Penganiayaan Kaisar Valerian (253-260 M)

Penganiayaan ini dimulai pada bulan keempat pada tahun 257 M dan berlangsung se1ama tiga setengah tahun. Jumlah martir dan tingkat penyiksaannya sarna seperti penganiayaan sebelumnya. Kita tidak dapat menceritakan semua kisah mereka, jadi kita memilih beberapa orang untuk mewakili yang lainnya.

Rufina dan Secunda, anak-anak perempuan yang cantik dan berpendidikan tinggi dari seorang yang terkenal di Roma, bertunangan dengan dua orang laki-laki yang kaya, Armentarius dan Verinus. Keempat orang itu semuanya mengaku Kristen. N amun, ketika penganiayaan dimulai dan kedua laki-laki muda itu menyadari bahaya bahwa mereka akan kehilangan uang mereka, mereka menyangkal iman mereka, dan berusaha membujuk perempuan-perempuan muda itu untuk me1akukan hal yang sarna. Oleh karena mereka tidak mau, laki-laki itu memberikan informasi yang menentang mereka, dan mereka ditangkap karena menjadi orang Kristen dan dibawa ke depan gubernur Roma, Junius Donatus, dan dijatuhi hukuman dengan cara dipancung. Penilik gereja di Roma, Stephen, juga dipancung.

Pada waktu yang sama, di Toulouse, yang merupakan bagian dari Gaul Romawi, Saturninus, penilik gereja yang saleh, menolak untuk mempersembahkan kurban kepada berhala di kuil mereka ketika ia diperintahkan untuk me1akukannya. la dibawa ke puncak tangga kuil dan diikat kakinya pada ekor sapi jantan yang buas. Binatang itu kemudian didorong ke bawah dari tangga kuil itu dengan menyeret Saturninus di be1akangnya. Pada saat mereka sampai di tangga dasar, kepala orang yang saleh itu terbe1ah lalu ia mati.

Di Roma, Sixtus menggantikan Stephen sebagai penilik gereja, tetapi masa jabatannya hanya singkat. Pada tahun 258 M, setahun setelah Stephen menjadi martir, Marcianus, gubernur Roma, mendapatkan perintah dari Kaisar Valerian yang memberi wewenang kepadanya untuk membunuh semua imam di Roma. Sixtus lalu keenam diakennya segera dibunuh.

Di gereja di Roma juga ada seorang laki-laki saleh bernama Lawrence, yang adalah pe1ayan Injil, dan bertanggung jawab untuk membagikan barang-barang gereja (lihat Kisah Para Rasul 6:3). Marcianus dengan tamak menuntut agar Lawrence memberi tahu tempat kekayaan gereja disembunyikan. Ia berpikir bahwa ia bisa meramp as barang-barang itu untuk dirinya sendiri. Lawrence meminta waktu tiga hari untuk mengumpulkan kekayaan itu lalu menyerahkannya kepada gubernur.

Ketika hari ketiga tiba, Marcianus menuntut agar Lawrence menepati janjinya. Lawrence merentangkan tangannya pada beberapa orang Kristen yang miskin yang te1ah ia kumpulkan di tempat itu bersamanya lalu berkata, “lnilah kekayaan gereja yang paling berharga. Mereka adalah hart a benda tempat iman kepada Kristus memerintah, temp at Kristus memiliki tempat kediamanNya. Perhiasan apakah yang dimiliki gereja yang lebih berharga daripada orang-orang tempat Kristus berjanji untuk mendiaminya?”

Ketika mendengarnya, Marcianus sangat marah dan menjadi setengah gila karena pengaruh lblis. la berteriak dalam kemarahannya: “Nyalakan api, jangan sisakan kayunya! Penjahat ini telah berusaha menipu Kaisar. Singkirkan ia, singkirkan ia! Cambuk ia dengan cemeti, sentak ia dengan kaitan, pukul ia dengan kepalan tangan, pukul ia dengan pentung. Apakah pengkhianat bergurau dengan Kaisar? Jepit ia dengan tang yang kuat, tempe1kan batang logam yang menyala ke tubuhnya. Keluarkan rantai yang paling kuat, garpu api, dan tempat tidur berparut. Taruh temp at tidur itu dalam api; dan ketika sudah menyala merah, ikat tangan dan kaki pengkhianat itu, lalu panggang ia, bakar ia, ayunkan ia, bolak-balik ia. Siksa ia dengan cara apa pun yang bisa kamu pikirkan atau kamu sendiri akan disiksa.”

Sebe1um ia selesai berteriak-teriak, siksaan itu segera dimulai. Sete1ah mengalami banyak siksaan yang kejam, hamba Kristus yang rendah hati itu mulai dibaringkan di temp at tidur yang menyala. Namun, karena pemeliharaan Allah, tempat tidur itu teras a seperti bulu-bulu yang lembut dan Lawrence yang saleh terbaring di sana lalu mati seolah-olah sedang beristirahat dengan pulas.

Di Afrika, penganiayaan yang sangat hebat mulai berkobar. Ribuan orang menjadi martir bagi Kristus. Sekali lagi, kita hanya bisa mengisahkan beberapa cerita saja dari mereka.

Di Utica, tepat di barat daya Kartago, gubernur provinsi memerintahkan agar 300 orang Kristen ditempatkan di sekeliling pinggiran lubang pembakaran kapur yang sedang menyala. Sepanci batu arang dan dupa untuk menyembah berhala disiapkan lalu orang-orang Kristen diberi tahu bahwa mereka harus memilih: memberikan persembahan kepada dewa Jupiter atau dilemparkan ke dalam lubang. Semua menolak kemudian bersama-sama melompat ke dalam lubang yang membuat napas mereka tercekik, terbakar dalam asap, dan nyala api yang mengerikan.

Tidak jauh dari sana, tiga orang perawan Kristen, Maxima, Donatilla, dan Secunda, dijatuhi hukuman karena menolak untuk menyangkal Kristus. Mereka diberi empedu dan cuka untuk diminum, mungkin untuk meringankan penderitaan mereka, atau untuk meniru Yesus (lihat Matius 27:34). Mereka kemudian dicambuk dengan kejam dan luka-lukanya digosok dengan jeruk limau. Setelah itu mereka digantung dan disiksa di gantungan lalu dihanguskan dengan batang logam menyala, dicabik-cabik oleh binatang buas dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Di Spanyol, Fructuosus, penilik gereja di Tarragona dan dua diakennya, Augurius dan Eulogius, dijadikan martir dalam kobaran api.

Di Palestina, Alexander, Malchus, Priscus, dan seorang perempuan yang tidak diketahui namanya dihukum dengan cara diumpankan kepada singa-singa sete1ah dinyatakan di depan umum bahwa mereka adalah orang Kristen. Hukuman mereka dilaksanakan segera.

