diterjemahkan dari: https://www.baptistdistinctives.org/resources/articles/regenerate-church-membership-in-peril/
William Roscoe Estep, BaptistWay Press 1997
Sekilas penulis:
Estep, dijuluki juga “pakarnya pakar”, adalah profesor sejarah di Southwestern Baptist Theological Seminary sejak 1954 bahkan setelah pensiun pada tahun 1990 pun masih tetap mengajar. Estep terutama fokus pada subyek sejarah Anabaptis, kebebasan beragama dan pekerjaan misi. Temannya, James Leo Garrett mengatakan dia adalah satu dari empat pakar Anabaptis di abad 20. Estep sudah menulis beberapa buku sejarah Gereja

Efesus 5:5. Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Mengharapkan idealnya suatu jemaat yang terdiri dari orang-orang percaya terus muncul dalam pengakuan iman. Teolog baptis, pastor dan pemimpin lainnya sepanjang sejarah terus memegang teguh model suatu persekutuan jemaat yang sudah lahir baru. Ini adalah idealnya. Tetapi bagaimana kenyataannya?

Adakah bukti penurunan jumlah anggota yang lahir baru dalam jemaat?

Sejarahwan baptis terkemuka, William R. Estep mengatakan “Gereja Baptis di Amerika sedang dalam bahaya kehilangan keteguhan mereka menuntut jemaat yang lahir baru.”

Pengamat Baptis lain juga sependapat dengan Estep dan mengutip beberapa faktor seperti banyaknya anggota jemaat yang bukan penduduk setempat dan karakteristik penduduk yang tidak banyak terlibat dalam kehidupan bergereja, dukungan dana yang terbatas, kecilnya komitmen untuk penginjilan, misi dan pelayanan dan gaya hidup yang jelas-jelas bertentangan dengan pengajaran Yesus.

Memang beberapa faktor ini bisa saja disebabkan hal lain selain anggota yang belum lahir baru, misalnya kemunduran ataupun jemaat yang belum dewasa (1 Corinthians 3:1-3; Ephesians 4:11-16). Tentu juga ada anggota jemaat yang berdedikasi menjadi pengikut Kristus. Tetapi faktor diatas tidak akan sebanyak itu jika anggota jemaat benar-benar lahir baru.

Mengapa idaman akan jemaat yang lahir baru sudah terkikis?

Walaupun kondisi ini sudah ada sejak jemaat mula-mula, tetapi bukti menunjukkan insidensi yang semakin meningkat. Tidak ada penjelasan sederhana atas terkikisnya jemaat lahir baru. Penyebabnya berbeda antara satu jemaat dengan yang lainnya. Juga tidak semua jemaat terkena dampak yang sama.

Satu faktor yang ikut menyebabkan ini adalah sikap super-toleran dalam kehidupan sekarang ini. Dalam kehidupan jemaat ini bisa diartikan “siapa saya menilai apakah seseorang sudah lahir baru dan bisa menjadi anggota jemaat.” Akibatnya, beberapa jemaat menerima anggotanya dengan sangat sedikit atau bahkan tanpa diskusi yang mendalam dengan mereka mengenai keselamatan dan keanggotaan jemaat. Diskusi ini penting karena keselamatan jauh lebih penting dan harus diutamakan daripada keanggotaan jemaat. Seseorang bisa saja mengetahui semua fakta tentang Yesus dan “jawaban benar” tentang keselamatan (pengetahuan kepala) tanpa benar-benar mengenal kasih karunia keselamatan didalam Kristus (pengetahuan hati).

Evaluasi kondisi rohani seseorang perlu dipergumulkan dalam doa, dengan rendah hati dan pikiran jernih. Yesus memperingatkan kita menghakimi saat kita sendiri melakukan dosa besar. (Matthew 7:1-5; John 8:1-11) Pendekatan Farisi, kasar, legalistik, tidak bisa digunakan. Disisi lain, kegagalan mengikuti Alkitab yang menekankan pentingnya persetukuan jemaat yang lahir baru yang teguh dalam pengajaran Kristus juga membahayakan (1 Corinthians 5:9-13; Ephesians 5:1-7,27; 2 Thessalonians 3:14-15; Revelation 2:18-22).

Kondisi masyarakat juga menambah tantangan dalam mempertahankan jemaat lahir baru. Misalnya dalam masyarakat dengan mobilitas tinggi dan kota besar, seringkali sangat sedikit yang bisa diketahui mengenai seseorang yang ingin bergabung dalam jemaat. Kondisi ini ditambah pula dengan ketidakmauan menilai kerohanian orang menciptakan kemungkinan orang yang belum lahir baru diterima menjadi jemaat.

