Robot IBM Berdebat dengan Manusia

(Berita Mingguan GITS 14 Juli 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah robot IBM yang dikendalikan oleh AI, kini bisa berdebat dengan para pedebat profesional, dengan hasil yang menakjubkan. Robot tersebut, yang diberi nama Proyek Pedebat, dikembangkan di pusat riset IBM di Haifa, Israel. Acara debat pertama diadakan pada bulan Juni di San Francisco, melawan dua orang pemenang debat dari Israel. Topik-topik yang didebatkan adalah “apakah penjelajahan luar angkasa sebaiknya disubsidi oleh pemerintah” dan “nilai dari kedokteran jarah jauh dan apakah hal ini harus lebih luas dipakai” (“Man vs. Machine,” NoCamels.com, 5 Juli 2018). “Tim manusia dilaporkan menang, tetapi dengan perbedaan nilai yang tipis.” Para pendukung tipe AI (Artificial intelligence) yang seperti ini berargumen bahwa “hal ini berkaitan dengan menyadari isu-isu yang penting bagi masyarkat” dan memungkinkan “para pembuat keputusan untuk mengambil keputusan dengan informasi yang tepat.” Para pencipta dari Proyek Debat mengatakan, “Hal seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya dan kini kita telah tiba di sini.” Sungguh. Garis antara intelijen manusia dan intelijen artifisial semakin buram, dan ketergantungan manusia pada robot dalam setiap aspek kehidupan semakin bertambah seiring dengan pergantian setiap dekade.

Editor: Dengan semakin canggihnya komputer, manusia memasuki babak baru dalam apa yang disebut “Artificial Intelligence.” Namun demikian, ada banyak orang yang khawatir bahwa robot dan aritificial intelligence suatu hari bisa berbalik menyerang manusia. Konsep-konsep seperti ini banyak diangkat dalam fiksi-fiksi ilmiah. Intinya, mereka percaya bahwa Artificial Intelligence bisa berubah menjadi intelijensi yang sesungguhnya. Tetapi kenyataan jauh berbeda. Secanggih-canggihnya suatu robot, ia tidak akan pernah memiliki kesadaran diri. Kesadaran diri, lengkap dengan intelijensi sejati, perasaan, dan kehendak bebas, adalah konsekuensi dari diciptakannya manusia sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Robot tidak memiliki jiwa, dan sehebat-hebatnya program manusia, ia tidak bisa menggantikan jiwa. Orang-orang yang percaya Alkitab tahu bagaimana akhir dari segala sesuatu, dan sama sekali tidak khawatir. Robot-robot tidak akan mengambil alih dunia. Hari Tuhan akan tiba, dan saat itu Allah akan menghancurkan pemberontakan terhadap otoritasNya di bumi ini yang telah dimulai sejak dahulu kala, dan menempatkan PutraNya Yesus Kristus di atas takhta. Israel modern memandang kepada ilmu pengetahuan sebagai juruselamat, tetapi itu adalah juruselamat yang payah, sungguh.

40 Jajak Pendapat Gallup Menunjukkan Kebanyakan Orang Amerika Menentang Aborsi

(Berita Mingguan GITS 14 Juli 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “40 Straight,” CNSNews.com, 3 Juli 2018: “Dalam 40 jajak pendapat berturut-turut yang dilakukan Gallup dalam rentang 24 tahun, mayoritas orang Amerika mengatakan bahwa mereka percaya aborsi seharusnya ilegal dalam semua atau kebanyakan situasi. Dalam survei Gallup yang terakhir yang mengamati isu ini, yang dilakukan dari 1-10 Mei, 53 persen mengatakan bahwa mereka percaya aborsi seharusnya ilegal dalam semua atau kebanyakan kondisi. Survei Gallup ini menanyakan pertanyaan berikut: ‘Apakah anda berpendapat bahwa aborsi seharusnya legal dalam kondisi apapun, legal hanya dalam kondisi tertentu, atau ilegal dalam semua situasi?’ Jika responden mengatakan bahwa mereka percaya aborsi seharunya ‘legal hanya dalam kondisi tertentu,’ Gallup mengajukan pertanyaan lanjutan ini: ‘Apakah anda percaya aborsi seharusnya legal dalam kebanyakan situasi atau hanya adalam sedikit situasi?’ Sejak September 1994, Gallup telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini dalam 40 jajak pendapat. Dalam semua dari ke-40 survei tersebut, kombinasi persentase orang yang mengatakan bahwa mereka percaya aborsi seharusnya ‘ilegal dalam semua kondisi,’ atau ‘legal hanya dalam sedikit situasi,’ telah melebihi 50 persen.”

