dalamnya. Kereta-kereta ini, dan sistem jalan-jalan layang baru dengan nilai milyaran dolar, menyambungkan kota-kota raksasa Cina yang berjauhan, banyak di antaranya yang baru belum berapa tahun ini berkembang. Cina bermaksud untuk menyambungkan sistem transportasi nasionalnya yang baru dengan lima sistem kereta api internasional yang akan meniru Jalur Sutra di masa dulu (yang diseubt Belt and Road). Sentral keretanya yang baru di Khorgos, Cina barat, dekat Kazakhstan, yang bernilai 2 milyar dolar, sudah menyambung ke kota-kota di Eropa barat, hingga sejauh London. Tempat ini dicanangkan untuk menjadi kota pelabuhan darat terbesat di dunia. Sistem jalan layang lainnya dimaksudkan untuk bersambung ke Eropa melalui rute selatan, menyeberangi India dan Timur Tengah. Dan ada lagi yang lain yang dicanangkan melalui daerah utara, lewat Rusia dan menyeberangi Selat Bering ke Alaska, melalui terowongan bawah laut terpanjang dunia, dan lalu bersambung ke Kanada dan Amerika Serikat. Cina juga sedang merenovasi rute-rute dagang lautnya, termasuk investasi raksasa di sebuah pelabuhan laut dalam, berukuran 10,5 mil persegi, 19 mil lepas laut dari pantai Shanghai. Walaupun baru beberapa tahun lamanya, dan kebanyakan adalah hasil reklamasi dari laut (dengan 460 milyar kubit kaki lumpur diangkat dari dasar laut), Yangshan telah menjadi pelabuhan kontainer tersibuk di dunia, dan sedang dipersiapkan untuk beroperasi secara otonom dengan intelijensi artifisial (AI). Dari sudut pandang Alkitab dan nubuat, apa arti semua ini? Kontrol yang dilakukan pemerintah Cina, dikombinasikan dengan teknologi yang invasif secara sosial, dan antagonisme terhadap kekristenan, adalah persiapan dan sedikit cicipan akan kerajaan Antikristus nantinya. Juga, sistem transportasi Cina yang baru, tidak diragukan akan memfasilitasi pergerakan pasukan pada masa Tribulasi nanti. Para pemimpin Cina memiliki rencana-rencana jangka panjang untuk mengendalikan perdagangan dunia, tetapi waktunya pendek, dan seperti Israel, mereka tanpa sadar sedang mempersiapkan penggenapan nubuat Alkitab dan bangkitnya Manusia Durhaka. “Dan malaikat yang keenam menumpahkan cawannya ke atas sungai yang besar, sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur” (Wah. 16:12). (Fakta-fakta dalam artikel ini diambil dari dokumentari Future China 2049 – China on the Move.)

Irlandia Memutuskan untuk Menghilangkan Pelarangan Aborsi

(Berita Mingguan GITS 2 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah referendum, pada pemilih di Irlandia berhasil mengugurkan larangan konstitusional terhadap aborsi, dengan kemenangan mayoritas yang tinggi. Enam puluh enam persen menyetujui pencabutan larangan tersebut. Perdana Menteri Leo Varadkar mengatakan, “Rakyat telah berbicara. Rakyat telah mengatakan bahwa kami menginginkan suatu konstitusi (undang-undang dasar) yang modern untuk suatu negara yang modern, bahwa kami mempercayai wanita dan kami menghargai mereka untuk membuat keputusan yang benar dan pilihan-pilihan yang benar tentang kesehatan mereka” (“Big Win for Abortion Rights in Ireland,” Newsmax, 26 Mei 2018). Faktanya, aborsi bukanlah sekedar suatu masalah “kesehatan.” Dalam kebanyakan kasus, aborsi adalah mengenai kehidupan bayi, bukan kesehatan ibu. Zaman “people’s power” ini telah dinubuatkan dalam Kitab Suci, ketika bangsa-bangsa akan menggoyangkan tinju mereka di hadapan Allah dan KristusNya, dan menyerukan agar “tali-tali” hukumNya yang kudus dihilangkan dari hidup mereka. Allah akan tertawa pada akhirnya ketika Ia menempatkan KristusNya pada takhta dunia ini. “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’ Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya: ‘Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!’ … Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!” (Maz. 2:1-6, 10-12).