Tekanan memperbesar gereja juga dikutip sebagai penyebab. C. E. Colton mengamati dari sudut pandang gembala yang berpengalaman, “metode penginjilan dengan tekanan tinggi yang dilakukan beberapa pengikut setia dengan maksud baik menghasilkan keputusan bergabung dalam jemaat tanpa pertobatan.”

Membaptis anak yang masih sangat kecil juga mungkin menjadi penyebab. Beberapa anak bisa minta dibaptis dengan alasan yang salah. Bahkan semua orang bisa memberikan alasan yang salah. Tetapi biasanya anak-anak lebih ingin dibaptis karena temannya dibaptis atau karena tekanan orang tua atau tekanan guru sekolah minggu. Tentu saja ada beberapa anak benar-benar mengerti mereka membutuhkan Yesus sebagai Juruselamat pribadi karena dosa mereka. Jadi, jika anak yang masih kecil minta dibaptis, diperlukan konseling yang cermat.

Pada masa lalu, jemaat Baptis menegor perilaku jemaat yang bertentangan dengan kekristenan. Jika tidak bertobat, mereka bisa dikeluarkan dari jemaat. Beberapa ayat yang mendukung tindakan ini misalnya Matthew 18:15-20 and 1 Corinthians 5:9-13. Kebanyakan jemaat dewasa ini menekankan kotbah penginjilan, pemuridan dan pertumbuhan jemaat dengan mengutip ayat Galatians 6:1, Ephesians 4:1-5:21 and James 5:19-20. Tujuan kedua cara ini adalah jemaat yang lahir baru.

Mengapa penurunan jemaat lahir baru perlu diperhatikan?

Penurunan jemaat lahir baru perlu diperhatikan karena beberapa alasan.

Mengabaikan pengajaran Alkitab yang penting ini bisa menandakan kurangnya komitmen terhadap otoritas Alkitab.

Jemaat Baptis menuntut suatu jemaat menjadi persekutuan keimamatan orang-orang percaya. Seorang Kristen bertumbuh dengan mengambil manfaat dari persekutuan dengan orang-orang percaya. Jika jemaat bukan terdiri dari orang-orang percaya maka persekutuan menjadi tidak kondusif seperti seharusnya. Sehingga semuanya dirugikan.

Jemaat Baptis menuntut Kristus sebagai Tuhan setiap pribadi dan Tuhan bagi jemaat. Pemerintahan dalam jemaat adalah oleh jemaat dibawah otoritas Kristus. Jika jemaat tidak mengakui otoritas Kristus (red: belum lahir baru) maka keputusan jemaat bisa tidak sejalan dengan kehendak Kristus. Sehingga jemaat menjadi semakin sekular dan duniawi.

Jemaat duniawi ini sangat mungkin kurang memperhatikan tujuan jemaat sebenarnya, seperti penginjilan, misi dan pelayanan. Sehingga beberapa alasan utama kehadiran jemaat bisa terlupakan.
(red: orang baik biasanya lebih mementingkan pekerjaan sosial daripada pekerjaan rohani seperti penginjilan).

Apa yang harus dilakukan untuk jemaat yang benar lahir baru?

Mencapai jemaat yang benar lahir baru adalah tantangan yang dahsyat. Bagaimanapun, beberapa hal bisa dilakukan, dengan doa sebagai resep utama dalam semua pekerjaan.

Sebuah jemaat harus menekankan pentingnya anggota jemaat lahir baru, menekankan pengalaman keselamatan harus mendahului keanggotaan jemaat. Setiap jemaat harus memikul tanggung jawab melakukan evaluasi keadaan rohani seseorang dalam menjawab pertanyaan seperti “Benarkah saya sudah mengalami keselamatan dengan iman didalam Kristus?” dan “Apakah saya bertumbuh sebagai orang Kristen?” Jika tidak, mereka perlu didesak untuk konseling rohani.

Sebuah jemaat harus membangun proses yang berwawasan, cermat, dan penuh kasih untuk evaluasi orang yang akan bergabung dalam jemaat.

Jemaat juga harus mengadakan kelas bagi orang baru untuk mempelajari rencana keselamatan, pentingnya kedewasaan Kristiani, dan yang diharapkan sebagai anggota jemaat. Kelas harus tersedia baik untuk yang bergabung dengan pengakuan iman ataupun dengan surat pengakuan.
(red: seharusnyalah persekutuan jemaat hadir secara fisik dan tidak menggunakan surat)

Kesimpulan

Kita harus melakukan segala upaya, dengan bantuan Tuhan, untuk mencapai tujuan Alkitabiah sebuah jemaat yang benar lahir baru. Kegagalan ini akan mengakibatkan konsekwensi yang mengerikan bagi setiap pribadi, bagi jemaat maupun bagi kemajuan pekerjaan Kristus.