Alat Komersial Penyimpanan DNA Pertama Akan Diluncurkan

(Berita Mingguan GITS 14 Juli 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah perusahaan start-up, bernama Catalog, telah mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi sebuah alat penyimpanan data dari DNA pada tahun 2019. Perusahaan itu, yang berbasis di Harvard Life Lab, mengatakan bahwa metode ini akan dapat menyimpan data sebesar satu terabyte dalam sebuah butiran DNA kecil. “Jika disimpan di tempat yang dingin dan kering, DNA dapat secara konsisten bertahan ratusan tahun, jadi pusat data yang besar bisa digantikan oleh kulkas biasa” (“First commercial DNA data storage device,” New Scientist, 4 Juli 2018). Banyak periset yang bekerja di bidang ini, yang jelas masih dalam tahap permulaan. IARPA, cabang riset dari komunitas intelijen AS, telah mengeluarkan tantangan agar para ilmuwan mengembangkan bentuk-bentuk baru penyimpanan molekuler. Semua usaha ini justru adalah bukti yang indah akan Allah yang mahakuasa dan maha-berhikmat. DNA yang hidup dan luar biasa kompleks adalah bukti akan Allah, dan intelijensi manusia yang hebat yang mengizinkan kita untuk menyelidiki diri kita sendiri adalah bukti lainnya. Sebagaimana dikatakan David Berlinski, “Struktur sosial kera seringkali adalah rumit. Simpanse, bonobo, dan gorilla, mereka berpikr; mereka membuat rencana; mereka memiliki preferensi pribadi; mereka licik; mereka memiliki kesenangan dan keinginan kuat; dan mereka menderita. Hal yang sama juga ada pada kucing-kucing, saya bisa menambahkan. Dalam banyak hal ini, kita melihat cerminan diri kita sendiri. Tetapi, lepas dari kesamaan yang kita miliki dengan kera, sisanya sama sekali berbeda. Dan sementara kesamaan kita dengan mereka adalah hal yang menarik, perbedaan-perbedaan yang ada sangatlah mendalam” (The Devil’s Delusion, p. 156).

Pembekuan Darah

(Berita Mingguan GITS 07 Juli 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, oleh David Cloud, copyright 2011: “Pembekuan darah adalah salah satu contoh suatu sistem biologis yang luar biasa yang tidak dapat berevolusi dalam tahapan-tahapan. Mekanisme pembekuan darah sangatlah esensial untuk keberlangsungan hidup binatang dan manusia, karena sistem peredaran darah adalah sistem bertekanan, dan suatu luka yang sederhana bisa menjadi fatal jika perdarahan tidak dihentikan. Hemofilia adalah penyakit yang mengancam kehidupan, justru karena alat-alat untuk pembekuan darah rusak. Ketika suaut luka terjadi, sinyal-sinyal molekuler menyebabkan berbagai protein untuk teraktivasi, untuk membuat suatu jaringan yang kompleks yang menangkap sel-sel darah, dan membentuk bekuan darah awal. Pembekuan darah melibatkan lebih dari 30 reaksi yang berbeda, yang masing-masingnya penting untuk menyembuhkan luka dan masing-masingnya sangatlah kompleks. Koordinasi, urutan, waktu yang tepat, dan laju aksi, semua harus tepat. Menghilangkan satu saja dari reaksi-reaksi ini, atau menyelipkan satu langkah yang tidak diinginkan, atau mengubah timing dari satu langkah, akan berakibat kematian. Inilah mengapa sistem pembekuan darah disebut ‘suatu kaskade, suatu sistem yang bekerja melalui satu komponen mengaktivasi komponen lainnya’ (Alan Gillen, Body by Design, hal. 74). Perhatikan beberapa aspek dari “kaskade” yang rumit ini: Pertama, bekuan darah harus terbentuk secara cepat. Kedua, ia harus terbentuk sepanjang luka tersebut, dengan jangkauan yang cukup untuk menghentikan perdarahan. Ketiga, ia harus terbentuk hanya di lokasi persis terjadinya luka, dan hanya cukup unutk menutup luka, tetapi tidak menutup pembuluh-pembuluh darahnya (kalau tidak, ia akan menutup peredaran darah, yang bisa mengakibatkan serangan jantung dan stroke). Keempat, luka harus dibersihkan dari kuman-kuman dan sel-sel jaringan yang rusak. Hal ini terlaksana melalui peningkatan aliran darah yang kaya akan sel-sel putih. Kelima, proses pembekuan bukan hanya harus menghentikan aliran darah, tetapi juga mengembangkan kulit baru untuk kesembuhan permanen. Keenam, pada waktu yang persis kesembuhan tercapai, sistem protein lainnya harus bekerja untuk menyingkirkan bekuan darah. Proses pembekuan darah mulai dengan pembentukan suatu jaringan protein untuk menutup luka dan memerangkap darah. Jaringan ini terdiri dari suatu protein yang disebut fibrinogen yang dibawa dalam plasma darah. Protein lainnya, thrombin, mengiris potongan-potongan fibrinogen untuk menciptakan fibrin dan menyambungkan mereka untuk membentuk suatu jaringan. Benang-benang panjang berseliweran pada fibrin untuk memerangkap sel-sel darah. Perhatikan betapa luar biasanya intelijensi dan komunikasi yang terlibat dalam seluruh proses ini pada level seluler! Betapa konyolnya untuk memikirkan bagaimana suatu hal demikian dapat ‘berevolusi’ secara gradual dan buta!”