Pada tahun 260 M, anak Valerian, Gallienus, menggantikannya. Selama pemerintahan Gallienus gereja terbebas dari penganiayaan secara umum selama beberapa tahun.

Penganiayaan Kaisar Decius (249-251 M)

Penganiayaan ini dimulai oleh Decius karena kebenciannya kepada pendahulunya Philip, yang dipercaya adalah seorang Kristen, dan oleh kemarahannya karena kekristenan berkembang dengan sangat cepat dan dewa-dewa kafir mulai ditinggalkan. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menyingkirkan agama Kristen beserta semua pengikutnya. Penduduk Roma yang kafir sangat antusias untuk mendukung keputusan Decius dan memandang bahwa pembunuhan orang-orang Kristen akan bermanfaat bagi kekaisaran. Se1ama penganiayaan ini,jumlah para martir begitu banyak sehingga tidak bisa dicatat oleh seorang pun juga. Di bawah ini ada beberapa nama mereka.

St. Chrysostomus, bapa gereja Kenstantinope1 pada tahun 398, menulis bahwa Julian, seorang Sisilia, ditangkap karena menjadi orang Kristen, dimasukkan ke dalam tas kulit dengan beberapa ekor ular dan kalajengking kemudian dilemparkan ke dalam laut.

Seorang laki-laki muda, Peter, yang terkenal karena memiliki kualitas mental dan tubuh yang kuat, menolak untuk mempersembahkan kurban bagi Dewi Venus ketika ia disuruh melakukannya. Dalam pembelaannya, ia berkata, “Saya heran bahwa kamu mempersembahkan kurban kepada perempuan yang terkenal jahat, yang penyelewengannya dicatat dalam tulisan-tulisanmu sendiri dan yang kehidupannya dipenuhi dengan tindakan yang menyimpang, yang seharusnya dihukum oleh undang-undangmu. Tidak, saya akan mempersembahkan kurban puji-pujian dan doa yang berkenan kepada Allah.” Ketika gubernur Asia, Optimus, mendengar hal ini, ia rnemerintahkan agar Peter ditarik di atas roda sampai semua tulangnya patah kemudian dipancung.

Seorang Kristen yang lemah, Nichomachus, dibawa ke hadapan Optimus dan disuruh memberikan kurban kepada berhala kafir. Nichomachus menjawab, “Saya tidak bisa memberikan penghormatan yang seharusnya hanya saya berikan kepada Yang Mahatinggi, kepada roh-roh jahat.” Ia segera diletakkan di tempat penyiksaan dan setelah menderita siksaan sesaat, ia menyangkal imannya kepada Kristus. Segera setelah ia dilepaskan dari tempat penyiksaan, ia dikuasai kesakitan yang hebat, jatuh ke tanah, dan mati.

Ketika melihat hal yang tampaknya merupakan penghukuman yang mengerikan, Denisa, seorang gadis berusia 16 tahun yang berada di antara para penonton berseru, “Oh, orang berdoa yang malang, mengapa kamu membeli kelegaan yang hanya sesaat dengan membayar kekekalan yang menyedihkan!” Ketika Optimus mendengar ini, ia memanggilnya datang kepadanya. Dan ketika Denisa mengaku bahwa ia seorang Kristen, Optimus memerintahkan ia dipancung.

Andrew dan Paul, dua orang Kristen yang menjadi ternan Nichomachus, berpegang erat pada Kristus dan dirajam dengan batu sampai mati ketika mereka berseru kepada Penebus mereka yang diberkati.

Di Alexandria, Alexander dan Epimachus ditangkap karena mereka adalah orang Kristen. Ketika mereka mengaku bahwa mereka benar orang Kristen, mereka dipukuli dengan tongkat yang tebal, dicabik dengan pengait kemudian dibakar sampai mati. Pad a hari yang sama, empat martir perempuan dipancung kepalanya; nama mereka tidak dikenal.

Di Nice, Trypho, dan Respisius, laki-laki yang terkenal, orang Kristen, ditangkap, dan disiksa. Kaki mereka dipaku, mereka dicambuki dan diseret sepanjangjalan, dicabik dengan pengait dari besi, dibakar dengan obor kemudian dipancung.

Quintain, gubernur Sicily, bernafsu terhadap seorang perempuan dari Silisia, Agatha, yang terkenal karena kesalehannya maupun kecantikannya yang luar biasa. Ketika ia menolak semua rayuan Quintain, sang gubernur menyerahkan ia ke tangan perempuan yang jahat, Aphrodica, yang menjalankan temp at pelacuran. Namun, perempuan yang jahat ini tidak bisa menjadikan Agatha seorang pelacur supaya Quintain bisa memuaskan nafsunya dengannya. Ketika mendengar ini, nafsu Quintain berubah menjadi kemarahan dan ia memanggil Agatha ke hadapannya lalu menanyainya. Ketika ia mengaku bahwa ia adalah orang Kristen, Quintain memerintahkan agar ia dicambuki, dicabik dengan kaitan yang tajam lalu dibaringkan telanjang di at as kayu arang yang menyala yang dicampur dengan pecahan kaca. Agatha menanggung siksaan ini dengan keberanian yang luar bias a dan dikembalikan lagi ke penjara tempat ia meninggal karena luka -lukanya pada tanggal 5 Februari 251.

Lucius, gubernur Kreta, memerintahkan Cyril, penilik gereja di Gortyna yang berusia 84 tahun, agar ditangkap karena menolak untuk menaati keputusan Kaisar untuk melakukan pengurbanan kepada berhala. Ketika Cyril muncul ke hadapannya, Lucius menasihatinya untuk melakukan pengurbanan dan dengan begitu menyelamatkan dirinya sendiri dari kematian yang mengerikan. Orang yang saleh itu menjawab bahwa ia telah lama mengajar orang-orang lain jalan untuk mengalami hidup kekal dalam Kristus dan sekarang ia harus berdiri teguh demi jiwanya sendiri. Ia tidak menunjukkan rasa takut ketika Lucius memutuskan ia untuk dibakar di tiang dan menderita di tengah kuburan api dengan sukacita dan keberanian yang luar biasa.

Pada tahun 251 M, Kaisar Decius mendirikan kuil kafir di Efesus dan memerintahkan kepada semua orang di kota itu untuk memberikan kurban kepada berhala-berhala. Tujuh prajuritnya yang adalah orang Kristen menolak untuk me1akukannya dan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka adalah: Konstantinus, Dionysius, Joannes, Malchus, Martianus, Maximianus, dan Seraion. Decius mencoba memalingkan mereka dari iman mereka dengan menunjukkan kemurahan hati lalu memberi kesempatan kepada mereka sampai ia kembali dari ekspedisi untuk mengubah pikiran mereka. Se1ama kepergiannya ketujuh orang itu melarikan diri dan menyembunyikan diri di gua di bukit-bukit yang dekat dari situ. Namun, ketika Decius pulang, tempat persembunyian mereka ditemukan dan ia memerintahkan agar gua itu dimeteraikan sehingga mereka mati karena kehausan dan kelaparan.