Darah Hijau, Darah Biru, Darah Jernih, Darah Kuning, Darah Ungu

(Berita Mingguan GITS 2 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sang Pencipta yang Mahabesar telah membuat berbagai macam ragam makhluk hidup dengan berbagai sistem kehidupan agar cocok dengan tujuan ilahi dan lingkungan mereka. Kebanyakan binatang yang memiliki tulang akan memiliki sel-sel DARAH MERAH yang terdiri dari hemoglobin, suatu bio-molekul yang mengandung zat besi (Fe) yang dapat mengikat oksigen, dan yang memberikan darah warna merahnya. Sel-sel ini seperti kantong-kantong hemoglobin yang kecil. Sel-sel baru diproduksi di sumsum tulang dengan laju sekitar 2,4 juta sel per detik! Mereka akan bersirkulasi di seluruh tubuh sekitar sekali per menit, selama 100-120 hari, melakukan pekerjaan mereka yang luar biasa dan memungkinkan kehidupan, yaitu mengangkut oksigen dari paru-paru. Setelah sel-sel darah ini menjadi tua, komponen mereka akan didaur ulang secara efisien. Sel darah merah didesain dengan bentuk yang sempurna untuk dapat menyelip melewati kapiler-kapiler kecil dalam tubuh.

Kepiting horseshoe, beberapa moluska, gurita, dan cumi, memiliki DARAH BIRU, karena darah mereka menggunakan protein yang berbeda, yaitu hemocyanin, untuk mengikat oksigen. Hemocyanin ini menggunakan sebuah atom tembaga/copper (Cu), bukan besi, untuk proses ini, dan ini menyebabkan darah mereka menjadi biru ketika ter-oksigenisasi. Skink prasinohaema, suatu kadal di New Guinea, memiliki DARAH HIJAU. Warna hijau berasal dari suatu racun bernama biliverdin, yang adalah produk sampingan dari daur ulang sel-sel darah merah. Jadi, biliverdin juga eksis dalam tubuh manusia, tetapi organ hati akan menyaringnya keluar. Pada pasien gagal hati, jumlah biliverdin yang sangat sedikit saja sudah akan menimbulkan sakit kuning. Jumlah biliverdin dalam kadal-kadal New Guinea itu adalah fatal bagi manusia, tetapi kadal-kadal kecil tersebut justru nyaman dengan darah hijau yang beracun. Ikan bercorak mata memiliki DARAH JERNIH. Ikan kecil yang aneh ini, yang tidak memiliki sisik, hidup di kedalaman satu kilometer di lautan dingin lepas Antartika. Ilmuwan tidak tahu bagaimana ikan ini bisa bertahan hidup tanpa hemoglobin, tetapi mereka berspekulasi bahwa “jantungnya yang lebih besar dari biasanya, membantu oksigen bergerak di tubuhnya menggunakan plasma darah, bukan hemoglobin” (“Why Does This Fish Have Gin-Clear Blood?” Live Science, 5 Apr. 2013). Banyak serangga memiliki DARAH KUNING. Darah membawa nutrien dan hormon-hormon ke sel-sel mereka, tetapi tidak mengangkut oksigen dan tidak memerlukan hemoglobin. Oksigen ditransportasi langsung oleh suatu sistem tuba dari udara luar ke sel-sel. Warna kuning (atau hijau) pada darah serangga, berasal dari pigmen tanaman yang mereka makan (“Why Is Insect Blood Green or Yellow?” 30 Mei 2013, IndianaPublicMedia.org). Dalam pepancut laut dan teripang, darah kuning disebabkan oleh konsentrasi zat kimia vanabin. Pepancut laut dan brachiopoda dan beberapa jenis cacing laut memiliki DARAH UNGU karena protein hemerytherin, yang mengangkut oksigen, sebagai ganti hemoglobin. Karena kulit tembus pandang yang dimiliki cacing peanut, darah ungu ini dapat dilihat tanpa membelek kulitnya. Sementara para ilmuwan evolusionis dengan sia-sia mencoba memikirkan bagaimana semua hal ini berevolusi, orang yang percaya Alkitab melihat karya dari Allah Mahakuasa.