Roh Ketakutan

(Berita Mingguan GITS 07 Juli 2018, sumber: www.wayoflife.org)

2 Timotius 1:7 – “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Perhatikan beberapa pelajaran dari ayat yang sangat indah dalam Kitab Suci ini: Pertama, kita melihat bahwa ada ketakutan. Timotius memiliki ketakutan dan perlu dikuatkan melawan mereka. Paulus juga memilikinya (2 Kor. 7:5). Saya memilikinya (misal memikirkan masa depan pekerjaan, memikirkan kelemahan dan ketidakmampuan, takut akan manusia, takut marabahaya). Prajurit-prajurit yang paling berani pun memiliki ketakutan. Seorang Ranger Angkatan Darat yang berpengalaman berkata, “Keberanian bukanlah tidak memiliki ketakutan, tetapi keberanian adalah terus maju walaupun takut” (The Warfighters). Kedua, kita melihat bahwa ketakutan bukan berasal dari Allah. Anda bisa yakin bahwa ketakutan anda bukanlah dari Allah. Satu-satnya ketakutan yang datang dari Allah adalah takut akan Tuhan dan takut berdosa melawan Tuhan. Ketiga, kita melihat bahwa dalam Tuhan ada kemenangan melawan ketakutan. Kita dapat mengalahkan ketakutan melalui iman dalam Tuhan. Ia memberikan kekuatan, kasih, dan ketertiban, tetapi kita harus mengejar hal-hal ini dari Dia setiap harinya. Carilah kekuatan setiap kali anda lemah; carilah kasih setiap kali anda egois; carilah ketertiban setiap kali hati anda berantakan. Keempat, janji-janji Allah adalah senjata-senjata yang hebat untuk mengalahkan ketakutan dan setiap hal lainnya yang berkaitan dengan pikiran (2 Kor. 10:4-5). Orang-orang tidak percaya tidak memiliki sumber-sumber daya yang kuat ini. Mereka tidak dapat ditemukan dalam psikologi, agama, alkohol, obat-obatan terlarang, bahkan tidak dalam teman-teman dan keluarga terdekat. Ada dua janji agung yang telah sering menolong saya mengatasi ketakutan: Mazmur 138:3; 1 Petrus 5:8. Keduanya berkaitan dengan jalan menuju kemenangan mengatasi masalah-masalah sekarang ini.

Kesaksian Seorang Wanita Kristen tentang Pakaian

(Berita Mingguan GITS 07 Juli 2018, sumber: www.wayoflife.org)