Pada masa penganiayaan di bawah Decius itulah Origen yang berusia 64 tahun, filosof Kristen yang terkenal, yang ayahnya, Leonidus, menjadi martir selama penganiayaan kelima, ditangkap, dan dilemparkan ke dalam penjara yang buruk di Alexandria. Kakinya diikat dengan rantai dan dimasukkan ke dalam pasungan lalu kakinya direntangkan sejauh mungkin. Ia terus-menerus diancam dengan hukuman bakar dan disiksa dengan segala alat yang membuatnya tetap hidup dalam keadaan sekarat un¬tuk beberapa saat sebe1um mati.

Untungnya, pada waktu itu Decius mati dan penerusnya Gallus segera terlibat perang untuk memukul mundur penyerbuan Goth, pasukan Jerman dari utara. Hal ini untuk sementara menghentikan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dan Origen mendapatkan kebebasannya lalu pergi ke Tirus, serta tinggal di sana sampai ia mati lima tahun sesudahnya pada tahun 254 M.

“Jangan Masukkan Allah dalam Kotak”?

(Berita Mingguan GITS 12 Januari 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah wawancara video dengan The Gospel Coalition, J. D. Greear, Presiden dari Southern Baptist Convention (SBC, Konvensi Baptis Selatan) mengatakan bahwa Allah masih dapat berbicara dengan suara audibel kepada orang percaya hari ini, dan tidak terbatas pada berbicara melalui Kitab Suci (“Southern Baptist President,” BreakingChristianNews.com, 4 Jan. 2019). Greear mengatakan bahwa dia “tidak akan pernah menaruh Allah dalam sebuah kotak mengenai apa yang Ia bisa lakukan hari ini.” Ini adalah posisi Pantekosta sejak awal gerakan ini. “Jangan taruh Allah dalam kotak” selalu dimaksudkan untuk berarti bahwa Allah dapat melakukan segala jenis hal yang tidak kita jumpai dalam Alkitab, misalnya membuat orang berjatuhan, menempelkan mereka ke lantai seperti kena lem, membuat mereka berbicara ngaco ngalor-ngidul, tertawa histeris tiada henti, bergoncang-goncang dan kejang-kejang, mengaum seperti singa dan meringkik seperti keledai, dan berkeliaran seperti orang mabuk. “Jangan taruh Allah dalam kotak” telah selalu menjadi lagu tema bagi orang-orang yang tidak mau dibatasi oleh Kitab Suci. Mantan tokoh Pantekosta, Hughie Seaborn, berkomentar sebagai berikut: “Konvensi Baptis Selatan tidak lama lagi akan sepenuhnya kharismatik. Allah bisa melakukan apa saja yang Ia inginkan, tetapi Ia tidak akan menentang FirmanNya, dan FirmanNya dalam Ibrani 1:1-2 memberitahu kita bahwa, ‘pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi [yang menerima mimpi, penglihatan, dan suara-suara audibel], maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya [melalui hal yang sempurna itu, yaitu Firman Allah yang tertulis].’ Mimpi-mimpi, penglihatan-penglihatan, dan suara-suara audibel adalah subjektif dan penuh dengan penipuan yang berbahaya. Bagaimanakah kita bisa tahu dengan pasti siapa yang berbicara kepada kita, bahkan jika yang kita terima sama dengan Alkitab? Iblis banyak berbicara hal-hal yang benar, tetapi ia selalu memiliki agenda. Firman Allah yang tertulis adalah satu-satunya keamanan yang kita miliki di hari-hari terakhir yang berbahaya ini. J. D. Greear adalah seseorang yang berbahaya. Ketika mereka berkata bahwa mereka ‘tidak mau menaruh Allah dalam kotak mengenai apa yang Ia dapat lakukan hari ini,’ sebenarnya yang mereka katakan adalah mereka tidak mau Allah ‘menaruh mereka dalam kotak.’ Ini adalah isu sebenarnya dengan kelompok ini. Isu sebenarnya bukanlah ‘Jangan beritahu saya apa yang Allah bisa dan tidak bisa lakukan,’ tetapi adalah ‘Jangan beritahu saya apa yang saya bisa dan tidak bisa lakukan.’ Mereka tidak suka batasan-batasan yang diterapkan oleh Kitab Suci ke atas diri mereka.”