Matt Maher Menyembah Kristus di dalam Wafer Misa

(Berita Mingguan GITS 26 Mei 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Matt Maher, salah satu dari musisi Kristen kontemporer yang paling berpengaruh, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia menyembah Kristus di dalam wafer yang dikuduskan dalam misa Katolik. Dia berkata, “Saya memimpin sebuah pembelajaran Alkitab mahasiswa. Ini dari Gereja Katolik, yang mengejutkan banyak orang. Sukacita yang saya sungguh rasakan, sebagai bagian dari pelayanan saya, adalah bahwa saya telah lebih banyak keluar dan berperjalanan dan bekerja dengan orang-orang yang berbeda dan meruntuhkan stereotip-stereotip, karena orang memiliki banyak stereotip mengenai Katolik. …Saya melakukan misa setiap Minggu malam jam 6 PM di gereja saya, Saint Tims, dan pada Selasa malam kami melakukan hal yang kami sebut XLT. Pada dasarnya itu adalah semacam perkumpulan anak-anak SMA dan kuliah. Acara ini konsisten dengan sekitar 40 menit penyembahan, 20 sampai 25 menit pengajaran, dan sekitar 25 hingga 30 menit pemujaan Sakramen kudus” (“Matt Maher Interview” Kim Jones, 6 Mar. 2017, Thoughtco.com).

Pemujaan sakramen kudus mengacu kepada penyembahan terhadap wafer roti yang dikuduskan sebagai Yesus Kristus. Konsili Vatikan II mendeklarasikan, “Dalam sakramen ini, Kristus hadir dalam cara yang unik, secara keseluruhan dan sepenuhnya, Allah dan manusia, secara substansial dan permanen” (Vatican II, The Constitution on the Sacred Liturgy, Instruction on the Worship of the Eucharistic Mystery, Chap. 1, E, hal. 114). Selama perjalanan ke Kanada pada bulan November 1998, saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi sebuah biara tertutup di Montreal. Seorang teman gembala sidang mengundang saya untuk menjumpai saudari neneknya, yang telah menjadi suster Katolik selama 60 tahun. Dia berusia 80 tahun, dan telah menghabiskan kebanyakan hidupnya dalam biara ini. Dia bisa bercakap-cakap dengan kami hanya dari balik jeruji besi. Bahkan ada jeruji-jeruji yang merintangi salah satu bagian kapel biara tersebut, yang memisahkan para suster dari publik. Para suster berdoa di dalam kapel itu secara bergiliran sepanjang waktu. Ketika anda memasuki kapel itu, ada sebuah tanda yang berbunyi, “Anda sekarang masuk untuk memuja hosti-Yesus.” Perhatikan bagaimana para suster menarik hubungan langsung antara Yesus dengan hosti Katolik. Hosti adalah wafer yang dikuduskan dalam misa. Menurut theologi Katolik, seperti yang kita telah lihat, wafer tersebut, ketika diberkati oleh sang imam, menjadi tubuh dan darah literal dari Yesus. Setelah misa, hosti akan diletakkan di dalam sebuah kotak kecil yang disebut suatu kemah, dan orang akan menyembahnya dan berdoa padanya seolah-olah wafer itu adalah Yesus sendiri. Ini yang disebut “memuja sakramen kudus.” Misa Katolik adalah suatu kesesatan dan persekutuan dengan roh-roh jahat. Matt Maher, yang bersekutu dengan roh-roh jahat yang menyamar sebagai malaikat-malaikat terang ( 2 Korintus 11), ada dalam persekutuan pelayanan dengan berbagai musisi kontemporer yang populer, seperti Keith dan Kristyn Getty, Stuart Townsend, Michael W. Smith, Third Day, Chris Tomlin, Jars of Clay, Matt Redman, dan Bill Gaither. Istri Maher adalah seorang Methodis, dan mereka sedang membesarkan putra mereka “dalam gereja Katolik,” sementara juga membawa dia ke kebaktian-kebaktian Metodis “supaya dia bisa merasakan kedua tradisi” (“Charismatic Catholic Rocker Finds Crossover Appeal with Evangelicals,” Charisma, 20 Mei 2013). Umat Allah perlu memahami bahwa asosiasi dengan musik Kristen kontemporer adalah jembatan menuju gereja-esa-sedunia dan pengajaran setan-setan.