“Saya mau benar-benar berterima kasih kepadamu untuk menulis bukumu, Dressing for the Lord. Buku itu sangat membantu saya dalam pembelajaran Alkitab dan tiba pada kesimpulan yang saya raih tentang pakaian dan Tuhan telah benar-benar mengubah hati saya dan merendahkan saya melalui ini. … Yang benar-benar menusuk saya dengan kebenaran adalah ketika saya melihat dua orang lelaki suatu ketika waktu saya sedang belajar dan mereka ada dalam toko yang sama dengan saya, dan pada hari-hari tertentu ketika saya sedang belanja, mereka berpakaian dan berperilaku seperti wanita. …sejujurnya, reaksi pertama saya adalah rasa jijik dan tersinggung sebagai seorang wanita. Para lelaki ini mengolok-olok apa artinya menjadi seorang wanita. Mereka juga membuang kelelakian yang indah yang Allah desain untuk mereka. Hal ini menjijikan bagi saya sekaligus membuat saya sedih. Sambil saya menceritakan hal ini kepada beberapa orang teman dan menjelaskan perasaan saya tentang hal ini, pikiran saya melayang dan saya membayangkan apakah seperti ini perasaan para lelaki waktu itu ketika wanita-wanita pertama mulai memakai celana. Saya berhenti saat itu dan menyadari bahwa Allah baru saja menembak saya dari mulut saya sendiri. Itulah harinya saya memutuskan bahwa saya akan membuat celana-celana saya dan membuat perubahan-perubahan besar, dan memanjangkan rambut saya dan mempertahankannya. Juga di sini di Irlandia, kami baru saja menyaksikan para feminis kembali menang besar dalam pemungutan suara untuk membawa aborsi masuk ke dalam negara ini. Gerakan feminis adalah kelompok yang sama yang mulai memakaikan celana pada wanita, mendorong androgyny dan homoseksualitas secara besar-besaran dan vokal, berarakan sekeliling Washington D.C. dengan kostum-kostum yang vulgar dan menjijikkan ketika mereka mencoba mendorong agenda aborsi, dan sedang mendorong aborsi di seluruh dunia. Jika orang-orang yang sama yang mendukung pembunuhan masal anak-anak tak bersalah sekaligus kekacauan gender dan membalikkan desain Tuhan adalah orang-orang yang sama yang mau memotong rambut wanita menjadi pendek dan memakaikan celana pada kita semua, maka saya mau membuat sangat jelas pada siapapun yang melihat saya bahwa saya tidak ambil bagian sedikitpun dalam kejahatan ini. Setelah membuat keputusan untuk berhenti memakai celana, Allah telah menunjukkan kepada saya bahwa kesopanan dan berpakaian sebagai seorang wanita adalah sesuatu yang bahkan lebih lagi berkaitan dengan hati. Ini adalah simbol kerendahan hati. Ini adalah belajar memiliki roh yang lemah lembut dan tenang. Ini adalah mengakui dan menghormati otoritas yang Allah tempatkan dalam hidup kita dan menjadi puas dengan desain yang Allah tetapkan atas kita, yang adalah hal yang terbaik yang bisa kita capai. Ketika saya memakai rok yang panjang dan longgar, saya tertutup di tempat seharusnya saya tertutup, saya dengan rendah hati berserah kepada Allah dan kepada otoritas yang Allah berikan. Saya telah belajar bahwa dalam penyerahan diri itu, saya dilindungi, secara rohani dan fisik.”

Dua Generasi Gembala Baptis: Konservatif dan Emerging

(Berita Mingguan GITS 30 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Charles Stanley dan anaknya Andy mewakili dua generasi gembala-gembala Baptis Selatan (Southern Baptist), satunya “konservatif” dan yang satunya lagi “emerging” (Editor: bisa diterjemahkan juga “gaya baru” atau “zaman now”). Charles, 85 tahun, adalah gembala sidang senior yang sudah lama melayani di First Baptist Church di Atlanta, sedangkan Andy, 60 tahun, adalah gembala sidang cool dari North Point Community Church di Alpharetta, suatu wilayah pinggir kota Atlanta. Salah satu perbedaan mendasar mereka adalah pandangan tentang homoseksualitas. Charles percaya bahwa homoseksualitas adalah dosa dan bahwa pernikahan homoseksual adalah salah absolut, berdasarkan Alkitab. Sementara itu, Andy memegang suatu pandangan yang lebih luas dan “toleran” yang didasarkan pada “konsensus.” Dalam bukunya The New Rules for Love, Sex and Dating, Andy mengatakan, “Tujuan saya menulis buku ini bukanlah untuk mendorong suatu agenda rohani, atau bahkan agenda Kristiani saya.” Rupanya perintah Tuhan untuk “beritakanlah Firman” (2 Tim. 4:2) sama sekali tidak digubris! Dalam sebuah acara pada bulan April 2015 untuk tujuan promosi organisasi “pembawa perubahan” yang dia dirikan, Catalyst, Andy mengatakan, “Kita perlu memutuskan, apapun pandanganmu tentang topik ini [homoseksualitas], bahwa tidak akan ada lagi siswa yang akan merasa mereka perlu meninggalkan gereja lokal karena mereka tertarik sama jenis atau karena gay. Hal ini berakhir dengan kita” (“Dr. Charles Stanley and Son Andy,” The Gospel Herald, 23 Apr. 2015). Charles Stanley yang “konservatif” membangun jembatan-jembatan kepada gereja-gereja emerging, dan di sanalah generasi kedua sekarang berada, terutama dengan filosofi “tenda luas” yang dipakai di Baptis Selatan, dan penerimaan musik penyembahan kontemporer. Saya [Dr. David Cloud] pertama mengunjungi First Baptist di Atlanta pada tahun 1990an, dan bahwa pada waktu itu mereka sudah penuh dengan musik rock. Banyak pengkhotbah baptis independen yang lebih senior hari ini juga sedang membangun jembatan-jembatan yang sama, dan hasilnya juga akan sama. Sudah banyak pengkhotbah baptis independen muda yang menjalani jembatan-jembatan kompromi dan menempuh jalan-jalan yang berbahaya. Adalah orang-orang seperti Charles Stanley, dengan pendekatan “lembut” dan tidak mau konfrontasi, yang membangun fondasi terciptanya orang-orang seperti Andy Stanley di generasi ini. Orang-orang model Charles Stanley memberitakan Firman, tetapi tanpa tegoran yang dituntut oleh Allah (2 Tim. 4:2). Bukan apa yang mereka katakan yang salah, tetapi apa yang mereka tidak mau katakan. Ini juga menggambarkan persentase yang besar dari mimbar gereja baptis independen hari ini, dan buahnya akan sama.