Baptis Selatan dan Kharismatikisme

(Berita Mingguan GITS 12 Januari 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Gerakan kharismatik telah menyebar di dalam Konvensi Baptis Selatan sejak akhir 1980an, dan kecepatan penyebarannya telah meningkat seiring dengan berlalunya dekade demi dekade. Pada April 1995, majalah Charisma melaporkan bahwa dua profesor di Southern Baptist Theological Seminary (William Hendricks dan Tim Webber), mendorong gereja-gereja untuk tidak takut akan gerakan kharismatik. Hendricks, direktur dari program doktoral di Southern tersebut, mengatakan, “Kita tidak seharusnya merasa diserang atau terancam oleh suatu pengalaman, perspektif, atau pemahaman alternatif tentang Roh Kudus,” dan memperingatkan bahwa jika anda melawan gerakan kharismatik, “anda bisa jadi melawan pengalaman yang sah dari Roh.” Pada bulan Maret 1999, sebuah laporan majalah Charisma berjudul “Menggoncang Tradisi Baptis Selatan” memberikan banyak contoh jemaat-jemaat Baptis Selatan yang kharismatik. Pada waktu itu, gembala-gembala Baptis Selatan seperti Jack Taylor, Ron Phillips, dan Gary Folds, menyambut kekacauan tidak alkitabiah yang terjadi di Gereja Toronto Airport di Ontario dan Sidang Jemaat Allah Brownsville di Pensacola, Florida. “Kebangkitan rohani” ini mengambil bentuk berbicara dengan suara-suara tidak jelas, jatuh ke lantai, berguling-guling di lantai, menggonggong seperti anjing, mengaum seperti singa, meringkik seperti keledai, kena setrum listrik, tergoncang-goncang, kejang-kejang, dan pengalaman-pengalaman aneh lainnya yang tidak memiliki dukungan Alkitab. Sejak saat itu, Konferensi Minyak dan Anggur Segar yang dibuat oleh Ron Phillips di Central Baptist Church di Hixon, Tennessee, telah mempromosikan kesesatan-kesesatan kharismatik. Salah satu pembicaranya adalah Rodney Howard-Browne, yang dijuluki “bartender Roh Kudus.” Gembala sidang Baptis Selatan, Dwain Miller, dari Second Baptist Church di El Dorado, Arkansas, bernubuat bahwa Allah akan memakai Phillips “untuk membawa pembaharuan kepada 41.000 gereja-gereja Baptis Selatan.” Phillips memberitahu koran Tennessean bahwa ia pertama kali mengalami berbahasa lidah ketika dia sedang tidur! Pada tahun 2008, Phillips menghitung sejumlah 500 gereja-gereja dalam jaringan kharismatiknya (“Charismatic Southern Baptist Churches,” Baptist Standard, 30 Okt. 2008). James Robison, yang pernah menjadi seorang penginjil Baptis Selatan yang berapi-api dan berkhotbah melawan liberalisme theologis dari sekolah-sekolah Baptis Selatan dan keduniawian dari gereja-gerejanya, mendapatkan pengalaman kharismatik pada tahun 1979 dan menjadi seorang ekumenis kharismatik yang bergandengan tangan dalam persekutuan dan pelayanan dengan orang-orang Roma Katolik yang “dibaptis Roh” dan memuji Paus Yohanes Paulus II sebagai “salah satu perwakilan moralitas yang terbaik di bumi ini.” Bill Sharples mengundurkan diri dari penggembalaan di sebuah gereja Baptis Selatan setelah menerima gerakan bahasa lidah, tetapi 25% dari pertemuan-pertemuan yang dia adakan tetap di gereja-gereja Baptis Selatan dan dia mengklaim bahwa 15 sampai 20 persen dari orang-orang Baptis Selatan yang dia temui, terbuka terhadap gerakan kharismatik. Pada November 2005, Badan Misi Asing Baptis Selatan, memungut suara untuk melarang para misionari mereka untuk berbicara dalam bahasa lidah, tetapi Jerry Rankin, kepala dari Badan tersebut, berkata bahwa ia telah berbicara dalam “bahasa doa pribadi” selama 30 tahun. Betapa kebingungan dan kekacauan yang mendalam! Berbicara dalam sebuah kebaktian chapel di Southwestern Baptist Theological Seminary pada tahun 2006, Gembala Dwight McKissic, seorang pengawas, memberitahu para mahasiswa bahwa ia berbahasa lidah dalam “kehidupan doa pribadinya” dan telah melakukan itu sejak tahun 1981, ketika ia seorang murid seminari (“Southwestern Trustee’s Sermon on Tongues Prompts Response,” Baptist Press, 30 Agus. 2006). Pada Mei 2015, Badan Misi International Baptis Selatan, membalikkan kebijakannya yang sebelumnya, dan kini menerima misionari yang berbahasa “lidah,” selama mereka tidak “mengganggu” (“FAQs on Missionary Appointment Qualifications,” IMB Policy 200-1, IMB.org). Salah satu jembatan utama dari gerakan kharismatik untuk masuk ke dalam gereja-gereja dan rumah-rumah Baptis Selatan adalah musik Kristen kontemporer. Buku Himne Baptis Selatan edisi 2008 mengandung banyak sekali lagu-lagu yang ditulis kaum kharismatik. Sekitar 75 dari 100 lagu kontemporer teratas, masuk di dalamnya. Lagu-lagu ini adalah jembatan langsung ke “gereja” esa sedunia. Saya tidak tahu ada satupun artis musik Kristen kontemporer yang prominen yang secara praktek menentang gerakan kharismatik dan ekumenisme, dan itu termasuk keluarga Getty. Karena Konvensi Baptis Selatan menolak untuk secara konsisten melawan kesalahan ini, maka seluruh adonan akan terus terkhamiri. Alkitab memperingatkan bahwa “sedikit ragi mengkhamirkan seluruh adonan.” Ini benar untuk dosa (1 Kor. 5:6), dan juga benar untuk doktrin yang salah (Gal. 5:9). Dan dalam beberapa tahun lagi, [karena banyak gereja Baptis Independen sekarang bermain-main dengan musik Kristen kontemporer] akan ada orang yang menulis tentang masuknya “bahasa lidah” dan fenomena kharismatik lainnya di antara kaum Baptis Independen.

Kapal Nuh yang Tidak Mungkin

(Berita Mingguan GITS 12 Januari 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 14 Des. 2018: “Menurut Alkitab, Bahtera Nuh berukuran panjang 150 meter, lebar 25 meter, dan tinggi 15 meter. Ia dibuat dari sejenis kayu yang disebut kayu gofir. Bisa jadi ini kayu laminasi [hasil manufaktur], tetapi yang jelas adalah kayu. Namun, para peragu mengklaim bahwa bahkan hari ini kapal-kapal kayu tidak bisa dibuat sebesar itu karena kayu tidak cukup kuat untuk menahan tekanan yang dihasilkan oleh struktur sebesar itu; mereka berkata bahwa hanya besi yang bisa menahan tekanan tersebut. Tentu saja, itu tidak benar. Para penulis kuno memberitahu kita tentang suatu pertempuran laut pada tahun 280 SM, dan di dalamnya ikut berpartisipasi kapal Leontifera. Mereka menggambarkan Leontifera dengan cukup mendetil. Mereka memberitahu kita bahwa kapal itu mengangkut 1.600 pendayung, dengan tambahan lagi 1.200 prajurit. Dari hal-hal ini dan detil-detil lainnya, Leontifera diperkirakan memiliki panjang antara 130 hingga 170 meter. Plutarch memberitahu kita tentang sebuah kapal lain yang dibuat sekitar tahun 294 SM, yang memiliki dua kali lebih banyak pendayung daripada Leontifera. Pada akhir abad ketiga SM, Ptolemy Philopator membuat sebuah kapal yang memerlukan 400 pelaut, ditambah 4.000 pendayung, untuk dapat dioperasikan. Dengan tambahan prajurit lagi di atasnya, kapal itu mengangkut 7.250 orang. Kapal perang ini berukuran 130 meter panjangnya, lebih lebar dari bahtera Nuh, dan kira-kira sama tingginya. Alkitab dapat dipercaya dalam segala yang diajarkan, bahkan ketika berbicara tentang fakta sejarah atau dunia alam yang dipelajari oleh limu pengetahuan. Ref: Creation, 6-8/00, hal. 46-48, ‘The Large Ships of Antiquity.’”

Penganiayaan Kaisar Marcus Clodius Pupienus Maximus (164-238 M)

Maximus seorang raja lalim yang memerintahkan semua orang Kristen diburu dan dibunuh. Begitu banyaknya orang yang dibunuh sehingga kadang-kadang mereka mengubur mayat orang-orang itu 50 atau 60 orang sekaligus dalam satu lubang besar.