Beberapa Rahasia dari Migrasi Kupu-Kupu

(Berita Mingguan GITS 26 Mei 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Para ilmuwan mulai mempelajari beberapa rahasia biologis yang memungkinkan terjadinya migrasi. Mereka telah menemukan bahwa kupu-kupu menggunakan kombinasi dari kompas matahari, petunjuk-petunjuk dari terang cakrawala, sebuah jam sirkadian, dan sensor magnetik untuk mempertahankan arah mereka (‘Brain GPS Illuminated in Migratory Monarch,’ Science Daily, 27 Jan. 2011; ‘Monarch Butterflies Reveal a Novel Way in Which Animals Sense Earth’s Magnetic Field,’ Science Daily, 27 Jan. 2010). Para ilmuwan juga menemukan bahwa antena kupu-kupu berperan penting dalam migrasi (‘Migrating Monarch Butterflies Nose Their Way to Mexico,’ Science Daily, 24 Sept. 2009). Laporan-laporan seperti ini terkadang membanggakan diri bahwa migrasi kupu-kupu monarch kini telah ‘terpecahkan,’ tetapi jelas itu omong kosong. Pertama, hanya hal-hal yang paling mendasar dari migrasi yang saat ini telah dipahami. Lebih lanjut lagi, memahami hal-hal mendasar biologis dari migrasi sama sekali tidak dapat menjelaskan hal-hal yang sangat ajaib, misalnya bagaimana suatu mekanisme yang sangat kompleks dapat berevolusi atau bagaimana ia bisa terbentuk melalui proses metamorfosis atau bagaimana suatu serangga dapat tahu di mana ia tepatnya berada di muka bumi dalam suatu perjalanan migrasi (misal, generasi-generasi yang ditelurkan dalam pertengahan proses migrasi) dan ke mana ia perlu pergi dari sana. William Pelletier, Ph.D., mengobservasi, ‘Bayangkan anda menemukan sebuah unit GPS kecil yang dapat bernavigasi 3.000 mil pada suatu destinasi dengan akurasi sampai sepuluh kaki. Akankah anda percaya jika seseorang mengklaim bahwa sistem ini terjadi dengan sendirinya melalui perubahan-perubahan acak selama jutaan tahun? Bagaimana jika GPS ini ditemukan, bukan di tepi jalan, tetapi di dalam otak kupu-kupu monarch yang hanya sebesar kepala jarum? Apakah tempat unit ini ditemukan, baik itu di jalan ataupun di otak kupu-kupu, mengubah kesimpulan jelas bahwa instrumen demikian pastilah didesain oleh suatu intelijensi super?’(William Pelletier, Ph.D., ‘Insect GPS,’ Bible-Science Guy, 1 Jan. 2010).”

Kedutaan AS Dibuka di Yerusalem

(Berita Mingguan GITS 19 Mei 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Pada tanggal 14 Mei, Kedutaan AS secara resmi dibuka di Yerusalem, menggenapi pernyataan Presiden Donald Trump pada Desember 2017, yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Acara pembukaan, yang dilaksanakan pada hari yang tepat 70 tahun setelah Presiden Harry Truman mengakui negara Israel yang baru pada tahun 1948, dihadiri oleh anak putri Trump, Ivanka, dan suaminya Jared Kushner, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, dan beberapa anggota Kongres AS. Ivanka berkata, “Mewakili presiden ke-45 Amerika Serikat, kami secara resmi menyambut kalian untuk pertama kalinya ke kedutaan Amerika Serika, di sini di Yerusalem, ibukota Israel.” Melalui sebuah presentasi video, Presiden Trump mengatakan, “Israel adalah sebuah negara berdaulat yang memiliki hak-hak, seperti negara-negara berdaulat lainnya, untuk menentukan ibukotanya sendiri. Namun untuk banyak tahun kita telah gagal untuk mengakui hal yang sudah jelas, realita yang terang, bahwa ibukota Israel adalah Yerusalem.” Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan, “Betapa hari yang agung. Ingatlah momen ini. Ini adalah sejarah. Presiden Trump, dengan anda mengakui sejarah, anda telah membuat sejarah.” Kedutaan tersebut saat ini sedang berlokasi di bangunan yang selama ini dipakai untuk pelayanan konsulat. Sebuah lapangan dekat kedutaan AS telah diberi nama Lapangan Amerika Serikat oleh Walikota Yerusalem, Nir Barkat. Dia mengatakan, “Ini caranya Yerusalem membalas kasih sang presiden dan rakyat Amerika Serikat yang berdiri bersama negara Israel. Presiden Trump memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota negara Yahudi, berdiri pada sisi kebenaran sejarah, dan melakukan hal yang benar” (“Square Near U.S. Embassy,” The Jerusalem Post, 10 Mei 2018).