Alkitab Sudah Cukup dan Adalah Satu-Satunya Otoritas bagi Iman dan Perilaku

(Berita Mingguan GITS 30 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim. 3:16-17). Karena Alkitab mampu memperlengkapi manusia kepunyaan Allah untuk setiap perbuatan baik, maka tidak ada hal lain lagi yang diperlukan, tidak penglihatan atau nubuat di luar Alkitab, tidak tradisi atau konsili di luar Alkitab, tidak ilmu pengetahuan di luar Alkitab, ataupun filosofi-filosofi manusia. Tidak juga diperlukan mujizat-mujizat dan pengalaman-pengalaman mistik, ataupun film-film Hollywood. “Jadi, marilah kita mempelajari dan menghargai Alkitab. Ia adalah suci dan pembimbing yang aman. Ia telah mengantarkan jutaan orang sepanjang jalan kehidupan yang gelap dan berbahaya, dan tidak pernah menyebabkan satu orang pun tersesat. Pikiran manusia, dalam penyelidikan akan kebenaran, tidak pernah melampaui pengajaran-pengajarannya; dan juga belum pernah ada orang yang melangkah ke suatu konsep atau daerah yang begitu terang sehingga cahayanya menjadi buram, atau ke tempat yang tidak terjangkau oleh cahaya kemuliaannya” (Barnes). 2 Timotius 3:16-17 mengubah keseluruhan jalan hidup saya (Dr. David Cloud) pada tahun 1973, ketika saya memahami bahwa Alkitab satu-satunya adalah wahyu Allah yang tak dapat salah yang diberikan kepada manusia dan saya menurut padanya sebagai Firman Allah yang seutuhnya. Sebelum itu saya dipimpin oleh campuran gado-gado filosofi dan agama, sedikit Mao Tse Tung, sedikit Paramahansa Yogananda, sedikit Ayn Rand, sedikit Hermann Hesse, sedikit pelajaran-pelajaran sekolah minggu dari gereja Baptis Selatan waktu saya kecil, dan banyak dosis Beatles dan Bob Dylan dan The Who dan Rolling Stones, dikombinasikan dengan dosis tinggi pikiran saya sendiri. Pada satu malam yang mulia di musim panas 1973, saya meninggalkan semua itu dan menerima Alkitab sebagai satu-satunya penuntun saya dalam hidup ini dan Yesus Kristus saja sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, dan saya tidak pernah menyesalinya, karena saya telah menemukan kepuasan dan istirahat bagi jiwa saya.