Di antara mereka yang dibunuh adalah Pontianus, Uskup Roma, yang diasingkan ke Sardinia karena berkhotbah menentang penyembahan berhala dan dibunuh di sana. Penerusnya, Anteros, juga menjadi martir setelah menduduki jabatannya selama 40 hari saja karena mengusik pemerintah dengan mengumpulkan sejarah para martir. Senator Roma, Pammachius dan keluarganya serta 42 orang Kristen lainnya dipancung pada hari yang sama lalu kepala mereka dipertontonkan di pintu gerbang kota. Imam Kristen, Calepodius, diseret sepanjang jalan-jalan Roma kemudian dilemparkan ke dalam Sungai Tiber dengan digantungi batu yang diikatkan pada lehernya. Seorang perawan muda yang cantik juga berbudi halus bernama Martina dipancung dan Hippolitus, imam Kristen diikatkan pada kuda liar lalu diseret sepanjang jalan sampai ia mati.

Maximus meninggal pada 238 M dan digantikan oleh Gordian, yang kemudian digantikan oleh Philip. Se1ama kedua orang itu memerintah, gereja terbebas dari penganiayaan se1ama se1ang mas a 6-10 tahun. Namun, pada tahun 249 M penganiayaan yang hebat di Alexandria dikobarkan lagi oleh imam kafir tanpa sepengetahuan Kaisar. Se1ama penganiayaan itu, penatua Kristen, Metrus, dipukuli dengan pentung, ditusuk dengan jarum, dan dirajam dengan batu sampai mati karena menolak untuk menyembah berhala. Seorang perempuan Kristen, Quinta, dicambuki, kemudian diseret di atas batu-batu api dalam keadaan berdiri lalu dirajam dengan batu sampai mati. Seorang perempuan berusia 70 tahun, Appolonia, yang mengaku bahwa ia adalah orang Kristen, diikat pada tiang dan dibakar. Setelah api disiapkan, ia memohon untuk dibebaskan. Orang banyak menyangka bahwa ia akan menyangkal Kristus. Namun, mereka terkejut ketika ia me1emparkan dirinya sendiri ke dalam nyala api dan mati.

Penganiayaan Kaisar Lucius Septimus Severus (193-211 M)

Untuk masa yang singkat, Severus bersikap baik kepada orang-orang Kristen karena dikatakan bahwa ia te1ah disembuhkan dari sakit yang parah sete1ah dilayani oleh seorang Kristen, tetapi tidak lama kemudian prasangka dan kemarahan penduduk Romawi memuncak sehingga hukum kuno dihidupkan kembali dan digunakan untuk melawan orang-orang Kristen. Dan sekali lagi, mereka disalahkan serta dihukum atas setiap bencana alam yang terjadi.

Sekalipun penganiayaan berlangsung lagi, gereja dan Injil tetap berdiri teguh, pun menyala terang me1aluinya; dan Tuhan terus menambahkan jumlah anggota tubuh-Nya di seluruh kekaisaran Romawi. Tertullian, teo log dari Kartago yang bertobat menjadi Kristen pada tahun 193 M, berkata bahwa jika semua orang Kristen meninggalkan provinsi Romawi, kekaisaran itu hampir-hampir kosong.

Selama penganiayaan, Victor, Uskup Roma, menjadi martir pada tahun 201 M Leonidus, ayah Origen, filosof Kristen Yunani yang terkenal atas penafsirannya terhadap Perjanjian Lama, dipancung. Banyak pendengar Origen juga menjadi martir:

Plutarchus, Serenus, Heron, dan Herac1ides dipancung. Seorang wanita bernama Rhais dituangi aspal yang mendidih di atas kepalanya dan kemudian dibakar, seperti juga ibunya, Marcella. Saudaranya, Potainiena, mengalami nasib yang sama se perti yang dialaminya, tetapi se1ama penyiksaannya, Basilides, kepala pasukan yang diperintahkan untuk menyaksikan eksekusinya, bertobat pada Kristus. Tidak lama sesudahnya, ketika ia diminta untuk bersumpah pada berhala Romawi, ia menolak karena ia sudah menjadi Kristen. Pertama-tama orangorang yang bersamanya tidak percaya hal yang mereka dengar, tetapi ketika ia mengulangnya, ia diseret di depan hakim, dikutuk dan dipancung.

Irenaeus (130-202 M), bapa Gereja Yunani dan Uskup Lyons, dilahirkan di Yunani dan menerima pendidikan sekuler maupun Kristen. Dipercaya bahwa ia menulis kisah penganiayaan di Lyons. Ia dipancung pada202 M.

Sekarang penganiayaan berkembang ke Afrika Utara, yang merupakan satu di antara provinsi Romawi. Banyakorang menjadi martir di wilayah itu. Berikut beberapa orang di antaranya.

Perpetua, seorang wanita yang te1ah menikah yang masih menyusui bayinya; Felicitas, yang pada saat itu sedang hamil, dan Revocatus dari Kartago, seorang budak yang sedang diajar prinsip-prinsip kekristenan. Tahanan lainnya yang menderita pada saat yang sama adalah Saturninus, Secundulus, dan Satur. Ketiga orang terakhir ini disuruh berlari di antara dua baris laki-laki yang dengan kejam mencambuk mereka ketika mereka lewat.

Setelah muncul di depan prokonsul Minutius dan ia ditawari kebebasan jika ia mau mempersembahkan kurban kepada berhala, bayi Perpetua yang masih menyusu dirampas darinya dan ia dilemparkan ke dalam penjara. Saat menje1askan iman dan kehidupannya kepada ayahnya di penjara, ia memberi tahu ayahnya, “Lubang penjara ini bagi saya adalah istana.” Be1akangan ia dan tahanan 1ainnya muncul di depan hakim Hilarianus. Ia juga menawarkan untuk membebaskannya jika ia mau mempersembahkan kurban. Ayahnya berada di sana dengan bayinya dan memohon kepadanya untuk me¬lakukan pengurbanan. la menjawab, “Saya tidak akan memberikan kurban.”

“Apakah kamu seorang Kristen?” tanya Hilarianus.

“Saya seorang Kristen,”Perpetua menjawab.

Semua orang Kristen yang bersamanya berdiri teguh bagi Kristus dan mereka diperintahkan untuk dibunuh binatang buas untuk memberi hiburan bagi orang banyak pada hari libur kafir berikutnya. Laki-laki dicabik-cabik oleh singa-singa dan macan tutul serta orang perempuan diserang oleh sapi jantan.

Pada hari pelaksanaan hukuman, Perpetua dan Felicitas pertama-tama ditelanjangi lalu digantung di jala-jala, tetapi kemudian dilepaskan dan diberi pakaian lagi karena orang banyakkeberatan. Ketika kembali ke arena, Perpetua diseruduk ke sana kemari oleh sapi gila dan hampir jatuh pingsan, tetapi tidak terluka parah; namun Felicitas terluka parah terkena tanduk-tanduk sapi itu. Perpetua bergegas lari ke sisinya dan memegangnya sementara mereka menunggu sapi jantan itu menyerang mereka lagi, tetapi sapi itu menolak untuk me lakukannya dan mereka diseret keluar dari arena. Hal ini membuat orang banyak kecewa.