Kembalinya Israel ke tanah mereka sekarang adalah penggenapan bagian pertama nubuat tentang tulang belulang kering dalam Yehezkiel 37, yang menggambarkan “kebangkitan” Israel di antara bangsa-bangsa dalam dua tahapan. Pertama, dia akan dibangkitkan dalam kondisi yang masih mati rohani, lalu dia akan bertobat (Yeh. 37:7-10). Israel sudah kembali ke tanah untuk membangun Bait Ketiga dan untuk membuat perjanjian dengan Antikristus sebagai penggenapan dari nubuat tentang minggu ke-70 dalam Daniel (Dan. 9:27). Ketika saya ada di Israel, saya merasa seolah seluruh tempat itu bergetar dalam antisipasi akan hal-hal ini, tetapi kendali atas waktu dan saat ada di tangan Tuhan, dan 2 Petrus 3:9 mengatakan bahwa Dia menunggu keselamatan jiwa-jiwa. “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali” (2 Tes. 2:7-8).

Gereja Episkopal Menghilangkan “Suami dan Istri” dari Liturgi Pernikahan

(Berita Mingguan GITS 19 Mei 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Episkopal di Amerika Serikat, yang adalah gereja ultra-liberal, berencana untuk menghilangkan istilah-istilah yang dianggap menyakiti kaum homoseksual dari liturgi pernikahan mereka. Kata-kata “persatuan suami dan istri” akan diganti dengan “persatuan dua orang” dan istilah “untuk melahirkan anak-anak” akan diganti dengan “kasih karunia anak-anak” (yang merefleksikan adopsi anak oleh pasangan sama jenis). Gereja Episkopal, yang adalah bagian dari Komuni Anglikan seluruh dunia, telah berjalan di jalur ini untuk waktu yang lama. Denominasi ini tidak pernah menjadi gereja Perjanjian Baru menurut pemahaman dan standar Perjanjian Baru, dan mereka semakin dibanjiri oleh liberalisme theologis sejak awal abad 20. Pada tahun 1960, Uskup Episkopal, James Pike, mengatakan bahwa doktrin Tritunggal adalah doktrin yang “kuno, tidak dapat dipahami, dan tidak esensial” (The Christian Century, 21 Des. 1960). Setelah tuduhan kesesatan dilayangkan pada Pike pada tahun 1967, Gereja Episkopal membuat suatu resolusi yang menyatakan semua kesesatan itu sudah ketinggalan zaman. Pada tahun 1976, John Spong, ditahbiskan sebagai uskup dari wilayah Episkopal di Newark, New Jersey, walaupun dia menyangkali hampir semua doktrin iman Kristiani. Pada tahun 1985, Jesus Seminar didirikan dengan dukungan kuat dari kaum Episkopal, termasuk Marcus Borg dari Oregon State University. Seminar ini secara jahat mengklaim bahwa Yesus hanya mengucapkan sekitar 20% dari hal-hal yang dituliskan seolah dari mulut Yesus dalam Perjanjian Baru, dan bahwa Yesus yang digambarkan dalam Alkitab, secara garis besar adalah fiksi. Pada tahun 1993, sebuah survei terhadap hampir 20.000 anggota Episkopal, menunjukkan bahw tujuh puluh persen percaya “orang-orang Kristen yang setia bisa secara seksual aktif sebagai gay dan lesbian” (Christian News, 1 Nov. 1993). Tujuh puluh lima persen setuju hidup bersama lawan jenis tanpa pernikahan. Dalam bukunya, Rescuing the Bible from Fundamentalism, tahun 1991, Spong mengatakan bahwa Rasul Paulus adalah “seorang homoseksual yang ter-represi yang membenci dirinya sendiri.” Pada tahun 1998, Spong mengatakan, “Saya akan memilih untuk membenci, bukan menyembah, allah yang menuntut pengorbanan putranya” (Christianity Today, 15 Juni 1998). Pada April 2003, uskup Episkopal, Charles Bennison, mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah seorang berdosa (Worthy News, 14 April 2003). Dua bulan setelah itu, Wilayah Keuskupan New Hampshire memilih uskup pertama dalam sejarah Gereja Episkopal yang secara terbuka adalah homoseksual (V. Gene Robinson). Pada Juni 2006, sidang nasional Gereja Episkopal di Amerika Serikat, mayoritas besarnya melakukan voting untuk melawan sebuah resolusi yang berbunyi, “suatu komitmen yang tak berubah kepada Yesus Kristus sebagai anak Allah, satu-satunya nama yang olehnya manusia dapat diselamatkan.” Dalam khotbah-khotbah pertamanya setelah dipilih menjadi uskup yang menjabat di Gereja Episkopal, tahun 2006, Katharine Jefferts Schori menyebut “ibu kita Yesus.”