Gembala di Arkansas Menyebut Neraka Sebagai “Dongeng”

(Berita Mingguan GITS 30 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Popular Arkansas Pastor,” Christian Post, 21 Jun. 2018: “Timothy Rogers, seorang penginjil dan penyanyi yang populer di Arkansas, sedang menerima banyak kritikan setelah baru-baru ini mendeklarasikan dalam sebuah kebaktian penguburan bahwa neraka adalah ‘dongeng’ yang tidak berbeda dengan Santa Klaus. Rogers, usia 38 tahun, yang memimpin gereja Raja Damai di Blytheville, membuat komentar-komentar ini dalam sebuah kebaktian penguburan seorang muda yang berlansung sekitar satu jam. Dia mengatakan tidak mengenal orang muda itu, tetapi satu generasi dengan dia. ‘Apakah dia [orang muda yang meninggal] pergi ke neraka? Apakah dia menerima Yesus sebagai . . .? Nah lihatlah, kalian semua telah diberikan suatu kebohongan. Kalian semua telah ditipu. Semua hal ini adalah dongeng. Mempercayai neraka sama dengan mempercayai Santa Klaus. …Neraka adalah tempat imajiner.’ Dalam khotbahnya itu, Rogers menjelaskan bahwa kehidupan adalah hadiah yang diberikan secara cuma-cuma kepada manusia oleh Allah untuk ‘melakukan apapun yang kamu inginkan dengan hidup kamu.’ Dia menggambarkan Alkitab sebagai suatu buku petunjuk bagaimana menjalani hidup yang sukses. Pilihan-pilihan yang dibuat oleh individu-individu dalam kehidupan pribadi mereka, dia berkata, akan menentukan apakah mereka merasakan sorga atau neraka. ‘Neraka adalah apa yang kamu ciptakan,’ dia berkata, sambil disoraki penonton dengan kata-kata ‘masa begitu? Pengkhotbah?!’”

Migrasi Kupu-Kupu Monarch dan “Generasi Metusalah”

(Berita Mingguan GITS 23 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Pada bulan September dan Oktober, satu variasi jenis kupu-kupu monarch terbang sejauh 2.500 hingga 3.000 mil, dari Kanada dan Amerika Serikat bagian utara, sebelah timur pegunungan Rocky, menuju lokasi-lokasi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di hutan-hutan pegunungan di Meksiko tengah. Mereka bahkan terbang ke pohon yang persis sama, tempat nenek moyang mereka menghabiskan musim dingin! Lokasi persis dari tempat-tempat hibernasi ini tidak ditemukan hingga tahun 1975, ketika Dr. Fredrick Urquhart dari Universitas Toronto mengembangkan suatu metode melacak kupu-kupu. Ratusan juta kupu-kupu dengan tanpa salah menemukan jalan mereka ke lokasi-lokasi yang terpencil ini setiap tahunnya. Generasi yang terbang ke Meksiko disebut ‘Generasi Metusalah’ karena mereka secara genetika diprogram untuk hidup enam hingga delapan bulan, bukan beberapa minggu yang biasanya menjadi rentang hidup kupu-kupu monarch. Ini memungkinkan kupu-kupu untuk menyelesaikan bagian pertama dari pergerakan migrasi besar tersebut dan adalah penting untuk bertahan hidupnya sang monarch. (Beberapa dari mereka bahkan menjalani seluruh migrasi tersebut dan kembali ke tempat asal mereka di utara.) Migrasi ke Meksiko memakan waktu sekitar dua bulan, dengan serangga tersebut menjalani rata-rata 30 mil per hari, dan kupu-kupu lalu berhibernasi selama musim dingin di area-area kecil yang padat, dengan jutaan kupu-kupu berdesakan dalam beberapa hektar saja. Beberapa kupu-kupu bahkan menyeberangi Teluk Meksiko. Pada pertengahan Maret, kupu-kupu betina akan terbang ke utara beberapa jauhnya, menghasilkan telur, lalu mati. Ulat bulu akan menetas dari telur, melalui metamorfosis, lalu melanjutkan migrasi ke utara. Kupu-kupu baru yang lahir di dalam perjalanan, walaupun belum pernah bertemu dengan orang tua mereka, tahu persis di mana mereka dalam rute migrasi tersebut dan tahu ke mana mereka harus pergi dan bagaimana caranya pergi ke sana. Adalah generasi kedua, ketiga, atau bahkan keempat yang akhirnya tiba kembali di daerah-daerah utara, tempat nenek moyang mereka berasal! Dr. Andrew McIntosh dari Universitas Leeds mengobservasi, ‘Ini berarti suatu sistem informasi yang luar biasa tersimpan dalam kode genetika tiap kupu-kupu, sehingga ia ‘tahu’ pada tahap pada dalam siklus migrasi, kelompok kupu-kupu mereka berada. Mekanisme yang sedemikian tepat ini menyerukan dengan lantang adanya desain yang intelijen!’ (In Six Days, edited by John Ashton, hal. 167).