Setelah sesaat, mereka dimasukkan ke arena lagi dan dibunuh oleh gladiator. Felicitas terbunuh dengan cepat, tetapi gladiator muda dan belum berpengalaman yang ditugasi untuk membunuh Perpetua gemetar dengan hebat dan hanya bisa menikamnya dengan lemah beberapa kali. Melihat bagaimana ia gemetar, Perpetua memegang mata pedangnya lalu mengarahkan itu pada bagian vital tubuhnya.

Nasib orang laki-1aki juga sarna. Satur dan Revocatus dibunuh oleh binatang-binatang buas. Saturninus dipancung dan Secundu1us mati karena luka-lukanya di penjara.

Penganiayaan Kaisar Marcus Aurelius Antoninus (162-180 M)

Marcus Aurelius seorang filosof dan menulis Meditations, karya klasik stoikisme, yang bersikap acuh tak acuh terhadap kesenangan atau penderitaan. Ia juga kejam dan tidak berbelas kasihan terhadap orang-orang Kristen, dan bertanggung jawab atas penganiayaan keempat kepada mereka

Kekejaman terhadap orang-orang Kristen dalam penganiayaan ini begitu tidak manusiawi sehingga banyak orang yang menyaksikannya merasa muak dengan kekejaman itu dan merasa takjub me1ihat keberanian orang yang mengalami siksaan itu. Beberapa martir, kakinya dihancurkan dengan alat penjepit dan kemudian dipaksa berjalan di atas duri, paku, kerang yang tajam, dan benda-benda tajam lainnya. Orang lainnya dicambuk sampai otot dan pembuluh darah mereka pecah. Kemudian sete1ah mengalami penderitaan melalui siksaan yang paling mengerikan yang bisa dipikirkan, mereka dibunuh dengan cara yang mengerikan. Namun, hanya sedikit yang berpaling dari Kristus atau memohon kepada para penyik sa mereka untuk meringankan penderitaan mereka.

Ketika Germanicus, seorang Kristen sejati yang masih muda diserahkan kepada singa yang buas karen a kesaksian imannya, ia bersikap begitu penuh keberanian sehingga beberapa orang kafir bertobat pada iman yang memuneulkan keberanian semacam itu.

polikarpusPolikarpus, seorang murid Rasul Yohanes dan penilik gereja di Smirna. Ia mendengar bahwa para prajurit mencarinya lalu berusaha melarikan diri, tetapi ia ditemukan oleh seorang anak. Setelah memberi makan para penjaga yang menangkapnya, ia meminta waktu satu jam untuk berdoa dan permintaannya dikabulkan mereka. Ia berdoa dengan begitu tekun sehingga para penjaga itu meminta maafkepadanya karena mereka ditugaskan untuk menangkapnya. Namun, ia akhirnya dibawa ke depan gubernur dan dihukum bakar di tengah pasar.

Setelah putusan hukumannya ditentukan, gubernur berkata kepadanya, “Celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu.”

Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menyelamatkan aku?”

Di tengah pasar, ia diikat di tonggak dan tidak dipaku seperti kebiasaan pada saat itu karena ia menjamin mereka bahwa ia akan berdiri tanpa bergerak dalam nyala api dan tidak akan me1awan mereka. Pada saat kayu-kayu kering yang diletakkan di sekitarnya dinyalakan, nyala api itu berkobar dan me nyelubungi tubuhnya tanpa membakarnya. Maka pelaksana hukuman diperintahkan untuk menusuknya dengan pedang. Ketika ia me1akukannya, darah yang sangat banyak menyembur ke1uar dan memadamkan api itu. Meskipun ternan-ternan Kristennya memohon agar tubuhnya diberikan kepada mereka supaya mereka dapat menguburkannya, musuh-musuh Injil bersikeras agar tubuhnya dibakar dengan api, dan itu dilaksanakan.

Felicitatis, seorang wanita kaya dari ke1uarga Romawi yang terkenal, seorang Kristen yang saleh dan setia. Ia memiliki tujuh anak yang juga adalah orang Kristen yang setia. Mereka semua menjadi martir.

Januarius, anaknya yang tertua, dicambuk, dan ditekan dengan beban yang berat sampai mati. Felix dan Philip, dua anak berikutnya, otaknya terlempar ke1uar ketika dipukul dengan pentung. Silvanus, anak keempat, dilemparkan dari tebing yang euram. Ketiga anak yang paling muda, Alexander, Vitalis, dan Martial, dipancung dengan pedang. Felieitatis kemudian dipancung dengan pedang yang sama.

Justinus, teolog Yunani yang mendirikan sekolah filsafat Kristen di Roma dan menulis Apology dan the Dialogue,juga menjadi martir se1ama masa penganiayaan ini. Ia adalah penduduk asli Neapolis, di Samaria, dan adalah peeinta kebenaran serta ilmuwan universal. Sete1ah pertobatannya pada kekristenan ketika berusia 30 tahun, ia menulis surat kiriman yang indah kepada orang-orang kafir dan menggunakan talentanya untuk meyakinkan orang-orang Yahudi terhadap kebenaran iman Kristen.

Ketika orang-orang kafir mulai memperlakukan orang-orang Kristen dengan sangat kejam, Justinus menulis pembelaan untuk membela mereka sehingga men¬dorong Kaisar untuk mengeluarkan keputusan untuk membela orang-orang Kristen.

Segera setelah itu, ia sering melakukan perdebatan dengan Crescens, seorang filosof sinis yang terkenal Argumen Justinus mengungguli Crescens dan itu mengganggunya sehingga ia berusaha menghancurkan Justinus. Pembelaan kedua yang ditulis Justinus untuk orang-orang Kristen memberikan kesempatan yang dibutuhkan Crescens dan ia meyakinkan Kaisar bahwa Justinus berbahaya baginya. Akibatnya ia dan keenam pengikutnya ditangkap lalu diperintahkan untuk memberikan persembahan kepada berhala kafir. Ketika mereka menolak, mereka dicambuk kemudian dipancung.

Segera setelah itu, penganiayaan mereda untuk sementara karena terjadinya pelepasan yang ajaib atas pasukan Kaisar dari kekalahan tertentu di peperangan di wilayah utara melalui doa-doa pasukan tentaranya yang semuanya adalah Kristen. Namun, penganiayaan dimulai lagi di Prancis dan siksaannya jauh melebihi kemampuan penggambaran melalui kata-kata.

Sanctus, diaken dari Vienna, bagian tubuhnya yang paling lunak ditempeli plat tembaga panas menyala dan dibiarkan di sana sampai seluruh tulangnya terbakar.

Blandina seorang wanita Kristen yang postur tubuhnya lemah sehingga ia dipandang tidak akan mampu menjalani siksaan, tetapi ketabahannya sangat luar biasa sehingga penyiksanya menjadi kecapaian dengan pekerjaan mereka yang jahat. Ia kemudian dibawa ke amphitheater dengan tiga orang lainnya lalu digantung pada sepotong kayu yang ditancapkan di tanah dan dibiarkan menjadi makanan singa yang buas. Sementara mengalami penderitaannya, ia berdoa dengan tekun untuk teman-temannya dan menguatkan mereka. Namun, tidak satu pun dari singa-singa itu yang menyentuhnya,jadi ia dimasukkan ke dalam penjara lagi – itu terjadi dua kali. Kali terakhir ia dibawa keluar, ia ditemani oleh seorang remaja berusia 15 tahun Ponticus. Ketabahan iman mereka membuat marah orang banyak itu sehingga sekalipun ia wanita dan temannya masih muda, tidak dipandang sama sekali; dan mereka diserahkan pada hukuman dan siksaan yang paling kejam. Blandina dicabik-cabik oleh singa itu, dicambuk dan dimasukkan dalam jaring lalu diseruduk ke sana kemari oleh seekor banteng liar kemudian diletakkan di kursi logam yang merah menyala dalam keadaan telanjang. Ketika ia bisa berbicara, ia menasihati semua orang yang berada di dekatnya untuk berpaut kuat-kuat pada iman mereka. Ponticus bertahan sampai mati. Ketika penyiksa Blandina tidak mampu membuatnya mencabut imannya, mereka membunuhnya dengan pedang.

Paus Fransiskus Mendeklarasikan Bahwa Penyembahan Maria Tidaklah Opsional dan Bahwa Maria Harus Disambut ke dalam Hidup Kita

(Berita Mingguan GITS 5 Januari 2019, sumber: www.nowtheendbegins.com dan www.christiannews.net)

Artikel dan gambar disadur dan diterjemahkan dari “Pope Francis Declares In Mass On Tuesday That Worshipping Mary Is ‘Not Optional’ And That She ‘Provides All Blessings’ As The Mother Of God” (https://www.nowtheendbegins.com/pope-francis-declares-in-mass-tuesday-worshipping-mary-not-optional-she-provides-all-blessings-catholic-church/). Jorge Bergoglio, yang juga dikenal sebagai ‘Paus Fransiskus,’ memimpin para Roma Katolik, pada hari Selasa lalu, untuk memperingati sebuah hari raya yang disebut “The Solemnity of Mary, Mother of God.” Di dalam peringatan tersebut ia mengekspresikan harapan bahwa Maria akan “melindungi” umatnya selama tahun baru, dan mengklaim bahwa dalam masa-masa kesusahan, manusia bukan saja seharusnya “menatap ibu kita tersebut,” tetapi juga mengizinkan Maria menatap mereka, karena dia adalah “kehidupan kita, kebaikan kita dan pengharapan kita.”

Saya akan memulai dengan mengatakan bahwa sebelum saya diselamatkan, saya adalah seorang Roma katolik selama 30 tahun hidup saya. Saya mengenyam 12 tahun pendidikan di sekolah Katolik, diajar oleh para suster dan imam, dan menjadi seorang putra altar selama 3 tahun, dengan setia menghadiri misa dan menyembah Maria dan Yesus, dengan urutan seperti itu, seperti sebagaimana saya diajarkan. Lalu saya diselamatkan, dipenuhi oleh Roh Kudus, membuka Alkitab, dan rasa mual karena telah dibohongi selama tahun-tahun itu menerpa saya.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”(Yoh. 14:6).

Coba lihat foto Paus Fransiskus sedang menyembah di hadapan patung “sang ibu dan anak”, perhatikan dengan baik. “Yesus” Roma Katolik digambarkan sebagai bayi kecil yang lemah yang memerlukan ibunya untuk berfungsi. Maria digambarkan bagi kita sebagai “mediatrix semua kasih karunia,” padahal tidak ada lagi yang bisa lebih jauh dari kebenaran. Tidak ada seorang pun, satu manusia atau oknum pun dalam Alkitab, yang pernah berdoa kepada Maria. Tidak ada satu orang pun yang dalam Alkitab mencoba berbicara kepada Maria setelah dia meninggal. Tidak ada satu orang Kristen pun tercatat yang meminta sesuatu kepada Maria, bahkan selama ia masih hidup. Lebih lanjut lagi, pada hari Pentakosta Maria ada di ruang atas bersama 120 murid lainnya, tetapi ia hadir sebagai seorang murid biasa, sebagai partisipan yang tidak bersuara. Tidak tercatat ia menyumbangkan input apapun.

“Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi”(Wah. 17:4-5).

Satu-satunya tempat anda akan menemukan “Maria” yang Paus Fransiskus tuntut untuk disembah oleh 1,4 milyar pengikutnya adalah dalam tulisan-tulisan Gereja Katolik. Menurut Alkitab, Maria tidak bisa mendengarmu, tidak bisa menolongmu, dan kecuali Tuhan Yesus berbohong di Yohanes 14:6, Maria juga sama sekali tidak punya kemampuan untuk menyelamatkanmu. Menyembah Maria akan memimpinmu ke satu tempat, dan satu tempat saja, yaitu neraka. Sebagai seorang mantan Roma Katolik, walaupun saya penuh kemuakan dengan Pelacur Roma di Wahyu 17 dan 18, saya penuh empati dan kasihan dengan 1,4 milyar jiwa yang terhilang yang tertangkap dalam jaringnya yang mematikan.

Kepada semua Roma Katolik, yang akan berdalih atau berkomentar bahwa “kami tidak menyembah Maria, kami hanya menghormatinya,” anda bisa berhenti memakai alasan itu sekarang. Paus-paus Katolik (termasuk Fransiskus) berulang kali dengan tindakan dan kata-kata mereka memimpin dalam penyembahan terhadap Maria, termasuk Selasa kemarin itu. Langkah pertama untuk menyelesaikan masalah adalah mengakui dulu bahwa ada masalah. Alktiab hanya memperlihatkan kepada kita satu Juruselamat, Yesus Kristus, dan Dia, selain dari dalam triunitasNya dengan Bapa dan Roh Kudus, tidak memerlukan bantuan jenis apapun dari siapapun juga.

“Kiranya Maria, Bunda Allah, melindungi dan mendampingi kita selama tahun baru dan membawa damai sejahtera Anaknya ke dalam hati kita dan ke dunia,” demikian kicau Bergoglio pagi ini, yang diresponi dengan 62.000 like, sampai dengan penerbitan ini.

Bergoglio menyampaikan komentar-komentar tambahan selama misa di Basilika St. Petrus di Roma, tempat ia menyampaikan khotbah untuk hari raya, yang diperingati setiap 1 Januari, sebagai oktaf Natal, dalam kalender liturgi Roma Katolik.

“Terutama dalam waktu-waktu kesusahan, ketika kita terjebak oleh simpul-simpul kehidupan, sepantasnya kita mengangkat mata kita kepada sang ibu kita,” dia nyatakan, menurut Catholic News Agency dan sebuah video yang diposting ke Youtube oleh Vatican News. “Namun pertama, kita harus membiarkan diri kita ditatap oleh sang ibu kita.”

“Mata sang ibu kita tahu bagaimana membawa terang ke setiap sudut yang gelap; di segala tempat mereka memercikkan harapan,” lanjut Bergoglio. “Sambil ia menatap kita, ia berkata, ‘Teguhlah, anak-anakku; saya ada di sini, ibu kalian!’”

Dia menyatakan bahwa tatapan keibuan Maria membantu orang-orang untuk “bertumbuh dalam iman,” dan membuat mereka tetap “berakar dalam Gereja, tempat persatuan lebih penting dari kebhinekaan.”

“Betapa banyak penyebaran dan kesendirian di sekeliling kita. Dua terkoneksi seluruhnya, namun juga terlihat terputus seluruhnya. Kita perlu mempercayakan diri kita kepada ibu kita,” kata Bergoglio. “Maria adalah penyembuh dari kesendirian dan penyebaran. Dia adalah ibu penghiburan. Dia berdiri bersama orang-orang yang sendirian. Dia tahu bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk menghibur; dibutuhkan kehadiran. Dan dia hadir sebagai ibu kita.”

“Bunda kita ini tidaklah opsional; dia harus disambut ke dalam hidup kita,” kata Paus Fransiskus kepada orang-orang yang berkumpul. “Dia adalah ratu damai, yang menang atas kejahatan dan memimpin kita ke jalan kebaikan.”

Sang Paus menunjuk kepada Salve Regina, yang dikenal juga sebagai “Salam, Ratu Suci,” yang menyebut Maria sebagai “kehidupan kita.” Dia mengakui bahwa kata-kata dari lagu tentang Maria ini terdengar berlebihan karena Kristus adalah kehidupan kita, tetapi ia mengatakan bahwa Maria “sedemikian dekatnya bersatu” dengan Kristus dan umatNya, sehingga “kita tidak dapat berlaku lebih baik selain dari meletakkan tangan kita ke dalam tangannya, dan mengakui dia [Maria] sebagai kehidupan kita, kebaikan kita, dan pengharapan kita.”

“Salam, ratu suci, ibu pengampunan / salam kehidupan kami, kebaikan kami, dan pengharapan kami / kepadamu kami berseru,” demikian dilantunkan oleh para Katolik di Salve Regina, yang juga dinyatakan sebagai doa terakhir dalam rosario.

Ia lalu menaikkan sebuah doa kepada Maria dalam kata-kata penutupnya. “Peganglah tangan kami, Maria. Bergantung padamu, kami akan melewati selat-selat sejarah dengan aman,” doa Bergoglio. “Pimpin kami dengan tangan untuk menemukan kembali ikatan-ikatan yang menyatukan kami. Kumpulkan kami di bawah jubahmu dalam kelembutan kasih sejati, tempat keluarga manusia dilahirkan. Kami terbang kepada perlindunganmu, bunda Allah yang suci.”

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, hari raya The Solemnity of Mary, Mother of God, awalnya adalah hari raya yang memperingati Penyunatan Kristus, sebelum diganti pad atahun 1974 oleh Paus Yohanes VI.

“Perayaan ini, yang dipasangkan ke 1 Januari, sesuai dengan semua liturgi kuno kota Roma, dimaksudkan untuk merayakan bagian yang dimainkan Maria adalah misteri keselamatan ini,” tulis Yohanes XI. “Ini juga dimaksudkan untuk meninggikan kehormatan tunggal yang dibawakan oleh misteri ini bagi ‘sang bunda kudus . . . yang melaluinya kita didapatkan layak . . . untuk menerima sang Pemula kehidupan.’”

“Ini juga adalah kesempatan yang cocok untuk pemujaan yang diperbaharui terhadap Raja Damai yang baru lahir, untuk mendengarkan sekali lagi kabar baik para malaikat, dan untuk meminta kepada Allah, melalui ratu damai, akan hadiah perdamaian,” katanya.

Hari tersebut dikenal sebagai “Hari Perdamaian Dunia,” oleh karena alasan itu. Bergoglio memberikan tweet pada hari Minggu, “Kiranya Yesus, Maria, dan Yusuf memberkati dan melindungi semua keluarga di seluruh dunia, supaya kasih, sukacita, dan damai sejahtera dapat memerintah dalam mereka.” Tweet tersebut menghasilkan 72K like.

Penganiayaan Kaisar Adrian

Trajan digantikan oleh Adrian, yang mel an¬jutkan penganiayaan ketiga dengan kekejaman yang lebih besar daripada pendahulunya. Sekitar 10 ribu orang Kristen menjadi martir selama pemerintahannya. Banyak di an¬tara mereka yang dimahkotai duri, disalibkan, dan lambungnya ditusuk tombak dalam pe¬niruan kematian Kristus yang kejam.

Eustachius, komandan Romawi yang sukses dan pernberani, diperintahkan untuk bergabung dengan upacara penyembahan berhala untuk merayakan kemenangannya, tetapi imannya yang dalam kepada Kristus jauh lebih besar daripada kesia-siaan tindakan itu sehingga ia menolak. Karena marah, Adrian melupakan pengabdian Eustachius yang mulia kepada Romawi dan memerintahkannya serta seluruh ke1uarganya dibunuh sebagai martir.

Dua bersaudara, Fausines dan Jovita, menanggung siksaan dengan kesabaran yang luar biasa sehingga seorang kafir bernama Calocerius begitu terpukau dan kagum sehingga ia berseru dengan kegembiraan yang luar bias a, “Agunglah Allah orang-orang Kristen!” Oleh karena tindakannya itu, ia segera ditangkap dan disiksa dengan siksa¬an yang sarna.

Penganiayaan yang tanpa belas kasihan terhadap orang-orang Kristen terus berlanjut sampai Quadratus, yang adalah penilik Atena, me1akukan pembelaan ilmiah demi tnereka di depan Kaisar, yang berada di Atena untuk me1akukan kunjungan. Pada saat yang sarna, Aristides, seorang filosof di kota itu, menulis surat kiriman yang e1egan kepada Kaisar, juga demi membe1a orangorang Kristen. Hal itu secara bersama-sama membuat Adrian menjadi lebih lunak dan mengendurkan penganiayaannya.

Adrian meninggal pada 138 M, dan digantikan oleh Antoninus Pius. Kaisar Pius adalah seorang di antara penguasa yang paling ramah yang pernah memerintah dan menghentikan semua penganiayaan terhadap orang-orang Kristen.